Semua masalah sudah terselesaikan. Tinggal kini Nova. Seorang Akhwat yang telah belajar banyak tentang keindahan Islam. Harus hidup sendirian jika aku meninggalkannya. Jikalau Dewi mempunyai keluarga dan masalah. Tetapi, Nova mempunyai masalah tanpa keluarga yang akan melindunginya.
Sekarang, anti bagaimana Tanyaku kepada Nova.
Entahlah Ukh! Ana sudah tidak mempunyai siapa-siapa sekarang! Ucapnya. Sekilas wajahnya terlihat haru, air matanya berlinang dalam beberapa tetes yang berjatuhan.
Aku pegang erat tangannya. Ukh. Apakah anti menyesal mengikuti Islam Tanyaku.
Nova menatapku. Matanya terlihat tajam, dalam linangan air mata yang berjatuhan. Ana tidak akan pernah menyesal. Bahkan, ana sangat bersyukur mengikuti Islam! Tetapi, keluarga ana masih bergelimang dengan kekafiran. Ana takut mereka akan memasuki neraka jahanam! Ucapnya. Dengan nafas yang sesenggukkan karena tangisnya.
Ukh. Anti tidak usah khawatir. Karena ini sesungguhnya takdir Allah! Berdoalah Ukh, agar keluarga anti diberi hidayah oleh Allah! Ukhti, sesungguhnya rasa kebersaudaraan Islam sangatlah erat. Ana adalah keluarga anti! Ucapku, sambil memegang tangannya.
Terima kasih ya Ukh. Atas semuanya! Ucap Nova. Sambil memelukku.
Kami pun akhirnya berderai dengan tangisan. Dalam pelukan saudara yang mengagungkan. Agung kerana kami menganggunkan keagungan-Nya.
Ukh. Anti ikut ana yah, nanti! Pintaku kepada Nova. Mengajak menjadi bagian dari keluargaku.
Apa ana, tidak merepotkan anti
Ana tidak akan pernah merasa direpotkan. Justru ana beruntung, beruntung dengan mempunyai seorang saudara mujahidah yang lainnya!
Tapi, Suami anti. Bagaimana
Insya Allah, Suami ana akan senang menerima anti!
Nova terlihat berfikir. Memikirkan tawaran yang aku ajukan.
Ukhti. Sudahlah, anti tidak usah berfikir lagi! Pokoknya Anti ikut dengan ana. Pintaku sedikit memerintah.
Nova hanya mengangguk. Dan senyum dalam derai tangisnya pun mengembang. Syukron, yaa Ukhti! Ucapnya, lirih.
Aku tersenyum dengan ucapan tulusnya.
Akhirnya Nova bersedia untuk ikut denganku. Ikut dengan keluarga barunya. Keluarga yang menjadikan dia sebagai seorang manusia. Seorang hamba Allah yang akan istiqomah dalam jalan-Nya. Menjalani semua yang digariskan dalam aturanNya. Menjadikan kenikmatan dalam ibadah yang tiada henti. Menjadikan ibadah adalah kebutuhan. Kebutuhan yang menjadikan terus-menerus rindu dalam balutan kasih sayang-Nya. Indah dan nikmat dalam tindakan yang akan selalu diridhoi-Nya.
Besok aku akan membawa Nova. Nova akan menjadi keluarga baru bagiku. Seorang yang harus aku lindungi dalam kesukarannya. Dan seorang yang harus aku gembirakan dalam kesusahannya. Dan seorang yang harus aku sayangi saat kebahagiaannya. Semua itu harus aku lakukan, karena Nova kini menjadi saudaraku. Bahkan jika aku harus membagi cintaku kepadanya. Membagi kasih sayang Suamiku bersamanya. Aku siap melakukan itu. Iya benar! Kenapa tidak aku jadikan saja Nova menjadi adikku. Menjadi seorang istri dari suamiku! Itu malah lebih baik. Pasti Nova aku lebih terlindungi. Selama ini aku merasakan kasih sayang teramat dalam yang diberikan oleh Suamiku. Kini aku harus rela membaginya. Membagi dengan saudaraku sendiri. Selintas pikirku.
