AKU MENGGUGAT AKHWAT DAN IKHWAN - 15
Malam yang berhiaskan bulan. Bertaburan bintang yang mengelilingi keindahan malam. Suasana malam dijalan ini begitu sepi. Hanya beberapa mobil dan motor yang silih berganti lewat dalam jalan ini. Bersama malam, dan keremangannya. Aku berjalan dengan Suamiku. Berjalan dengan beriringan. Bagaikan seorang permaisuri yang diiringi oleh rajanya. Berjalan bergandengan diselingi oleh beberapa bintang yang bertaburan. Bulan pun menyinari dengan tidak segarang matahari. Cahayanya yang redup menyinari kami dengan keindahannya. Riang rasa kemesraan pada setiap jalan kita. Layaknya seorang muda-mudi yang kasmaran. Tetapi memang, kami adalah muda-mudi yang kasmaran. Tetapi telah terbalut dalam kasih sayang yang sakral, suci dalam pandangan Ilahi. Bukan muda-mudi yang bergelimang dengan kemaksiatan dalam setiap kasih sayang yang haram bagi mereka berdua.

Delapan bulan sudah, aku mengarungi kemesran dalam bahtera rumah tangga berbalut dakwah. Indah. Tiada aral yang begitu menyakitkan, saat onak-onak duri itu menghadang. Tetapi kami menganggapnya itu adalah sebuah bumbu penyedap dalam rasa kasih sayang. Pertengkaran kecil yang berujung dengan kasih sayang pun, sering terjadi. Setiap kami melakukan pertengaran itu, kami langsung bermuhasabah bersama. Mencari jalan yang terang dala setiap jalan yang diberikan-Nya. Cemburu kadang menyelip dalam balutan rasa kasih sayangku. Tetapi, Suamiku dengan mesranya menghiburku dengan rayuannya. Sungguh, aku tidak butuh dengan rayuannya. Tetapi aku tidak akan menolak jika Suamiku merayuku, meninggikanku sebagai seorang wanita yang memang layak untuk dirayu dan ditinggikan. Karena aku Istrinya. Aku sering membaca, banyak para ikhwan yang menikah. Sulit untuk merayu dalam balutan hiburan untuk istrinya. Tetapi, untuk ikhwan yang satu ini. Sangatlah berbeda. Suamiku tidak pernah malu dengan rayuannya, meskipun memang Suamiku tidak merayu dengan rayuan murahan. Tetapi, rayuan-rayuan yang ditujukan kepadaku dengan kata-kata dakwah yang mesra. Malah membuatkan semakin sangat mencintainya.

Rasulullah sangat senang merayu para istrinya. Terbukti, Suamiku pun menerapkannya kepadaku. Dan memang, aku begitu senang dengan rayuannya. Dengan hiburan yang begitu menentramkan hati dan jiwaku. Tidaklah seorang Suami yang membiarkan istrinya tanpa sedikit rayuan kemanjaan kepada istrinya. Kecuali suami itu beku dalam hatinya dan hilang rasa kasih sayangnya. Dan Suami seperti itu sangat dibenci oleh Rasulullah dan para sahabat. Karena wanita itu adalah mahluk yang mulia, maka muliakanlah dengan kemuliaannya. Dan arahkan wanita itu dengan kemuliaan akhlaknya. Ingatkanlah dia jika lupa akan jalan-Nya. Jangan engkau hukum wanita itu dengan balasan hukuman yang tidak setara dengan tindakan kesalahannya. Maka itulah sebenar-benar suami yang mulia. Dan yang memuliakan istrinya. Hingga istrinya pun memuliakan suaminya. Dan suami dan istri itu pun, memuliakan keluarganya. Hingga keluarga itu adalah keluarga mulia dihadapan-Nya. Maka saling memuliakanlah!

Saat kami sedang berjalan. Menikmati indahnya malam penuh bintang dan sinar rembulan. Suamiku menghentikan langkahnya. Suamiku menetapku penuh arti. Tatapan yang tajam tapi penuh kasih sayang. Aku jadi heran dengan apa yang dilakukan suamiku.

Ada apa, sayang! Tanyaku. Dengan membelai lembut pipinya.

Suamiku tetap diam, sambil menatapku penuh rasa sayang. Aku semakin mesra membelaikan lembut tanganku kepipinya.

Ayo dong, sayang! Ada apa sich Kenapa Kanda menatap Dinda seperti itu Seruku memohon jawaban.

Nggak ada apa-apa, kok! Ana hanya beruntung mempunyai istri, dinda Jawabnya.

Nggak! Bukan Antum yang beruntung, Kanda! Tetapi ana. Ana sudah sangat lama sekali memandam rasa simpati yang membuahkan cinta. Yang sangat lama. Ana sangat mencintai Kanda! Ucapk, sambil memeluknya dengan erat. Butiran air mengalir dimataku.

