Iya Istriku! Jawab Suamiku.
Apa boleh, ana memanggil antum Kanda! Ucapku. Dengan keberanian dari rasa malu yang tinggi untuk mengucapkannya.
Tafadhol! Anti mau panggil ana apa aja. Ana senang kok. Selama yang memanggil adalah anti! rayu Suamiku.
Subhanallah. Suamiku sudah bisa merayuku. Dahulu dia begitu dingin terhadapku. Bahkan untuk menatapku dia sangat malu. Sekarang, dia merayuku! Oh, sungguh benar-benar indah tali pernikahan itu.
Dinda! Apakah anti senang menikah dengan ana Tanya Suamiku.
Kanda, jika seandainya antum tahu betapa besar rasa cinta ana kepada antum! Pasti antum tidak akan pernah menanyakan pertanyaan itu! Gumamku dalam hati. Aku hanya tersenyum. Lalu memegang tangan Suamiku. Aku mencium tangan kanannya, lalu aku sentuhkan tangannya dipipiku seraya membelai lembut dipipiku. Sungguh indah.
Dinda. Ana mau tanya! Katanya. Terlihat hanya ingin membuka percakapan.
Apa itu, Kanda
Dinda. Ana bingung dengan pernikahan kita Sangat cepat. Ana kaget! Ucapnya yang memang terlihat bingung.
Aku tersenyum. Kanda, mungkin antum ingat bahwa menyegerakan pernikahan itu adalah hal yang terbaik. Tetapi memang bukan terburu-buru. Apakah antum ingat. Bahwa dalam hadist. Rasulullah bersabda. Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan menjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar. Ana dan Ustad Fadlan, meyakinkan Abi. Bahwa antum adalah seorang yang benar-benar dapat dipercaya. Dan sesungguhnya ana sudah lama mencintai antum. Tapi ana ingin menutupi semuanya. Ana malu terhadap Allah. Karena ana mencintai ikhwan yang seharusnya tidak berada di hati ana. Tetapi kini kanda sudah menjadi suami ana jelasku sedikit manja, sambil menyandarkan kepala didada suamiku.
Dinda ana juga sangat mencintai antum. Alhamdulillah, Allah benar-benar mengabulkan doa ana untuk memiliki salah satu bidadari-Nya. Katanya dengan membelai kepalaku yang masih terbalut jilbabnya.
Kanda, ana sangat mencintai antum ucapku dengan manja.
Ana juga mencinta anti, sayang!
Seketika itu pun, Suamiku langsung memelukku. Aku malu. Langsung saja aku mematikan lampu kamar.
***
Aku belai mesra wajah suamiku. Sungguh aku sangat beruntung mendapatkannya. Disaat-saat tidur pun, wajahnya sangat indah. Yaa Allah terima kasih, engkau memberikan mujahidmu kepadaku!
Kanda. Bangun! Ucapku lembut dan lirih.
Sedikit demi sedikit mata Suamiku terbuka. Terlihat dia sangat menikmati belaian kemesraanku. Sedikit kecupan mesra dikeningnya, aku hadiahkan kepada suamiku.
Kanda, sayang. Bangun. Sudah Shubuh! Kanda mandi dulu ya! Ucapku lembut.
Mandi, ya sayang! Kalau mandi berdua, gimana Godanya.
Ih, sudah berani nakal ya sekarang! Ucapku. Sambil mencubit hidungnya. Lalu menariknya dari kasur.
Selesai sholat shubuh kami berjalan-jalan di taman kompleks. Sangat menyenangkan. Karena aku bisa berjalan mesra dengan Suamiku. Tak lupa disertai cubitan-cubitan mesra diantara kami berdua. Mungkin itu yang membuat iri beberapa burung pipit yang melihat kami berdua. Beriak dan berarak kicau meraka. Sangat menambah kemesran kami berdua. Sepertinya burung-burung itu, mengelu-elukan kami berdua.Tetapi aku tetap harus bisa menjaga image dihadapan kedua orang tauku. Sebenarnya sich, biar nggak malu. Belum pernah aku sebahagia ini.
***
Dinda. Kanda balik dulu kekontrakan yach! Ana mau mengambil beberapa barangbarang ana yang ada disana! Ucap Suamiku mesra.
Dinda, Ikut! Ucapku manja.