Tapi Apakah aku mampu membagi kasih sayang Suamiku dengan wanita lain! Apakah aku bisa bertahan dengan seorang yang membagi cintanya Apakah aku mampu Selintas onak pikirku pun mengembang datang dengan tak diundang. Tetapi, aku harus mampu. Aku harus mau dan bersedia membagi cinta Suamiku. Demi saudaraku! Demi seorang akhwat yang memang membutuhkan rasa kasih sayang dan perlindungan. Demi membagi kebahagian dengan saudara dalam naungan kesatuan Islam! Aku harus merelakan cinta Suamiku, untuk dibagi. Aku harus mau, toh Suamiku pun telah membagi cintanya. Dan aku tidak pernah cemburu. Malah aku semakin bertambah mencitainya. Aku kan, tidak mencintai Suamiku dalam wujudnya! Aku mencintai Suamiku karena-Nya! Lalu, kenapa aku mesti berat untuk membagi cintanya lagi. Jikalau cinta Suamiku karena Sang Maha Pecinta. Maka aku tidak perlu khawatir jika Suamiku tidak mencitaiku. Karena sudah jelas-jelas, pasti Suamiku akan terus mencitaiku. Karena sesungguhnya cinta Suamiku, adalah karena-Nya! Dan aku mencitai Suamiku pun, karena-Nya! Jika Suamiku mencitai aku karena Allah, aku pun demikian. Aku mencintai Suamiku pun, karena Allah. Dan aku mencintai Nova pun karena Allah. Lalu kenapa aku harus berberat diri untuk membagi cinta Suamiku. Cinta kami kan karena Allah, dan cinta Nova pun. Pasti karena Allah! Lalu kenapa aku harus tidak rela jika Suamiku bisa membagikan rasa cintanya. Membagikan kasih sayangnya. Yang untuk dibagikan kepada akhwat yang membutuhkan! Aku harus mau! Pikirku kerasa dalam diri.
Dilema dalam hatiku, menyeruak keluar. Rasa segan untuk melepaskan cinta Suamiku begitu kuat. Tetapi, rasa ikhlas pun. Sama kuatnya. Aku bingung dalam penentuan egoisme dan syariat. Penentuan dalam halal dan keegoisan. Semua terpatri dalam pikir yang tak menentu. Semua terajut dalam pikir yang membalutkan kegundahan. Keragu-raguan datang menerpa dalam keyakinan yang begitu dalam. Aku menjadi sangat ragu dalam keputusanku sendiri. Padahal, aku adalah seorang akhwat yang biasa bergelut dengan aturan-aturan Islam. Tetapi, dilema dalam hati berbalut kegoisan diri. Datang mempengaruhi dengan serangan bertubi-tubi untuk menafikkan aturan-aturan Ilahi. Semua begitu cepat.
Pikirku terpatri dalam dua keputusan yang satu sisi membangkitkan gundah dihati. Tapi apakah ada, seorang wanita yang mau dimadu! Ucapku, egois dalam hati. Nova adalah seorang teman, juga saudara yang sudah aku kenal. Tetapi, rasa memilikinya sebagai seorang saudara. Ternyata masih sangat tipis. Ucapan saudara yang selalu aku dengung-dengungkan kepadanya dan umat muslim yang lainnya. Harus tersibak dengan keegoisan diri. Egois karena tidak mau membagi cinta sang Suami. Padahal mungkin, ini adalah ujian dari Allah. Untuk membuktikan rasa keterikatan saudara satu dengan saudara yang lainnya. Ujian untukku, tentang rasa saling berbagi dengan saudara yang lainnya. Perasaan membagi dalam bentuk kasih sayang membagi cinta Suami. Tetapi, bukankah seorang istri yang merelakan suaminya untuk menikah lagi. Tidak lain adalah balasan surga yang akan dijanjikanNya! Selama ini, aku melihat perilaku Suamiku sangat adil dalam urusan apapun. Apakah tidak mungkin, jika aku membagi cintanya. Akan memberikan rasa keadilan yang memang benar-benar tercipta. Karena selama ini, yang aku rasakan tentang keadilan Suamiku. Hanya bisa aku rasakan seorang diri, tanpa memberikan takaran yang sesuai dengan rasa adil itu sendiri. Seandainya aku memberikan takaran yang sesuai, dengan mengikhlaskan Suamiku untuk menikahi Nova. Pastilah aku tahu,tentang arti makna keadilan! Aku harus bisa menerima Nova sebagai istri kedua Suamiku. Aku mencintai Suamiku, aku pun mencintai Nova. Aku mencintai keduanya, karena aku mencintai-Nya!
Aku langsung teringat dengan bahwa keputusan ini adalah keputusan yang tidak ringan. Langsung saja aku menelephone Abi.
Assalamualaikum.
Walaikumsalam. Jawab Abi.
Bi, Zah pengen ngobrol! Kataku.
Ada masalah yang penting ya Zah! Abi terdengar gusar.
Bi. Zah ingin Mas Khalid menikahi Nova! Boleh nggak Bi
HA! Anti serius Abi terlihat kaget.
Iya. Ana sangat serius, ana kasihan dengan kondisi Nova. Ana harus menolongnya!
Sejenak Abi terdiam. Hem. Kalau itu memang itu menurut anti terbaik. Abi menyetujui saja.
Kalau Ummi, gimana Bi
Alhamdulillah Zah memang sudah sangat dewasa sekarang, Ummi meridhoi apa yang memang menjadi keputusan anti. Ummi yakin, anti sudah memikirkannya sangat dalam! Kata Ummi. Yang ternyata ikut mendengarkan telphoneku.
Terima kasih, Abi dan Ummi sangat baik dalam mendidik dan membentuk kepribadian Zah! Assalamualaikum Setalah itu aku langsung menutup telphon.
***
Dalam perjalanan pulang. Aku mencoba mengobrol dengan Nova.