Suamiku mengusap pipiku dengan lembut. Dinda, sayang. Ana juga sangat mencintai anti dari dulu! Ucapnya tersenyum. Sayang, sudah yach! Nggak enak kalau dilihat orang! lanjutnya.

Seketika itu pun aku langsung melepaskan pelukanku. Sambil menoleh kekiri dan kekanan. Aku malu. Tetapi untung, insya Allah tidak ada yang melihat kami. Karena malam memang ini benar-benar sepi. Kami hanya berteman dengan bulan dan bintang yang bersinar. Dan suara-sauara binatang malam yang menyanyi riang. Kutatap wajah Suamiku. Teduh, dalam balutan kesahajaan seorang ikhwan. Indah sekali. Senyumnya pun merekah indah. Senyuman seorang ikhwan yang sangat mencintai Istrinya. Lembut.

Malam ini begitu menyenangkan. Bersama seorang suami yang sangat menyayangi. Balutan-balutan kasihnya, terus tersedu dalam balutan kelembutan. Wajahnya begitu syahdu memukau diriku. Hingga-hingga rasa hati selalu bertautan dalam balutan kasihnya. Entahlah, apakah ini yang dinamakan cinta Atau mungkin sebuah peresaan yang memang dan seharusnya dimiliki oleh seorang istri. Perasaan seorang istri yang selalu akan mencintai suaminya. Yang tak segan untuk membicarakan kebaikan suaminya, dan menutup rapat aib suaminya. Hingga pedang menyentuh leher, dan kematian jadi awal kebangkitan. Aib suami tak akan pernah terlepas dari mulut yang membisu, terjaga meskipun dengan taruhan nyawa.

Hem. Ternyata kita bertemu disini. Khalid! Ucap seseorang. Yang berada dikeremangan malam.

Aku terperanjat. Kaget. Mataku memandangi pemilik suara itu. Dendam terdengar dari mulutnya. Siapa dia

Dari keremangan malam. Muncul enam orang dengan perawakan yang besar-besar. Binar cahaya lampu malam tak seberapa menyinari mereka. Hingga mereka hanya terlihat seperti bayangan hitam. Tetapi saat mereka melangkahkan kakinya. Tepat berada diatas lampu jalan. Sosok-sosok itu terlihat dengan jelas. Terlihat ada rasa benci yang mencokol dihati mereka. Benci yang begitu dahsyat, hingga wajah mereka pun terlihat sangat beringas untuk segera menerjang suamiku. Ada apa ini

Aku sudah lama mencarimu. Khalid! Ucap sosok tak dikenal itu.

Suamiku terlihat bersiap siaga. Sosok yang lembut, kini menjadi singa yang lapar. Wajahnya tersirat kebencian saat melihat sosok enam tubuh yang tidak aku kenal. Tangan suamiku mengepal keras. Matanya menatap tajam kearah sosok-sosok yang tidak aku kenal. Ada kebencian yang mendalam, dihati suamiku. Kebencian yang terlihat mencuat bagaikan Khalid bin Walid yang siap untuk berperang. Menantang sikap-sikap bengis yang congkak dengan kesombongan.

Enam orang itu mendakati kami berdua. Dengan senyuman yang menjijikkan. Mereka bagaikan iblis-iblis yang lapar untuk memakan orang. Iblis-iblis laknat yang berambisi untuk memaksa orang masuk kedalam neraka jahanam. Jelas sekali, dendam mereka membara dalam balutan kekuatan iblis yang mencengram tubuh mereka. Wajah-wajah bengis itu semakin lama semakin mendekat.

Dengan sigap, Suamiku menggandeng tanganku erat. Terlihat mengisyaratkan agar aku dibelakangnya. Dinda. Nanti Dinda harus lari! Ana akan hadapi mereka. Bisiknya lirih.

Aku menggelengkan kepala. Kanda. Ana nggak akan meninggalkan Kanda sekarang! bisikku lirih.

Harus. Anti harus meninggalkan ana nanti! Ini permintaan ana. Bisiknya lirih sambil mencengkeram tanganku. Ada kekhawatiran yang mendalam saat dia menatapku. Matanya terlihat mengharapkan aku untuk lari.

Aku tetap menggelengkan kepala, menatapnya khawatir. Biarkan, aku disisimu Kanda! Bisikku lirih dalam hati.

HAI! Khalid. Kamu sembunyikan dimana gadis itu Bentak orang itu.

Wajah suamiku terlihat bingung dengan pertanyaan sosok yang tidak aku kenal itu. Apa maksudmu, Efendi! Ucapnya.

Hah! Berlagak, nggak tahu lagi. Bentak sosok yang tidak aku kenal itu. Kepung, mereka! Jangan lupa, ambil gadisnya! Hahaa Perintahnya dengan bengis.

