aku pun akan terjaga kelewat dini.
Dan padamu, hanya padamu
kusampaikan dalam bisik seorang tua:
Duh, istriku, inilah saat itu.
Namun pagi mesti dimulai seperti biasa
selimut mesti dilipat, tirai-tirai harus disingkap
air mesti dijerang, lampu-lampu perlu dipadamkan.
Dan bukankah jemputan harus selalu ditunggu
Maka kemudian kita pun menunggu
dalam stel terbaik:
Jasku hitam bulu kucing, kebayamu pancaran layung
rambutku sisir-samping
milikmu sebisanya digelung.
Dan kita, cintaku,
memang telah sepenuhnya berwarna sepia.
Sementara terkenang pada buku-buku
yang belum tuntas dibaca
dan berpikir: apa yang sepantasnya
jadi pengetahuan terakhir
kudengar bunyi menghardik.
Duh, istriku, inilah saat itu! jeritku.
Kau pun tertawa, mengambil tanganku sebelah
dan menekannya pada pipi.
Tenanglah, katamu, sekadar batuk
karena angin kering
dan musim yang pasi.
Hari pun makin tua, subuh yang sepenuhnya
undur dari milieu
memang sempat menenangkanku.
Tapi mengapa tawa tiba-tiba berhenti
dan kelakar tersangkut
pada batuk kembali.
Kurasakan jagat mengental
udara pekat, dan waktu pepat
dalam empat menit yang khianat:
katakan, istriku, mengapa harus orang tua ini
memasang tanda kabung di muka rumah
daripada menemu janji
dalam kobar api, misalnya
/2012