bidang sederhana seluas tubuh
tapi seperti Atlas yang tabah
kau pikul semesta rahasia
bagai simpul arus darah
mengawal jantung manusia,
kau kawal jantung kata
yang bergayut, yang berdenyut
di antara karang-karang hitam
dasar palung mimpi-mimpi burukku
jantung kata itu, katamu,
lapis lazuli tembus pandang.
tersembunyi, meski membentang
di depan bola mata
dekat namun tak tergapai oleh ujung jemari
carilah, galilah,
semoga direstui oleh pengetahuan yang suci.
alas tidurku
bidang sederhana seluas ruh
mulutku adalah mulutmu
dan lidahku adalah lidahmu.
kedua mataku buta, namun masih ada telinga
untuk mendengar segala yang kau bisikkan
lewat suaraku sendiri.
kedua mata itu buta, bisikmu,
agar aku terhindar dari ingin
untuk menyederhanakan yang terlihat
dalam definisi, dalam serangkaian pasti;
supaya bertanya, misalnya:
apakah Icarus terhempas ke air
karena panas matahari
atau sepi yang kebetulan hinggap
pada ceruk punggungnya yang bersayap
alas tidurku
jalan menanjak seluas tubuh, seluas ruh
menuju pal cahaya, inti kegilaan warna-warna
jalan menurun seluas ruh, seluas tubuh
menuju sungai panjang bawah tanah
batas rumpang wilayah
manusia dan arwah.
/2012