Jantungku pun berdegup kencang. Pertarungan pun tak terelakkan. Suamiku bersiaga penuh, dengan sikapnya tak kalah gagahnya dengan sosok Khalid bin Walid yang sesungguhnya. Wajahnya garang bagaikan akan melumat para sosok yang tidak dikenal itu. Tangannya mengepal, dengan kesigapannya.

Spontan. Seorang yang berada dibelakangku, menyerangku. Aku bingung, tak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Suamiku langsung menerjangnya dengan tendangannya.

BUUKKK....

Seketika itu pun, orang itu terjungkal kebelakang. Seorang yang lainnya, menyerang Suamiku dengan pukulan. Tetapi, dengan mudahnya Suamiku langsung mematahkan serangannya. Dibalasnya dengan pukulan yang membuat hidung orang itu patah. Selintas darah para penjahat itu memuncar dari hidungnya. Dia, berteriak kesakitan. Dengan sigap, kembali suamiku langsung menyerang seseorang yang berada disampingku. Tendangan dan pukulan Suamiku, membuata para penjahat itu terjungkal.

Sayang! Lari.. cepat! Teriak Suamiku. Keras.

Aku pun spontan langsung berlari. Tetapi, seorang penjahat terlihat akan memegang lenganku. Aku takut. BUKK.... Tendangan Suamiku, menerjang penjahat yang akan memegangku.

Jangan pernah menyentuh wanita suci ini dengan tangan kafirmu! Ucap Suamiku. Dengan tatapan tajam, penuh kemurkaan.

Aku pun dengan mudah berlari meloloskan diri. Langkahku sedikit terhenti, melihat Suami berjuang sendiri. Aku ingin kembali, tetapi aku malah takut nanti malah tambah menyusahkannya. Tetapi tekadku sudah bulat, langkahku pun kembali menuju arena pertempuran.

SAYANG LARI, INI PERINTAH! Teriak keras Suamiku.

Aku takut. Aku takut terjadi apa-apa terhadap Suamiku. Tetapi aku juga tidak boleh melanggar perintah Suamiku. Lariku sudah menjauh dari arena pertempuran. Aku hanya bisa melihat, dari jauh perjuangan dalam pertarungan yang dilakukan oleh Suamiku. Sungguh benar-benar hebat. Suamiku dengan mudahnya menghajar para penjahat-penjahat itu. Para penjahat-penjahat itu terlihat sangat kewalahan dalam menghadapi tentara Allah yang satu ini. Suamiku. Aku benar-benar tidak salah pilih. Seorang mujahid yang telah lama aku nanti. Memang benar-benar mujahid sejati. Gerakan-gerakan beladiri Suamiku. Menerjang dan bagaikan menerkam para penjahat-penjahat itu. Tetapi, aku teringat dengan Dewi dan Nova. Ha! iya, bagaimana keadaan mereka Tanyaku dalam hati.

Aku pun langsung berlari. Selintas aku tidak ingin meninggalkan Suamiku. Allah pasti melindungi para mujahidnya yang satu ini! Ucapku dalam hati. Dan langsung, aku pun berlari. Memanggil taksi yang melintas. Dan langsung pergi meninggalkan arena pertempuran. Ada seseorang yang lebih patut aku lindungi saat ini. Yaitu Dewi dan Nova. Taksi pun langsung melaju kencang. Malam tidak menghambatku dalam jalanku yang akan terus melaju. Perasaan khawatir pun sedikit hinggap pada diriku. Mengkhawatirkan mujahidku yang sedang bertempur saat ini. Rasa takut terus hinggap dalam batin yang meronta akan terjadi sesuatu yang buruk jika menimpa Suamiku. Segera, aku langsung menelephon polisi. Memberitahukan keberadaan Suamiku yang sedang dikeroyok oleh penjahat-penjahat bengis yang berwajah congkak dengan kesombongan.

***

Far, itu mungkin Efendi. Seseorang yang ditugasi Papaku untuk mencariku! Karena hanya Efendi yang mengenal Khalid. Dan tahu kalau Khalid juga mengenalku. Ucap Nova. Serius.

Jadi, bagaimana sekarang Ucap Dewi.

Hem. Kalau begitu, kita disini saja sekarang. Sambil melihat-lihat kondisi dahulu! Jika keadaan sudah aman, baru kita bisa keluar dari Villa ini!

Iya. Tetapi, bagaimana kondisi Mas Khalid gimana Mbak Tanya Dewi. Terlihat khawatir.

Iya. Ana juga nggak tahu! Ana takut terjadi apa-apa dengannya! Aku bingung.

Kalau gitu. Gimana jika Farah telephon rumah saja Usul Nova.

Nggak. Kalau bisa, kita disini benar-benar harus merahasiakannya dari siapapun! Selama persoalan belum tuntas benar! Jawabku. Sedikit aku menghela nafas. Oh iya. Aku beritahu Abi aja! Beliau kan sudah tahu masalah ini! Bergegas aku langsung mengambil Telephon. Dan menelephon, Abi. Memberitahukan kondisiku saat ini baik-baik saja. Aku pun, tak lupa untuk menanyakan kondisi Suamiku.

