malam bau keringat
kendaraan bersliweran mengangkut masa lalu
singgah sebentar lantas pergi
meninggalkan sunyi.
aku teringat bapak
pada kreteknya
mengepul serupa dapur emak
serupa pabrik
yang mengerang di siang terik.
waktu berderak. merangkak
di jalan yang macet oleh rencana
dan doa yang mengepul di udara.
aku melamar kota ini
dengan masa depan
tapi masa lalu meringsek maju
mendekapku dengan kecemasan anak-anak
yang putus layang-layangnya.
kini aku tumbuh kumis, mak
gedung-gedung tumbuh lebat di sini
tapi rambut bapak tak selebat dulu
rontok bersama tahun-tahun lalu.
mak, aku melihat bapak tenggelam
bersama senja
yang jauh.
dimana kisah hanya akan tumbuh
di foto-foto dan kepala kita
yang tersusun dari harapan dan kecemasan.
magrib ini mengingatkanku
pada bapak,
padamu, mak
yang sedang menyulam doa
untuk hari yang belum terbaca.