A SHOULDER TO CRY ON - 15
DANU berjalan di sisi jalan raya kota Bandung yang dipenuhi berbagai macam factory outlet dan toko distro dengan berbagai merek terkenal di Indonesia. Andro berjalan di samping Danu, dengan mata jelalatan memandang ke sekeliling begitu antusias.

"Gila! Nggak salah emang Bandung dijuluki Paris van Java. Kotanya asyik dan cewek-ceweknya cantik-cantik banget, Nu! Betah gue di sini."

"Dasar otak mesum! Di mana-mana cewek mulu yang lo pikirin," kata Danu mengerling jengkel ke arah Andro. "Niat lo ke sini kan mau cari kaus, Ndro, bukan nyari cewek."

"Siapa tahu beli kaus dapet bonus cewek," kata Andro nyengir.

"Ngarep! Mana ada cewek sini yang mau sama lo."

Danu dan Andro masuk ke sebuah distro yang dari luar terlihat memajang beraneka kaus dan kemeja laki-laki. Sementara Andro memilih-milih kaus yang ingin dibeli atau sekadar dipegangpegang saja, Danu beralih ke deretan kemeja di salah satu pojok toko. Ia berniat membeli satu jika ada yang sesuai, rencananya akan dikenakan pada acara penganugerahan besok malam.

Danu sedang menimbang-nimbang antara kemeja putih bergaris-garis di tangan kirinya atau kemeja cokelat tua di tangan kanannya, saat seseorang menepuk pelan pundaknya.

"Danu... Kamu Danu, kan" tanya seorang laki-laki berusia di atas 50 tahun. Danu mengerutkan keningnya, bertanya-tanya dalam hati mengapa orang ini mengenalinya.

"Kamu Danu anaknya Pak Nugraha, kan" laki-laki berkacamata itu kembali bertanya.

Danu mengangguk pelan, masih bertanya-tanya siapa laki-laki yang ada di depannya.

"Kamu lupa sama Om, ya Saya Om Hari, teman kerja ayah kamu. Dulu Om sering main ke rumah kalian, ingat"

Sebenarnya Danu tidak bisa mengingat dengan jelas siapa orang ini, tapi mungkin saja lelaki ini memang teman kerja ayahnya. Ingat atau tidak, nggak terlalu penting. Danu memutuskan mengangguk demi kesopanan.

"Apa kabar, Om" tanya Danu akhirnya.

"Baik... Kamu di sini lagi ngapain"

"Lagi liburan, Om," jawab Danu singkat.

"Liburan Ke rumah ayah kamu" tanya orang itu lagi.

Danu menggeleng pelan.

"Saya ke sini sama temen, dan nginap di hotel," jelas Danu.

"Jadi nggak berkunjung ke rumah ayah kamu"

"Nggak..."

Laki-laki itu mengangguk-angguk sambil menatap prihatin pada Danu, seakan menyatakan rasa iba melihat keadaan Danu. "Jadi kamu belum tahu kondisi ayah kamu sekarang"

Danu kembali menggeleng, bingung dengan apa yang coba disampaikan laki-laki ini padanya.

"Ayah kamu sedang dirawat di rumah sakit."

"Hah Papa di rumah sakit" Danu tercengang mendengar penjelasan orang itu.

"Seminggu yang lalu dia kena stroke, sebagian tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi.

Kelihatannya keadaannya cukup parah waktu kemarin Om jenguk ayah kamu di rumah sakit."

***

Danu berdiri di beranda hotel. Matanya menatap kosong langit biru kota Bandung, membiarkan angin sejuk sore hari menerpa wajahnya, berharap kesejukan ini bisa menghilangkan semua pikiran yang memusingkan di kepalanya.

Setelah bertemu dengan Om Hari, teman kerja ayahnya, yang tiba-tiba menyampaikan kabar mengejutkan, kepala Danu serasa seperti dijejali berbagai hal yang membuat otaknya begitu penuh. Nyaris tidak ada tempat untuk berpikir lebih jernih.

Kabar bahwa ayahnya sekarang terbaring di rumah sakit karena stroke mau tidak mau menjadi headline penting di otak Danu. Terlebih saat Om Hari juga menceritakan kehidupan ayahnya yang berantakan setelah kejadian lima tahun lalu.

