NIKEN DAN PANDU - 15
"Aku antar, Pandu. Aku juga ingin pulang." kata Edi.

"Nggak usah, Edi. Aku nggak ingin mengacaukan kesempatanmu untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga Tasya."

"Aku sudah punya hubungan baik dengan Oma dan adiknya Tasya. Itu sudah cukup buatku. Aku ternyata belum cukup kuat untuk melepas Tasya." Jelas sekali Edi barusan menangis. Matanya merah.

"Ayolah, aku antar pulang sekarang." lanjut Edi lagi. "Permisi, Oma, Niken. Sup kepitingnya enak sekali. Terima kasih sudah memberiku kesempatan." "Selamat malam, Oma." kata Pandu berpamitan. "Senang sekali ketemu Oma. Sekarang saya tahu dari mana Niken mendapat segala kualitas baiknya." "Ndu,." Niken nggak tau lagi mesti ngomong apa. Sepertinya Pandu sudah yakin sekali pada keputusannya. Niken jadi berasa ingin menangis. Cengeng sekali, kutuknya dalam hati. Niken lalu berlari ke kamarnya. Pandu menoleh mendengar langkah lari Niken. Ditatapnya sampai bayangan Niken menghilang.

"Fei Fei." Oma mengetuk pintu kamar Niken. Niken sudah dua jam tidak keluar kamar. Dari luar, terlihat lampu di kamarnya masih terang-benderang.

Niken mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir terus tanpa henti.

"Tidak ada salahnya membuka pintu buat Oma", pikirnya.

Masih memeluk boneka Sylvester-nya yang besarnya setengah badannya, Niken memutar kunci pintu kamarnya.

Begitu Oma masuk, buru-buru dikuncinya lagi pintu itu.

"Wah. kasihan tuh Sylvester jadi basah." kata Oma berusaha menghibur cucu tersayangnya itu saat melihat wajah Niken yang basah air mata dan bibir mungilnya cemberut. Dari kecil kalau marah Niken selalu memonyongkan bibirnya yang memang merah itu.

"Oma, mestinya aku tahu aku bakal sakit begini kalau jatuh cinta. Ini semua salahku sendiri. Aku bodoh sekali."

"Yang Oma tahu, Pandu tadi pasti benar-benar sayang sama kamu. Dia mau datang ke rumahmu walaupun tahu dia bakal dicaci-maki habis-habisan. Itu berarti cintanya untukmu lebih berharga buatnya daripada harga dirinya.

Sesuatu yang untuk cowok biasanya sangat dia junjung tinggi."

Niken masih diam saja, memikirkan baik-baik kata-kata yang barusan Oma bilang.

Oma melanjutkan, "Dia bahkan rela melepaskan sesuatu yang sangat berharga buat dia itu, cintanya, demi masa depanmu. Demi yang dia pikir terbaik untukmu. Jadi dia pergi itu bukan karena dia berhenti mencintaimu, tapi karena dia teramat sangat mencintaimu, Fei Fei. Kamu mestinya tidak boleh bersedih."

"Tapi Fei nggak pengen koq kuliah di luar negeri. Fei pengen masuk fakultas kedokteran di UI. Fei kan juga sudah sering bilang sama Oma, kan Papa pasti juga tahu kalau selama ini mendengarkan apa yang Niken katakan. Selama ini Fei berusaha keras susah-susah mengumpulkan nilai-nilai bagus cuma untuk masuk UI. Katanya susah banget masuk UI kalo nggak benar-benar siswa teladan. Fei nggak bisa berubah arah begitu saja. Papa memang selalu begitu." Niken mengomel panjang lebar.