Dinda, sayang. Jangan dulu! Setelah walimatul. Baru anti bisa ana ajak kemanamana. Biar nggak terjadi fitnah maksud ana!
Tapi, Dinda pengen disamping Kanda terus! Rayuku manja. Sambil memegang lengan kanan Suamiku.
Sayang. Kanda nggak lama kok! Nanti juga balik lagi. Katanya sembari membelai mesra pipiku yang lembut.
Iya udah. Tapi Kanda, ana yang ngantar Kanda ya! Ana nggak mau, Kanda berjalan kaki! Ucapku Manja.
Hem sayang. Berjalan kaki itu kan kebiasaan Kanda! Ana nggak, ujug-ujug setelah menikah dengan anti langsung lupa dengan kebiasaan Ucapnya dengan senyum.
Tapi, Kanda. Ana nggak mau, melihat Kanda capek! Ucapku dengan manja.
Insya Allah, Kanda nggak akan capek-capek banget kok! Paling-paling kalau capek, kan ada Dinda yang mijitin!
Aku tersenyum simpul sambil memeluknya. Ya, udah! Kanda kan nggak punya HP. Ana beliin nih buat Kanda! Sambil aku tunjukkan Siemens yang terbaru. Kanda nggak boleh menolak. Karena ini adalah pemberian istri, Kanda! Ucapku sedikit memaksa.
Suamiku hanya tersenyum. Sambil menganggukkan kepalanya. Lalu mencubit mesra daguku. Indah.
***
Tluutt....Tluutt...! Dering Hpku. Ukhti Dewi tertulis dilayar LCD Hp.
Assalamualaikum, Ukh!
Walaikumsalam, Mbak!
Ada apa, Ukh Tanyaku khawatir.
Mbak, ana mau tanya. Kami boleh memasak nggak Mbak disini!
Hihi... Anti kayak bukan rumah sendiri aja! Ya tentu boleh dong.
Ok. Syukron Mbak!
Kalau anti kehabisan uang, telphon ana yah! Ucapku.
Insya Allah, Mbak! Ana sudah terlalu merepotkan Mbak Fara.
Nggak kok. Justru kalau Anti nggak merepotkan ana, malah ana yang bingung. Hehe..! Candaku.
Mbak Farah, bisa aja!
Nova bagaimana, baik-baik aja kan!
Alhamdulillah, Mbak Nova baik-baik aja! Sekarang lagi belajar membaca Al Quran.
Alhamdulillah. Kita harus melindunginya Ukh!
Iya, Mbak. Pasti! Ya sudah Mbak, segitu dulu. Ana mau memasak dulu!
Ok. Yang enak yah!
Siip... Dah Mbak Farah. Assalamualaikum.
Walaikumsalam.
Memasak! Hem, sebuah tugas yang penting dilakukan seorang Istri. Aku memasak dulu ah, buat suami tercinta! Gumamku dalam hati. Sambil tersenyum senang. Tapi, seketika itu pun, entah kenapa. Kerinduanku kepada Suamiku begitu besar. Padahal, baru saja ditinggal. Entahlah, rasa sayangku begitu besar kepadanya. Aku benar-benar mencintainya. Aku ambil Hpku. Aku tuliskan Sms, untuk Suamiku.
Kanda, ana kangen. Kanda kangen nggak sama Dinda. Langsung saja aku kirim. SMS, dikirim
Setelah itu aku langsung memasuki dapur. Ruang yang hanya aku gunakan kalau sedang ingin memasuki saja. Tetapi kini aku harus selalu memasukinya. Harus selalu memasak demi Suami tercinta. Selintas setelah masuk kedapur. Aku bingung, mau masak apa. Dan bahan-bahan apa aja perlu aku persiapkan untuk memasak. Hem ini kesalahanku, kenapa aku tidak pernah meminta Ummi atau Bi Iyem mengajari aku memasak! Huh, sulit juga jadi Ibu rumah tangga. Kalau aku beli masakan diluar, kayaknya nggak etis deh! Masa suamiku makan masakannya orang lain sih! Benarbenar sebuah kesalahan yang besar. Harusnya memang aku bisa memasak, toh memasak juga termasuk berdakwah. Berdakwah menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan menjadi seorang istri yang sangat dicintai oleh suaminya. Entah, sekarang aku sangat bingung!