Assalamualaikum! Salamku.

Walaikumsalam. Zah Ucap Abi. Terlihat gembira, dan khawatir.

Iya Bi. Ini Zah! jawabku.

Zah. sekarang dimana Keadaan Zah, bagaimana

Bi. Zah ada di Villa kita. Keadaan Zah baik-baik saja. Keadaan Mas Khalid gimana Bi Balikku bertanya.

Zah. Khalid tertusuk dibagian punggungnya!

HA! Aku kaget.

Zah. Tenang! Sekarang sudah baik-baik saja. Hanya belum sadarkan diri!

Badanku terasa lemas. Lututku terasa lunglai, berat sekali untuk menahan beban tubuhku. Setelah mendengar Suamiku tertusuk. Semua ini salahku! Kenapa aku meninggalkannya! Kenapa aku meninggalkan Suamiku dimedan pertempuran itu! Semua itu salahku. Memang salahku!

Zah. Dengar Abi. Khalid sudah tidak apa-apa! Hanya belum sadarkan diri saja. Anti harus kuat! Ingat, anti harus kuat! Ucap Abi. Mengulangi ucapannya. Seraya memberikan semangat kepadaku.

Bi. Zah takut!

Zah. Abi tidak ingin, Zah larut dalam ketakutan itu! Ingat, Zah adalah mujahidah. Seorang mujahidah tidak boleh takut atau bahkan menyerah dengan ujian yang diberikan oleh Allah! Zah, harus ingat itu! Sekarang, rencana Zah apa Ucap Abi dengan bijaksana.

Sebenarnya, Zah ingin disini dulu. Sambil melihat-lihat kondisi! Tetapi, kayaknya Zah harus menemani Mas Khalid dirumah sakit! Kataku, khawatir.

Zah. Tetap pada rencana anti! Khalid sudah tidak apa-apa. Biar Abi dan Ummi yang menjaganya. Lanjutkan rencana anti! Insya Allah. Jundi-jundi Allah telah siap untuk selalu melindungi anti! ucap Abi. Tegas.

Baik. Bi! Bi, Zah ingin beli mobil disini! Untuk kendaraan Zah dan teman-teman Ucapku pasrah.

Zah, silakan beli mobil! Tapi ingat yah, sekarang. Zah, harus lebih berhati-hati dengan orang. Ingat!

Iya, Bi! Sudah ya Bi! Zah mau istirahat dahulu.

Hem. Iya, ingat jaga kondisi. Jangan sampai Zah sakit! Udah, ya. Assalamualaikum! Ucap Abi.

Walaikumsalam! Ucapku.

***

Taruna ini memang cocok untuk kendaraan pengintai. Tidak percuma aku membelinya. Bodynya pun, pas untuk melakukan pengintaian diwilayah-wilayah yang rawan. 1 milyar bukan uang yang sedikit untuk mobil Taruna ini. Dilengkapi dengan kaca Hitam anti peluru serta bercat hitam dan bodynya pun, bagaikan tank tempur yang tak akan hancur meskipun dibom sekalipun. Dilengkapi senjata listrik yang bisa mematikan mesin mobil. Dan komputer yang secara otomatis dapat mengetahui jumlah orang yang berada dimobil ataupun dirumah, dengan sensor inframerahnya yang bisa menembus tembok dan baja sekalipun. Sungguh kendaraan safety yang lumayan mahal. Aku memesan kendaraan ini, hanya untuk perlindungan diri. Dan tidak dijual bebas dinegeri ini. Biasanya, kendaraan seperti ini dipakai oleh karyawan Bank yang akan menyetor atau mengambil uang. Atau pun para bos-bos besar yang banyak duit.

Terasa lucu juga. Aku mengintai seseorang, yang malah bukan musuhku. Tetapi, mengintai suamiku yang sedang dilanda gundah yang mendalam. Aku ingin melihat seberapa besar rasa gundah itu. Seberapa besar rasa cintanya kepadaku. Apakah rasa kasih sayang dan gundahnya kepadaku, lebih besar daripada cintanya kepada Sang pemilik kehidupan. Jikalau itu yang terjadi, maka aku akan bersedia melepaskan Suamiku. Lebih baik, aku meninggalkannya. Daripada aku menjadi beban ujian yang berat baginya. Tetapi, jika sebaliknya. Aku tidak akan pernah mau meninggalkannya. Karena sesungguhnya, rasa cinta yang terpatri kepada Sang Maha Pecinta. Tidak akan pernah habis dimakan usia. Tetapi, jika seorang mencintai bukan karena Sang Maha Pecinta. Lambat laun, cintanya akan habis termakan oleh usia yang mengerutkan kulit-kulit ini.

