SEDUCING CINDERELLA - 16
Reid masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke arah kulkas. Dia mengambil dua botol bir, menandaskan botol pertama dalam beberapa detik, dan kemudian membuka yang kedua sembari melangkahkan kakinya ke arah balkon.

Karena apartemen itu gelap, Reid berpikir Lucie masih berada di bar bersama Vanessa, yang mana merupakan hal bagus karena pikiran Reid sedang kacau dan perlu waktu sendiri untuk dibereskan semuanya. Reid meneguk cairan dingin itu dan berharap hal itu dapat mendinginkan emosinya dari dalam. Mungkin Reid akan mengacaukan dietnya untuk malam ini dan mabuk. Membuat dirinya sendiri kebas dalam beberapa jam jadi dia tak harus memikirkan tentang pertandingannya yang akan segera di gelar atau fakta bahwa ia harus segera meninggalkan Lucie dalam beberapa hari.

Sialan, Reid bahkan belum memberitahu Lucie. Setiap kali ia mencoba memberanikan diri, semua berakhir dengan dirinya yang mencium Lucie bukan memberitahu gadis itu. Dan jelas sekali bahwa hal itu tak akan berujung pada percakapan. Tak satu katapun.

Lucie.

Apa yang akan Reid lakukan padanya Reid tak pernah merasakan apa yang ia rasakan pada Lucie dengan wanita manapun, walau hanya sedikit. Reid bahagia bersama dengan Lucie, dan jelas sekali bahwa ia menyayangi Lucie...meskipun ia merasakan hal yang sama pada Butch, namun apa yang sekarang Reid rasakan jauh lebih kuat dari rasa sayangnya pada pelatihnya sendiri. Tapi apakah ini berarti Reid jatuh cinta pada Lucie Reid tak tahu bagaimana ia bisa memastikan hal tersebut.

Reid mengernyit dan meneguk bir-nya lagi. Mabuk sepertinya terdengar semakin bagus.

"Kau terlihat terlalu serius untuk malam yang indah seperti ini."

Terkejut, pria itu berbalik, siap untuk memarahi Lucie karena sudah mengendap-endap dibelakangnya...hingga akhirnya Reid melihat makhluk paling seksi yang pernah ia lihat.

Lucie berdiri di pintu yang terbuka menuju balkon, kedua tangannya memegangi kedua sisi dari kusen pintu, dan satu kakinya di tekuk. Hingga saat itu, jika di tanya apa yang Reid pikirkan tentang hal terseksi yang wanita bisa kenakan, Reid akan menjawab lingerie transparan.

Tapi Lucie tidak menggunakan lingerie, namun salah satu kemeja reid yang menutupi dirinya dari bahu sampai menutupi setengah pahanya mengenyahkan semua pakaian yang mungkin ia pilih dari Victoria's Secret. Rambut Lucie tergerai dan lebat layaknya Reid sudah menyusupkan jemarinya ke dalam rambut gadis itu dan Lucie memiliki binar cemerlang di mata abu-abunya yang menyatakan dengan jelas tanpa harus berkata-kata.

"Omong-omong soal indah," Reid berkata serak.

Lucie mulai melangkah mundur dengan perlahan, tapi memberi isyarat pada Reid untuk mengikutinya dengan gerakan satu jarinya. Menghabiskan sisa bir-nya, Reid kembali masuk ke dalam apartmen dan menggeser pintu kaca hingga menutup tanpa mengalihkan pandangannya dari Lucie. Ketika Lucie menghilang ke arah kamar tidur, Reid meletakkan botol bir-nya yang kosong di meja, membuang sandalnya dan berjalan menyusuri lorong hingga Reid menemukan Lucie berdiri di depan tempat tidurnya.

Tepat sesaat sebelum Reid melangkah masuk ke dalam kamar, Lucie mengangkat tangan dan memberi isyarat berhenti padanya, "Tunggu," yang secara efektif menghentikan langkah Reid. "Kau bisa datang ke sini dengan satu syarat."

Reid menegang dan mengepalkan tangannya, mencoba mengontrol insting memukulnya. "Dan apa itu"

"Kau harus melakukan apa yang kukatakan. Jika kau melanggar peraturanku, semuanya akan berhenti dengan segera."

Perlahan sebuah senyuman terbentuk di wajah Reid. Lucie mencoba untuk menggodanya. Pria itu menundukkan kepalanya. "Aku setuju." Untuk saat ini, tambah Reid dalam pikirannya.

"Kalau begitu kemarilah dan cium aku."

