Kebebasan pada dasarnya dipahami dalam dua bentuk: negatif dan positif. Konsepsi kebebasan negatif mengacu pada suatu keadaan di mana kita bebas dari paksaan orang lain. Paksaan, misalnya dalam bentuk hukum, di sini hanya diperlukan untuk mencegah tindakan seseorang yang merugikan orang lain.
Konsepsi kebebasan positif merujuk pada suatu keadaan di mana kita bebas untuk menata kehidupan kita, bebas untuk berpartisipasi dalam suatu proses yang akan mengontrol hidup kita. Di sini seorang manusia bebas dianggap sebagai seorang manusia yang dapat melakukan halhal yang dianggap bernilai untuk dilakukan.
Sekilas, dua konsepsi kebebasan ini tampaknya tidak jauh berbeda dalam hal konsekuensikonsekuensi praktisnya. Menurut saya, sampai tingkat tertentu keduanya memang tidak bisa dipisahkan. Namun pada dasarnya keduanya berbeda. Dan perbedaan ini bisa menghasilkan dua manusia berbeda yang melakukan dua jenis tindakan yang sepenuhnya bertentangan, keduanya atas nama kebebasan.
Dari sejarah pemikiran politik kita tahu bahwa dua konsepsi kebebasan ini bukan merupakan hal baru. Locke, hobbes, Constant,Mill,Bentham,Tocquevilleadalahnamanamabesaryang seringkali dikaitkan dengan konsepsi kebebasan negatif; sementara hegel, Marx, dan Rousseau dengan kebebasan positif.
Dalam esai pendek ini saya tidak akan mengulas argumenargumen para pemikir besar dan klasik ini. Di sini saya akan mengkaji dua filsuf kontemporer yang populer (Isaiah Berlindan Charles taylor), yang mewakili masingmasing konsepsi tersebut. Saya akan menjelaskan posisi keduanya. Pertamatama harus saya katakan bahwa konsepsi kebebasan negatif lebih unggul, baik secara moral maupun intelektual. Saya lebih setuju dengan Sir Berlin. Karena itu, esai ini juga bertujuan mempertahankan konsepsi kebebasan negatif dari seranganserangan yang dilancarkan oleh para pemikir seperti taylor.
***
Saya lazimnya dianggap bebas sampai tingkat di mana tidak ada manusia atau kumpulan manusia yang ikut campur dengan aktivitas saya. Kebebasan politik dalam pengertian ini adalah suatu wilayah yang di dalamnya seseorang bisa bertindak tanpa dirintangi orang lain. Jika saya dihalangi orang lain untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan, maka sampai tingkat tertentu saya tidak bebas; dan jika wilayah ini dipersempit oleh orang lain melebihi suatu batas minimum, maka saya dapat dianggap telah dikekang, atau mungkin diperbudak.
Katakata Isaiah Berlin ini adalah inti dari konsepsi keb ebasannya. Kekangan, dalam konteks paragraf ini, bukan mer upa kan suatu istilah yang melingkupi setiap bentuk ke tidakmampuan. Kekangan dan ketidakmampuan untuk mela kukan halhal tertentu hendaknya tidak dicampuradukkan: Jika saya mengatakan bahwa saya tidak mampu melompat di udara lebih dari 10 kaki, ...atau tidak mampu memahami halamanhalaman sulit buku hegel, akan aneh untuk mengatakan bahwa saya sampai tingkat tersebut dikekang atau diperbudak.
Saya mungkin tidak mampu membeli roti, atau tamasya keliling dunia mengunjungi kotakota yang indah, karena saya miskin, namun hal ini tidak niscaya berarti bahwa saya bukan manusia bebas. hanya ketika saya yakin kemiskinan saya disebabkan oleh kenyataan bahwa orang lain telah merancang suatu keadaan di mana saya, dan bukan orang lain, terhalangi un tuk memiliki uang yang cukup, maka saya dapat mengatakan bahwa saya adalah korban pengekangan, dan dengan demikian bukan manusia bebas. Di sini, menurut Berlin, teoriteori ekonomi memainkan suatu peran penting dalam menjelaskan tentang sebabsebab kemiskinan tersebut.
