NIKEN DAN PANDU - 16
"Wah, nggak seru, dong, kalau aku mesti menjelaskan segala-galanya. Apa tujuannya aku menulis puisi coba Dianalisa sendiri lah." kata Niken geli, dan berusaha mengelak.

"Oke, nih aku baca lagi. Sekaligus aku berikan analisaku. Kalau salah jangan marah ya, kamu tahu sendiri bakat puisiku minus." "Mulai sana."

Pandu membuka lagi kertas yang dilipat empat itu.

Tangan-tangan kecil kita Berusaha menggapai dunia

Bukan salah siapa-siapa Dunia tak tergenggam

"Kita itu maksudnya kamu sama aku kan" tanya Pandu memastikan.

"Aduh pinteeeeeerrr. Kalau sudah besar mau jadi penerbang ya" ledek Niken.

Pandu tersenyum geli. "Memang gila ini anak", batinnya.

"Kita, menggapai dunia, tapi dunia tak tergapai, bukan salah siapa-siapa.

Hmm... Kayaknya ini aku bisa menangkap. Kamu bilang, kemarin kita putus tapi kamu nggak nyalahin siapa-siapa, gitu kan"

"Kira-kira begitu intinya. Tapi nggak cuma itu. Tangan-tangan kecil kita, kata 'kecil' di situ menunjukkan fakta bahwa tangan kita masih terlalu kecil untuk menggapai 'dunia' saat ini." "Jadi"

"Jadi, aku sayang kamu, kamu sayang aku. Tapi ada hal-hal lain yang di luar jangkauan kita yang nggak memungkinkan kita untuk bersatu saat ini."

"Aku mengerti sekarang. Aku lanjutin ya."

Melati di taman hati

Akan terus bersemi

Dengan sabar menanti

Sentuhan lembut penuh kasih

"Awas kamu kalo tanya 'Melati itu siapa'!" ancam Niken.

"Nggak. Aku ngerti koq. Yang kamu maksudkan di sini cinta kan Tapi yang aku nggak mengerti adalah apa maksud kamu bilang sabar menanti"

"Aduh. bener-bener blo'on deh. Perasaan aku menulis puisi itu pakai bahasa Indonesia. Apa sebegitu susah dimengerti sih"

"Oke-oke. Aku mikir lagi." kata Pandu sambil memutar otaknya. Payah, seperti ujian bahasa Indonesia saja.

"Gabungin sekalian sama dua baris di bawahnya." kata Niken memberi petunjuk.

Sepercik gerimis pemuas dahaga Cukup untuk melati selamanya

"Nyerah deh, Fei. Aku sepertinya mengerti maksud kamu, tapi nggak sesuai dengan kenyataan bahwa kita sekarang udah nggak pacaran."

"Kamu udah ada di arah yang bener. Kamu tadi bilang kamu mengerti maksudku, apa yang kamu mengerti"

"Kamu berusaha bilang, kamu bakal tetap sayang sama aku, dan mau menungguku. Aku nggak ngerti dua baris selanjutnya, tapi itu kan kira-kira intinya"

"Ah, susah deh main teka-teki sama kamu. Aku jelasin saja deh." "Puji Tuhan!" kata Pandu menghela napas lega. Niken tertawa.

"Setelah kamu pulang, aku menangis terus. Aku nggak tau berapa lama aku menangis, tapi sampe agak larut sih. Aku berusaha menenangkan diri dengan menulis puisi, tapi nggak ada kata-kata yang keluar. Semakin aku berusaha melupakan kesedihanku dengan memikirkan sesuatu, semakin aku teringat kamu."

"Sejauh ini masih bisa aku mengerti, karena aku juga mengalami hal yang sama. Lantas"

"Waktu itu aku memikirkan, betapa jelek nasibku, sangat ironis sekali. Aku yang nggak pernah ingin jatuh cinta, yang tahu apa akibatnya kalau aku jatuh cinta, akhirnya jatuh cinta juga, dan segera sesudah aku memberikan hatiku, aku mengalami akibat yang aku sudah tahu sebelumnya." "Fei... Maaf kalau aku melukaimu. Aku nggak pernah bermaksud seperti itu. Aku benar-benar sayang sama kamu. Aku tahu kamu mungkin nggak akan pernah percaya lagi sama aku abis kejadian semalam."

"Aku tahu itu. Aku baru sadar setelah Oma masuk. Justru karena kamu sayang sama aku, maka kamu ambil keputusan semalam. Aku sangat menghargai pengorbananmu, Ndu. Dan itu bukan membuat aku jadi patah hati, tapi justru bangga, dan aku jadi tambah sayang sama kamu."

"Tapi aku nggak pengen kamu tambah sayang sama aku, karena kamu bakal tambah kecewa dan susah melupakanku."

"Kamu nggak bisa mencegah itu. Aku sendiri juga nggak bisa. Kamu tahu burung albatross nggak, Ndu"

"Tahu. Yang tinggalnya di daerah dingin."