Memang suamiku terlihat begitu sangat gundah. Tetapi aku sangat bersyukur. Rasa cintanya masih lebih besar dalam cintanya kepada-Nya. Hingga aku benar-benar sangat mencintainya. Uhibbuka fillah yaa Akhi! Bisikku lirih dalam hati. Saat melihat Suamiku berjalan kearahku. Tetapi, dia tidak akan mengira kalau aku berada didepannya. Aku terus mengintainya. Intaian dalam rasa kasih sayang yang mendalam. Intaian yang menginginkan ketidak ada rasa kekhawatiran. Itulah intinya.

Saat-saat berat bagi suamiku. Menjadikanku lebih belajar tentang rasa cinta. Menjadikanku lebih dewasa dalam urusannya. Dan menjadikanku lebih paham dengan permasalah-permasalahan yang akan menjadikan aku lebih paham dan dewasa. Dalam mengambil segala keputusan. Bukan bermaksud aku menginginkan kekhawatiran suamiku saat aku meninggalkannya sekarang. Apalagi bermaksud menentang perintahnya. Tidak, sama sekali tidak ada pikiran itu dalam hatiku. Aku akan setia melakukan perintah-perintah Suamiku. Bahkan jika aku harus mati untuk melaksanakan perintah Suamiku. Aku bersedia. Tetapi, untuk saat ini. Biarlah aku yang menyelesaikan masalahku yang sudah ada sebelum Suamiku berada di sisiku. Aku tidak mau merepotkannya. Aku tidak mau membuat dia semakin banyak permasalahan, karena permasalahan yang sangat rumit ini. Afwan ya Akhi! Maafkan aku Kanda!

Setelah melihat-lihat kondisi Suamiku. Aku langsung kembali ketempat persembunyian. Tempat yang tenang dalam pengasingan. Tempat yang indah dalam hiasan lukisan Sang Maha Pembuat kehidupan. Yang mengada-adakan keindahan sebelum ada. Dan yang akan membuatku selalu berucap dan berdecak kagum tentang keindahan panorama alam yang telah dibuat-Nya.

***

Hem. Boring juga nih disini terus! Ukh, kita ke Taman Dayu yuk Ajakku. Kepada Nova dan Dewi. Selama enam bulan, Nova sudah tertempa dalam balutan bingkai Islam. Kini, Nova kembali menjadi seorang wanita yang suci. Dengan balutan jilbab yang menutup rapat tubuhnya. Menutup segala apa-apa yang memang harus ditutupinya. Hingga terlihat bagai sebuah mutiara yang terbungkus kuat dan rapat dari karang penutupnya. Hingga nanti, mutiara itu hanya untuk seorang yang berhak menerimanya. Suaminya.

Kayaknya, ide bagus tuh Mbak! Ana juga agak bosen disini terus Jawab Dewi.

Tapi, Ukh! Apakah aman, saat kita berada diluar rumah Tanya Nova, terlihat khawatir.

Yah, memang nggak aman Ukh! Tapi, bosen juga disini terus! Ucapku.

Mbak. Mana ada sih tempat yang aman didunia ini Ujar Dewi.

Iya. Biarkan Allah yang melindungi kita! Dan kita tetap waspada, meskipun dengan kebahagian saat kita berada diluar! Ucapku.

Iya. Terserah kalian lah! Jawab Nova. Terlihat ada yang mengganjal dihatinya. Ukhti, anti kenapa Tanyaku. Dengan memegang tangan Nova.

Nggak tahu, hari ini ana kayaknya khawatir banget! Sepertinya akan ada kejadian yang akan menimpa kita Jawab Nova, dengan tertunduk lesu.

Santai aja, Ukh! Serahkan semuanya kepada Allah. Insya Allah, pasti akan terselesaikan dengan baik. Ok! Ucapku. Menghiburnya.

Nova haya mengangguk, dan tersenyum. Tetapi, masih terlihat tersimpan aral yang menggajal dihatinya.

Kami pun bertiga berangkat ke Taman Dayu. Tempat pariwisata yang berada didekat Villa. Suasana pegunungan yang sejuk, dan ditambah rindangnya pepohonan. Membuat suasana menjadi begitu nyaman. Sejenak, keberkahan dalam keindahan suasana Taman. Menjadikan kami lupa dengan peristiwa-peristiwa yang membuat luka. Kami benar-benar menikmati kesejukan dan kenikmatan dalam suasana yang diberikan Allah kepada wilayah ini. Tadabbur kami, seraya membuat kami memang sangat kecil dihadapan-Nya. Luka-luka yang tergores dalam ujian yang kami hadapi. bagaikan musnah ditelan keindahan alam ini. Sungguh besar keagungan yang telah diciptakan-Nya. Maha Agung yang begitu dahsyat dalam membuat alam ciptaan-Nya. Tiada yang patut untuk dinafikkan dalam seluruh keindahan alam ini. Kecuali, manusia yang tidak mempunyai jiwa-jiwa tautan antara Rabbani dan hatinya.