Ummi datang menghampiriku. Seraya tahu akan kegundahanku.
Zah, ingin memasak yah! Ucap Ummi dengan lembut.
Iya..! Ucapku sendu.
Apa kata Ummi, dulu. Anti akan bingung jika nggak bisa memasak! Malah anti bilang, pengen beli makanan diluar saja!
Iya, Mi. Itukan dulu. Sekarang kan berbeda! Ucapku, masih dengan kemanjaan.
Hem. Ya sama aja!
Ummi...!
Ya, udah. Ayo kita memasak sekarang! Ajak Ummi bijaksana.
Entah apa yang terlihat diwajahku. Pokoknya, aku benar-benar senang sekali. Kesenangan seorang istri yang mendapatkan kemudahan dalam belajar memasak. Beberapa bahan-bahan memasak, yang aku tidak kenali. Sedikit demi sedikit sudah aku kenali dengan baik. Memasak ternyata menyenangkan. Hanya karena aku malas belajar saja, sehingga dulu aku anggap memasak itu membosankan. Padahal, memasak bagaikan ilmu yang pasti dapat kita ketahui. Dan hasilnya pun, dapat kita ketahui kenikmatannya. Enak apa nggak enak. Itulah yang menjadi hasil seorang yang memasak. Jika enak, berarti dia suda berhasil mempelajari cara memasak dengan baik. Tetapi, jika nggak enak berarti harus belajar lebih giat lagi dalam mempelajari cara memasak.
Semua masakan sudah matang. Tinggal menyediakannya saja. Aku langsung menghidangkannya dimeja makan. Hari pertama memasak, spesial untuk sang suami. Menyenangkan. Kini tinggal menunggu datangnya Suami tercinta.
Assalamualaikum. Terdengar ucapan salam.
Suamiku datang! Dengan bergegas aku langsung menyambutnya. Walaikumsalam. Kanda lama banget sich! sergahku. Sambil berlari memeluknya.
Kanda kan nggak lama-lama banget, sayang. Jawab suamiku. Sambil senyum, tak lupa untuk mencubit sayang hidungku.
Wah yang pengantin baru. Mesra banget! Goda Ummi. Mengagetkan kami berdua.
Ummi jangan gitu dong! Kan Farah jadi malu. Ujarku, sambil ganti memeluk Ummi.
Ummi tersenyum. Khalid, antum udah makan siang
Terlihat ada rasa malu pada diri Suamiku. Untuk menjawab pertanyaan Ummi. Hanya anggukan kepalanya saja yang dia berikan.
Kanda, gimana sich! Ana kan nunggu Kanda. Kok malah makan diluar! Kanda kan udah punya rumah. Kalau mau makan ya dirumah. Nggak boleh diluar. Kalau makan diluar itu, ajak-ajak Dinda. Huh! Kataku sedikit kesal.
hehe ana baru tahu kalau dinda cerewet! ucapnya sambil senyum. Tak lupa membelai pipiku.
Khalid, antum belum tahu! Kalau Farah anaknya cerewet banget Kata Ummi sambil tersenyum.
Ummi buka rahasia aja! Kataku. Sambil memeluk Ummi dari belakang. Kalau gitu Kanda tetap harus makan dirumah! Dinda udah siapin semuanya dimeja makan!
Hem disiapin apa disuapin. Kata Suamiku sambil tersenyum.
Maunya Godaku.
Setelah itu aku langsung menggandeng tangan suamiku. Mengajaknya keruang makan.
Saat kami sedang makan. Aku menatap Suamiku. Entah kenapa, aku begitu haru saat menatapnya.
Tak seberapa lama. Kanda. Apakah Kanda mencintai Dinda Ucapku.
Suamiku hanya diam. Menatapku dalam tatapan yang terlihat penuh dengan rasa cintanya. Tapi aku belum puas jika hanya tatapan itu yang diberikannya.
Kanda jawab dong! Kataku kesal. Karena melihat Suamiku diam saja.
Suamiku tersenyum. Entahlah, saat dia tersenyum rasanya begitu dalam menusuk hatiku. Dinda. Kenapa anti menanyakan itu! Padahal, nyata-nyata Allah telah memberikan bidadari tercantik didunia ini kepada ana. Ana tidak akan pernah, tidak mencintai anti! Sungguh Allah telah memberikan rasa cinta yang teramat dalam kepada ana, untuk mencintai anti!
