Konon, seperti itulah mitos yang dikenal di Woolwich, sebuah kompleks reruntuhan bangunan tua peninggalan abad 19 yang berada di daerah London Tenggara. Kompleks itu dulunya adalah p erumahan yang dihuni oleh pekerja gudang senjata, me reka be-kerja membuat dan memasok senjata untuk tentara kerajaan Inggris. N amun, setelah tahun demi tahun mengelupas dari dinding-dinding usia, maka yang tersisa kini hanyalah orang-orang yang menyaksikan deretan gedung tua Woolwich yang sebagiannya telah runtuh, dan mereka akan membayangkan betapa bangunan itu pernah menyaksikan sejarah yang panjang dan mungkin memilukan.
Dan di salah satu bangunan rumah yang masih utuh itulah patung tersebut berdiri, tepatnya di tengah ruangan yang dikelilingi lukisan-lukisan klasik. Patung itu berupa sosok manusia yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk, dengan tangan kanan memegang pipinya. Seluruh permukaan patung itu berwarna keabu-abuan, tampaknya dahulu ia berwarna putih sebelum udara membuatnya jadi kusam. Tak ada satupun petunjuk tentang siapa yang membuat patung ter-sebut. Dari bentuknya, patung itu menyerupai seorang laki-laki, tapi ada juga yang berkata bahwa sosok itu sebenarnya adalah perempuan.
Atau, dia adalah sepasang kekasih yang menyatu dalam satu t ubuh
Mungkin juga. Mereka dikutuk jadi patung.
Apa mereka dikutuk karena saling dicintai
Ah, mengapa kisah cinta selalu diikuti oleh kutukan-kutukan
Konon, setiap tempat memang membutuhkan kisah cinta. Dan begitulah akhirnya, perbincangan demi perbincangan, dugaan demi dugaan, imajinasi-imajinasi yang berlarian, seiring bergesernya waktu, menciptakan sebuah mitos yang tampak seperti sebuah k e sepakatan.
Entah siapa yang memulai, seperti tak pernah bisa dicatat tapi selalu diyakini, tiba-tiba sebagian orangterutama pasang an kekasihyang mengunjungi patung tersebut, mengaku mendengar suara tangis.
Beberapa minggu sebelum aku dan Antiona berpisah, kami sempat masuk untuk melihat patung itu, dan kami mendengar suara t angisan, kata seseorang.
Aku juga. Sebulan yang lalu aku dan kekasihku pergi m elihatnya, kami mendengar suara tangis yang memilukan. Setelah itu kami sering bertengkar, sampai tiba-tiba kuketahui bahwa kekasihku telah berselingkuh, kata seseorang yang lain.
Tapi aku tidak mendengar apa-apa, kata yang lain lagi.
Benarkah
Ya. Tak ada suara apa-apa, hanya patung berdiri.
Mungkinkah itu artinya kau dan kekasihmu tidak akan berpisah
Mungkin juga. Kami baru saja menikah dan bahagia.
Begitulah. Mitos itu pun berembus seperti angin, bebas me nyusup dalam pikiran setiap orang yang berkunjung ke sana. Meski zaman sudah semakin modern, toh manusia selalu percaya pada hal-hal semacam itu.
Seperti terjadi secara alami, perlahan kompleks Woolwich kian ramai dikunjungi para pasangan muda, terutama ba ngunan rumah yang di dalamnya terdapat patung tersebut. Bukannya justru takut mendengar mitos patung menangis, anak-anak muda sentimentil itu malah penasaran dan masih sempat-sempatnya menjadikan patung tersebut sebagai lambang cinta.
Akan kubuktikan cintaku padamu di depan patung Woolwich. Begitu ucapan yang biasa terdengar. Jika saja Tuhan menghendaki, kompleks itu pasti bisa mengalahkan romantisme Menara Eifel.
Sebagian pasangan bahkan datang bukan lagi untuk membuktikan, melainkan dengan keyakinan bahwa mitos itu memang benar. Ketika sepasang kekasih masuk dan merasa mendengar patung itu menangis, maka setelah itu mereka akan berdebat.
Aku tahu kau akan diam-diam meninggalkanku.
Tidak mungkin, Nalea. Patung itu pasti berdusta, mungkin di dalam tubuhnya ada semacam alat pemutar suara.
Jangan konyol.
Kau yang konyol, terlalu percaya pada hal seperti itu.
Dan begitulah, setiap kali mereka bertengkar, mereka merasa bahwa patung itu telah memberi isyarat yang benar. Sebaliknya, pa sangan kekasih yang merasa tidak mendengar tangisan, tiba-tiba seo lah percaya bahwa mereka pasangan paling romantis di dunia, s egala jenis pertengkaran lebih cepat reda dari embusan angin.
Terimakasih telah menjadi pasangan terbaikku.
Aku juga, Reunalta, patung itu membuatku tahu sebenarnya kau sangat mencintaiku.