Tiap langkah yang dengan sengaja Reid buat perlahan ketika menghapiri Lucie, mencoba untuk melihat apakah ia bisa mengambil alih kendali dengan intimidasi seperti itu. Reid tak bermaksud untuk mengacaukan usaha pertama Lucie dalam memegang kendali. Reid ingin menguji Lucie. Memaksanya. Melihat apakah Lucie bisa membuat Reid tetap mengikuti peraturannya. Oh yeah, Reid pikir ketika ia tiba dihadapan Lucie, semuanya akan jadi menyenangkan.

Reid menyusupkan satu tangannya ke tengkuk dan melingkarkan tangannya yang lain di pinggang Lucie tepat sebelum mencium bibir gadis itu. Dan ia melakukannya dengan jantan. Merengkuh rambut Lucie, Reid mengarahkan kepalanya dan mendorong lidahnya masuk untuk menikmatinya. Tubuh Lucie meleleh dalam pelukan Reid dan ia berpikir apakah usaha Lucie untuk menggodanya belum benarbenar berakhir.

Tak lama pikiran itu terbang menghilang ketika Lucie mendorong dada Reid untuk melepaskan pelukan Reid darinya. Mereka saling menatap satu sama lain, dada naik turun karena napas yang berat. Bibir merah delimanya, sedikit bengkak karena ciuman dari Reid, mengundang. Lucie hanya beberapa inchi jaraknya dari Reid dan ia sangat menginginkan Lucie. Petarung dalam tubuhnya menyentakkan rantai yang menahannya dalam perjanjian yang sudah Reid setujui sebelumnya, ingin mengambil alih, kembali memegang kendali.

Namun Reid menunggu.

Menunggu hingga bibir bengkak itu menguak senyuman nakal yang paling seksi. Penantian yang menjanjikan hadiah yang paling menggairahkan, yang mana menjadi kesukaannya. Mungkin kesabaran merupakan sesuatu yang bagus.

Lucie menuntun Reid hingga punggung Reid berada di tempat tidur. Menarik keliman dari T-shirt yang Reid kenakan, perlahan Lucie menariknya ke atas. Buku jari Lucie hanya sedikit menyentuh kulit Reid namun sensasi yang terasa seperti listrik yang menyengat langsung ke bolanya. Setelah Lucie membebaskan pria itu dari kaosnya, Lucie meletakkan tangannya di bahu Reid dan menyapukannya ke tiap inchi dari tubuhnya, jemari Lucie bergerak mengikuti tekstur otot pria itu seperti halnya ia berusaha menyimpan itu ke dalam memorinya.

Selanjutnya kedua tangan itu bergerak menuju sabuk dan kancing celana jeans Reid. Reid sudah setengah ereksi hanya dengan melihat Lucie mengenakan kemejanya dan menciumnya membabi-buta, tapi dengan tangan kecil Lucie berada begitu dekat dan rasa antisipasi dari hal yang akan terjadi, kini kejantanannya sudah siap dan menggeliat ingin keluar.

Saat Lucie menurunkan jeans Reid, ia bersimpuh di lantai mengirimkan gambaran erotis ke otak pria itu dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan Lucie berada di posisi seperti itu. Setelah jeans terlepas tangan Lucie kembali ke paha Reid dan tatapan matanya mencari mata Reid. Bibir Lucie begitu dekat dengan ereksi Reid hingga ia bisa merasakan kehangatan dari napasnya melewati kain celana dalamnya, membuat Reid semakin keras, lebih keras dari apa yang mungkin ia pernah pikirkan.

Mata Lucie tak pernah melepaskan tatapan pada Reid ketika ia mengarahkan bibirnya ke atas kejantanan Reid dan menggunakan giginya untuk menyentuh di bagian kepalanya. Terdengar erangan dari dalam tenggorokan Reid dan kejantanannya bergerak merespon. "Ah sialan. Kau membunuhku," teriaknya.

Lucie tersenyum ke arah Reid, jelas begitu bangga pada dirinya sendiri, memang sudah seharusnya. Entah karena Lucie merupakan seorang yang natural yang baru saja keluar dari dalam cangkangnya, atau Reid merupakan guru yang lebih baik daripada yang ia pikirkan.

Jemari Lucie mengait di celana dalam Reid dan sedetik kemudian Reid berdiri menjulang, benar-benar telanjang, ereksinya mencuat dari tubuhnya menunjuk ke arah yang seharusnya. Mata abu-abu Lucie terlihat seperti perak cair, membakar Reid saat mata itu menatap ereksinya.