Tapi, Kanda. Kenapa Kanda, masih malu-malu terhadap ana. Dan juga, kenapa Kanda tidak menjadikan rumah ini adalah rumah Kanda juga Ana tadi melihat raut muka Kanda. Kanda malu untuk mengatakan, sesuatu. Kanda malu untuk makan bersama dirumah ini! Ucapku serius.
Afwan Dinda. Ana memang malu tadi! Ana belum memberikan nafkah sama sekali kepada anti! Suamiku tertunduk lesu. Dengan masih memegang sendok dan garpunya.
Ana ikhlas. Antum memang belum dapat memberikan nafkah kepada ana saat ini! Tetapi ana merasa antum telah memberikan nafkah batin ana dengan sangat berlebih. Aku sedikit menarik nafas dalam-dalam. Kanda. Ana sayang sekali sama Kanda! Ana sudah tidak butuh lagi materi. Insya Allah, ana sudah sangat berlebih untuk materi. Meskipun Kanda, hanya memberikan ana uang seribu rupiah saja. Ana rasa, Kanda telah memberikan nafkah materi yang sudah berlebih kepada ana.
Suamiku hanya menggangguk. Hem kalau limar ratus rupiah gimana Godanya.
Yee nawar! Ucapku. Aku menghela nafas sambil menundukkan kepala. Kanda. Ana nggak mau antum seperti tadi! Kanda harus ingat, semua yang ada disini adalah keluarga Kanda! Kita bukan orang lain!
Insya Allah. Iya Dinda! Ana juga merasa bahwa ana berada dirumah sendiri. Ana merasakan kehangatan keluarga, dirumah Dinda. Suamiku tersenyum. Ini Dinda yang masak yach Selanya.
Yee kok mengalihkan perhatian sich! Ucapku sewot. Iya ini ana yang masak! Khusus special buat antum! Jawabku kalem. Sambil senyum simpul.
Hem, pantes!
Pantes kenapa Ada yang salah Nggak enak yach! Aku kaget dan agak bingung. Aku takut kalau masakanku tidak enak.
Hem enak sich! Lebih enak lagi, kalau Dinda belajar memasak lagi! Hehe Jawabnya.
Aku memeluk suami, lalu berkata. Afwan ya Kanda, kalau masakan ana nggak enak.
Ana memang baru belajar memasak!
Nah. kalau begini masakan anti lebih enak lagi. Ucapnya.
Yee maunya! Ucapku sambil melepaskan pelukan. Lalu berganti dengan mencubitan.
Selesai makan kami pun membahas masalah konsep-konsep walimatul pernikahan kami. Termasuk dalam masalah musik. Kami memang harus benar-benar sangat selektif dalam memilih musik-musik yang akan ditampilkan. Yah, nasyid memang pilihan terbaik kami. Tetapi, lucu juga. Suamiku mempunyai usul yang agak konyol. Mintanya diputar nasyid yang bertema harroki.
Nanti bukan dikira nikahan. Malah dikira mau demonstrasi! Atau yang lebih parah. Dikira ngomporin orang untuk berjihad. Ucapku
Kenikmatan tersendiri, mempunyai seorang Suami. Yang bisa mengerti dan menyayangi dengan kelembutan perilakunya. Jalan dakwah menjadi lebih ringan saatsaat kita mempunyai seorang yang dapat memberikan pengayoman dalam kelembutan.
***
Pesta pernikahan yang kami selenggarakan, mungkin terlihat tidak meriah. Tetapi, mempunyai kesan tersendiri bagi kami berdua. Bukan kemeriahann pesta yang kami harapkan. Tetapi keridhoan Allah lah yang kita cari. Dan alangkah lebih baik lagi, jika dana alokasi pernikahan bisa dibuat untuk memberikan santunan kepada para orang-orang yang belum beruntung. Daripada harus menciptakan pesta pernikahan dengan besar, tetapi kita mengacuhkan orang-orang yang tidak beruntung disekitar kita.