"Oma tahu. Dari dulu kamu selalu bilang ingin masuk FKUI. Papamu mungkin nggak tahu, karena dia tidak pernah di rumah. Saran Oma, kamu lakukan apa yang kamu inginkan. Ambil keputusan terbaik yang kamu bisa, sesudah itu, jalani keputusan itu dengan sepenuh hati." "Bagaimana dengan Pandu"

"Oma lihat, Papa dan Mamamu benar-benar tidak setuju saat ini melihat kamu dan Pandu pacaran. Selama kamu masih sama Pandu, Papamu pasti berusaha untuk melepaskan kamu dari dia. Mungkin akibatnya akan fatal. Terutama buat Pandu. Papamu bisa saja menghalalkan segala cara untuk memisahkan kamu dan Pandu. Kamu mungkin bakal menyesal kalau meneruskan hubungan kamu sama Pandu sekarang. Mungkin ini yang terbaik. Kita lihat saja bagaimana nanti. Oma janji akan bantu kamu. Kamu tenang saja."

"Janji Oma"

"Ya, janji. Yang jelas nanti Oma akan lapor ke papamu bahwa kamu sudah putus hubungan sama Pandu. Jadi keadaan aman terjamin dulu. Oma belum punya ide sekarang ini bagaimana caranya membantumu. Tapi pasti beres deh."

Ada sedikit kelegaan di hati Niken.

"Lagipula," lanjut Oma lagi. "Oma lihat Pandu begitu mencintaimu. Rasa sayang itu tidak bisa cepat hilang seperti ditiup angin. Kalau memang jodoh nanti pasti kembali lagi."

"Fei juga sayang sama Pandu. Kenapa sih susah amat sudah sama-sama sayang tidak bisa bersatu" keluh Niken.

Oma tersenyum sambil mengelus-elus rambut Niken.

"Mau denger cerita cinta Oma"

Niken mengangguk, tertarik.

"Kamu tahu kan kalau Oma itu juga anak orang kaya, walaupun nggak sekaya kamu sekarang"

Niken bingung. "Tapi kata Papa, waktu Papa masih kecil, papa nggak punya duit, makanya Papa bisa berhasil seperti sekarang ini karena gemblengan dari Opa"

"Iya. Tunggu dulu. Oma belum selesai cerita, kan. Baru saja dimulai. Oma itu anak saudagar kaya di Pati. Opa itu cinta pertama Oma. Oma ketemu dia tahun 1943, waktu Oma masih umur enam belas tahun. Dia anak pengusaha saingan ayah Oma. Karena tahu bakal dilarang pacaran, terutama karena waktu itu jarang orang pacaran. Oma bahkan sudah dijodohkan sama anak seorang juragan beras yang kaya dari Juana."

"Wah. Oma pacaran juga, yah Terus, bagaimana jadinya" Niken tambah tertarik.

"Waktu itu jaman perang. Tiga tahun kami pacaran sembunyi-sembunyi, tidak ada orang yang tahu. Tahun 1946, rumah dan pabrik ayah Opamu yang memang letaknya bersebelahan, terbakar habis. Sejak saat itu, Oma nggak pernah dengar lagi kabar Opa selama setahun lebih. Sementara itu, Oma sudah hampir dinikahkan sama pria Juana itu. Mendadak sebulan sebelum pesta pernikahan, Opamu muncul di rumah. Sehat walafiat." "Lalu" tanya Niken.

"Lalu, dia melamar Oma. Tentu saja tidak diperbolehkan. Apalagi semua tahu kalau Opa-mu bukan lagi anak orang kaya, karena ayahnya sudah bangkrut karena kebakaran itu. Opamu rupanya selama setahun bekerja memeras keringat sampai bisa membeli rumah kecil di Kudus itu. Baru dia berani melamar Oma. Oma tidak peduli tidak direstui orang tua, besoknya Oma sama

Opa menikah catatan sipil. Karena peristiwa itu, Oma sama sekali tidak mendapat hak warisan keluarga. Oma tidak peduli. Oma tidak butuh warisan." "Ooh. pantesan Oma ngotot nggak mau jual rumah Kudus. Rupanya rumah bersejarah, ya"

"Jadi kamu dengar sendiri, Oma juga pernah mengalami seperti yang kamu alami sekarang.

