MEMORIA - 14
Dari jerit kemilau cinta, kugali sebongkah hati yang kini

tertanam di dadamu. Sebuah api yang lupa nyala

berdebar di dadamu menggemuruhkan bait pada jemari

puisi yang menyisir hitam rambut negeriku. Tanahmu

lampau berubah api sebab kauurai serat kelam masa

depan negeriku. Pada padam, kamboja bermekaran lalu

rintihnya gelisah. Kandil-kandil malam menanti lilin

seperti nyeri hatimu menanti nyanyi. Dan lagu itu cuma

aku. Maka menjeritlah siang karena sulut embun

menyalakan dendam pagi pada matahari. Kita selalu

bertemu di jalan yang pernah ditempuh episode

perpisahan. Tapi kau tak mau tahu sebab pohon jiwa yang

tumbuh di lubuk hatimu telah membilurkan kuning mata

api yang mengedipkan debar hatimu. Kau ingin bertahan

pada pemaknaanmu sementara aku masih menyandarkan

keluh segala kesah bahwa kita cuma api yang tak tahu

mengarahkan nyala dan debar hati kita telah jadi lautan.

Tapi satu hal yang selalu kuingat adalah kau selalu

menyalakan jiwa di dalam apiku yang biru. Lalu di

tanahmu yang api kutancapkan sebuah prasasti yang akan

terus berdiri atas nama kita; kau dan aku. Tapi mungkin

akulah prasasti yang menanti aksara-aksara pahatan

tanganmu.

(Oepoi, November 2007)