Bebas berarti memiliki suatu wilayah kehidupan pribadi yang tidak dapat dicampurtangani oleh orang lain. Semakin luas wilayah di mana saya tidak dicampurtangani, semakin luas ke bebasan saya. Dengan kata lain, kebebasan mensyaratkan suatu wilayah minimum kebebasan pribadi yang samasekali tidak bisa dilanggar, ...karena jika hal itu dilanggar, seorang individu akan merasa ruang geraknya terlalu sempit bahkan un tuk perkembangan minimum kemampuankemampuan alamiahnya yang memungkinkannya untuk mengejar, dan menca pai, berbagai macam tujuan yang dianggap manusia baik, be nar atau sakral. hal ini berarti bahwa suatu pemisahan yang jelas harus
diteguhkan antara wilayah kehidupan pribadi dan wilayah otoritas publik. Jika otoritas publik tersebut melanggar wilayah kehidupan pribadi, meski sedikit, maka hal itu akan diang gap sebagai suatu despotisme, suatu tirani. agar kebebasan terjaga, pemisahan tersebut harus menjamin paling tidak suatu wilayah minimum kebebasan pribadi. Wilayah pribadi yang dilindungi ini merupakan suatu ruang di mana hakikat manusia dibiarkan berkembang.
Dalam memberikan pembenaran bagi konsepsi kebebasan negatif, Berlin sampai tingkat tertentu tampak mengulangi argumenargumen Mill, meskipun bukan tanpa perbaikanperbaikan. Seperti kita tahu, bagi Mill kebebasan merupakan suatu keharusan jika kita tidak ingin menjerumuskan seluruh masyarakat ke dalam lembah mediokritas kolektif. Kebebasan adalah syarat bagi kreativitas. Jika kita tidak membiarkan manusia hidup seperti yang mereka inginkan, kebenaran tidak akan terkuak karena tidak ada pasar bebas gagasan. tanpa kebebasan pribadi, halhal baik dari kehidupan seperti kreativitas, spontanitas, energi moral, dan orisinalitas mandek: tanpa semua ini peradaban tidak bisa maju.
Bagi Berlin, alasan utilitarian ini hanya tak terbantahkan dalam pengertian bahwa jika dogma menghancurkan semua pemikiran, tak seorang pun akan mengatakan bahwa kebenaran atau kebebasan berekspresi bisa berkembang. Namun, persoalannya, sejarah memperlihatkan bahwa kualitaskualitas manusia yang sangat dihargai oleh Millyakni kreativitas, cinta kebenaran, integritastumbuh dengan sama suburnya dalam komunitaskomunitas yang sangat terdisiplinkan (misalnya kaum Puritan Kalvinis di Skotlandia atau New England, atau dalam disiplin militer), sebagaimana dalam masyarakatmasyarakat yang lebih toleran atau lebih bebas. Dengan kata lain, meskipun argumen utilitarian Mill secara prinsip terdengar mulia, argumen tersebut secara empiris kurang me yakinkan.
Karena itu, diperlukan suatu pembenaran lain yang lebih kuat. Dan di sini Berlin kembali pada argumen Mill yang lain
(dan, sampai tingkat tertentu, juga Tocqueville). Bagi Berlin,alasan terkuat untuk menerima gagasan tentang kebebasan negatif adalah bahwa gagasan ini, jika dipraktikkan, dapat menghindari kejahatan politik terbesar: tirani. Sekalipun rezim politik terse but tidak demokratis (misalnya monarki), asalkan batasbatas wilayah pribadi tidak dilanggarsehingga warganegara masih bisa berbicara dan bertindak tanpa campurtangan dari oto ritasmasyarakat tak terancam oleh tirani.
Sebaliknya, bagi Berlin, konsepsi kebebasan positif sangat rentan terhadap godaangodaan tiranik atau totalitarian. Kebebasan ini mendasarkan konsepsinya pada suatu bentuk kehidupan atau nilainilai hidup yang lebih tinggi sebagaimana yangdidefinisikanolehaktoraktorpolitikatauintelektual.Begitu bentukbentuk kehidupan yang lebih tinggi ini didefi n isikan, siapapun dapat dihancurkan, dan rezim totalitarian diteguhkan, atas nama kebebasan.