Membicarakan tentang niatku. Niat tentang membagi cinta sang Suami. Membagi kasih sayang yang dimiliki Suami. Membagi keadilan yang dimiliki sang Suami. Dan ujian bagi Suamiku, untuk dapat berlaku adil dalam kehidupannya.
Ukh! Panggilku ke Nova.
Iya, ada apa Ukh
Boleh ana meminta sesuatu, dari anti Kataku, hati-hati.
Nova melihatku. Mata sayu, terasa ada sebuah rasa heran didirinya. Ukh. Seandainya saja, anti meminta nyawa ana sekarang. Ana akan berikan kepada anti, sekarang juga! Ucapnya.
Benarkah, Ukh!
Wahai saudaraku, apa yang akan engkau minta dari saudaramu yang dhoif ini
Apakah anti benar-benar bersedia menuruti permintaan ana Tanyaku, meyakinkan.
Ukhti. Insya Allah, ana siap menuruti apapun yang anti minta! Tegasnya.
Benarkah! Ucapku, mencoba meyakinkan kembali.
Iya, Ukhti! Sebenarnya apa sih yang anti minta dari ana Ucap Nova, terlihat tidak sabar.
Ehm. Ukhti, ana minta anti mau menjadi Istri dari Suami ana!
HA! Anti jangan bercanda Nova terlihat sangat kaget.
Sungguh, ana benar-benar meminta anti!
Nova membisu. Tiada yang terucap dari bibir indahnya. Matanya menerawang kedepan. Tatapannya kosong.
Ukhti. Apakah anti tidak mau menuruti permintaan saudara anti sendiri! Atau memang Suami ana tidak pantas untuk anti Ucapku sedikit menyesal.
Bukan-bukan, ana tidak mengatakan itu! Ukhti, apakah anti benar-benar sudah mempertimbangkan hal ini!
Ana sudah sangat mempertimbangkan ini! Sungguh sebuah kehormatan yang sangat besar bagi ana. Jika anti mau menerima permintaan ana!
Nova kembali terdiam. Terselip kebimbangan pada dirinya.
Ukhti. Sesungguhnya tidak ada maksud apapun dari ana. Ana hanya menginginkan anti untuk menjadi seorang Istri bagi Suami ana, hanya karena ana sangat menyayangi anti! Ana sayang sekali terhadap Suami ana, tetapi ana juga tidak boleh menafikkan bahwa ada seorang akhwat yang perlu perlindungan seorang laki-laki. Seorang Suami yang akan memberikan perlindungan kepada Istrinya! Ana hanya mengenal seorang Ikhwan, yang menurut ana sangat terbaik. Yaitu, Suami ana! Ana rela untuk membagi kasih sayang Suami ana kepada anti. Meskipun ada cemburu dalam diri ana, tetapi ana tidak boleh menjadikan rasa cemburu itu sebagai penghalang ana untuk mencari surga yang akan diberikan oleh Allah! Ana mencinta anti karena Allah. Begitu juga, ana mencintai Suami ana karena Allah! Maka dengan itu, ana ridho untuk membagi kasih sayang Suami ana. Karena cinta kita, adalah karena Allah semata! Jelasku, pasti. Meskipun sedikit berat dalam hati. Aku sedikit menghela nafas Apakah anti bersedia, menjadi Istri Suami ana Pintaku, lanjut.
Apakah, ana harus menerima permintaan anti Nova terlihat sangat bingung untuk menjawabnya.
Tidak. Sesungguhnya, anti mempunyai pilihan sendiri. Ana hanya menawarkan sebuah permintaan. Dan mungkin sulit buat untuk menerima hal ini!
Ukhti. Seperti apa kata anti! Ana mempunyai pilihan sendiri. Dan jika memang anti tidak keberatan dengan pilihan ana. Ana sangat berterima kasih sekali! Sejenak, Nova menghela nafas panjang. Ana memilih, menerima permintaan anti! Sebuah kehormatan besar, yang anti berikan kepada ana. Ana tidak bisa menolaknya. Meskipun nanti, jika suatu saat ada ketidakadilan yang diberikan kepada ana oleh Akhi Khalid! Ana akan menerima dengan keluasan diri ana. Ana siap menerima itu! Tetapi jika ada sebuah ketidakadilan yang diberikan oleh Akhi Khalid kepada Anti, maka ana yang akan langsung menuntut ketidakadilan itu!
Insya Allah, Ukh! Ana juga akan menuntut jika ada ketidakadilan yang dilakukan oleh Suami ana kepada anti. Syukron, Ukh! Kataku, sambil melihat wajah Nova. Ada kesanangan dalam hatiku, tetapi ada sesuatu yang meronta juga dalam batin ini.
Nova hanya mengangguk. Wajahnya seperti menahan rasa haru dan kebahagiaan yang mendalam.
Mobilku terus melaju. Menyibak rona-rona belenggu yang menghampar dari hati. Kalbuku merasa senang dengan keputusan Nova untuk menerima permintaanku. Tetapi, ada rasa lain yang mengganjal dalam hati. Untuk tidak mau menerima.
