"Kamu kenapa nggak bilang mau datang ke sini" Imelda kembali bicara pada Damara lewat handphone-nya, matanya tetap menatap senang ke arah Damara di bawah sana.
"Apa terdengar mengada-ada kalau aku bilang aku ke sini karena tiba-tiba ingin lihat kamu"
Senyum semakin lebar terkembang di wajah Imelda. Apa yang dirasakannya sekarang pasti terlihat jelas di wajahnya. Rasanya sulit untuk menyembunyikan perasaan berbunga-bunga yang dirasakannya sekarang. Ia seperti gadis belasan tahun yang baru merasakan cinta pertama.
"Bisa kamu turun sebentar Akan menyenangkan kalau kita bisa bicara dari dekat." Suara Damara kembali terdengar di telinga Imelda, membuat debaran jantung Imelda terasa tidak benar kerjanya.
"Sebentar aku turun," katanya, sebelum masuk lagi ke dalam apartemen. Imelda meraih sweter dari atas tempat tidur dan bergegas turun.
Imelda menghentikan langkah bergegasnya saat ia sudah bisa melihat Damara berdiri di depan lobi. Imelda mengatur napas dan langkahnya, tidak ingin terlihat tergesa-gesa di depan Damara. Imelda melanjutkan langkah kakinya, kali ini dibuatnya senormal mungkin.
Damara tersenyum saat melihat Imelda berjalan ke arahnya, ia senang Imelda mau turun untuk menemuinya.
"Senang bisa melihat kamu..." kata Damara pelan.
"Kenapa datang semalam ini" tanya Imelda heran.
"Karena hanya di malam selarut ini para wartawan infotainment istirahat."
Imelda tertawa kecil mendengar jawaban Damara. Tawa yang membuat Damara merasa selalu ingin berada di dekat Imelda agar bisa menikmatinya.
"Mau melakukan hal tidak biasa malam ini"
"Apa" Imelda mengerutkan keningnya.
"Sesuatu yang mungkin belum pernah kamu lakukan di tempat yang tidak seorang pun mengenali kamu," jelas Damara. "Pasti akan sangat menyenangkan."
Imelda mengangguk, mengiyakan ajakan Damara. Damara tersenyum lega lalu memasangkan penutup kepala sweter Imelda, menutupi rambut Imelda yang diikat asal-asalan.
"Kita jalan sekarang," kata Damara akhirnya. Seraya mengulurkan tangannya pada Imelda.
***
Pikiran Danu melayang entah ke mana. Ia duduk bagai selongsong kosong di kursi yang disediakan untuk para tamu undangan malam itu. Danu bahkan tidak mendengar dengan jelas saat namanya disebutkan sebagai salah satu nominasi Puisi Terbaik untuk kategori pelajar. Begitu juga ketika pemenang diumumkan, Danu tidak bereaksi apa-apa. Padahal Andro yang duduk di sampingnya bergumam kecewa karena bukan nama Danu yang disebutkan.
"Yah... lo nggak menang, Nu... Kalah sama puisi anak ceking itu," kata Andro seraya menatap kesal ke arah cowok tinggi kurus yang sedang menyampaikan ucapan terima kasih di atas podium. "Kayaknya, lo harus meniru gaya Irsyad yang kayak sastrawan sakit jiwa buat menang penghargaan ini. Lihat aja, tuh anak yang menang gayanya mirip banget sama si Irsyad!"
Danu tidak mengatakan apa-apa menanggapi ocehan Andro, ia hanya duduk diam. Entah kecewa karena gagal menjadi pemenang, atau ada hal lain yang sedari tadi memang menyita begitu banyak tempat di kepalanya.
"Nu, lo nggak apa-apa, kan" tanya Andro menoleh ke arah Danu yang hanya diam tidak merespons semua ucapannya. "Lo nggak usah kecewa, masih bisa kok dapet penghargaan di tempat lain."