Nanti, setelah saya menjelaskan kritik Charles taylor terhadap konsepsi kebebasan negatif tersebut, saya akan menjabarkan lebih jauh pembelaan kebebasan Berlinian ini.
***
Manusia bisa dipaksa untuk menjadi bebas. Diktum Rousseauian ini adalah inti pembelaan Charles taylor terhadap kebebasan positif. terdapat tujuantujuan manusia yang lebih tinggi: jika kita tidak mewujudkan tujuantujuan (atau nilainilai) ini, kita tidak bebas, betapapun besar wilayah kebebasan pribadi yang kita punyai. Kebebasan untuk me lakukan sesuatu yang bertentangan dengan kepentinganke pentingan akhir kita sama sekali bukan kebebasan. Kebebasan tanpa konsepsi tertentu tentang tujuantujuan (yang lebih tinggi) adalah mustahil.
Rintangan terhadap kebebasan bisa bersifat eksternal dan internal. Kita bisa gagal untuk mencapai realisasi diri kita karena berbagai ketakutan, atau kesadaran palsu, serta karena kekangan eksternal. Bagi taylor, apa yang salah dengan kebebasan negatif adalah penolakannya untuk mengakui peran rintanganrintangan internal. Para filsuf kebebasan negatif,seperti hobbes dan Bentham, samasekali keliru ketika mereka mengatakan bahwa kita bebas sejauh kita tidak mempunyai rintanganrintangan eksternal yang menghalangi kehidupan pribadi kita.
Bagi taylor, keuntungan serta kegagalan terbesar kebe basan negatif dapat ditemukan dalam kesederhanannya. Ke bebasan negatif memungkinkan kita untuk mengatakan bah wa kebebasan adalah mampu mengatakan apa yang anda inginkan, di mana apa yang anda inginkan dengan mudah di pahami sebagai apa yang bisa diidentifikasi orang tersebut sebagaihasrathasratnya. Keuntungannya: ia bisa memperkuat perjuanga n kita menentang ancaman totalitarian. Bahayanya: ia tidak bisa dipertahankan sebagai suatu pandangan tentang kebebasan, yang bisa menjadikan kita sematamata memper tahankan Maginot Line. terhadap dimensi terakhir ke bebasan negatif inilah taylor memusatkan serangannya.
Bagi taylor, kebebasan negatif bersandar pada konsep kesempatan; sementara kebebasan positif bersandar pada konsep pelaksanaan. yang pertama adalah suatu pand ang an tentang tindakan manusia tanpa inti (apapun yang anda la kukan, sejauh anda tidak merugikan orang lain, dianggap se bagai cerminan dari kebebasan anda. Di sini nilainilai atau tujuantuj uan tidak dibedakan). yang kedua sangat ter kait dengan pandangan realisasidiri, yang membedakan nilainilai menurut kepen tingan si agen. Mari kita lihat bagaim ana taylor menjelask an pandangannya tentang poin ini:
Kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang bebas, berdasarkan pandangan realisasi diri, jika ia sepenuhnya tak terejawantahkan, jika, misalnya, ia sepenuhnya tidak sadar akan potensinya, jika mewujudkan hal ini tidak pernah mun cul sebagai suatu pertanyaan baginya, atau jika ia dilum puhkan oleh ketakutan akan melanggar normanorma yang telah ia internalisasi namun tidak benarbenar mencer minkan dirinya.
Jika kita menerima gagasan kebebasan taylorian ini, maka kita secara logis akan menerima pandangan bahwa mampu mela kukan apa yang kita inginkan bukan merupakan suatu syarat yang memadai untuk menjadi bebas. untuk menjadi bebas kita harus tahu tujuan yang kita kejar, tanpa dipengaruhi oleh kepentingankepentingan palsu.
Bagaimana jika kita gagal mengetahui keinginan kita yang sejati apakah dibenarkan jika seseorang (misalnya saja seorang pemimpin partai), dengan menggunakan otoritas publik, memaksa kita untuk menerima suatu bentuk keinginan tertentu sebagai keinginan sejati kita Dalam hal ini taylor kurang je las. Ia setuju bahwa pada akhirnya si individu sendiri yang akan me mutuskan. Namun ia semakin kurang jelas saat meng ata kan, Sang subyek itu sendiri tidak bisa men jadi oto ritas ter ak hir menyangkut pertanyaan apakah ia bebas; karena ia tidak bis a menjadi otoritas terakhir menyangkut per soalan apak ah keinginankeinginannya adalah otentik, apak ah keinginankeingin annya tersebut merintangi atau tidak me rin tangi tujuannya.