Beberapa teman-temanku hadir. Mereka pun ikut membantu dalam pelaksanaan pesta pernikahanku. Senang rasanya! Tetapi, mata ini melihat seorang ikhwan yang menatapku dengan tajam. Dia berjalan kearahku, padahal sudah ada hijab untuk wanita dan laki-laki. Tetapi, dia tetap berjalan kearahku. Dengan cepat pun, aku langsung memanggil Suamiku. Dengan hanya memberikan isyarat agar Suamiku mendekat. Dengan cepat suamiku langsung mendekat kearahku. Lutfi, seorang ikhwan yang menatap tajam kearahku. Masih berjalan kearahku. Ada gundah dan aral yang mengganjal hatinya. Atau bahkan amarah yang memuncak berada dikepalanya. Dia semakin mendekat.
Suamiku terlihat mengetahui gelagat kerisauanku. Sabarlah, Adinda. Tak akan lama! Bisiknya lembut.
Aku hanya mengangguk.
Lutfi datang menyalami suamiku dengan tatapan amarahnya. Kau beruntung, mendapatkan seorang wanita seperti Farah! Tapi, ingat. Tidaklah aku akan berhenti begitu saja membiarkan kebahagian kalian. Ucapnya penuh benci.
Suamiku tersenyum. Sungguh ujian terberat, adalah menikah dengan seorang bidadari! Sungguh cobaan yang kuat manakalah hati tidak bertautan dengan keimanan. Lisan berucap benar, hati mengikari kebenaran. Sungguh besar adzab Allah yang akan diberikan! Kita harus menerima sebuah keputusan, seperti menerima sebuah kemenangan. Berat rasanya jika menerima keputusan jika tidak berkenan dihati kita. Tetapi lebih berat menerima kemenangan, yang disitu terselip kesombongan! Ucap Suamiku dengan masih menjabat tangan Lutfi.
Seketika itupun, Lutfi tertunduk. Ada haru diwajahnya. Ukhti, sungguh anti memilih seorang ikhwan yang tepat! Ucapnya. Dan berlalu meninggalkan kami tanpa berpamitan. Terselip sebuah penyesalan dalam dirinya. Penyesalan telah lalai dari aturan Tuhannya.
Suamiku tersenyum kepadaku, senyumnya lembut. Ada sebuah keikhlasan dihatinya. Sebuah rasa yang jarang dimiliki oleh manusia.
Kanda. Apakah Kanda cemburu Tanyaku.
Sebenarnya ana cemburu, tetapi bukan itu yang seharusnya ada dihati ana! Ana menyesal menikahi seorang wanita yang telah dicintai oleh Ikhwan yang lain. Sungguh pasti besar rasa sakitnya, pasti sangat sakit! Alangkah lebih baiknya jika anti dulu memberitahukan Akhi itu kepada ana! Ucapnya penuh penyesalan.
Subhanallah! Aku memang tidak salah pilih! Bisikku dalam hati. Kanda, sesungguhnya ana memilih Kanda, adalah karena rasa keikhlasan yang teramat besar didiri Kanda. Terselip sebuah keimanan yang kuat dalam hati Kanda! Jika ana memberitahukan Ikhwan itu kepada Kanda. Pasti Kanda akan lebih memilih Itsar daripada menikahi ana. Ana tidak mau itu!
Tetapi, alangkah lebih baiknya jika itsar yang itu diutamakan! Bantahnya, dengan sedikit berbisik.
Tidak. Sesungguhnya ini adalah takdir! Ana memilih Kanda, dengan pertimbangan akhidah dan akhlak Kanda. Bahkan, rasa itsar yang Kanda miliki itulah. Yang menjadikan rasa cinta ana kepada Kanda begitu besar! Sulit menemukan manusia seperti Kanda. Jika sudah didapat, ana tidak akan melepaskannya. Kecuali Allah yang akan mengambilnya dari ana! Kataku serius.
Suamiku menggenggam erat jemariku. Dinda, sesungguhnya. Ana sangat mencintai Dinda! Rasa kecintaan ana begitu besar, hingga ana berusaha untuk melupakan Dinda dari pandangan Ana. Sungguh saat itu, ana berpikir. Tidak layaklah seorang ikhwan seperti ana, bersanding dalam mahligai perjuangan dakwah. Dalam satu ikatan kokoh memegang erat tali-tali agama Allah. Hingga bahkan kita gigit dengan graham kita! Tetapi sungguh, ana tidak pernah berfikir akan bisa menikahi anti. Akan bisa memiliki anti, memiliki anti sepenuhnya. Menjadikan anti, halal buat ana dan Ana halal buat anti!