"Burung albatross itu seumur idup cuma satu pasangannya. Mereka menunggu sampai menemukan pasangannya, trus abis itu hidup berdua selama-lamanya. Sebelum yang cewek datang, yang cowok bikin sarang dulu, terus memanggil ceweknya untuk datang, untuk tinggal di sarang yang baru saja dia buat. Bahkan bila terbang berdua pun, harmonis sekali. Kalau yang satu berubah arah 10 derajat, yang satu mengikuti arahnya, seperti dua garis sejajar di angkasa." Pandu masih diam saja mendengarkan Niken ngomong dengan matanya yang berbinar-binar.

"Aku pengen seperti burung albatross itu. Aku sudah menemukan cinta sejatiku. Aku nggak perlu harus memilikinya sekarang, kalau sekarang memang bukan waktu yang tepat. Aku mau menunggu sampai saat yang tepat itu datang. Sampai kita bisa bersama lagi."

"Jadi kamu nggak bermaksud ngelupain aku" tanya Pandu. Niken menggeleng. "Sama sekali nggak. Baca bait selanjutnya."

Pandu menurut.

Jika kita tak putus sabar

Di hari mendatang

Dunia pasti 'kan tergenggam

Tangan-tangan kecil kita

"Kamu bilang, suatu saat nanti kita pasti bersama lagi, begitu" "Tepatnya, aku cuma ingin bilang, aku akan terus mencintaimu. Kamu sudah berhasil menunjukkan padaku betapa kamu sayang aku. Tangan-tangan kita tetap kecil, nggak berubah. Tapi dengan kesabaran, suatu saat nanti pasti kita bisa raih apa yang kita mau."

"Kamu mau terus mencintaiku sampai kapan Bagaimana kalau kita nggak akan pernah punya kesempatan untuk bersama lagi"

"Seperti burung albatross tadi, selamanya. Kalau aku nggak punya kesempatan untuk bersama lagi, setidaknya aku sudah puas sudah menemukan cinta sejatiku."

Pandu tertegun. Dia tidak menyangka Niken sekuat ini.

"Fei, kamu pernah bilang, kamu bakal jadi orang yang terbodoh dalam masalah cinta Kamu salah, Fei. Aku belum pernah denger orang bilang begini. Di film-film sekalipun. Baiklah kalau kamu memang yakin. Aku pun akan menyimpan segala rasa cintaku untukmu selamanya. Kamu baru saja memberikan aku kekuatan untuk itu."

"Nah, sudah mengerti, kan Aku boleh pulang sekarang Nanti orang-orang mengira kita pacaran lho." goda Niken.

"Oh ya. Kita nggak mau itu terjadi. Ya kan" kata Pandu yang berdiri bersandarkan meja sambil mengedipkan sebelah matanya. "Fei." kata Pandu pelan waktu Niken lewat di hadapannya. "Apa lagi" tanya Niken.

Pandu lalu dengan sigap meletakkan tangan kanannya di punggung Niken dan mendorong punggung Niken ke arahnya. Kurang dari sedetik kemudian, wajah Niken sudah berhadaphadapan dengannya. Ditatapnya lekat-lekat sepasang mata yang membuatnya jatuh cinta itu. Lalu pelan-pelan Pandu mendekatkan bibirnya ke pipi Niken. Niken sama sekali nggak bisa bergerak atau berkata apapun. Dia cuma bisa memejamkan matanya sambil tersenyum. Sebuah ciuman manis yang menggetarkan hati. Ciuman pertama buat keduanya. Niken masih memejamkan matanya waktu Pandu menarik kembali bibirnya dari pipi Niken tiga detik kemudian. Dia baru membuka matanya saat Pandu memegang dagunya.

"Sayang sekali kamu tadi nggak bisa merasakan gimana rasanya dicium kamu." kata Niken kemudian sambil tersenyum manis.

Niken lalu pelan-pelan mencium pipi kanan Pandu sambil agak jinjit. Bibir mungilnya sudah mendaratkan ciuman tipis yang di pipi Pandu terasa hangat dan lembut.

"Aku yakin nggak semanis ciuman kamu barusan." jawab Pandu setelah Niken selesai.

"Aku kan cuma menirukan yang kamu lakukan. Pembalasan namanya." jawab Niken.

"Nah, sekarang, kalau ada yang melihat kita, pasti kita benar-benar dikira pacaran." kata Pandu tersenyum lebar. "Oh ya, lupa. Terus bagaimana, dong"

"Ya kamu pulang dong, cepetan kabur sana." kata Pandu sambil ketawa.

"Oke, aku pulang dulu yah, my friend." kata Niken tersenyum, lalu mencium pipi Pandu yang kiri, lalu berkata "Yang sebelah sini iri nanti."

Niken baru saja membalikkan badannya saat Pandu menariknya kembali.

"Bilang aja kamu minta dicium lagi." katanya. Niken ketawa.

Pandu lalu mencium pipinya lagi. Kali ini sedikit lebih lama dari yang tadi.