Menyangka Danu bertingkah seperti itu karena kecewa berat, Andro menepuk bahu Danu, tanda prihatin. Andro tentu saja salah, Danu tidak sekecewa dugaannya. Memang ada sedikit yang mengusik harga dirinya saat melihat orang lain yang naik ke panggung sebagai pemenang, tapi itu hanya sebagian kecil dari banyak hal yang membuat perasaannya tidak enak.
"Gue nggak apa-apa, Ndro," jawab Danu pelan. "Puisinya emang bagus, pantes kalo dia yang menang."
Danu memaksa dirinya untuk tersenyum, bertepuk tangan keras saat sang penerima penghargaan turun dari panggung. Berharap apa yang dilakukannya bisa menyamarkan segala kegundahannya, kekhawatiran pada ayahnya, kebimbangan menceritakan semuanya pada Damara, dan sedikit kekecewaan karena tidak bisa memberikan kabar baik untuk Anka.
***
Anka menyandarkan tubuhnya di tembok rumah sakit, tepat di depan ruang ICU. Napasnya tidak beraturan, lututnya terasa begitu lemas setelah dipakai berlari sepanjang perjalanan dari kafe menuju rumah sakit. Tidak ada yang dipikirkan Anka selain keadaan ibunya setelah menerima telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa kondisi ibunya yang semula stabil mendadak kritis. Ketakutan akan kembali kehilangan merasuki diri Anka.
Tubuh Anka merosot di lantai rumah sakit saat lutut lelahnya tidak sanggup lagi menopang untuk tetap berdiri. Tangan Anka memeluk tubuhnya dengan gelisah, dalam hati ia tidak hentihentinya berdoa agar Tuhan berbaik hati. Ia tidak sanggup kehilangan sekali lagi... tidak sanggup membayangkan hidup sendiri.
"Tuhan, tolong selamatkan Ibu," bisik Anka lirih.
Penantian ini terasa begitu menyiksa bagi Anka. Menit-menit yang dilaluinya selama menunggu paramedis yang menangani ibunya di ruang ICU terasa bagaikan hitungan jam. Keringat mulai membasahi dahi Anka, telapak tangannya terasa begitu dingin. Ia ingin semua cepat berakhir, sudah tidak tahan menunggu dengan kecemasan dan ketakutan yang meracuni pikirannya.
Pintu ruang ICU terbuka. Anka melihat Dokter Irman, dokter yang selama ini menangani ibunya, berjalan keluar diikuti beberapa paramedis yang mendampingi. Tanpa berpikir panjang, Anka menghampiri Dokter Irman, sebisa mungkin tidak memandang raut wajahnya. Anka tidak mau melihat ekspresi apa pun dari Dokter Irman, ia hanya ingin mendengar penjelasan.
"Ibu saya bagaimana, Dok" tanya Anka segera. "Kondisinya sudah kembali stabil, kan"
Dokter Irman tidak mengatakan apa-apa untuk menjawab pertanyaan Anka. Ia hanya menatap Anka dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Anka.
"Dokter... ibu saya..." Anka kembali menuntut jawaban.
"Anka, kamu harus kuat ya... Ibu kamu hanya bisa berjuang sampai di sini..." kata Dokter Irman, menatap prihatin ke arah Anka.
"Maksud Dokter apa" tanya Anka setengah linglung berusaha memahami kata-kata Dokter Irman.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain..."
Kata-kata Dokter Irman menegaskan semuanya pada Anka, bahwa sekali lagi ia harus kehilangan orang yang paling disayanginya.
Luruh semua usaha Anka untuk menyangkal kenyataan yang akan menyakiti dirinya. Tidak ada gunanya lagi pura-pura tidak mengerti apa yang didengarnya. Semua yang dikatakan Dokter Irman sudah cukup jelas. Menyatakan bahwa segalanya sudah berakhir. Begitu tragis.
Anka jatuh terduduk di lantai rumah sakit, sesaat bagai mati rasa. Saat kekebalan rasanya mulai menghilang, napasnya terasa begitu sesak. Air mata mendesak keluar dan mengaburkan pandangannya. Anka kehilangan kekuatan, hingga tidak dapat melakukan apa-apa kecuali membiarkan tubuhnya roboh di lantai rumah sakit.