Menurut cerita Om Hari, setelah bercerai ayah Danu menikah dengan perempuan yang diketahui Danu sebagai pemicu perceraian orangtuanya. Tapi pernikahan itu tidak berlangsung lama, hanya bertahan tiga tahun. Perempuan itu meninggalkan ayah Danu yang saat itu sedang mengalami masa sulit dan berpaling pada laki-laki yang lebih kaya. Sejak saat itu kehidupan ayah Danu berantakan, dan mulai sakit-sakitan. Hingga puncaknya terserang stroke minggu lalu.

"Kasihan ayah kamu. Dia sendirian sekarang. Semua orang meninggalkannya bahkan istri barunya pun berkhianat. Sedang ibu kamu, tidak ada yang tahu keberadaannya setelah ayahmu menikah lagi. Mungkin hanya kamu dan Damara yang bisa Om beritahu soal ini... Kalau bukan kalian sebagai anaknya, siapa lagi"

Kata-kata itu terus terngiang di telinga Danu, seperti kaset yang diputar berulang-ulang. Apa yang ditakutkan Danu saat berangkat ke Bandung terjadi juga. Tadinya Danu enggan ke Bandung karena ingin sepenuhnya berhenti mengingat masa lalu yang telah ditinggalkannya, terutama tentang kedua orangtuanya yang tidak menginginkan dia dan Damara, selepas perceraian mereka.

Tapi sekarang, saat sebuah kebetulan memaksanya mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya, apa yang harus ia lakukan Masih tergambar jelas kenangan ketika mereka hendak meninggalkan Bandung, begitu tegasnya Damara mengatakan bahwa mereka harus meninggalkan segalanya, melupakan semuanya, juga melupakan orangtua mereka. Apa pun yang terjadi.

***

Damara menatap handphone-nya dengan bingung. Danu baru saja meneleponnya, seperti hendak mengatakan sesuatu tapi ragu untuk mengungkapkannya. Entah apa yang mengganggu pikiran anak itu. Mungkin hanya tegang menghadapi acara itu, pikir Damara, meminimalisir semua kekhawatirannya pada Danu.

Damara membalikkan tubuhnya, tersenyum pada Imelda yang duduk di jok mobil dengan kedua kakinya dibiarkan terjulur di pintu mobil yang terbuka.

"Telepon dari siapa, Mar" tanya Imelda.

"Adikku, Danu. Dia lagi di Bandung."

Imelda mengangguk pelan. Damara duduk di bumper depan mobil Imelda, menatap ke sekeliling taman yang sejuk dan lumayan sepi. Taman yang sekarang menjadi tempat pertemuan rahasia antara ia dan Imelda. Setelah segala kesalahpahaman terurai, hubungan Damara dan Imelda berjalan sangat baik. Sekarang mereka bukan lagi sebagai pengacara dan klien, namun ada hal indah yang telah terjadi di antara mereka.

"Maaf, kalau aku minta kamu datang di hari yang seharusnya kamu bisa istirahat," kata Imelda. "Pasti kamu menganggap aku seperti gadis konyol yang tiba-tiba meminta kamu datang tanpa alasan yang jelas."

"Kalau kamu butuh alasan, kamu bisa bilang meminta aku datang untuk berdiskusi perihal permohonan banding suami kamu."

"Mantan suami! Bukan suami lagi," tegas Imelda.

"Iya, maaf... mantan suami," kata Damara meralat. "Itu alasan yang tepat kalau kamu butuh alasan untuk melindungi harga diri kamu saat menemui aku."

Imelda menatap Damara, seakan tidak percaya Damara begitu terang-terangan mengatakan itu semua. "Yah... itu alasan yang pas." Imelda mengangguk membenarkan. "Aku akan bilang itu sewaktu-waktu kita ketemu lagi di sini."

"Apa harus dengan alasan pekerjaan untuk bertemu aku Padahal aku lebih senang kalau alasan kamu karena memang ingin ketemu." Damara menunduk, menatap daun-daun kering di bawah kakinya. Ia terlihat tidak terlalu senang dengan situasi ini.

"Kalau kamu mau seperti itu, rasanya kurang adil untukku," kata Imelda.