Ganjalan itu sebenarnya sangat kuat, menjadikan diri begitu egois dalam pandangan syariat. Tetapi, aku langsung menepisnya. Rasa kebahagiaanku untuk menerima Nova, ternyata lebih aku pilih. Meskipun sangat berat dihati, tetapi kalbu ini menerima dengan keluasan Ilahi. Yaa Allah, aku tunggu Jannah-Mu!
***
Kini aku sudah berada didepan rumahku. Rumah yang menyimpan kenangan indah. Kenangan yang sampai kapanpun tak akan terlupa. Kenangan yang akan melekat dalam jiwa dan kalbu ini. Tetapi, kenangan itu akan membawa kenangankenangan yang lainnya. Kenangan itu akan kembali membuat kenangan indah yang lainnya. Menjadikan kenangan yang lebih indah lagi.
Aku langsung memasuki halaman pekarangan depan. Tanpa harus memencet bel terlebih dahulu. Aku ingin memberikan kejutan kepada Suamiku. Aku ingin memasak-masakan yang sudah banyak aku pelajari. Aku tahu, saat ini Suamiku sedang tidak dirumah. Suamiku sedang mengisi kajian di kampus. Ini saatnya aku benar-benar memberikan kejutan kepadanya. Saat dia pulang dengan letih dan capek yang menghampirinya. Maka, dia akan memakan masakan yang sudah aku sediakan. Dan aku akan membelainya mesra, dalam balutan kasih sayang yang teramat dalam. Kehangatan dan kelembutan yang sudah lama tak dia dapatkan. Harus aku bayar saat ini. Aku tidak akan lagi menyembunyikan masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Aku akan selalu berbicara kepadanya tentang masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Tidak akan lagi ada masalah-masalah yang akan aku hadapi sendiri. Karena sesungguhnya, semua masalah dan kebahagiaan. Harus aku berikan kepada seorang yang telah aku pilih dalam mendampingiku. Mendampingi dalam menyelesaikan cobaan dan mendampingi dalam kebahagiaan.
Saat pintu rumah aku bukan. Bi Iyem, terperanjat kaget dengan kemunculanku.
Masya Allah! Mbak Zah. Mbak kemana saja Mbak sehat-sehat aja kan Mas Khalid sangat sedih loh, saat Mbak nggak ada dirumah.....
Bi. Udah-udah! Selaku. Sambil memeluknya.
Selintas, sebuah tangisan luluh dalam pundakku. Derai dalam haru seorang pembantu. Sedikit aku melepaskan pelukanku. Bi Iyem serasa tidak mau melepaskan pelukanku. Ada rasa kangen mendalam pada diri Bi Iyem.
Bi. Sudah, Zah sudah disini! Bisikku halus.
Sedikit demi sedikit, Bi Iyem melepaskan pelukannya. Wajahnya terselip kebahagiaan. Matanya berbinar terang.
Mbak, Bibi kangen Mbak Zah. Rumah jadi sepi, saat Mbak Zah tidak ada! Ummi pergi ke Mesir sama Abi. Mas Khalid, selalu duduk sendirian didepan teras lantai atas! Pokoknya sepi sekali. Tetapi, bacaan Al Quran tetap ada dirumah ini. Mas Khalid yang membaca dengan lantunan suara yang sangat sedih! Bibi jadi sering nangis kalau mendengar Mas Khalid baca Al Quran! Ucap Bi Iyem dengan sesenggukan karena tangisnya.
Insya Allah, Zah tidak akan kemana-mana lagi! Ucapku dengan melihat Bi Iyem. Sambil tersenyum. Oh ya, Bi. Ini teman Zah, namanya Nova! Nova nanti akan tinggal disini. Ucapku lanjut.
Bi Iyem tersenyum. Sambil mengangguk hormat.
Bi. Zah ingin masak. Pengen buat kejutan untuk Mas Khalid! Kataku. Agak tersipu, malu.
Iya. Semua sudah komplit, Mbak Zah mau masak apa saja silakan!
Bi. Tolong semua barang-barang Zah, diangkati dikamar Zah yah! Maaf Bi Zah langsung kedapur, jadi nggak bisa bantu Bibi! Ucapku, sembari menunjuk dimobil.
Iya, Mbak. Tidak apa-apa, Biar Bibi aja yang bawa! Bi Iyem langsung menuju mobil, untuk mengambil barang-barang yang ada dimobil.
Aku langsung menuju dapur. Tidak sabar untuk langsung segera memasak-masakan untuk Suami tercinta.
***
Disela-sela memasak. Aku dan Nova berbincang-bincang ringan.
Ukh, anti kalau dirumah dipanggail Zah Tanya Nova tampak heran.
Iya. Zah, itu kepanjangan dari Zahra! Biar lebih gampang, disingkat Zah aja.
Hem. Ana panggil Ukhti Zah boleh nggak Biar kesannya kayak adek dan kakak!