Dengan perlahan Lucie menggunakan ujung jemarinya untuk mengeksplorasi konturnya dari pangkal hingga ke ujung. Gesekan dari kulit Lucie dan goresan lembut kukunya ketika jemari itu di gerakkan melewati kepala kejantanan Reid yang membengkak membuat pria itu hampir gila. Secara naluriah tangan Reid membungkus kepala Lucie, menyentuh rambutnya, siap untuk memandu bibir manis Lucie ke arah kejantanannya.

"Tidak," kata Lucie tegas. "Berpeganglah pada tiang ranjang."

Reid memberikan Lucie senyuman masam sembari mengikuti perintahnya. Reid sudah lupa akan siapa yang seharusnya memegang kendali. Sudah kebiasaaan.

"Letakkan tanganmu di sana. Jika kau menggerakkannya sedikit saja, aku akan menghentikan apapun yang kulakukan."

Ketika Lucie menaikkan alisnya untuk menanyakan apakah Reid mengerti konsekuensi dari pelanggaran, Reid mengangguk. Kemudian berharap bahwa Reid tidak meledak seketika saat bibir Lucie menyentuh kejantanan Reid untuk pertama kalinya.

Kembali berlutut, Lucie melingkarkan satu tangan lembutnya di pangkal ereksi Reid, memposisikannya ke mulut. Setetes precum muncul dari ujungnya. Jika selama ini Reid pikir Lucie ragu atau malu tentang sesuatu yang begitu mendalam, dia salah. Malah, kilatan lapar terlihat dari mata abu-abunya ketika Lucie menyapu ujung ereksinya dengan satu jilatan panjang. Reid mendesis, rasa dari lidahnya yang lembut dan dikombinasikan dengan melihat Lucie melakukan itu-bukan wanita sembarangan, tapi wanitanya berlutut didepannya, dikategorikan sebagai hal yang paling erotis yang pernah Reid alami.

Akhirnya Lucie membuka bibirnya yang manis dan membungkus ereksi Reid sejauh yang bisa ia masukkan, lidahnya menyapu dan memijat lembut, pipinya cekung karena hisapan yang ia buat dengan bibir merah delimanya dengan segenap tenaga sebelum menelan Reid lagi.

Menit selanjutnya terpecah menjadi fragmen keabadian ketika Lucie menyiksa Reid dengan siksaan yang manis. Mulutnya yang panas dan lidah yang penuh dosa membuat enam ratus empat puluh ototnya tegang seperti busur. Pada satu saat, Reid takut akan mematahkan tiang ranjang Lucie, tapi ia tak bisa melepaskan pegangannya karena takut Lucie akan berhenti dan ia akan kehilangan sedikit kewarasan yang masih tersisa.

Kegembiraan yang meluap yang Lucie berikan pada Reid terasa seperti seseorang telah menjatuhkan korek api ke dalam ruang yang penuh dengan kembang api. Di mulai dengan satu atau dua percikan, tapi percikan itu segera merambat ke samping, dan sampingnya lagi dan lagi, hingga tubuhnya terasa seperti perayaan Empat Juli.

Klimaks menghantamnya begitu cepat dan keras hingga Reid tak punya kesempatan untuk memperingatkan Lucie. Reid mencoba untuk melakukan hal yang seharusnya pria jantan lakukan dan menarik diri, namun Lucie memegangi pantatnya dan menancapkan jemarinya sembari menelan Reid dalam-dalam. Semua kehendak sopan yang ingin Reid lakukan berubah menjadi asap bersamaan dengan sengatan kuku Lucie didagingnya dan, mendongakkan kepalanya ke belakang dan pinggulnya ke depan, Reid meraung ketika ia klimaks hingga Lucie menelan setiap tetesan yang Reid berikan.

Saat bintang mulai menghilang dari pandangannya, Lucie berdiri dan mundur perlahan, menelusuri jemarinya ke atas krah kemeja yang terbuka yang ia kenakan.

"Apa yang kau lakukan sekarang"

"Aku sedang mengurusmu." Lucie duduk dengan eskpresi wajah serius di atas kursi untuk meja rias yang berada di depan tempat tidur. "Sekarang aku akan mengurus diriku sendiri."

"Aku yakin itu adalah hakku," kata Reid, melepaskan tiang ranjang.

Sebelum Reid maju, Lucie menggerakkan jemarinya ke kiri dan ke kanan. "Ah-ah-ah. Jadilah anak baik dan tetap diam di tempatmu berada."