***
"Nu, lo ke mana aja sih Selesai acara lo tiba-tiba ngilang gitu aja. Nggak ikut acara makan malem, tapi baru balik jam segini" Andro memberondong Danu dengan pertanyaan saat Danu baru masuk ke kamar hotel. "Mana hape lo nggak aktif, gue kan jadi khawatir!"
"Tadi gue cuma cari angin sebentar. Lagian gue kan udah gede, Ndro! Nggak usah berlebihan deh."
Danu berjalan melewati Andro yang masih berdiri di ambang pintu dan menatap Danu dengan tatapan tidak percaya.
"Nu... gue tahu lo kecewa karena nggak menang, tapi nggak kayak gini dong caranya... Gue ikut ke sini disuruh Kak Damara buat nemenin dan jagain lo. Gue ikut bukan cuma buat temen lo pas seneng-seneng, tapi juga buat nemenin kalo lo ngerasa down."
Danu mengenyakkan tubuhnya di atas tempat tidur, mengusap wajahnya dengan kedua tangan, terlihat lelah dengan semuanya.
"Lo nggak ngerti apa yang lagi gue pikirin sekarang, Ndro..." kata Danu.
"Lo takut bikin kecewa Kak Damara kalo kita pulang nggak bawa hadiah atau penghargaan
Danu... gue yakin, Kak Damara tuh bukan orang yang mentingin begituan."
"Bukan soal itu, Ndro. Gue dapat penghargaan atau nggak, bukan masalah besar buat gue." Danu kembali duduk, wajahnya menunduk lesu.
"Jadi yang lo pikirin apaan"
Danu menghela napas panjang, menatap Andro yang duduk di sampingnya, seakan menimbang-nimbang perlukah ia menceritakan semuanya pada Andro.
Akhirnya setelah beberapa hari menyimpan semua kepenatan dalam kepalanya seorang diri, Danu memutuskan menceritakan semua hal yang mengganggu pikirannya pada Andro. Danu tidak berharap Andro bisa membantunya mencari jalan keluar, tapi paling tidak ia punya teman bertukar pikiran.
***
Banyak keceriaan yang dirasakan Damara malam ini. Setelah berhasil mengajak Imelda pergi dengannya, Damara membawa Imelda pergi dengannya, Damara membawa Imelda ke suatu tempat yang menurutnya sangat tepat dikunjungi bersama seseorang yang spesial.
Pasar malam memang semeriah yang dilihatnya dari kejauhan. Semua pengunjung terlihat gembira, termasuk Damara yang didampingi Imelda. Damara menikmati semua kemeriahan yang disuguhkan di pasar malam yang pada dasarnya merupakan hiburan bagi masyarakat menengah ke bawah di sebuah kampung kecil.
Damara memblokir semua permasalahan yang seharusnya dipikirkannya. Di sini, di tempat yang tak seorang pun memperhatikan dan mengenali keberadaan mereka, Damara merasakan malam paling menyenangkan setelah segala hal yang terjadi pada dirinya. Berjalan di tengah keramaian dengan tangan Imelda di genggamannya dan menaiki komidi putar dengan kepala
Imelda menyandar di bahunya merupakan hal terbaik yang bisa didapatkan Damara selama ini.
"Aku senang kamu ngajak aku ke sini, Mar," kata Imelda saat mereka duduk di salah satu bangku kayu, seraya menatap kemeriahan pasar malam. "Di sini aku bisa senang-senang, tanpa seorang pun yang kenal aku. Nggak ada wartawan infotainment, nggak ada manajer, nggak ada Mama, nggak ada siapa pun yang bisa membuat aku tertekan. Di sini cuma ada kamu, orang yang tiba-tiba mengisi hatiku sekarang."