Anti nggak usah panggil ana Ukhti Zah. Anti panggil ana Mbak aja yah. Soalnya, anti kan nanti jadi adik ana! Kataku menggoda, sambil mencubit pinggang Nova.
Ih. Anti! Ucapnya, malu-malu.
Aku hanya tersenyum melihat saudaraku yang satu ini.
Ukh. Anti sama pembantu, kok akrab banget! Apa Anti nggak takut, nantinya tidak dihormati Tanya Nova, disela-sela menggoreng ayam.
Ukh. Dalam Islam, kita harus bersikap baik kepada siapa pun. Bahkan sama pembantu sekali pun. Dalam Islam sangat melarang perbudakan. Makanya, dalam setiap hadits sering dikatakan, bahwa Allah paling suka melihat hambanya yang membebaskan budaknya! Dan, pembantu kita saat ini. Mereka bukanlah seorang budak yang dapat kita atur dengan semau kita sendiri! Pembantu mempunyai kebebasan sendiri, seperti layaknya kita! Tetapi, tetap. Rasa hormat dan menghormati harus saling tertanam pada setiap diri kita. Jadi kita menghormati pembantu, dan begitu pula sebaliknya. Pembantu dengan sendirinya akan menghormati kita. Jika pembantu tidak hormat kepada kita. Mungkin karena kita memang tidak menghormatinya! Tetapi, sunnatullah. Bahwa seorang yang menabur benih kebaikan. Maka dia akan mendapatkan kebaikan itu pula! Jelasku.
Acara memasak kami sudah selesai. Semua masakan kini tinggal dihidangkan dimeja makan. Bergegas kami pun dengan cepat menghidangkanya. Agar nanti semua makanannya sudah siap untuk disantap, saat Suamiku datang. Berbagai macam masakan sudah tersedia semuanya. Masakan yang terlihat sangat lezat-lezat untuk dinikmati. Hari ini, aku benar-benar ingin memberikan masakan yang sangat spesial bagi Suamiku. Masakan yang akan membuat Suamiku kembali meraih kebahagiaannya. Meraih kebahagiaan ditemani oleh istri yang setia dalam setiap jalan dakwahnya. Dan juga untuk mensyukuri atas kenikmatan dan perlindungan yang kami dapatkan, atas perlindungan-Nya. Dan menjadikan kebahagiaan yang besar buatku, karena telah kembali kerumah yang penuh dengan kebahagiaan. Rumah yang selalu dihaisi oleh keindahan kebahagian yang nyata. Kebahagian yang bukan pada kebahagian semu belaka. Tetapi kebahagiaan yang pada hakikatnya adalah kebahagiaan Ilahi Rabbi. Kebahagiaan atas apa yang selalu kami lakukan hanya karena perintah-Nya. Perintah yang harus selalu diikuti karena memang kebutuhan, dan larangan yang akan selalu kita patuhi karena ketakutan kemudharatan. Sungguh, akan menjadi keluarga yang sangat bahagia jika apa yang telah diatur dan ditetapkanNya. Menjadi sebuah jalan hidup dan pedoman hidup bagi kita semua. Bagi manusia seluruh alam semesta ini.
Saat aku sedang akan mengambil air minum. Terdengar seseorang yang masuk kedalam ruang makan. Jangan-jangan, Suamiku sudah datang! Pikirku. Aku langsung mengintip seseorang yang baru datang itu. Ternyata benar, Suamiku sudah datang. Langkahnya gontai, terlihat malas sekali. Wajahnya terlihat sangat letih, seperti sangat tidak bersemangat sekali. Kasihan mujahidku!
Sejenak langkahnya terhenti. Saat melihat makanan yang berada dimeja makan. Dia melihat semua makanan itu, lada senyum diwajahnya. Senyumnya yang indah itu kembali.
Seandainya Istriku berada disini, dan memakan makananan ini bersamaku. Pasti sangat membahagiakanku! Ucapnya. Terdengar lirih.
Suamiku, aku disini! Bisikku lirih dalam hati. Sejenak aku masih mengintipnya dari ruang dapur. Suamiku menarik kursi meja makan. Setelah berdoa, dia langsung menyantap makanan-makanan yang aku sediakan. Rasa senang, gembira dan bahagia bercampur aduk didalama diriku. Suamiku begitu lahap memakan makanan yang telah aku masakkan untuknya. Berdesir hatiku, Pasti engkau begitu tersiksa Suamiku! Aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa haru dan kangen yang begitu bertubitubi.
Enak nggak, Kanda! Ucapku, dengan memeluknya dari belakang.
Suamiku terpana saat dia menatapku. Matanya begitu tajam, seakan tidak percaya dengan kedatanganku. Mulutnya keluh, terlihat sulit untuk mengucap.
Jawab dong, Kanda! Enak nggak, masakan Dinda! Ucapku, dengan penuh kemanjaan.