Ruangan patung tersebut benar-benar menjadi tempat paling spesial di kompleks Woolwich. Pengelola kompleks lantas memasang tarif khusus untuk memasuki ruangan tersebut. Awalnya pasangan-pasangan itu diijinkan masuk beramai-ramai, tapi karena semakin padat, akhirnya mereka harus mengantre, setiap pasangan diijinkan masuk selama tiga menit untuk mendengarkan apakah patung itu menangis atau diam. Dalam sehari, ada puluhan pasangan kekasih yang mencoba peruntungan mereka. Mitos itu pun kian menyebar seperti udara, tanpa ada yang mencegahnya...
Sampai pada suatu saat, tersebutlah sepasang kekasih yangmaafsama-sama buta, hendak mencoba peruntungannya. Lelaki dan wanita ini telah melewati segala jenis permasalahan dalam cinta. Mereka telah saling mencintai tanpa pernah saling melihat wajah pasangannya. Mereka telah saling mencintai dalam kegelapan. Hal itu membuat mereka percaya dan setia. Namun rupanya itu belum cukup. Suatu hari, si wanita mengajak lelakinya berkunjung ke Woolwich, bertemu patung menangis.
Kenapa kita harus ke sana, Alesia Tanya si lelaki.
Tentu saja untuk membuktikan bahwa kita adalah pasangan yang tidak akan berpisah.
Ah. Setelah semua yang kita jalani, kita tidak butuh pembuktian seperti itu.
Apa kau takut
Tentu saja aku tidak takut, Alesia. Ayo kita ke sana.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan cukup panjang, sepasang kekasih yang buta itu tiba di Woolwich. Di trotoar, mere ka memanggil beberapa orang, Permisi, Tuan, bisakah Anda antar kami ke ba ngunan patung menangis
Beberapa orang dengan senang hati mengantar keduanya, bahkan mungkin karena alasan kemanusiaan, sepasang kekasih buta ini di ijinkan menerobos antrean dan masuk saat itu juga...
Tiga menit pun berlalu.
Di luar, orang-orang telah menunggu. Tak lama kemudian, s epasang kekasih itu keluar sambil saling menuntun, dan terlihat ke duanya sama-sama bersedih. Orang-orang mulai berspekulasi.
Lihat, mereka keluar dengan wajah murung, pasti patung itu menangis.
Kasihan, seharusnya mereka tak perlu masuk ke sana.
Aku tidak tahan melihatnya.
Namun ketika seorang pengunjung menanyakan langsung apa yang terjadi, sepasang kekasih yang buta itu memberi jawab an yang asing:
Kami mendengar patung itu tertawa, kata sepasang kekasih itu.
Tertawa
Ya. bukan hanya tertawa, tapi terbahak-bahak, seperti terpingkal-pingkal. Patung itu menertawakan kami. Orang-orang berpandangan.
Dalam mitos itu hanya disebutkan, patung itu menangis atau diam.
Tapi kami dengar patung itu tertawa. Sepasang kekasih buta itu menegaskan. Mungkin patung itu pun tak bisa menahan tawa karena tahu kami akan mengalami perpisahan yang paling menyakitkan. Tak cukup hanya dengan tangisan.
Orang-orang masih berpandangan, berbisik-bisik. Mereka yang baru datang lantas ikut bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Sementara itu, sepasang kekasih buta tadi lantas pergi begitu saja, melangkah meninggalkan Woolwich. Satu jam kemudian, keduanya sudah duduk di salah satu bangku Finsbury Park, merasakan embusan daun-daun musim gugur.
Orang-orang itu percaya begitu saja pada apa yang kita katakan, ujar si wanita. Si lelaki tersenyum.
Mereka hanya terlalu sentimentil.
Tapi kenapa tidak kau katakan saja yang sebenarnya terjadi di dalam
Memangnya apa yang kau dengar tadi
Wanita itu menarik napas. Sejujurnya, sayup-sayup aku mendengar suara tangis.
Si lelaki terkejut, lalu menjawab, Aku tidak mendengar apa-apa.
Benarkah Padahal aku yakin mendengar suara itu.
Lelaki itu merasakan nada kekecewaan dari suara kekasihnya. Sebentar Alesia, mungkin kau benar. Mungkin pendengarank u saja yang kurang baik.
Si wanita tahu bahwa lelaki itu hanya mencoba untuk menghiburnya. Ah, tidak. Aku yang salah dengar. Mungkin aku hanya terbawa mitos itu. Padahal, kita bahkan tak bisa melihat di mana letak patung tadi.
Karena tidak mau mendebatkannya lebih jauh. Wanita itu lantas meraba pundak kekasihnya, lantas menyandarkan kepalanya di sana. Si lelaki pun merangkulnya.
Apa kau masih mencintaiku, Alesia
Tentu. Apa aku harus menangis untuk membuktikannya
Lelaki itu tersenyum, daun-daun gugur di sekitar mereka seperti ornamen penutup dalam sebuah cerita romantis
Sungguh tak diketahui apa yang sebenarnya terjadi saat sepasang kekasih itu berada di dalam ruang patung menangis. Namun setidak nya, sampai cerita ini selesai ditulis, keduanya tak juga menunjukkan tanda-tanda perpisahan.