Jadi, jika sang subyek itu sendiri bukan merupakan se seorang yang memutuskan apa keinginannya yang sejati, lalu siapa Kaum intelektual Kaum birokrat Para pemimpin partai Dan bagaimana mereka akan tahu Melalui pengetahuan abstrak dan teoretis Melalui formulasi empiris Bukankah di sini kita sudah hampir melanggar garis batas totalitarian atau despotik, karena begitu kita menerima gagasan bahwa seorang individu pada dasarnya tidak mampu mengetahui apa yang mereka inginkan, maka kesempatan bagi seseorang yang kuat dan memiliki kekuasaan besarserta pengetahuan tentang tujuantujuan sejatiakan terbuka lebar
Sekali lagi, di sini taylor kurang jelas dalam menjelaskan poinpoinnya. Ia tampak menghindari persoalanpersoalan sulitini.Parafilsufyangmendukungkebebasannegatiftidakharus menjelaskan konsepsi tentang nilainilai yang lebih tinggi, atau bagaimana nilainilai ini harus diputuskan atau diwujudkan. Nilainilai yang lebih tinggi kurang menjadi sorotan dalam skema mereka tentang halihwal. Persoalan tentang nilai harus diserahkan sepenuhnya pada si individu itu sendiri. Sebaliknya,parafilsufyangmembelakebebasanpositif,karenamereka mendasarkan gagasan mereka pada tujuantujuan yang lebih tinggi, atau pada realisasidiri sejati, harus menje laskan apa nilainilai yang lebih tinggi tersebut, secara teoretis maupun dalam perwujudan praktisnya. Jika mereka gagal me lakukan hal itu, mereka sangat mungkin dituduh han ya memberi per nyataan, bukan argumen.
***
Sebelum kita mengkaji argumenargumen Berlin terhadap seranganserangan taylorian seperti di atas, penting untuk melihatbahwaparafilsufyangmendukungkebebasannegatiftidakmenyangkal bahwa terdapat halhal baik yang mungkin diwujudkan dalam masyarakat modern dengan berdasarkan pada gag asan positif tentang kebebasan. Gagasan ini merupakan inti dari berbagai tuntutan akan kedaulatan nasional dan pem bentukan ne gara kesejahteraan. [tidak] mengakui hal ini, demikian Berlin mengingatkan kita, berarti tidak memah ami kenyataankenya taan dan gagasangagasan yang paling vital di zaman kita.
Namun,apayangditentangolehparafilsufkebebasanterse but adalah ekstremisme, reduksionisme berlebihan dalam memahami tindakan dan kebebasan manusia, atas nama realisasidiri, nilainilai yang lebih tinggi, atau apapun. Bagi mereka,ekstremismeinibisamenjadidasarfilosofiskekuasaanyangdespotik.
Nah, untuk memahami bagaimana para pemikir kebebasan negatif mengkritik gagasan positif tentang kebebasan, poin yang akan ditekankan dengan kuat adalah tentang kompleksitas tindakan manusia dalam kaitannya dengan kebebasan. Dalam kehidupan kita, kita melakukan begitu banyak tindakan, baik yang besar maupun kecilmulai dari memberikan suara dalam pemilu dan memilih sekolahan, hingga membaca puisi dan majalah Playboy. tak banyak orang yang dapat membuat tindakan mereka utuhpadu. Sebagian besar dari kita, manu sia biasa, adalah orangorang yang tidak konsisten: kita suka membacaotobiografiMahatmaGandhidanWar and Peace tolstoy, dan pada saat yang bersamaan kita juga suka membeli mobil yang lebih bagus dan membeli sikat gigi elektronik. Dalam kehidupan kita, terdapat begitu banyak kombinasi tindakan yang tidak koheren.