"Anak baik" Reid mendengus. "Biarkan aku datang kesana dan aku akan menunjukkan padamu seberapa dewasanya diriku, sweetheart." Lucie melepaskan kancing paling bawah dari kemeja yang ia kenakan. Kemudian selanjutnya menunjukkan celana dalam sutranya yang berwarna biru. Lucie memberikan Reid senyuman licik dan berkata, "Jika kau ingin membuktikan padaku seberapa dewasanya dirimu, maka kau akan melawan insting yang menggerogotimu dan tetap diam. Dimana. Kau. Berada."

Pintar. Sekarang jika Reid bergerak dia akan mendapat sebutan perempuan. Dan semua karena Reid begitu menginginkan Lucie lebih daripada ia menginginkan udara saat itu. Saat semua ini sudah berakhir ia akan memberi tahu Lucie bahwa dalam keadaan apapun ia akan menggoda mulai sekarang. Sepanas menonton Lucie memainkan permainannya, Reid adalah seseorang yang gila kontrol dalam seks. Setelah ini, dia akan mencari minuman di waktu istirahat mereka. Reid tak sabar menunggu.

Kemudian hal itu menyadarkannya. Tak banyak waktu yang tersisa untuk bercinta dengan Lucie. Berdasarkan jadwal mereka, Lucie dan Reid hanya memiliki beberapa waktu lagi untuk bersama, maksimal. Kenyataan itu menghantam Reid layaknya pukulan ke solar plexus, hampir membuat Reid pingsan.

Jangan pikirkan hal itu sekarang. Reid tak ingin apapun mengganggu waktu berharga yang ia miliki dengan Lucie. Reid akan membuat tiap detiknya berharga hingga bel terakhir dibunyikan.

"Sesuai keinginan anda, tuan putri."

Satu kancing lainnya terbuka, bersamaan dengan tawa hangat Lucie. "Aku suka film itu. Jadi sekarang kau adalah farm boy-ku, begitu kah" Reid menaik-naikan satu alisnya sebagai jawaban membuat Lucie terkiki lagi, tapi kemudian Lucie menggerakkan kepalanya ke samping dan berekspresi tenang kembali. "Kau tahu, semanis dan seheroik Wesley, aku tak bisa membuat diriku sendiri berpura-pura kau adalah orang lain." Kancing terakhir yang menyatukan kemeja itu, tergelincir dari lubangnya dan kemeja itu terbuka menunjukkan payudara Lucie yang sempurna. "Kau, Reid Andrews, adalah yang kuinginkan."

Meskipun otaknya mencoba untuk berkata bahwa yang Lucie maksud adalah disini dan saat ini-karena bukanlah rahasia siapa yang Lucie inginkan sebenarnya selama ini-Reid tak bisa menghentikan jantungnya berdetak kencang seakan melompat dari dadanya.

"Itu bagus, Luce. Karena kau adalah yang kuinginkan juga." Sekarang dan setiap hari setelahnya.

Sialan, Reid harus berhenti berpikir seperti itu. Reid harus berhenti berpikir panjang dan membiarkan dirinya bebas untuk saat itu. Untuk wanita yang ia miliki saat itu.

"Mmm," Lucie mengerang saat ia memainkan puting di antara jempol dan jari telunjuknya. "Seberapa besar"

Mata pria itu melekat pada payudara Lucie saat gadis itu melanjutkan memainkan dan memanjakan payudaranya. "Seberapa besar apanya" katanya serak.

Lucie bersender di dinding. Satu tangan turun keperutnya yang rata menuju kemaluannya dan mengelus kain biru nan tipis disana.

"Seberapa besar kau menginginkanku"

Seluruh tubuh Reid bergetar karena menahan tubuhnya tetap berada di tempat. Tangannya mengepal karena rasa gatal untuk menyentuh kulit Lucie yang lembut. Mulut Reid berair karena memikirkan menghisap tonjolan dipayudaranya dan menjilati cairan di antara kakinya.

Menarik celana dalam itu ke samping Lucie menggunakan tangannya yang lain untuk mengelus bibir lembut kemaluannya, menyisipkan satu jari diantaranya untuk menyentuh pusat basah. Lucie terlihat seperti keluar dari mimpi basah Reid. Pantat yang bertengger di pinggir kuris dan bersandar dengan bahu yang menekan dinding. Kemejanya terbuka dan tergantung dibahunya dengan rambut yang terbagi di sisi lehernya. Dan kaki jenjang Lucie terbuka lebar, tertumpu pada tumitnya, sementara jemarinya mengeksplor surga dunia bagi Reid.

"Sangat ingin." Suara Reid lebih rendah dari biasanya dan Reid menyadari suara itu lebih terdengar seperti geraman. Wanita itu mengeluarkan sisi binatang Reid lebih dari wanita lainnya.