Damara tiba-tiba mendongak, menatap lurus ke wajah Imelda. "Maksudnya tidak adil" tanya Damara heran.

"Selama ini, aku yang selalu meminta kamu datang. Sekali pun kamu nggak pernah minta. Bahkan kalau aku nggak telepon lebih dulu, mungkin aku nggak akan pernah bicara di telepon sama kamu. Rasanya... cuma aku yang menginginkan ini semua."

Imelda mengembuskan napas. Gantian ia yang menunduk, jengah karena harus mengatakan semua perasaannya di depan Damara.

"Maaf kalau selama ini kamu merasa seperti itu," Damara berkata pelan. "Aku tidak pernah menelepon atau meminta kamu datang menemuiku, bukan karena tidak ingin... Kamu tidak tahu seberapa sering aku menatap handphone ini dan menimbang-nimbang untuk menghubungi kamu dan meminta bertemu. Berkali-kali menekan nomor teleponmu, tapi tidak berani melanjutkannya. Aku merasa tidak pantas... dengan alasan yang mungkin sepele dan kekanak-kanakan."

Imelda mengangkat wajahnya, matanya langsung bertatapan dengan mata Damara.

"Kenapa seperti itu" tanya Imelda akhirnya. "Kenapa juga kamu merasa tidak pantas"

"Banyak hal yang membuat aku merasa seperti itu."

"Apa" tuntut Imelda.

Damara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil yang terlihat dipaksakan.

"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu."

"Jadi maksud kamu apa Ke mana arah pembicaraan kita sebenarnya"

Damara membungkuk lalu berjongkok di hadapan Imelda. Ia meraih tangan Imelda dan menggenggamnya dengan lembut. Membuat Imelda semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang berusaha dilakukan Damara.

"Aku senang dengan kedekatan kita. Aku merasa bahagia kamu mau dekat denganku tanpa meremehkanku. Hanya saja... ada sesuatu di dalam diriku yang tiba-tiba mengatakan aku tidak layak berada di dekatmu, sesuatu yang sulit dijelaskan sekarang."

"Untuk apa kamu mengatakannya kalau tidak bisa menjelaskannya sampai tuntas Kalau kamu merasa kedekatan kita sekarang salah, lalu kenapa kamu memulainya"

"Aku nggak pernah mau menganggap kedekatan ini salah. Hanya saja, aku merasa salah karena sudah berani jatuh cinta sama kamu..." Damara menjawab lirih. "Ini tidak ada kaitan sama kamu, hanya pergulatan batinku saja yang mengatakan aku terlalu lancang."

Imelda merasakan tangan Damara yang menggenggam tangannya mendadak dingin. Entah apa yang membuat semua ini jadi rumit dalam pikiran Damara. Bagi Imelda, merupakan hal yang wajar kalau mereka berdua saling menyukai, kemudian jatuh cinta. Tidak ada yang salah. Selama ini Imelda merasa kehadiran Damara di dekatnya memberi suntikan kekuatan untuk kembali menjalani kehidupannya. Tapi apa maksud Damara dengan perasaan tidak pantas berada di dekatnya Ini terdengar tolol bagi Imelda yang merasa begitu beruntung dengan keberadaan Damara di dekatnya sekarang.

Imelda mengeraskan pegangannya ke tangan Damara. Berharap Damara bisa merasakan apa yang ia rasakan melalui genggamannya.

"Bisa kita berhenti membahas ketidakpantasan, kelancangan, atau apa pun itu Aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan sampai kamu menganggap tidak berharga untuk aku. Kamu seharusnya bisa merasakan bagaimana berartinya kamu untukku, sampai aku berani mengambil risiko berada di sini sama kamu."

Damara kembali menatap Imelda, sorot matanya mengisyaratkan ketidakberdayaan, seperti seseorang yang terluka karena keadaan. Damara pelan-pelan mendekati Imelda, memeluknya begitu erat, seakan dalam pelukannya Damara ingin menumpahkan segala bebannya.

"Aku berharap kamu tetap berada di dekatku apa pun yang mungkin terjadi nanti," kata Damara lirih, tepat di sisi telinga Imelda.