Lagi-lagi dia hanya terdiam. Rasa ketidakpercayaan masih hinggap didalam dirinya. Rasa kebahagian yang terpendam pun, terlihat muncul dari balik tatapan matanya. Aku merasakan kegembiraannya yang dalam. Tetapi, dia masih terdiam. Dia masih terpana dengan kedatanganku.
Butiran intan jernih pun mengalir disela-sela sudut mataku. Ada haru dalam hatiku, rasa bahagia yang tak akan terlukis dengan kata, bahkan dengan kanvas dan pelukis yang terkenal sekali pun. Tak akan pernah bisa. Aku merindukanmu, Suamiku!
Kanda, kok diem aja sich Dinda kangen! Ucapku, masih dengan penuh manja.
A..pa benar. A..pa benar. Apakah ana tidak bermimpi! Ucapnya, terbata-bata.
Kanda, afwan. Ana meninggalkan Kanda! Ana sangat mencintai Kanda! Ana benarbenar telah membuat kanda tersiksa! Maaf kan Dinda, Kanda! Tangis kebahagiaan pun mengalir dipelupuk mataku.
Dinda, ana kangen sekali! Ana benar-benar sangat lemah, saat Dinda tidak berada disisi
Iya, afwan Kanda! Ana, sangat menyesal
Suamiku menatapku dengan penuh kemesraan. Rasa kebahagian dari balik hatinya, mencuat hingga meluapkan kegembiraan yang sangat dalam.
Dinda! Apakah dinda tidak apa-apa Tanya Suamiku, penasaran.
Alhamdulillah ana baik-baik saja! Ucapku sambil menggelengkan kepala.
Anti selama ini dimana Apakah anti benar-benar telah diculik oleh Efendi
Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepala lagi. tidak kanda! Ceritanya panjang. Nanti saja ceritanya. Ana mau memperkenalkan seseorang!
Siapa, dinda tanyanya, terlihat penasaran.
Ukhti, mari masuk saja! panggilku kepada Nova.
Tak lama Nova pun datang. Wajahnya tertunduk, terasa ada rasa malu yang tersingkap dihatinya. Ada pula rasa kegembiraan yang terpancar dari dirinya. Entahlah, kenapa kegembiraan itu terlihat begitu jelas pada mata batinku.
Kanda, kenalkan. Ukhti Nova! Kataku, memperkenalkan.
Saat Suamiku mendengar nama Nova. Dia langsung menatap Nova tajam. Ada yang aneh dalam tatapannya. Dengan begitu seksama, Suamiku melihat Nova. Ada sesuatu tanya yang terlihat dari dirinya.
Assalamualaikum! Salam Nova.
W..alaikumsalam! Jawab Suamiku, terdengar gagap saat menjawab salam Nova.
Kenapa, Suamiku! Tanyaku manja. Berlagak seperti cemburu.
Ah, tidak. Ana hanya teringat seorang teman saja! Jawabnya sekenanya.
Iya, pasti antum ingat Kanda! Gumamku dalam hati. Teman, apa teman! Godaku. Sambil mencubit pinggangnya.
Iya, teman! Ucapnya sambil tersenyum. Terlihat sakit.
Nova tersenyum, terlihat rasa malu didirinya. Tetapi juga ada sebuah rasa cemburu yang selintas aku lihat pada dirinya. Cemburu untuk ingin cepat-cepat sepertiku. Mungkin.
***
Saat malam menjelang. Menapaki keindahan yang pernah berlalu dalam kehidupan. Kini malam itu tiba dengan kebahagiaan. Malam telah menjadikan keindahannya kembali datang. Malam membuat kita menjadi lebih mendewasakan apa yang disebut dengan hubungan pernikahan. Nikah merupakan hubungan sakral yang berisi tentang rasa cinta dan keindahan. Tetapi, cinta dan keindahan itu diselingi dengan riak onak duri yang akan menusuk jika kita tidak berhati-hati. Pernikahan adalah kebahagian yang akan membuat seseorang lebih hidup dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hidup dalam kekuatan cinta yang berisi tentang keindahan-Nya. Gambaran keindahan surga, walaupun gambaran itu terlihat sangat buram. Tetapi masih tetap menyenangkan dan membahagiakan. Karena keindahan surga tak layak untuk dapat kita gambarkan dengan kekuatan otak kita. Apalagi kekuatan akal kita yang sering kali tertipu dengan penglihatan mata kita.
Malam ini benar-benar kegembiraan yang terlantun dalam keindahan. Melodimelodi cinta yang menyenandungkan keindahan. Melodi-melodi memori yang tertanam dalam otak pada keindahan cinta. Benar-benar nikmat, kasih sayang yang diberikan oleh-Nya kepadaku. Hingga dihadiahkannya Mujahid sejati untukku. Aku belai Suamiku dengan kelembutan. Setelah sekian lama dia tidak mendapatkan belaian kasih sayangku. Sekian lama dia bersabar dalam ujian dan cobaan. Dan kini aku harus memberikan hadiah yang tidak akan pernah ada habisnya hadiah itu. Aku harus memberikan kepadanya. Memberikan kepada Suamiku tercinta, sebuah hadiah yang sangat istimewa.