Jari tengah Lucie dimasukkan ke dalam, matanya menutup dan punggungnya melenting bersamaan dengan gerakan memutar yang jarinya lakukan. Saat Lucie mengeluarkan jarinya, tubuhnya kembali rileks dan matanya berkedip terbuka. Kemudian Lucie menatap Reid dengan pandangan genit sembari membawa jari itu kemulutnya dan melumasi bibir bawahnya dengan cairannya sendiri.

Reid mendengar raungan keras dan membutuhkan waktu satu detik baginya untuk menyadari bahwa raungan itu berasal dari dalam dirinya sendiri.

"Seberapa ingin" Lucie bertanya sebelum menjilat bibirnya dengan ujung dari lidah raspberry-nya.

"Sangat ingin hingga terasa menyakitkan." Reid melirik kejantanannya yang sudah tegang lagi dengan begitu cepat setelah Lucie membuatnya orgasme dengan mulutnya, kemudian kembali melihat pada Lucie. "Secara harafiah."

Senyuman menggoda terkuak di wajah Lucie. "Kalau begitu kemarilah dan tangkap aku, tampan."

Reid bergerak secapat yang ia lakukan di octagon, membuat jarak beberapa kaki di antara mereka terasa seperti hanya beberapa inchi. Tangan Reid menyusup ke dalam rambut Lucie di sisi lain wajahnya dan ia membungkuk untuk menaklukkan bibir Lucie dan menghisap sisa-sisa yang Lucie tinggalkan dibibirnya.

Ciuman mereka tidaklah pelan ataupun lembut, tapi dalam dan dahsyat, secara konstan merubah posisi saat mereka menikmati satu sama lain.

Akhirnya Reid melepaskan mulutnya dari mulut Lucie untuk bersimpuh di antara kakinya. Reid menarik tangannya ke bawah tubuh Lucie hingga mereka mencapai kedua payudaranya yang sempurna dimana kedua tangan itu mulai menangkup dan meremas dan mencubit putingnya yang membengkak, membuat Lucie menggeliat di kursi dan napasnya semakin cepat.

"Kau sangat indah," kata Reid, sesaat sebelum ia menutup mulutnya di sekitar puting yang mengeras dan menghisapnya keras.

Lucie merintih dan memegangi kepala Reid, kukunya menggores kulit kepalanya melewati rambut Reid yang pendek, mencoba untuk menariknya lebih dekat. Reid meletakan tangannya di punggung Lucie, memeganginya agar tak terjatuh. Bergantian satu dengan lainnya, Reid mencium bagian itu sama seperti ketika ia mencium mulut Lucie, dengan lidah menjilat, gigi yang menyentuh kulit, bibir menghisap.

"Oh, Tuhan, Reid..."

Perut Lucie menekan dada Reid dengan kakinya yang mengait di punggung Reid tepat di bawah tangan Reid. Dan diantaranya, pinggul lucie menempelkan kemaluannya yang panas di otot Reid, mencari-cari orgasme.

Reid mencium jalannya ke atas tubuh Lucie, menguak suara erotis dari dalam tenggorokan wanitanya. Menyematkan satu ciuman terakhir tepat di atas jantung Lucie, Reid mengangkat kepalanya dan menemukan Lucie sedang menatapnya dengan Tatapan Itu-tatapan yang memberi isyarat pada seorang pria ketika seorang wanita meninggalkan Kota Mari Bersenang-Senang dan berjalan lurus menuju Mari Pilih China Town-tertulis di seluruh wajahnya yang cantik.

Normalnya, Tatapan Itu membuat Reid melupakan keperluan yang mendesak dan berlari ke arah sebaliknya. Reid menyampirkan rambut Lucie ke belakang telinganya dan memperlajari ekspresi Lucie untuk beberapa saat, menunggu untuk respon familiar untuk melaju lebih jauh. Tapi semua yang Reid rasakan adalah keinginan untuk memeluknya erat. Kebutuhan untuk bercinta dengan Lucie hingga otot terasa lelah dan memaksa mereka beristirahat.

Itu adalah saat yang Reid maksud, Reid tahu bahwa meskipun ia memiliki janji sungguhan, ia akan mengabaikannya hanya untuk tetap tinggal bersama Lucie. Itu adalah saat dimana ia tahu bahwa ia mencintai Lucie.

"Reid" kata Lucie lembut. "Kau menatapku dengan aneh."

"Benarkah"

Lucie mengangguk.