Mencintai tapi tida memiliki. Oma bahkan tidak tahu Opamu masih hidup selama setahun lebih.

Tapi kami berdua sama-sama mencintai, jadi bisa bersatu lagi."

Niken nggak percaya ternyata Oma-nya ini punya kisah cinta yang seru. "Melihat kamu sekarang, Fei, Oma jadi seperti melihat diri Oma sendiri waktu Oma masih muda. Kamu mesti yakin sama keinginanmu sendiri. Pasti kamu dapat jalan. Kamu boleh percaya deh kata-kata Oma. Lihat Oma. Saksi hidup bahwa cinta itu ada."

"Terus cowok Juana itu bagaimana nasibnya, Oma" tanya Niken geli. "Oh, dia juga nggak betulbetul ingin menikahi Oma. Dia juga terpaksa koq dijodohkan. Sesudah Oma menikah sama Opamu, dia pernah datang ke rumah, berterima kasih."

"Wah, jadi pada jaman orang pada dijodohin, Oma sudah berani pacaran. Oma pasti nakal sekali yah." goda Niken. "Tapi Oma hebat deh, pacaran backstreet 3 tahun nggak ketahuan. Oma top deh." kata Niken sambil mengacungkan jempolnya.

"Ada-ada saja kamu ini, Fei."

"Makasih ya Oma, Fei jadi terhibur abis denger cerita Oma. Sekarang Oma pasti capek. Oma tidur sama Fei Fei ya malam ini. Biar Sylvester tidur di lantai." "Kasian, sudah basah masih tidur di lantai lagi. Masuk angin dia nanti." gurau Oma.

"Ndu!" panggil Wulan saat istirahat pertama.

"Kalau kamu mau mengkuliahi aku tentang Niken, urungkan saja niatmu, Wulan. Aku lagi nggak mood." kata Pandu. "Nggak. Aku ke sini disuruh Niken."

"Disuruh Niken Kemana dia Koq hari ini nggak masuk" kata Pandu sambil menunjuk kursi di sebelahnya.

"Dia masuk koq pagi-pagi tadi. Trus dipanggil Pak Yusril, katanya kita mau ikut ambil bagian di acara festival di Universitas Diponegoro tahun ini, kayaknya masih 10 bulan lagi sih. Bakal jadi acara besar-besaran, kayaknya. Ini dia keluar, ke Undip, mengurus pendaftaran dan tetek bengeknya. Aku cuma disuruh kasih ini ke kamu." kata Wulan sambil menyodorkan sepucuk surat.

Wulan terus berdiri di depannya selama Pandu membaca yang ditulis Niken.

Rupanya bukan surat, tapi puisi.

Tangan-tangan kecil kita

Berusaha menggapai dunia

Bukan salah siapa-siapa

Dunia tak tergenggam

Melati di taman hati

Akan terus bersemi

Dengan sabar menanti

Sentuhan lembut penuh kasih

Sepercik gerimis pemuas dahaga

Cukup untuk melati selamanya

Jika kita tak putus sabar

Di hari mendatang

Dunia pasti 'kan tergenggam

Tangan-tangan kecil kita

"Apa katanya" tanya Wulan.

"Kenapa" tanya Pandu. "Dia bilang apa ke kamu"

"Aku tahu semalam kamu diundang makan malam. Aku pernah diundang makan malam, suasananya benar-benar nggak enak. Makanya belakangan aku nggak pernah mau datang kalau ada papa-mamanya. Kemarin kamu dibantai ya" "Nggak." jawab Pandu singkat. "Memangnya Niken bilang apa ke kamu" "Pagi tadi dia cerita panjang lebar tentang kisah cinta neneknya. Dengan wajah ceria dia meyakinkanku bahwa cinta sejati itu bener-bener ada, dan dia nggak akan berhenti sampai dia berhasil mendapatkannya kembali. Aku sama sekali nggak ngerti maksudnya. Makanya aku tanya ke kamu ini."

