Aku melihat laki-laki itu tumbang dan kesakitan tapi sayang tak ada belas kasihan dalam hatiku. Darahku terasa mendidih saat seorang pria bule malah menjadi tameng baginya dan seorang cowok brengsek malah menahanku, beberapa pria malah siap-siap menyeretku keluar.
Hero bibir Dara bergetar saat mengucapkan namaku, aku yakin Dara tak siap dengan kedatanganku, jika dia tak siap harusnya dia tak mengabariku tentang berita buruk ini. Dara terlihat jauh lebih cantik dari terakhir kali kumelihatnya saat dia masih berstatus pacarku, kali inipun masih, sebelum dia mengucapkan janji, sumpah mati atau apalah namanya, dia masih dan akan tetap menjadi Daraku.
***
Aku diam di luar di balik pagar besi tinggi rumahnya, sumpah janji khidmat tentang sucinya pernikahan kurasa tengah terjadi di dalam, kepalaku terasa ingin pecah, bila membayangkan bahwa Dara-lah yang berada di sana, tapiternyata bayang-bayang Dara malah semakin nyata di hadapanku, dia datang dalam langkah anggun bak malaikat yang berasal dari surga, kupejamkan mataku lalu kubuka lagi, mengerjapkannya berkali-kali agar aku benar-benar yakin bahwa mataku tak menipuku, aku hidup di dunia yang batas kesadaran dan khayalan hanya terpisah seperti kabut tipis, aku berkhayal dalam kenyataan, dan mengalami berbagai hal nyata dalam khayalan. Ternyata benar itu bukanlah Dara, ternyata Tuhan mengutus malaikat yang terlalu indah untuk menjemput nyawaku, malaikat yang sangat indah, dengan pesona yang membuatku menderita, malaikat yang mengingatkanku pada sosok seorang ibu yang tak pernah kumiliki, malaikat itu memeluk bayi dalam pelukannya, membuatku membayangkan khayalan ketika aku bahkan belum bisa berkhayal, ketika aku adalah bayi yang baru terlahir ke dunia dan tanpa dosa, dalam pelukan wanita yang seandainya dia tidak ke surga untuk membawaku ke dunia maka aku akan mencintainya lebih dari segalanya, maka mungkin aku takkan pernah mencintai dengan cara yang salah, tanpa ibu seorang anak, hanya akan menjadi sepertiku, terbuang, tanpa cinta, menderita, karena tidak terpenuhinya kebutuhan emosional seperti yang semestinya, menjadi seoonggok makhluk yang tanpa jiwa.
Malaikat itu menyentuhku, aku merasakan halusnya sentuhan dari tangannya yang lembut, malaikat itu menatapku, tatapan itu membuatku menangis, aku kenal mata itu, mata yang juga berkaca-kaca karena air mata, walaupun penglihatanku tak nyata karena air mata tapi aku sungguh mengetahui tentang mata itu, mata itu tak pernah membuatku cukup berani untuk menatapnya dalam sadarku, mata itu menyakitiku, mata sedih itu hanya membuat luka semakin parah saja, mata itu menuntut kebahagiaan tapi hanya derita yang pernah kuberikan pada pemilik mata indah itu.
Bibir malaikat itu bergetar, malaikat itu akan bicara, mungkin dia akan berkata, bahwa inilah waktunya untukku di bawa ke surga, tapi siapa aku yang begitu berani berpikir tentang surga, aku hanya pantas menjadi penghuni neraka yang hina, penghuni neraka yang takkan pernah pergi dari sana, selamanya didera derita untuk menghapus dosa yang tak ada habishabisnya. Malaikat itu menyentuh tanganku, membawa tanganku menyentuh lembutnya kulit bayi mungil dalam pelukannya, kupikir itu akan menyakitiku, kupikir itu akan menyakiti sang bayi, anehnya tidak sama sekali, tapi entah mengapa aku malah frustasi, aku malah tak sanggup berdiri, kakiku tak kuasa menopang lagi, aku jatuh terduduk memeluk diriku sedemikian eratnya dan menangis, tangisan penyesalan teramat dalam, bayi ituaku pernah mengenalnya, tapi dalam rupa gumpalan darah yang tak kuinginkan kehadirannya dimuka dunia, sebelum dia memiliki hembusan nafas, kubuat dia pergi selamanya dengan cara yang kejam kumenyiksanya yang suci tanpa dosa, hari ini dia datang menjemputku untuk pulang dalam keabadian bersamanya.
Malaikat cantik itu memeluk tubuhku yang menggigil kedinginan karena terbalut ketakutan, dia mungkin akan membawaku dalam kedamaian tapi entahlah aku tak begitu percaya, ada raungan marah dalam kepalaku membuatku menjadi gila, gilaotakku selalu gila, jika aku waras maka yang kutau aku tak seharusnya kemari menjemput mati dan disambut begini, dipermainkan, makhluk indah yang menakut-nakutiku dengan pesonanya, yang membuatku teringat lagi akan dosa-dosa. Aku menyerah jika nyawaku akan terangkat ke langit sekarang, silahkan, karena pilihan terakhirku hanyalah pasrah, tapi sebelum semuanya berakhir, saat kematian terasa sedekat ini, yang kurasakan adalah bahwa aku tak pernah merasa hidup senyata ini, dan dalam otakku menari-nari satu bayangan, bayangan yang menyerupai wajah sang malaikat, wajah Dara, wajah gadis yang sangat kucinta, walau dengan cara yang salah.
Kematian sudah terlalu dekat, tetes-tetes darah mulai melemahkanku, bila Dara tak bisa turut serta bersamaku, maka malaikat indah ini harus ikut bersamaku, kutarik berkali-kali, pistol digenggamanku, mengeluarkan bunyi tertahan, mana kala peluru panas menembus kulit perak bercahaya sang malaikat yang menyerupai Dara-ku tersayangsekarang aku baru mengerti dan pelan-pelan kusadari, ternyata dia memang bukan malaikat, karena malaikat takkan merintih kesakitan, malaikat takkan pernah berdarah, malaikat takkan pernah memejamkan matanya ketika kehilangan jiwanya, dalam akhir kesadaranku, kutau pasti akan ada pernikahan kita yang lebih indah di surga di hadapan para malaikat, yang lebih indah dari pernikahan dunia. Kami akan tiba secepatnya di surga, merayakan pernikahan terindah yang mampu diberikannya, merasakan kekal abadi bahagia yang hanya ada di sana. Selamat tinggal dunia fana.