"Ndu, kita ini jadinya pacaran lagi apa nggak sih" tanya Niken.

"Nggak. Kita cuma saling cinta."

Kuyakin dalam hatiku kau satu yang ku perlu

Kurasa hanya dirimu yang membuatku rindu

Bila saat nanti kau milikku,

Kuyakin cintamu takkan terbagi takkan berpaling Karena ku tahu engkau begitu.

Hingga ku pasti menunggu selama apapun itu

Demi cinta yang kurasakan, yang hanyalah kepadamu

Percayalah ku sungguh-sungguh mengatakan semua

Yakinkan hatimu kau milikku

Karena ku tahu engkau begitu.

Selama berbulan-bulan, Niken dan Pandu sama-sama sabar memendam impian mereka untuk bersama. Sekarang mereka telah naik ke kelas tiga. Seharusnya anak kelas tiga tidak boleh punya menghabiskan banyak waktu di luar pelajaran, termasuk kegiatan organisasi sekalipun. Walaupun begitu, Niken mendapat sedikit dispensasi, karena dia jadi ketua panitia acara festival akbar di Universitas Diponegoro. Lagipula nilai-nilai Niken tidak sedikitpun terpengaruh dengan kegiatan-kegiatan ekstranya. Waktu naik kelas yang lalu, Niken meraih ranking pertama, Pandu cuma terpaut tipis di belakangnya, ranking dua. Acara puncak festival kali ini adalah pawai bunga. Peserta festival harus mendekor kendaraan berangkaikan bunga. Acaraacara lain yang berlangsung selama seminggu penuh itu antara lain lomba memasak, lomba matematika, fisika, kimia, komputer, lomba band, acapella, adu-debat, dan masih banyak lagi.

Festivalnya tinggal dua hari lagi. Semua sudah siap. Rancangan dekor untuk kendaraan bunga juga sudah siap. Kendaraan bunga harus didekor di lapangan pada satu hari sebelum hari terakhir festival, karena pawai bunganya di hari terakhir festival, maklum acara puncak.

Ujian kelulusan nasional tinggal tiga bulan lagi. Menjelang ujian, hampir setiap hari ada test atau ulangan. Sebagai persiapan ujian. Sampai rasanya sudah hafal semua bahan pelajaran dari kelas satu sampai kelas tiga. Untung sekali kegiatan di sekolah begitu banyak menyita waktu Niken dan Pandu sehari-hari, jadi keduanya sama-sama tidak begitu memikirkan masalah mereka. Papa dan Mama pun sepertinya percaya akan kata-kata Oma, sehingga sama sekali tidak pernah menyinggung-nyinggung nama Pandu lagi.

Niken bahkan menurut saja mengisi formulir-formulir pendaftaran untuk berbagai universitas di

Amerika. Namun tekadnya sudah bulat, dia cuma ingin masuk fakultas kedokteran di

Universitas Indonesia, di Jakarta. Pandu pun tidak tahu rencana Niken ini, karena Niken yakin, seandainya dia bilang ke Pandu, Pandu pasti akan memaksa-maksa dia lagi untuk ke Amerika saja. Niken merasa keputusan yang diambilnya ini adalah yang terbaik, dan tanpa desakan atau paksaan pihak manapun. Keberadaan Pandu pun tidak masuk dalam pertimbangannya dalam mengambil keputusan. Ini adalah impiannya dari kecil, dan siapapun tidak bisa menghalanginya.

Sore ini adalah latihan terakhir buat band yang akan tampil, termasuk band dadakan yang dibentuk Pandu dan kawan-kawan khusus buat acara festival kali ini.

Niken sebagai ketua panitia harus melihat seluruh acara latihan terakhir, termasuk band Pandu ini.

Ada tiga band yang akan tampil dari SMA Antonius.

Niken kali ini tidak mengambil bagian sama sekali di lomba band, karena dia lebih ingin berkonsentrasi di lomba kimianya. Lagipula dia tidak punya banyak waktu untuk latihan, karena mengorganisasi seluruh acara festival benar-benar sudah menyita banyak waktunya. Belum lagi harus belajar untuk ujian. Hari ini Niken bisa lebih relaks, karena tugasnya hari ini cuma menonton latihan terakhir. Banyak sekali anak-anak yang supportif hadir sore ini, terutama karena mereka ingin melihat band sekolah mereka sebelum tampil di lomba. Pandu sengaja tidak membentuk band dengan keyboad, karena dia sendiri juga tidak punya banyak waktu untuk latihan. Pandu sebenarnya juga tidak ingin ikut andil di band, karena dia juga mengikuti lomba matematika dan adu-argumentasi. Tapi akhirnya setelah dipaksa-paksa, dia mau jadi vokalis utama. Niken yang duduk di baris paling depan tak bisa melepaskan perhatiannya dari Pandu di panggung theatre yang terlihat manis sekali. Kocak sekali gaya Pandu di panggung, sesuai dengan lagu yang dinyanyikannya.