"Dia... Wulan, aku juga jadi nggak mengerti sekarang." Pandu jadi ikutan bingung. "Kemarin malam, aku sudah ucapkan selamat tinggal ke dia. Koq sekarang."

"Selamat tinggal Maksudmu"

"Gini deh. Kemarin, satu-satunya alesan yang berhasil membuat aku pulang cuma karena Niken mau disekolahkan di luar negeri. Dan aku merasa bakal jadi penghalang prestasi Niken kalau aku terus pacaran sama dia. Jadi aku pulang, dan aku lepaskan dia. Semalaman aku nggak bisa tidur. Aku bahkan menangis kemarin malam, karena nggak tahu aku mesti sedih atau gembira." "Kalau kemarin dia putus sama kamu, kenapa dia nggak keliatan seperti orang habis putus" tanya Wulan.

"Itu dia yang bikin aku bingung. Jangan-jangan dia nggak mengerti maksudku.

Tapi setahuku dia paham betul koq. Terakhir kali aku tinggal juga nangis koq. Bukannya aku ingin dia menangis, tapi koq dia masih bicara tentang cinta sih" kata Pandu seakan-akan bertanya pada diri sendiri.

"Lantas, dia bilang apa di suratnya" tanya Wulan tambah bingung.

"Bukan surat, tapi puisi. Nih, baca aja sendiri. Pasti tambah pusing seperti aku setelah baca deh."

Wulan lalu membaca puisi yang ditulis Niken kemarin malam. Dia lalu mengernyitkan dahinya. Alisnya naik turun.

"Ndu, sungguh tadi pagi dia itu kelihatan hepi koq. Puisinya juga nggak menunjukkan tandatanda kesedihan. Sejak kenal kamu, puisi Niken memang selalu bernada hepi. Tidak terkecuali yang ini. Eh, itu dia datang." kata Wulan sambil menunjuk ke arah luar gerbang. Niken sedang berjalan masuk membawa setumpuk map di tangannya.

"Gimana Nik" tanya Wulan datang menghampiri Niken di luar kelas. "Bagus, kita bisa ikutan di acara festival. Universitas dan sekolah dari luar Jawa juga bakal ikut ambil bagian, lho. Pasti ramai nih. Temanya 'Generasi Muda dalam Pembangunan'. Aku nggak tau kapan susunan panitia harus final,

tapi yang jelas nggak dalam waktu dekat ini lah. Karena kan minggu depan udah mulai test kenaikan kelas." lapor Niken berapi-api.

"Maksudku bukan itu. Maksudku dia..." kata Wulan sambil menunjuk ke arah Pandu.

"Lha bagaimana Udah kamu sampaikan yang aku pesan" tanya Niken. "Ya sudah. Makanya itu aku bingung."

"Ya sudah kalau sudah. Berarti sudah beres. Makasih ya Wulan." Niken tersenyum.

Wulan cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Niken nggak sempat ngomong apa-apa ke Pandu karena bel sudah berbunyi.

Setelah bel pulang sekolah, Pandu tidak tahan lagi untuk tidak angkat bicara. "Fei, kamu bisa tinggal di kelas sebentar"

"Bisa saja. Apalagi kalo kamu nggak berdiri-berdiri begini kan aku juga nggak bisa lewat." kata Niken geli.

"Kamu ini bagaimana, sih Tersambar geledek tadi malam Kena amnesia" "Kamu sudah baca yang aku tulis semalam" tanya Niken seperti nggak mendengar yang barusan Pandu bilang. "Itu yang aku ingin ngomong." jawab Pandu. "Sudah apa belum" tanya Niken lagi.

"Sudah dong. Tapi aku nggak mengerti maksudmu. Lebih baik kamu bicara pakai bahasa yang bisa aku mengerti saja, deh."