Lebih jauh, seperti yang dikemukakan Berlin, selain kompleksitas tindakan ini, manusia juga memiliki kompleksitas tujuan dan keinginan. "tujuantujuan kita banyak," ungkap Berlin, dan tidak semua tujuan tersebut pada dasarnya sesuai satu sama lain. Sebagian dari tujuan tersebut bahkan ber benturan satu sama lain. Dalam hal ini Kant benar ketika ia mengat akan bahwa dari pohon kemanusiaan yang bengkok, tidak ada hal lurus yang muncul. hal ini berarti bahwa dalam pengalaman seharihari, kita seringkali menghadapi berbagai pilihan di antara berbagai tujuan yang samasama penting, atau pandanganpandangan yang samasama benar, dan pewu judan tujuantujuan tersebut, meminjam ungkapan Ber lin, niscaya harus mengorbankan tujuantujuan yang lain.
Karenaberbagaikompleksitasinilahparafilsufkebebasannegatif menekankan makna terpenting kebebasan untuk memilih atau kebebasan pribadi dalam membuat keputusan menyangkut hasrat dan tindakan kita. Menurut Berlin, jika kita tidak menegaskan pentingnya kebebasan untuk memilih, kita akan cenderung percaya bahwa sebuah formula tunggal tertentu pada dasarnya dapat ditemukan, dan dengannya ber bagai macam tujuan manusia dapat diwujudkan secara har monis. Keyakinan ini jelas salahdan karena itu gagasan ten tang kebebasannegatifsulitditolaksebagaifilsafatkebebasan.
Bukankah kebebasan untuk melakukan kejahatan suatu kebebasan Jika tidak, lalu apa Katakata Bentham ini memperlihatkankepadakitakenyataanbahwaparafilsufkebebasannegatif tidak menyangkal bahwa seseorang mungkin membuat suatu pilihan yang salah: bukannya memasukkan anakanaknya ke universitasuniversitas terbaik, ia malah menghabiskan uangnya untuk membeli barangbarang remeh (mobil yang lebih bagus,jasjasyangmahal).Bagiparafilsufini,persoalantersebut bukan persoalan kebebasan. Kebebasan hanya mungkin jika kita juga bebas untuk berbuat salah. Kita hendaknya tidak memberikan orangorang biasa tersebut kebebasan jika kita tidak ingin mereka membuat beberapa keputusan yang salah. Mereka memang membuat keputusankeputusan yang salah, atau mencampuradukkan keinginankeinginan; meskipun demikian, mereka adalah orang bebas sejauh mereka tidak dipaksa orang lain untuk melakukan hal itu.
BagaimanaTaylordanparafilsufpositifyanglainmenda maikan fakta kompleksitas tujuan dan tindakan tersebut dengan gagasan tentang nilainilai yang lebih tinggi dan realisasi diri Pertanyaan sederhana ini sangat susah mereka jawab dan dengan demikian memperlihatkan kelemahan mereka. Seperti telah kita lihat, bagi Berlin dan para filsuf kebebasannegatif yang lain, kenyataan tentang berbagai kom pleksitas dan kebebasan tersebut pada dasarnya terdamaikan dalam gagasan ten tang kebebasan untuk memilih: apapun kom binasi tujuan dan tindakan yang kita lakukan, kita dianggap sebagai orang bebas sejauh kita melakukan hal itu tanpa pak saan orang lain. Bagi taylor, persoalan tersebut jauh lebih pro blematis, sampai tingkat di mana hampir tidak ada posisi yang cerdas yang bisa diambil.