Reid melepas kaosnya, kemudian mengangkat Lucie dengan tangannya saat ia berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Setelah Lucie diletakkan di tengah tempat tidur, Reid memanjat ke atas ke samping Lucie dan meletakkan satu tangan ke bawah kepalanya sementara tangannya yang lain menggambar pola sederhana di atas tubuh Lucie. "Aneh bagaimana"

"Aku tak yakin. Aku bahkan belum pernah melihat tatapan itu sebelumnya."

Napas Lucie menjadi lebih dalam dan putingnya mencuat saat Reid memainkan jemarinya di sekitar bukit lembut payudaranya. "Aku tak yakin ada sembarang orang yang pernah melihat tatapanku itu...tapi kau bukan sembarang orang, benar kan" Reid mengecup bahu Lucie dan mengangkat kepalanya untuk melihat alis mata Lucie yang membeku dan bibir bawahnya yang terpenjara di antara giginya. "Kau spesial. Kau tahu itu kan, Lucie"

Lucie tersenyum dan mengangguk.

Lucie berbohong.

Senyumannya adalah salah satu senyuman yang paling sedih yang pernah Reid lihat dan itu membunuhnya karena ia tahu Lucie masih merasakan ketidakamanan. Ketidakamanan yang tidak ada urusan dengan seorang wanita yang luar biasa seperti Lucie.

Reid menganggap itu sebagai hinaan pribadi. Satu hinaan yang akan ia benahi.

***

Sebelumnya, ketika Lucie sedang menunggu Reid pulang ke rumah dengan gelisah, Lucie sudah membuat keputusan. Tak akan lagi ia mengabaikan apa yang ada didepannya hanya karena teori kecocokan yang menggelikan yang didasarkan oleh hubungan yang gagal. Itu adalah saat untuk jujur dengan dirinya sendirijujur pada Reiddan memeluk perasaan yang sebenarnya untuk pria yang mengenalnya lebih dari pria lain.

Dan waktunya adalah sekarang.

Reid memperhatikan Lucie dengan intensitas yang tak pernah Lucie sadari. Mata Reid, lingkaran berwarna hijau lumut dengan campuran warna topaz, menatap ke dalam mata Lucie. Insting Lucie begitu kuat untuk mengalihkan pandangannya, untuk melindungi dirinya sendiri bukan hanya untuk melawan Reid, tapi untuk melawan apa yang ia rasakan pada pria itu. Itu semua karena insting yang dia pegang teguh...dan membiarkan Reid masuk.

Lucie bergetar pelan saat ia berbaring di sana, jantung dan jiwanya terekspos pada seorang pria dengan kekuatan yang dapat menghancurkan keduanya. Tak pernah ada keraguan bahwa Lucie mencintainya, tidak saat ia merasa begitu peka, begitu takut.

Kulit tebal di ujung jemari Reid mengelus pipi Lucie sebelum masuk ke dalam rimbunan rambutnya. Wajah tampannya hanya beberapa inchi jauhnya dari wajah Lucie namun rasanya seperti bermil-mil jaraknya.

"Sayang, kau gemetar," Reid berbisik.

"Tidak, aku tidak gemetar."

Reid tersenyum sembari menyundul pipi Lucie dengan hidungnya dan mengecup rahangnya. "Yeah, kau gemetar. Jangan khawatir...Aku akan mengurusmu."

Sebelum otak Lucie bingung akan yang di maksud oleh Reid tentang mengurusnya selama enam puluh menit atau enam puluh tahun dari saat itu, Reid sudah mengklaim bibir Lucie dalam ciuman yang sangat sensual abad itu dan menghancurkan segala harapan aktifitas otaknya selama beberapa saat ke depan.

Bibir Reid bergerak di atas bibir Lucie, mengeksplor lekukan dan kontur, giginya mengigit lembut, merasakan penuhnya bibir bawah Lucie, dan lidahnya menelusuri lekukan dalam bibir atas Lucie.

Setiap kali lidah Lucie bergerak maju, Reid mundur, tak membiarkan Lucie berpartisipasi dengannya. Berkali-kali Lucie mencoba untuk membalas ciuman Reid, tapi dengan ahli Reid menghindari usaha Lucie sambil melanjutkan eksplorasinya.

Frustasi dan gairah seksual meningkat di dalam intiya. Tangan Lucie memegangi kepala pria itu untuk menahannya di tempat dan Lucie menghadiahkannya dengan ciuman yang begitu dalam. Lucie mengerang, merasakan dirinya sendiri di lidah Reid. Sebelum Reid, Lucie tak pernah tahu betapa nikmat yang seorang pria dapat berikan pada kemaluannya. Dan Lucie tak pernah berimajinasi betapa ia sangat suka mencium Reid setelah ia melakukan hal itu.

