MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 16
Barangkali suatu hari nanti

aku pun akan terjaga kelewat dini.

Dan padamu, hanya padamu

kusampaikan dalam bisik seorang tua:

Duh, istriku, inilah saat itu.

Namun pagi mesti dimulai seperti biasa

selimut mesti dilipat, tirai-tirai harus disingkap

air mesti dijerang, lampu-lampu perlu dipadamkan.

Dan bukankah jemputan harus selalu ditunggu

Maka kemudian kita pun menunggu

dalam stel terbaik:

Jasku hitam bulu kucing, kebayamu pancaran layung

rambutku sisir-samping

milikmu sebisanya digelung.

Dan kita, cintaku,

memang telah sepenuhnya berwarna sepia.

Sementara terkenang pada buku-buku

yang belum tuntas dibaca

dan berpikir: apa yang sepantasnya

jadi pengetahuan terakhir

kudengar bunyi menghardik.

Duh, istriku, inilah saat itu! jeritku.

Kau pun tertawa, mengambil tanganku sebelah

dan menekannya pada pipi.

Tenanglah, katamu, sekadar batuk

karena angin kering

dan musim yang pasi.

Hari pun makin tua, subuh yang sepenuhnya

undur dari milieu

memang sempat menenangkanku.

Tapi mengapa tawa tiba-tiba berhenti

dan kelakar tersangkut

pada batuk kembali.

Kurasakan jagat mengental

udara pekat, dan waktu pepat

dalam empat menit yang khianat:

katakan, istriku, mengapa harus orang tua ini

memasang tanda kabung di muka rumah

daripada menemu janji

dalam kobar api, misalnya

/2012