tertanam di dadamu. Sebuah api yang lupa nyala
berdebar di dadamu menggemuruhkan bait pada jemari
puisi yang menyisir hitam rambut negeriku. Tanahmu
lampau berubah api sebab kauurai serat kelam masa
depan negeriku. Pada padam, kamboja bermekaran lalu
rintihnya gelisah. Kandil-kandil malam menanti lilin
seperti nyeri hatimu menanti nyanyi. Dan lagu itu cuma
aku. Maka menjeritlah siang karena sulut embun
menyalakan dendam pagi pada matahari. Kita selalu
bertemu di jalan yang pernah ditempuh episode
perpisahan. Tapi kau tak mau tahu sebab pohon jiwa yang
tumbuh di lubuk hatimu telah membilurkan kuning mata
api yang mengedipkan debar hatimu. Kau ingin bertahan
pada pemaknaanmu sementara aku masih menyandarkan
keluh segala kesah bahwa kita cuma api yang tak tahu
mengarahkan nyala dan debar hati kita telah jadi lautan.
Tapi satu hal yang selalu kuingat adalah kau selalu
menyalakan jiwa di dalam apiku yang biru. Lalu di
tanahmu yang api kutancapkan sebuah prasasti yang akan
terus berdiri atas nama kita; kau dan aku. Tapi mungkin
akulah prasasti yang menanti aksara-aksara pahatan
tanganmu.
(Oepoi, November 2007)