pada malam, bayangan gergasi
yang sebentar
membikin lamun jadi pasi
dan orang-orang yang terjaga
hangus dalam kenangan sendiri-sendiri
Lamia, perempuan telanjang
berkaki ular
akan turun dari pundak sang gergasi
menyiasati kabut, menjadikan setiap tidur
asing bagi mimpi.
Manakala keajaiban masih ada
sebelum kita memerangi dewa-dewa
dari puncak gunung dan perut lembah
seseorang telah memarut kecantikannya
karena cemburu.
Maka Lamia pun meletakkan dendam
di atas hatinya yang ganih
bagai garam bagi luka yang pedih.
Pada malam yang sebentar
ketika impian hanya pasi, dan kenangan
jadi api yang membakar,
Lamia, perempuan telanjang
berkaki ular
akan bernyanyi:
Siapakah, siapakah yang tak gemetar
pada malam, pada gelap nasibnya sendiri...
/2012