Udara yang segar, dingin dan bersih. Dambaan bagi setiap manusia yang ingin menghirupnya. Aku, Dewi dan Nova. Berjalan-jalan, menyusuri beberapa bukit yang menjulang. Kami terus berjalan bersama hawa dingin yang menyejukkan. Sering kali aku merapatkan jaketku, karena hawa dingin yang menyengat tubuh. Banyak para orang tua yang membawa anak-anaknya berlibur ditaman ini. Anak-anak itu riang dalam permainan mereka. Mereka mempunyai dunia mereka sendiri. Mempunyai rasa keindahan pada sisi-sisi pikir mereka. Sungguh suci jiwa-jiwa mereka. Yang masih belum tahu sisi kekotoran dunia. Mereka masih menegakkan kebenaran dalam bingkai keluguan. Anak-anak itu mempunyai kemampuan dalam menikmati kebenaran. Menikmati indahnya dunia dengan tidak adanya kebohongan. Jiwa-jiwa yang menjadikan mereka masih tetap berpegang dalam bingkai hati kebenaran dalam keadilan. Nikmat benar, mahluk yang disebut anak-anak itu.

Beberapa kali terlihat pedagang asongan yang menjualkan barang dagangannya. Makanan, mainan, cinderamata menjadi barang dagangan yang dipasarkan oleh pedagang asongan ditaman wisata ini. Ada yang memakai gerobak dorong, ada yang dipanggul atau dipikul. Perjuangan yang sangat berat untuk menghidupi diri mereka sendiri dan keluarganya. Tetapi, para pedagang itu tetap terlihat begitu bersemangat. Ditolaknya dagangan mereka, bukan berarti mereka harus menyerah begitu saja. Tetapi, mereka dengan cepat menawarkan barang-barang kepada calon pembeli yang lainnya. Ada semangat yang luar biasa didiri mereka. Semangat untuk hidup dalam perjuangannya, dapat kita ambil contoh. Mereka pun terlihat tidak berputus asa dengan dagangannya. Yang terlihat malahan semangat yang menggebu-gebu. Seraya motto Pantang menyerah dalam susah yang berkepanjangan. Menjadi pola hidup para pedagan asongan itu. Merupakan semangat yang sangat luar biasa. Patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi, saat-saat kami sedang berjalan-jalan. Menikmati keindahan alam. Nova, memegang tanganku dengan erat.

Ukh. Itukan Efendi! Ucapnya, seraya menunjukkan seseorang yang sedang berjalan kearah kami.

HA! Benar dia, Efendi. Lari Ukh! Ucapku, saat melihatnya.

Seketika itu pun kami bertiga berlari kearah mobil. Saat-saat kami berlari, ternyata banyak orang yang ingin mengejar kami. Ada beberapa orang yang berjas hitam dan berdasi bercorak cerah berwarna putih pun, mengejar kami. Pakaian mereka sangat rapi sekali. Mereka seperti orang-orang yang mengejar kami saat di tol. Kami pun akhirnya berlari sekuat tenaga kami. Jarak antara mobil dan kami ternyata masih jauh. Dari arah depan pun, ada seseorang yang sudah menghadang.

UKH, BELOK KIRI! Teriakku. Yang disitu terlihat ada jalan setapak kecil, kearah hutan.

Dengan cepat kami bertiga berlari kedalam hutan.

KITA BERPENCAR! Teriakku. Karena dengan berpencar mereka akan bingung untuk menangkap kami. Pikirku.

Akhirnya kami pun berpencar saat berlari kedalam hutan. Entahlah, aku tidak tahu ini daerah mana. Pokoknya aku harus lari dan selamat dari kejaran para penjahat itu. Aku pun terus masuk kedalam lebatnya hutan. Semakin kedalam, hingga aku sendiri tidak tahu arah yang benar. Beberapa orang masih terus mengejarku. Dan tak pelak, mereka pun berani menembakkan pistolnya saat didalam hutan. Untung saja, peluru-peluru itu hanya mengenai pohon-pohon jati yang menjulang tinggi. Kakiku sudah semakin berat untuk melangkah, jalan yang menanjak serasa membuatku berat untuk terus berlari. Sebuah pohon besar pun menjadi pilihan tempat persembunyian. Dengan terus berdzikir, aku mencoba untuk bersembunyi dibalik pohon besar. Terdengar suara seseorang yang berlari. Segera saja aku langsung menyembunyikan diri. Para penjahat itu, sejenak mereka berhenti. Dengan jantung yang berdegup tak beraturan. Aku beranikan diri untuk mengintip dari celah-celah pohon jati. Para penjahat itu terlihat mencariku. Tak lama mereka pun pergi, setelah mereka tidak mengetahui keberadaanku. Alhamdulillah!

Saat aku akan keluar dari pohon Jati.

