Ghiebenar, itu Nanny, dia datang memelukku, tidak seperti biasanya dia
sedramatis ini, dia menangis dan berbicara, entahlah, telingaku tak menagkap maksudnya.
NanAku melepas pelukannya, kulihat wajah Nanny bersimbah air mata. Nan, Im Oke!
Sorry
Hey for what
Karena nggak bisa menjaga mamamu selamanya Nanny makin menangis, aku melihat kesedihan dan penyesalan terdalam dari wajahnya.
Aku semakin tak mengerti, tapi kaki-kakiku memaksaku untuk melangkah menuju kamar Mama, kamar yang tak pernah kumasuki sebelumnya, rasanya asing sekaligus akrab, kamar dengan nuansa lilac, tak ada Mama di tempat tidur, tak ada di balkon, kumasuki kamar mandi dan kudapati dirinya terbujur kaku dalam genangan air berwarna merah karena darah, dalam Jacuzzi, yang selanjutnya kutau, si Pria yang kubenci memelukku, membisikkan kata-kata yang menenangkan yang tak kumengerti karena aku sama sekali tak bisa menangkap maksudnya, hanya kegelapan yang sangat pekat yang menyelamatkanku dari segala kebingungan ini.
***
Brighieta Rara Nantana, itu bukan hanya sebuah nama, walaupun Shakespeare mengatakan apalah arti sebuah nama tapi sebagian besar orang menganggap bahwa nama berarti harapan, berarti doa, dan taukah kamu apa arti namaku aku bahkan baru mengerti sekarang, itu hanya terdengar indah ketika seseorang melafalkannya, tapi itu adalah sebuah kalimat kesedihan, Ghieta berarti melihat, Rara adalah kesedihan, kesengsaraan atau penderitaan, dan Nantana adalah ungkapan untuk rasa kasihan, ternyata maksud dari namaku adalah, Lihatlah Kesedihan ini, alangkah kasihannya. Itulah aku. Jadi aku tau bahwa aku memang dilahirkan dan ditakdirkan untuk merasakan begitu banyak penderitaan dan kesedihan.
***
Ada yang bilang bahwa bila kau ingin mendapatkan sesuatu maka kamu harus kehilangan yang lainnya, tapi jika boleh meminta aku hanya ingin mendapatkan tanpa perlu kehilangan, kupikir itu sangat egois, tapi bukankah itu juga hal yang diinginkan semua orang Selama hidupnya, aku nyaris tak mengenal Mama, tapi setelah kepergiannya satu persatu tentang dirinya mulai terbaca.
Bagaimana rasanya pulang ke rumah yang tak pernah kamu kunjungi sebelumnya Aku tau jawabannya, ada rasa asing tapi juga ada rasa kedekatan yang alamiah, kematian Mama membawaku pulang ke rumah, ke rumah Mama tepatnya, tempat orang tuanya, tempat semua sanak keluarganya, inilah apa yang kudapat dengan merelakan Mama, keluarga. Dalam genangan perih air mata dan hati yang pedih, kutemukan ikatan darahku, mereka tampak begitu berbeda, mereka tampak begitu sama denganku.
Perjalanan yang melelahkan masih terasa walaupun hari terberat dalam hidupku itu telah berlalu selama seminggu, sebuah pesawat carteran mengantarkan kami mengembalikan Mama ke tanah kelahirannya, tanah yang sangat indah dengan kekayaan yang berlimpah, Emas dan Madu, adalah hadiah dari alam yang menjadikan tanahnya kaya raya, Tana Bulaeng, itulah tempat kami, dan yang kutau sekarang, pria yang kubenci sekuat hatiku, seharusnya bukanlah orang yang selayaknya kubenci, dia adalah dokter pribadi Mama, dan Nanny, dia adalah abdi setianya, orang yang melayaninya, mereka adalah orang yang ditunjuk keluarganya untuk mendampinginya, aku tau alasannya sekarang, kenapa tanpa melakukan sesuatupun Mama bisa memberiku segala fasilitas dan kemewahan, jawabannya adalah karena dia adalah putri bungsu dari kerajaan Tana Bulaeng, sebuah kerajaan kecil yang masih memegang tradisi dan budayanya, tapi apa yang terjadi pada Mama, apa yang menyebabkan dia mengidap Schizophrenia, masih menjadi misteri buatku, seminggu berlalu dalam gelombang kesedihan akan kehilangan orang yang kupikir tak pernah mencintaiku, dia mencintaiku, sangat, bila seandainya dia tak pernah mencintaiku yang aku tau aku tak mungin bisa mencintainya seperti ini, dan tak mungkin bagiku untuk larut sedemikian hebatnya dalam kesedihan ini, cinta itu dua arah, bila aku mencintai Mama, maka patilah Mama mencintaiku juga, hanya saja dia tak bisa menunjukkannya.Aku tau itu, karena hati takkan pernah bisa berdusta.