Kata-kata suamiku membuatku merinding. Ucapannya begitu sangat meninggikanku. Membuat aku semakin mencintainya. Yaa Allah, kenapa engkau memberikanku rasa cinta ini yang amat kuat kepada suamiku. Yaa Allah, kenapa engkau memberikannya kepadaku! Yaa Allah, sadarkan aku jika rasa cinta ini sudah sangat berlebih. Hingga menjauhkan diriku kepada-Mu. Sadarkan aku yaa Allah! Kanda. Sesungguhnya ana pun berpikir seperti apa yang Kanda pikir dahulu! Berpikir tentang sempurnanya seorang ikhwan. Keteguhan seorang ikhwan dalam berdakwah. Yang tidak pernah luntur dalam ghirohnya! Ana mencintai Kanda. Tetapi dalam hati ana mengatakan, tidak layaklah seorang ikhwan yang sempurna itu menjadi pendamping hidupku. Tetapi, ana mengazamkan dalam diri. Meng-ikhtiarkan dalam usaha untuk bisa menjadikan Kanda sebagai seorang pendamping hidup dan dakwah!
Dan akhirnya Sela candanya.
Dan Akhirnya, Kanda pun jadi milik ana sepenuhnya! Karena Ikhtiar kita memang hanya untuk Allah. Semua usaha kita memang karena Allah. Bukan karena yang lain!
Eh. Kok kalian marah ngobrol sendiri. Banyak tamu, ayo ditemuin dulu! Nanti aja mesra-mesraannya! Tegur Abi.
Kami berdua tersenyum malu. Dan langsung menemui para tamu undangan. Saat suamiku bertemu dengan teman-temannya. Dia terlihat sangat senang sekali. Ada kebahagian yang terlihat tak akan bisa terlukiskan. Kegembiraan seorang ikhwan yang menyambut ikhwan yang lainnya. Sesekali terdengar celetukan dari para ikhwan yang lucu-lucu. Sungguh hari yang menggembiarakan. Kami begitu senang dengan walimahan yang tidak begitu meriah dalam pestanya. Tetapi mempunyai kesan yang medalam dari lubuk hati ini.
Tak lupa aku pun mendatangi teman-teman akhwatku.
Reni, Resti, Wira teman-teman liqoku. Juga ada Erni and the gank jilbabersnya.
Anti, mendahului ana! Ucap Reni.
Hehe.... menyegerakan pernikahan itu kan sunnah Ukh! Jawabku canda.
Menyegerakan apa emang kebelet! Sela Erni.
Hihi... ya beda tipis lah! Tapi kan nggak apa-apa. Kenapa harus malu, kalau kita mengerjakan sunnah! ucapku.
Iya deh. Ana juga pengen niru anti. Pengen niru yang cepet-cepet ituloh! Canda Erni.
Eh. Anti jangan salahh, bukan cepet-cepet! Tapi menyegerakan. Ingatloh, kalau menyegerakan dan cepet-cepet itu beda! Kesannya kalau cepat itukan keburu-buru, dan itu tidak boleh. Karena terburuh-buruh itu temannya syaitan. Ucap Resti. Seeppp! Jawabku.
Makanya, harus disegerakan! Sela Wira.
Ok. Kita langsung menyegarakan sekarang ya Ukh! Ucap Resti.
Menyegerakan apanya Tanya Erni.
Menyegerakan makan kue-kue hidangan. Kasihan, kue ini kita acuhkan. Padahal kuenya sudah pengen disegerakan! Gurau Resti.
Serentak kami pun tertawa.
Tawa riang seorang Al Ukh. Yang selalu terbahagiakan dalam kesedihan maupun kedukaan. Sayang, Dewi dan Nova tidak bisa hadir. Mereka hanya bisa mengucapkan selamat lewat telphon saja. Dan beberapa teman-teman cyber liqo pun. Pada kirim SMS. Memang ikatan ukhuwah sangatlah kuat manakalah Dien sebagai landasannya. Semua terasa menjadi saudara kita. Karena, sesungguhnya semua muslim itu bersaudara.