Mau kemana, kamu Ucap seseorang yang sudah berada didepanku. Dengan memegang pistolnya.

Apa mau kalian Ucapku.

Aku hanya menginginkan data-data itu! CEPAT SERAHKAN. Bentaknya.

Aku bingung. Hem, ini kesempatanku. Aku akan bohongi dia! Pikirku dalam hati. Aku harus bisa keluar dari hutan dan sergapan para penjahat itu dulu. Baik. Tetapi aku harus mengambilnya dimobil dulu! Jawabku.

Baik. Ayo cepat! Perintahnya.

Aku dan penjahat itu berjalan menuju mobil. Ternyata lariku memang sangat jauh dari wilayah tempat wisata. Saat aku berjalan, terasa sangat jauh dari tempat wisata.

***

Dewi dan Nova pun, ternyata sudah tertangkap oleh penjahat-penjahat itu. Setelah kami menghampiri mereka. Tetapi tidak lama, Efendi datang dengan beberapa anak buahnya.

HAI! SERAHKAN MEREKA KEPADA KAMI Teriak Efendi. Garang.

SIAPA KAMU Teriak penjahat itupun. Tidak kalah kerasnya.

Tidak perlu kau tahu siapa aku. Pokoknya serahkan mereka kepada kami! Jawab Efendi.

Kalian mau cari perkara dengan kami Sergah para penjahat itu. Dengan mengarahkan pistolnya kearah Efendi.

Hem. Kalian kira kami takut kepada kalian! Ucap Efendi dengan congkaknya. Dengan mengeluarkan pistol dan mengarahkanya kepada para penjahat itu.

Segerombolan penjahat-penajahat dan gerombolan Efendi. Saling menodongkan pistonya. Mereka ternyata tidak saling mengenal. Sekilas mereka diam. Mereka saling melotot satu sama lainnya.

Baik! Kalau itu mau kalian. Kami akan melepaskan wanita-wanita ini! Ucap. Salah satu penjahat.

Efendi tersenyum atas kemenangannya. Begitu, memang lebih baik! Ucap Efendi.

Akhirnya penjahat itu pun meninggalkan kami. Dan sekarang, Efendi yang memegang kekuasannya.

Dasar, wanita-wanita binal! Berani-berani kalian melawan kami. Ucap Efendi dengan sombongnya.

Kami bertiga masih terdiam. Terpaku dalam dzikir kami masing-masing. Bermunajat dan memohon pertolongan kepada Allah.

Sudah Bos, kita bunuh mereka disini! Ucap anak buah Efendi.

Enak saja, dibunuh! Setelah kita susah mendapatkannya, lalu kita langsung membunuhnya Sebaiknya, kita nikmati tubuh wanita ini satu persatu. Baru kita bunuh! Ucap anak buah Efendi yang lainnya.

Iya, benar! Ucap Efendi. Dengan senyuman yang menjijikkan.

Masya Allah! Yaa Allah tolong kami. Dengan erat, kami bertiga berpegangan tangan. Walau pun nyawa melayang, ruh kembali kepada Ilahi. Asal kita hidup dalam keadaan suci, lebih baik kita mati pula dengan keadaan suci! Tekadku dalam hati.

Para anak buah Efendi memegangi kami. Mereka ingin mendapatkan sesuatu yang kami miliki. Tetapi, aku tidak akan pernah tinggal diam untuk menjaganya. Selamanya. Karena itu adalah milik Allah. Maka harus diberikan kepada mahluk yang diridhoi oleh Allah. Kami bertiga pun berontak, tetapi. Apalah daya, tubuh seorang wanita. Dipegangi oleh tangan-tangan kuat dalam kebengisan dan kehinaan. Tangantangan kotor yang menjijikkan. YAA ALLAH, TOLONG KAMI!

DOR.... DOOR...DOOORR! Terdengar rentetan tembakan.

Anak buah Efendi pun, limbung dan berjatuhan. Mereka terkena peluru-peluru yang telah dimuntahkan. Efendi terlihat ketakutan. Semua anak buahnya berjatuhan. Kini tinggal Efendi yang terpaku sendiri. Dia tidak berani lari. Karena, ternyata para penjahat itu tidak dengan mudahnya melepaskan kami dari tangan Efendi.

Hei. Bagaimana Masih mau melawan kami! Ucap Seorang penjahat itu. Dengan menenteng senapan M16 ditangannya. Lalu menodongkan, tepat dikepala Efendi.

Efendi sangat ketakutan. Pistol yang berada ditangannya pun, dijatuhkan. Seraya dia menyerah dan menundukkan kepalanya. Iya. Ampun-ampun! Saya menyerah. Jangan bunuh saya!

Hahaha.... dasar pengecut! Kami kira, kalian adalah para profesional. Ternyata, kalian hanya amatiran! Ucap Penjahat itu. Sambil tetap menodongkan senjatanya kearah kepala Efendi.