"Selama kamu menginginkannya, aku akan selalu ada di dekat kamu."

***

"Nu, lo baik-baik aja kan di Bandung" tanya Anka saat Danu meneleponnya. "Kok diem aja, lo mau cerita sesuatu ke gue" Anka mengerutkan keningnya, heran sendiri mendengar suara bimbang Danu di seberang. Terdengar Danu mengatakan tidak, dan langsung mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyakan keberadaan Anka sekarang.

"Gue baru keluar dari kafe, baru mau jalan ke halte bus."

Lagi-lagi Danu memberondong Anka dengan kekhawatirannya, dan menyatakan akan meminta tolong Damara untuk menjemput Anka.

"Jangan, Nu," cegah Anka. "Kemarin gue udah ikut pulang bareng Kak Damara, nggak enak kalo gue ngerepotin dia lagi. Lagian tadi pagi gue liat mobil Kak Damara dibawa ke bengkel, jadi dia nggak ada kendaraan buat jemput gue. Ini juga baru jam sembilan kok, jalanan masih rame... Lo nggak usah mikirin gue deh. Eh, udah dulu ya, ribet nih nelepon sambil jalan."

Anka memutuskan sambungan dan memasukkan handphone-nya ke ranselnya. Baru beberapa detik berlalu, handphone itu kembali berbunyi. Semula Anka mengira Danu yang kembali meneleponnya, betapa terkejut Anka saat nama Damara muncul di layar handphone-nya.

"Iya, Kak, ada apa" tanya Anka pada Damara yang meneleponnya. "Ini saya baru kelaur dari kafe. Kakak mau jemput Eh... nggak perlu, Kak, saya pulang sendiri aja." Tapi Damara bersikukuh dan meminta Anka menunggu, sebelum kemudian menutup teleponnya.

Anka terdiam, terkejut sendiri mendengar Damara sengaja datang menjemputnya. Kemarin ia memang pulang bersama dengan Damara, karena kebetulan Damara keluar kantor tepat saat Anka juga pulang dari kafe. Tapi malam ini, membayangkan Damara sengaja datang menjemputnya membuat senyum Anka merekah lebar tanpa alasan jelas.

Tepat lima menit seperti yang dikatakan Damara, taksi berwarna biru berhenti beberapa meter di depan Anka. Damara keluar dari taksi lalu melambaikan tangannya.

"Kamu sudah selesai" tanya Damara menghampiri Anka. Anka mengangguk. "Kamu tunggu di sini sebentar ya, Kakak mau ketemu Rio dulu."

Damara bergegas masuk ke kafe, lalu tak berapa lama kemudian Damara sudah keluar lagi.

"Oke, sekarang kita pulang... Kamu pulang ke rumah kan"

"Iya, Kak, karena besok libur, saya ke rumah sakitnya besok aja," jawab Anka.

"Oke kalau begitu. Kamu memang perlu istirahat nyaman di rumah setelah seminggu penuh kerja dan jaga di rumah sakit... Mobil Kakak masih di bengkel, jadi kita harus cari taksi untuk pulang."

"Kita naik TransJakarta aja, Kak. Haltenya nggak begitu jauh dari sini, kita bisa jalan lewat taman kota."

"Kamu yakin mau naik TransJakarta Mending kita naik taksi, supaya cepet sampai rumah dan kamu bisa segera istirahat."

"Nggak apa-apa, saya masih muda, Kak. Masih kuat jalan. Malah biasanya saya pulang naik Metromini yang desek-desekan," jelas Anka.

Damara tersenyum mendengar ucapan Anka, ia kagum pada semangat gadis muda ini.

"Ya sudah, kalau kamu mau seperti itu. Tapi jangan bilang-bilang Danu ya, soalnya dia suruh Kakak jemput kamu pake taksi."

"Kak Damara nggak usah terlalu dengerin Danu deh, dia suka berlebihan," gerutu Anka. "Maaf ya, Kak, kalo kekhawatiran Danu bikin Kakak jadi repot jemput saya."

"Danu pantas kok khawatir sama kamu. Kalau Kakak jadi Danu, pasti akan khawatir juga cewek cantik kayak kamu pulang malam-malam begini," ujar Damara sambil tersenyum begitu manis di mata Anka. "Yuk, kita jalan!"