Damara tersenyum mendengar kata-kata Imelda. Andai waktu bisa berhenti sampai detik ini, andai besok tidak ada lagi, andai setelah ini ia tidak perlu lagi kembali ke kehidupan tempat seharusnya ia berada...
Damara mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Imelda, membelai lembut rambut wanita itu. "Segalanya akan lebih baik kalau waktu bisa berhenti di sini," bisiknya.
"Ya... akan lebih baik kalau waktu bisa kita hentikan."
Imelda menyandarkan kepalanya ke bahu Damara, memejamkan matanya, seakan dengan begitu ia bisa lebih merasakan segala hal membahagiakan yang dirasakannya saat ini. Damara sadar benar apa yang dilakukannya sekarang akan semakin membawanya masuk lebih dalam pada pusaran perasaan yang pasti akan menyakitkan nanti, perasaan yang akan membuatnya semakin terpuruk dengan semua masalah yang sudah menunggunya. Tapi untuk sekarang, Damara tidak ingin mengingat semua itu, malam ini ia hanya ingin merasakan sedikit kedamaian dan ketenangan mencintai seseorang.
Angin malam yang menyejukkan menerpa wajah Damara. Alunan musik dangdut sayup-sayup terdengar dari pusat pasar malam, membawa suasana lain di hati Damara. Dengan Imelda yang tersenyum bahagia di sampingnya, Damara merasa ini malam yang sangat sempurna.
Hingga handphone di saku kemeja Damara tiba-tiba bergetar. Damara heran saat melihat nama Anka muncul di layar handphone-nya.
"Iya, ada apa, Ka" Tapi detik kemudian, bukan suara Anka yang terdengar di seberang telepon, tapi suara orang lain. "Iya, saya kakaknya. Ada apa dengan Anka"
Suara di telepon mengabarkan bahwa Anka pingsan di rumah sakit, tapi yang lebih mengejutkan Damara, orang itu mengatakan Anka pingsan karena ibunya yang hampir satu bulan koma kini telah meninggal dunia.
"Oke, oke! Saya segera ke sana," kata Damara lugas, sebelum menutup telepon.
"Ada apa, Mar Ada masalah" tanya Imelda yang melihat kegelisahan Damara.
"Aku antar kamu pulang sekarang ya. Aku harus segera ke rumah sakit. Ibu dari orang yang seharusnya aku jaga, meninggal dunia..."
"Kalau itu kerabat dekat kamu, aku ikut," kata Imelda segera.
"Aku nggak bisa bawa kamu ke sana, Mel. Takutnya ada wartawan yang tahu kita berdua di sana. Aku nggak mau kehadiran mereka memperburuk keadaan yang sedang berduka. Kamu ngerti kan, Mel"
Imelda mengangguk pelan. Ia mengusap bahu Damara, seakan dengan melakukan itu bisa mengurangi sedikit kegelisahan Damara.
"Aku ngerti... Kalau begitu, sebaiknya kamu segera ke rumah sakit, nggak perlu antar aku pulang. Aku bisa naik taksi."
"Nggak, Mel... Aku harus antar kamu pulang dulu. Lagi pula rumah sakit dan apartemen kamu searah."
Sepanjang perjalanan Damara semakin gelisah, kekhawatiran yang tadi coba diredamnya, mulai mengganggu kerja otaknya dan membuat perasaannya tidak keruan. Terlebih saat ia berkali-kali gagal menghubungi Danu yang sedang berada di Bandung.
"Ini anak ke mana sih!" katanya, seraya melempar handphone-nya ke atas dashboard mobil. "Teleponnya malah dimatiin!"
Imelda membelai lembut lengan Damara yang tegang di atas kemudi, berusaha menenangkannya. Tapi itu pun tidak berhasil memberikan ketenangan pada Damara. Rasa khawatir mengalahkan segalanya.
Seharusnya tadi ia menjemput Anka. Seharusnya sebagai pengganti Danu, ia ada bersama Anka sekarang, menemaninya menghadapi hal paling buruk yang kini sedang terjadi.