ambil contoh tentang seseorang yang memiliki dua ke
inginan. Kita anggap saja bahwa satu dari keinginankeinginan ini baik bagi realisasi dirinya, sementara yang lain tidak. taylor, secara logis, jelas akan mengatakan bahwa orang ini hanya setengah bebas. Sekali lagi, mari kita anggap bahwa gagasan tentang setengah bebas ini masih masuk akal. Namun bagaim ana jika seseorang memiliki enam keinginan (harus kita ingat, dalam dunia nyata, siapapun bisa memiliki jumlah keinginan yang tak terbatas). Jika hanya satu dari keenam keinginan itu dianggap sebagai keinginan sejatinya (sekali lagi, mari kita anggap gagasan tentang keinginan sejati tidak bermasalah), apakah masih masuk akal mengatakan bahwa ia 1/6 be bas apa itu 1/6 bebas2/5, 235/457, 34/89 bebas Dan apa yang akan kita katakan tentang kebebasan dalam sebuah masya rakat dengan jutaan orang dan jumlah keinginan yang tak terbatas
Berhadapan dengan persoalan ini, satusatunya cara bagi taylor untuk menyelamatkan gagasannya adalah dengan membagi manusia menjadi dua diri. Diri yang pertama lebih tinggi, atau rasional, atau diri sejati. Diri yang lain adalah diri empiris, lebih rendah, irasional, atau diri yang takterken dalikan. yang pertama adalah diri yang menjadi sumber realisasi diri sejati. hanya diri pertama inilah yang merupakan wilayah kebebas an sesungguhnya. Diri yang kedua adalah sebuah entitas (da lam katakata Berlin) yang dilingkupi hasrat dan nafsu, di perb udak oleh keinginan akan kenikmatan sesaat, sumber kekeliruan. hanya dengan membuat pembedaan seperti ini gag asan tentang realisasi diri sejati la taylor menjadi ma suk akal: pembedaan ini memungkinkan kita menyeder hanakan kompleksitas tindakan dan keinginan manusia tersebut menjadi dua sifat yang bertentanganbaik dan buruk, lebih tinggi dan lebih rendah, sejati dan palsu.
BagiparafilsufkebebasannegatifsepertiBerlin,disinilahletak bahaya terbesarnya. Diri yang sejati dan lebih tinggi tersebut dengan mudah dapat digelembungkan atau diubah menj adi sesuatu yang lebih luas dibanding seorang individu suatu suku, ras, negara, suatu masyarakat besar, suatu kelas sosial, atau jalannya sejarah. Diri sejati yang lebih luas ini kemudian bisa digunakan untuk memaksakan keinginan kolektif dan organiknya pada para anggotanya yang mem bang kang. Dengan membebankan dan memaksakan kehendaknya pad a diri yang empiris, diri sejati yang lebih luas tersebut me mun culkan kebebasan yang lebih tinggi.
Pembedaan diri seperti itu, menurut Berlin, bisa menjadikan kita:
...mengabaikan keinginankeinginan nyata manusia atau masyarakat; menggertak, menindas, serta menyiksa mereka atas nama, atau demi diri sejati mereka, dengan penget ahuan pasti bahwa apapun tujuan sejati manusia (keba hagiaan, pemenuhan kewajiban, kebijakan, suatu masya rakat yang adil, pemenuhan diri) pasti identik dengan ke be basannyapilihan bebas dirinya yang sejati, mes ki seringkali terpendam dan tak terungkapkan.
Bagi Berlin, posisi seperti ini merupakan inti semua teori politik tentang realisasi diri (teori taylor adalah salah satunya). Posisi ini memungkinkan seseorang membuat suatu impersonasi besar, yang cenderung menyamakan apa yang akan di pilih X jika ia adalah sesuatu yang bukan dirinya, atau paling tidak belum dirinya, dengan apa yang sebenarnya dikejar dan dipilih X.
Dengan kata lain, posisi ini adalah resep bagi tirani. Dan me nurut Berlin, sejarah abad kita telah memperlihatkan bahwa tirani paling kejam dan teror terbesar terhadap kemanusiaan dilakukan ketika diri yang dianggap lebih tinggi dan sejati tersebut memaksakan kehendaknya pada diri empiris yang dianggap penuh dengan hasrat dan nafsu yang lebih rendah. tepat inilah yang terjadi di Rusia di bawah Stalin dan Jerman di bawah hitler.
tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa taylor dan para pemikir kebebasan positif yang lain adalah para pemikir yang tak liberal atau para pendukung despotisme. apa yang ingin di perlihatkan oleh argumenargumen Berlin adalah bahwa konsepsi positif tentang kebebasan tersebut tidak dapat dipert ahankansebagaifilsafatkebebasan:iasangatmudahdimanfaatkan oleh seorang despot untuk membangun suatu kerajaan paksaan; ia juga memunculkan suatu kesalahpahaman besar tentang sifat dan problem kebebasan.