Damara berjalan lebih dulu, Anka mengikutinya sambil tersenyum-senyum sendiri setelah Damara mengatakan ia cantik. Dalam diam Anka menyusuri jalanan taman yang sepi, matanya menatap lurus ke punggung Damara yang berjalan setengah meter di depannya. Damara terlihat sangat sempurna di mata Anka. Sosok Damara layaknya pangeran penyelamat yang akan selalu datang saat ia berada dalam kesulitan.

Anka sendiri tidak tahu sejak kapan kekagumannya yang selama ini disimpan rapat-rapat berubah menjadi perasaan berbunga-bunga setiap kali bertemu Damara. Bahkan mendengar suaranya di telepon saja, Anka merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak tahu apakah baik atau tidak memiliki perasaan seperti ini pada Damara, Anka hanya membiarkan perasaan menyenangkan itu berjalan apa adanya. Sekadar membuat dirinya merasa sedikit bahagia di tengah segala masalah yang harus dihadapinya.

"Kamu lapar nggak, Ka" tanya Damara tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Anka tertegun sesaat, pertanyaan Damara membuyarkan lanturan pikirannya.

"Eh, iya... kenapa, Kak" tanyanya linglung.

"Kamu lapar nggak" Damara mengulang.

"Ehm... saya biasa masak mi instan di rumah, Kak," jawab Anka.

"Kakak nggak tanya kamu biasa makan apa. Kakak tanya kamu lapar apa nggak" kata Damara sambil tertawa.

"Lapar, Kak," kata Anka, menunduk malu dan salah tingkah.

Damara tersenyum melihat tingkah Anka.

"Bilang lapar aja susah... Yuk, kita cari makan. Kamu tahu nggak tempat makan yang enak di sekitar sini"

"Di depan sih banyak tukang makanan, Kak. Tapi saya nggak tahu apa Kakak bisa makan di tempat kayak gitu"

"Anka, Kakak bukan turunan bangsawan yang nggak bisa makan di tempat sembarangan. Kakak ini orang biasa yang bisa makan di mana aja... Ayo kita ke sana."

Damara merangkulkan sebelah tangannya ke bahu Anka, dengan santai menuntun Anka melangkah sejajar bersamanya. Anka merasa tidak bisa bernapas dengan bebas, rangkulan tangan Damara di bahunya terasa menjadi beban, walaupun ia mengakui itu beban yang menyenangkan.

Berjalan berdua di taman dengan lengan Damara merangkul dirinya seperti ini, Anka merasa segala hal yang ada di sekitarnya menjadi indah. Berada di dekat Damara membuat Anka merasakan keamanan dan kenyamanan melingkupinya. Dan dengan segera, Anka menganggap inilah malam paling indah yang pernah dilewatinya selama masa sulitnya.

***

Damara menatap ke kerlap-kerlip lampu dari kejauhan, pemandangan meriah terlihat saat ia duduk bersama Anka, sambil menunggu sate pesanan mereka diantarkan.

"Itu apa ya, Ka" tanya Damara, seraya menunjuk ke arah kemeriahan itu.

"Oh, itu pasar malam, Kak. Di kampung deket sini," Anka menjawab, mengikuti arah pandangan

Damara. "Pasar malam itu udah ada sejak tiga hari yang lalu."

"Kelihatan rame dan meriah ya..." kata Damara dengan pandangan menerawang.

Damara terus menatap ke arah titik-titik cahaya itu. Tidak jauh dari tempatnya berada ternyata ada kemeriahan yang menyenangkan. Kemeriahan yang sudah lama tidak ia rasakan. Damara membayangkan, betapa sangat menyenangkan jika bisa berada di sana bersama seseorang yang ia anggap penting, bersenang-senang bersama tanpa menghiraukan orang-orang di sekitar, tanpa menghiraukan segala masalah. Hanya bersenang-senang, layaknya anak kecil polos memandang kehidupan.

Lamunan Damara dibuyarkan oleh getaran handphone di saku kemejanya. Damara menarik keluar handphone-nya, menghela napas panjang saat tahu bahwa Anggun-lah yang menghubunginya.

* * *

"Ini anak ke mana sih!" - Damara