***
Damara berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Mencari-cari letak kamar ibu Anka, yang sialnya selama ini sekali pun tidak pernah dijenguknya. Setelah mendapatkan informasi bahwa ibu Anka masih di ruang ICU, Damara mempercepat langkahnya.
Terdengar tangis pilu dan jerit histeris dari ruang ICU yang pintunya tertutup rapat. Dengan jantung yang bekerja lebih cepat dari biasanya, Damara mendekati ruang ICU. Damara mengenali suara itu suara siapa. Meski belum pernah mendengar Anka menjerit sekeras ini, tapi Damara yakin itu Anka. Tanpa menunda lagi, Damara mendorong pintu ICU yang tidak terkunci.
Anka menjerit histeris saat beberapa pegawai rumah sakit hendak mendorong brankar ibunya keluar dari ruang ICU. Beberapa suster wanita berusaha menenangkan Anka yang terus mencengkeram brankar ibunya. Anka berontak sejadi-jadinya, menolak ibunya dipindahkan ke kamar jenazah.
"Jangan bawa Ibu keluar...! Ibu masih bisa hidup!! Ibu nggak mungkin meninggal!" pekik Anka di tengah tangis pilunya. "Ibu nggak mungkin ninggalin Anka sendirian... Nggak mungkin! Ibuuu... Ibuuu, banguun, Ibu!!"
Damara mendekati Anka, berharap bisa menenangkan Anka.
"Anka..."
Anka langsung menoleh, beralih memohon pada Damara. "Kak, tolong bilangin ke mereka, Ibu masih bisa hidup...!! Tolong minta sama dokter untuk berusaha bangunin Ibu! Tolong, Kak..."
"Anka... Sabar ya. Kamu harus kuat, jangan seperti ini..." kata Damara prihatin. "Ibu kamu sudah tenang sekarang."
Air mata Anka kembali mengalir deras, menyadari kebenaran ucapan Damara. Anka kembali mendekati ibunya, menatap ibunya penuh kasih sayang. Tangan gemetar Anka membelai lembut rambut ibunya. Dan tak berapa lama isaknya kembali pecah.
Pedih rasanya melihat tragedi ini terjadi pada gadis semuda Anka. Di mata Damara, ini sangat mengenaskan. Damara meraih Anka ke dalam pelukannya, memeluk Anka erat agar gadis itu memiliki sandaran untuk kesedihannya.
Tangis Anka semakin menyayat saat para pegawai rumah sakit mengambil kesempatan membawa jenazah ibu Anka keluar dari ruang ICU saat Anka dipeluk Damara. Damara bisa merasakan tubuh Anka bergetar hebat di pelukannya, gadis itu menangis sejadi-jadinya, seakan dengan tangisan itu ia menyampaikan permohonan agar Tuhan membatalkan keputusan-Nya.
Air mata Damara merembes di sudut matanya, tanpa sadar ia ikut menangis. Kepedihan yang dirasakan Anka seperti bisa dirasakannya, juga, sehingga rasa sesak di dada mengalirkan sedikit air matanya.
Tangisan histeris Anka lama-lama berubah menjadi isakan. Anka sepertinya sudah kehabisan tenaga untuk menangis. Dan tak berapa lama kemudian isak tangis Anka pun tidak terdengar lagi seiring melemahnya tubuh Anka di pelukan Damara. Damara mengendurkan pelukannya, menatap Anka yang seluruh wajahnya basah oleh air mata. Gadis itu pingsan sekarang. Beban ini pasti begitu berat untuknya.
Damara mengusap air mata Anka sebelum membopong tubuh lemah itu keluar ruang ICU. Seiring langkahnya membawa Anka, Damara berjanji akan terus menjaga Anka, menjaganya layaknya orang-orang terpenting dalam hidupnya. Damara bertekad menjadikan dirinya penyangga bagi Anka saat gadis itu membutuhkannya.
* * *
"Lo nggak usah takut, Ka. Walaupun sekarang lo sendiri, gue akan selalu ada selama lo butuh gue. Gue janji!" - Danu