Kemenangan kecil Lucie tak bertahan lama. Setelah beberapa saat, Reid memegang kedua pergelangan tangan Lucie dan menahannya di matras di atas kepalanya sembari Reid bergerak ke atas Lucie. Pinggul Reid ditempatkan di tengah paha Lucie, ereksinya yang besar meringkuk di antara lipatannya.

Reid merundukkan kepalanya untuk mengecup leher Lucie dan membuat jalur dengan jilatan menuju telinganya. Reid mengigit lembut telinga Lucie dan menghisapnya untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan. Melepaskannya, kemudian Reid berbicara, napasnya yang hangat menyapu lembut rambut Lucie. "Lucie, sayang, kau membuatku gila, kau tahu itu Kau tak tahu seberapa berat aku mengontrol diriku sendiri agar tidak menyetubuhimu dengan kasar layaknya pria gila."

Lucie melentingkan tubuhnya, mendukung Reid. "Tak perlu menahan diri. Setubuhi aku," Lucie memohon.

Menaikkan tubuhnya ke atas untuk melihat ke dalam mata Lucie, Reid berkata, "Oh, tentu aku akan melakukannya. Tapi kali ini aku akan menikmati tiap momen yang terjadi. Aku akan menikmati waktuku dalam menyayangimu malam ini."

Lucie membuka mulutnya untuk berargumen saat Reid memposisikan pinggulnya, memasukkan ereksinya hingga menyentuh dan menggosok klitoris Lucie, dan argumen wanita itu berubah menjadi erangan nada tinggi.

"Tak boleh bicara. Hanya merasakan." Reid mengulangi gerakan itu, membuat Lucie melihat bintang-bintang. "Mengerti"

Lucie mengangguk. Dia akan menyetujui apapun selama Reid tetap melakukan gerakan itu padanya.

Reid mencium ke bawah tubuh Lucie, meninggalkan jejak basah di atas payudaranya, turun ke bawah rusuknya, dan melewati perutnya. Tangan Reid membuka paha Lucie lebar, membuka selebar-lebarnya. Lucie melirik tubuhnya saat Reid meletakkan kepalanya tepat di atas pelvisnya, napasnya berhembus di atas kulitnya yang basah dan mengirimkan sensasi getar kenikmatan yang membuat putingnya mengeras.

Saat ini Reid membuka matanya, menaikan tingkat keintiman ke dalam setiap aksinya di mulai dengan memberikan jilatan panjang di inti Lucie.

"Salah satu hal yang kusukai adalah membawamu ke batas orgasme," kata Reid, suaranya rendah dan kasar. "Ekspresimu sesaat sebelum kau orgasme adalah kecantikan yang murni."

Jilatan lain dari lidah Reid dengan jentikkan di atas klitorisnya.

"Oh!"

"Benar begitu, sayang. Lihatlah aku. Lihat aku bercinta denganmu menggunakan mulutku."

Itu adalah kalimat terakhir yang dikatakan Reid sebelum melakukan apa yang ia maksud dengan baik. Reid menjilat dan menghisap layaknya ia sedang mencium bibir Lucie, lidahnya masuk ke dalam intinya, menggumamkan apresiasi pada rasa Lucie.

Lucie terengah-engah dan mengepalkan tangannya di atas selimut. Pinggulnya mulai menghentak secara insting melawan lidah Reid, membutuhkan gerakan yang konsisten diklitorisnya untuk menyamai denyut di dalam yang semakin cepat.

"Oh, Tuhan, aku butuh kau di dalam tubuhku," Lucie berteriak. "Reid, please!"

"Belum," kata Reid dengan suara yang sama tersiksanya dengan Lucie. "Batas. Kau belum sampai disana."

Apa Reid bercanda Lucie sangat merasakan di sudah dalam batas. Jika Lucie tak mendapatkan sesuatu di dalam tubuhnya dalam beberapa detik, Lucie akan lepas kendali.

Reid menggantikan lidahnya dengan dua jari, dengan cepat menggosok tonjolan syaraf sensitif sementara mulutnya menghisap bibir kemaluan Lucie dan menggigit paha bagian dalamnya. Kilauan keringat kini melapisi tubuh Lucie dan aroma gairah Lucie tercium di udara mengkonfirmasi keahlian oral Reid. Reid membuat Lucie hampir gila dan menikmati tiap detiknya.