Kanda. Kanda kangen nggak sama dinda Ucapku dengan manja.
Dinda, ana begitu benar-benar tersiksa saat anti menghilang! Ana benar-benar tidak bersemangat sekali dalam menjalani semua aktivitas. Bahkan menjalani hidup!
Iya, Dinda tahu!
Ha! Dinda tahu Ucapnya penasaran.
Selama ini, Dinda hanya pergi sebentar. Saat Kanda menghadapi Efendi dan kawankawannya. Ana benar-benar takut. Saat itu ana mencemaskan kanda. Tapi setelah ana lari. Ana malah teringat dengan ukhti Nova. Sebenarnya ana sudah lama membina ukhti Nova. Hanya saja, ana masih merahasiakannya. Ukhti Nova lari dari rumah itu pun atas usul ana. Sekarang ukhti Nova tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ana takut jika nanti ukhti Nova pulang. Malah tambah parah keadaannya.
hem jadi akhirnya, anti rela mengorbankan ana! Ucapnya dengan sambil memalingkan muka. Terlihat marah.
Kanda. Bukan begitu maksud ana! Kataku dengan membelai pipinya. Ana rasa, kalau Kanda lebih mampu menghadapi musibah daripada ukhti Nova! Jadi ana berani meninggalkan Kanda sebentar saja.
Hem, lalu selama ini anti ada dimana
Ana berada dirumah kita yang kedua! Selama ini ana terus memantau kanda. Kanda kemana, dimana, sama siapa. Ana mengetahui segalanya. Apalagi saat kanda berada dirumah sakit. Ana tetap memantau kanda.
Wah Dinda, berbakat juga jadi spionase yach! Ujarnya bercanda.
Aku tertawa kecil. Ana hanya menjaga Suami aja kok, Kanda! Oh, ya. Ana baru tahu, kalau Kanda benar-benar pintar beladiri! Kanda, kok tidak pernah cerita kalau Kanda bisa beladiri
Siapa dulu, Kanda! Ucapnya, sambil menepuk dada.
Iya, siapa dulu. Suami Dinda! Sahutku, dengan berasandar didadanya. Kanda, sayang. Dinda ingin meminta tolong! Bisa nggak Kataku lanjut.
Apa, sayang!
Boleh nggak ukhti Nova tinggal disini! Tanyaku dengan sangat menjaga ucapan.
Loh, itu kan terserah anti. Ini kan rumah anti!
Kanda sayang! Ini rumah kita, bukan hanya rumah ana Ucapku agak kesal.
Afwan sayang, iya-iya. Ini rumah kita! Jawabnya, sambil membelai mesra rambutku.
Senyumnya kembali merekah. Sambil kembali bersandar didadaku. Kanda, apa boleh ukhti Nova tinggal disini Tanyaku lagi.
Iya boleh dong, Dinda!
Maksud ana, boleh nggak ukhti Nova tinggal di rumah ini! Kataku sekali lagi. Aku bingung untuk mengatakan dengan sejelasnya.
Iya sayang, boleh! Jawabnya, mempertegas.
Bukan itu, maksud ana! Kataku, kesal karena ketidaktahuannya tentang maksudku. Setelah sedikit mendesah, aku mengatakan maksuda ana, Kanda mau nggak menjadi suami ukhti Nova!
Ha! seketika itu pun Suamiku terperanga. Serasa tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
Kanda! Mau nggak Ucapku, seraya menggoyang-goyangkan badannya.. Dengan tetap bersifat manjanya.
Apa, maksud anti Katanya heran.
Tidak ada maksud apapun! Ana hanya ingin Kanda menikahi ukhti Nova. Itu aja! Jawabku.
Sayang-sayang, anti nggak apa-apa kan Ucapnya penasaran. Dengan memperhatikan wajahku, sambil memegangi kepalaku.
KANDA! Ana nggak kenapa-napa. Kataku dengan nada sedikit keras.
Sesaat Suamiku terdiam. Dia memandangku dengan tajam. Terlihat tanya dalam lubuk hatinya.
Aku menarik nafas panjang. Terasa sesak menyumpal dada. Kanda, ana hanya ingin menjadi muslimah yang baik! Muslimah yang menyayangi saudara sendiri! Ana nggak ingin menjadi akhwat yang egois. Ana ingin membagi kebahagiaan yang ana miliki bersama Kanda. Dengan membaginya kepada akhwat lain! Kanda, sungguh ana tidak kenapa-napa. Ana tidak punya penyakit yang kronis apalagi bosan terhadap kanda. Sehingga dengan mudah ana mau melepaskan Kanda. Kanda, ana memang sangat menyayangi Kanda. Ana sangat bahagia bersama Kanda. Tetapi, saat-saat kebahagian yang kita pupuk bersama. Ada segolongan akhwat, yang tidak merasakan kebahagiaan kita. Mungkin ini berat bagi ana. Dan memang itu sangat berat bagi ana. Untuk mengikhlaskan Kanda membagi rasa kasih sayang, yang Kanda punyai. Kanda, sesungguhnya semua ini ana lakukan, karena ana sayang terhadap saudara ana yang lain. Ana ingin akhwat lain, juga merasakan kebahagiaan kita. Kanda, sesungguhnya poligami itu juga termasuk rahmat dari Allah, dan merupakan sebuah langkah dakwah. Dan apakah Kanda lupa, bahwa surga adalah jaminan bagi wanita yang mengikhlaskan suaminya untuk menikah lagi! Aku sedikit tertunduk. Tak terasa butiran-butiran intan yang berada mata berjatuhan. Berat rasanya, tetapi aku harus bisa mengatakannya.