Efendi hanya bisa meminta ampun. Saya menyerah! Ampuni saya! Ucap Efendi. Mengemis dalam keinginannya untuk diampuni.

Kami akan melepaskanmu! Ucap penjahat itu.

Iya, terima kasih. Saya akan menyerahkan ketiga wanita binal itu kepada kalian! Ucap Efendi, dengan mulut bisanya.

Penjahat itu tersenyum. Terima kasih! Saya akan melepaskanmu sekarang. Ucap Penjahat itu.

Efendi tersenyum.

DOOORR....

Efendi pun jatuh. Badannya sudah tak bernyawa. Wajahnya mati dalam ekspresi yang menakutkan. Efendi ditembak tepat dikepalanya.

Aku sudah melepaskanmu! Hahahaa.... Ujar penjahat itu. Sekarang. Serahkan data-data itu! Penjahat itu kini menodongkan senjatanya kearah kami.

Kami tidak mempunyai data-data itu! Ucap Dewi ketakutan.

Hem. Jadi kalian membohongi kami yah! Sergah penjahat yang lainnya.

Sudah. Kita bunuh saja mereka sekarang! Ucap penjahat yang menodongkan senjatanya kepada kami.

Lebih baik kematian, yang memberikan kesyahidan. Daripada harus terenggut kesucian kami sebagai seorang wanita yang dimuliakan-Nya.

Sreett..... Srupp.. Sebuah pisau. Menancap tepat berada di jantung penjahat yang menodongkan senjatanya kepadaku.

AH!..... Awas ada yang menyerang kita. Ucap penjahat itu. Yang langsung limbung, dan terjatuh.

Seketika itu pun. Para penjahat-penjahat itu menghujamkan rentetan tembakan yang membabi buta. Mereka tidak mengetahui seseorang yang menyerang mereka. Satu lagi, seorang penjahat jatuh terkena lemparan pisau. Tepat dijantungnya. Seakanakan, seorang pelempar itu sangat ahli sekali melemparkan pisau.

Sudah bunuh saja wanita itu. Cepat! Perintah seorang penjahat yang berkacamata hitam.

Dengan cepat salah satu penjahat mengarahkan M16nya kepada kami.

Tetapi, sebuah belati tertancap tepat berada di tangan penjahat yang akan menembak kami. Tepat berada diurat jari-jemari penjahat itu. Sehingga penjahat itu pun tidak bisa menembakkan senjatanya kepada kami.

Lalu, munculullah lima orang. Dari belakang para penjahat-penjahat itu. Dengan cepat lima orang yang tidak dikenal itu menyerang para penjahat dengan cepat. Para penjahat itupun terkaget, hingga mereka tidak menyadari kalau senjata mereka sudah tidak berpeluru lagi. Para orang-orang tidak dikenal itu pun, menyerang dengan sangat cepat. Gerakan mereka bagaikan sekumpulan orang-orang yang sudah terlatih. Para penjahat itu dengan mudah diterjang oleh hujaman serangan para orangorang yang tidak kami kenal. Serangan itu sangat cepat sekali. Para orang-orang tidak dikenal itu bagaikan sekumpulan tentara-tentara yang bertempur dimedan laga. Jiwa kesatria mereka muncul dengan dahsyatnya serangan mereka.

Akhirnya para penjahat dan orang yang tidak dikenal itu pun bertarung dengan sengit. Hingga-hingga dengan cepat orang-orang yang tidak dikenal itu dapat mematahkan serangan para penjahat itu. Sergapan orang-orang yang tidak dikenal itupun bisa melupuhkan para penjahat dengan serangannya. Para orang-orang tidak dikenal itu sangat ganas dalam penyerangannya. Wajah-wajah mereka bagaikan menantang maut yang akan menimpanya. Tetapi mereka tidak takut sama sekali.

Setelah orang-orang tidak dikenal itu dapat melumpuhkan para penjahat. Salah satu orang tidak dikenal, datang kepada kami.

Ukhti. Jangan takut. Allah beserta kita! Allah beserta orang-orang yang berjuang dalam agamnya! Kami adalah Jundi-jundi Allah. Ucapnya. Seraya teduh dalam pandangannya.

Benar-benar hebat. Mereka garang menghadapi kezhaliman. Tetapi, mereka akan sangat berkasih sayang dengan saudara seimannya. Itulah, para jundi-jundi Allah.

Syukron! Ucapku.

Akhirnya kami pun diantar untuk langsung menuju mobil. Dengan pengawalan seorang jundi-jundi Allah. Sungguh benar-benar pertolongan yang diberikan oleh Allah benar-benar nyata. Benar-benar membuat kita akan teringat akan janji-janji Allah. Sungguh, Allah tidak akan pernah lupa dengan janji-janjinya. Janji untuk menolong para mujahid dan mujahidah Allah yang berjuang dalam menegakkan agamannya.