Lucie melepaskan selimut untuk menstimulasi putingnya dan meramas payudaranya sendiri. Lucie terlalu minder untuk bermain dengan bagian tubuhnya sendiri sebelumnya, tapi keinginan untuk menyentuh bagian-bagian itu terlalu besar. Puntiran yang Lucie berikan pada putingnya langsung berdampak pada pusatnya, dan ketegangan diperutnya mengencang lagi dan lagi.

Pandangan Lucie mulai tidak fokus, tapi ia mendengar Reid meraung, "Luar biasa indah" sambil bergerak ke atas dan memasuki tubuhnya saat Lucie mencapai batas yang ia maksud dan melewatinya.

Tak bisa menahan dirinya sendiri, Lucie berteriak dan melenting ke arah Reid saat bagian dalam tubuhnya meledak dan melesakkan ereksi besar Reid yang kini memenuhi lubang kosong dalam tubuh Lucie. Reid mengerang di leher Lucie dan mengencangkan lengannya di sekitar tubuh Lucie saat terusan tubuh Lucie mengejang dan bergetar yang mengirimkan gelombang ke seluruh tubuhnya dari ujung kakinya hingga akar rambutnya.

"Sialan, kau terasa luar biasa."

Lucie menyetujuinya, tapi bahkan kata paling simple tampak sulit diucapkan baginya. Saat Lucie sadarkan diri, terbungkus dalam euforia yang tak pernah ia tahu ada, mulut Reid menangkap mulutnya dalam ciuman yang manis dan lemah.

Hilang dalam paska klimaks yang berkabut dan tarian sensual lidah mereka, tubuh Lucie mengejang merespon ketika Reid mulai menarik, ereksinya yang besar menggosok dinding sensitif kemaluannya.

Setelah Reid hampir keluar dari dalam tubuhnya, ia kembali masuk, pelan dan hati-hati, hingga Lucie menerima seluruh kejantanannya lagi. Lucie terkesiap dan mendongakkan kepalanya, menyudahi ciuman mereka. Sensasinya terlalu berlebihan, terlalu cepat. Lucie tak kan pernah selamat.

Lucie meletakkan tangannya di bahu Reid dan mendorong dengan kekuatan yang setara dengan bayi burung, matanya memohon.

"Reid, aku tak bisa..."

"Shh," kata Reid di bibir Lucie. "Ya, kau bisa." Reid melepaskan tanga Lucie, mengaitkan jemari mereka, dan menaruhnya di atas kepala Lucie saat ia mulai menarik tubuhnya lagi. Menahan dirinya sendiri di pintu masuk tubuh Lucie, Reid berbisik, "Percaya padaku."

Itu bukanlah pernyataan arogan. Menatap ke dalam mata Reid, Lucie menyadari itu adalah permohonan. Sama halnya Reid mengatakan, Percaya padaku untuk memberimu kepuasan. Percaya padaku untuk menjagamu. Dan Lucie berharap, Percaya padaku untuk mencintaimu.

"Aku percaya padamu."

Bibir Reid menghantam bibirnya dalam ciuman yang memabukkan saat Reid memasukkan tubuh sepenuhnya. Lucie berpikir cepat bahwa ini pasti merupakan definisi dari nikmat yang sakit, ingin mendorong Reid menjauh dan menariknya mendekat pada saat bersamaan.

Tapi hanya perlu beberapa saat sebelum kenikmatan

mencengkramnya dan yang ia pikirkan adalah rasa dari tubuh Reid bergerak dalam tubuhnya, melengkapi Lucie seperti tak ada hal lain yang bisa melakukannya.

Waktu berhenti, putaran dunia berhenti dalam dunia mereka sendiri ketika mereka bercinta selamanya. Tubuh mereka, keringat licin, bergerak menjadi satu, sama carinya dengan ombak lautan yang bergulung.

Gerakan tubuh Reid yang perlahan dan menyiksa akhirnya musnah, pinggulnya bergerak lebih cepat, napas mereka menjadi lebih pendek. Akhirnya ketegangan yang familiar mulai terkumpul dalam tubuh Lucie, membesar dan menyebar dengan tiap hentakan kejantanan Reid hingga gairahnya menghabisi Lucie, memilikinya.

Tak dapat di percaya, Lucie datang lagi, nama Reid terkuak dari bibirnya. Tapi mengingat yang terakhir membawa Lucie dengan intensitas yang kejam, orgasme kali ini membawa Lucie ke dalam ketidaksadaran yang sempurna yang tampak tak kan berakhir.

"Ya Tuhan...Lucie," erang Reid, ototnya menegang dan gemetar bersamaan dengan ejakulasinya. Dan saat Reid menebarkan benih di dalam tubuh wanita itu, Lucie membayangkan Reid juga menyebarkan cinta dihatinya.