Ada sedikit gundah tercurat dimata Suamiku. Dia tertunduk lesu, dalam balutan kebingungan yang mendalam. Sayang, ana takut. Ana takut, jika ana tidak bisa berlaku adil!
Aku memeluknya erat. Kanda, ana yakin antum bisa berlaku adil. Sesungguhnya, penilaian adil dan tidaknya. Hanya ana yang bisa merasakannya. Saat bersama Kanda, ana semakin yakin. Bahwa Kanda bisa berlaku adil. Ya, meskipun Kanda tidak dapat berlaku adil masalah hati. Tetapi yang penting adil dalam pandangan syariat sudah Kanda jalani. Ana sangat ikhlas membagi kasih sayang yang Kanda punyai!
Sayang, ini sangat berat!
Kanda, ana akan membantu mengingatkan Kanda. Jika suatu saat Kanda akan berbelok arah jalan. Ana siap menjadi jaminan!
Hem..! Ucapnya dengan desahan yang teramat berat.
Mau, ya! Jika memang Kanda menyayangi Dinda. Ana mohon, Kanda bersedia! Paksaku. Jemari-jemariku memegang erat jemarinya. Untuk memberikan kekuatan sebuah permintaan yang sangat sulit untuk bisa diterimanya. Mungkin.
Suamiku memandangku, dia tersenyum. Tetapi terlihat senyuman yang sangat berat sekali. Tak lama Suamiku menganggukkan kepala, menandakan persetujuannya. Tetapi, lagi-lagi terlihat sangat berat sekali. Serasa ini adalah permintaan yang sangat berat baginya. Gundah yang disiratkan dalam wajahnya, masih terlihat sangat jelas.
Terima kasih Kanda, sayangku! Ucapku lirih. Meskipun sesak didada ini menerpa bertubi-tubi. Mana ada wanita yang merelakan Suaminya untuk menikah lagi! Tapi aku harus bisa, ini jalan kesurga. Gumamku lirih dalam hati.
Lalu, apa kata Abi dan Ummi nanti Apa Beliu berdua akan menyetujui permintaan Anti Tanya Suamiku, terlihat sangat bingung.
Abi sudah mengatakan, Terserah jalan yang Anti pilih, jika itu baik menurut antimaka lakukanlah. Dan Ummi mengakatan Alhamdulillah, anakku sudah dewasa. Dan sekarang menjadi wanita yang hebat! Itulah ucapan beliau berdua Ucapku dengan senyum.
Ha Anti sudah mengatakannya! Berarti selama ini Abi dan Ummi tahu keberadaan, Dinda Tanyanya, semakin terlihat bingung.
Iya! Abi dan Ummi sudah tahu lama keberadaan ana. Saat hari kelima, Kanda dirawat dirumah sakit. Ana langsung menghubungi Abi dan Ummi untuk tidak khawatir tentang keberadaan ana. Dan tetap, keberadaan ana tidak boleh diberitahukan kepada siapapun. Termasuk Kanda! Jelasku.
Suamiku hanya terbengong.
***
Pernikahan pun telah dilaksanakan. Saat akad dinyatakan oleh Suamiku. Berdesir hati ini ingin berontak. Berontak karena ada rasa cemburu yang mendalam dalam hati. Inginku berteriak, menyuarakan rasa cemburu ini. Rasa sesak yang bertubi dalam lubuk hati. Sesak yang terus menyerang dalam diri hingga bagaikan menghambatku untuk bernafas. Tetapi, sungguh Allah telah memberikan kekuatan yang Maha Dahsyat kepadaku. Kekuatan yang diberikan kepada seorang istri yang ikhlas, melepas saparuh kasih sayang suaminya untuk dibagi dengan wanita lain. Saat sekilas suamiku melihatku, ada tatapan yang sangat teduh. Dalam, menyentuh lubuk hatiku. Serasa tatapannya mengingatkan tentang cintanya kepadaku. Tatapan yang membuatku teduh dan teguh dalam pendirianku. Tatapan yang membuatku semakin mencintainya. Tatapan itu begitu indah, merasuk dalam jiwa. Hingga tubuhku bergetar. KANDA... AKU SANGAT MENYAYANGIMU! TAK AKAN KULEPAS CINTAKU KEPADAMU MESKIPUN CINTAMU TAK SEUTUH YANG DULU!
Teriakku dalam hati.