DARI LANGIT - 16
Manusia terlahir bebas, dan di mana pun ia terkekang... Bagaimana hal ini bisa terjadi Saya tidak tahu. apa yang bisa menjadikan hal ini sah Saya yakin saya bisa menjawab pertanyaan ini.

INI aDaLah KaLIMat PEMBuKa The Social Contract karya

Rousseau. Dengan kalimatkalimat tersebut JeanJacquesRousseau mengajukan pertanyaan politik yang paling radikal dan mengandaikan bahwa semua rezim politik yang ada tidak sah. Kalimatkalimat tersebut merupakan pertanyaan paling modern di masa Rousseau. Pernyataan itu adalah pedang yang memenggal otoritas kekuasaan tradisional.

Voltaire mengecam tuhan. Rousseau mendelegitimasi para penguasa. Para philosophers (Diderot, Voltaire) mengingin kan reformasi, Rousseau menginginkan revolusi. Ia menganj urkan suatu bentuk asosiasi di mana tiaptiap anggotanya sep e nuhnya menyerahkan dirinya pada komunitas itu, dan pa da saat yang sama hanya menaati dirinya sendiri dan tetap be bas serta otentikparadoksnya yang terkenal adalah: tiaptiap orang menyerahkan dirinya kepada semua [orang], tidak me nyerahkan dirinya kepada siapapun. Ia menganggap masyarakat sipil mem perbudak individu. Bentuk asosiasinya, atau kontrak sosialnya, dengan demikian merupakan suatu penyelamatan politik yang sepenuhnya menyelesaikan konflik antara individudan masyarakat, atau warganegara yang bebas dan negara. Baginya, hanya dalam asosiasi ini manusia dapat benarbenar mendapatkan kebebasan sipilnya. Di sini manusia diubah dari sematamata seekor binatang yang terbatas dan bodoh menjadi sesosok makhluk yang cerdas dan bermoral.

Namun jenis asosiasi baru apa yang ditawarkan Rousseau Jawaban dari pertanyaan ini sangat ambigu. Saya cenderung ber pikir bahwa, seperti yang akan saya tunjukkan nanti, konsekuensikonsekuensi pemikirannya dalam Social Contract cenderung totalitarian. Ia mengganti otoritas tatanan lama dengan sebuah komunitas politik baru yang totalitarian. Memang, seperti yang dikemukakan Robert Nisbet (1973), Rousseau membebaskan manusia dari masyarakat lama dan korupnamun dalam melakukan hal ini ia menem patkan m a nusia di bawah kungkungan sebuah negara yang sangat kuat dan mung kin tak terbatas. Dengan kata lain, ben tuk aso siasi nya tersebut me rupakan suatu format politik di mana seorang raja baru dan modern, tanpa banyak rintangan dari masingmasing warganegara, dapat dengan mudah menyal ahgunakan kekuasa an politik atas nama kehendak umum. Rousseau tidak memberi perlindungan pribadi atau individual terhadap ke ma ha kuasaan kekuasa an politik tersebut. Dalam pengertian ini, bukan tidak ber dasar untuk setuju dengan Sir henry Sumner Maine (1886) bahwa kehendak umum Rousseau sebenarnya tidak lebih dari pada hak ilahiah lama sang raja dalam bentuk baru. tentu saja, bukan tanpa alasan untuk berpikir bahwa da

lam beberapa hal Social Contract Rousseau memberikan dasar bagi sebuah komunitas politik yang lebih demokratis. Kita dapat menemukan aspek ini dalam argumennya tentang supremasi hukum. Bagi Rousseau, manusia bebas ketika ia mematuhi hukum, dan bukan manusia. Di sini hukumdan bukan para elite yang berkuasaadalah otoritas tertinggi. Dalam Letter from the Mountain, yang dikutip oleh Sartori (1958), Rousseau mengatakan, Nasib kebebasan sama dengan nasib hu kum; ia hidup atau binasa bersamanya. hukum adalah pelak sanaan kehendak umum: hukum berasal dari rakyat, dari sema ngat rakyat. Dengan demikian Rousseau telah bergeser dari tradisi hukum kodratia berpindah dari ius naturale Grotius ke hukum yang disetujui oleh kehendak umum. hukum adalah rekaman kehendakkehendak rakyat; dan karena itu hu kum tidak pernah tidak adil, karena rakyat tidak pernah tidak adil kepada diri mereka sendiri. Di sini konsep modern tentang kesetaraan dalam hakhak hukumyang merupakan salah satu syarat paling penting sebuah komunitas politik yang demokratismenemukan pengungkapannya yang paling kuat dan bernas.

Selain itu, Rousseau menghamparkan dasar bagi kedaulatan rakyat (atau lebih tepatnya kedaulatan massa). Kekuasaan politik yang sah baginya merupakan turunan dari keinginan rakyat. Dan keinginan rakyat, seperti hukum, tidak bisa salah. Ka rena itu, apa yang diperlukan adalah suatu pengungkapandiri umum (yang dalam konsepsi modern harus dipahami sebagai pemilihan umum atau revolusi) untuk menguak keinginan rakyat yang sebenarnya. Dengan populisme romatik ini, Rousseau, seperti saya katakan di atas, mendelegitimasi raja dan rezimrezim lamadan karena itu membantu mempersiapkanbasisfilosofisbagirevolusimasadepan.Dengankatalain, Rousseau memberikan pedang kepada massa untuk menghancurkan singgasana raja absolut mereka.

Namun, semua ini tidak menghilangkan kolektivisme romantik dalam Contract Social, yang dengan mudah dapat membenarkan kekuasaan sosial dan politik totalitarian. hal ini dapat ditemukan jika kita mengkaji secara teliti penjelasan Rousseau tentang konsep dia yang terpenting, yakni kehendak umum. Bagi Rousseau, kehendak umum bukanlah jumlah kehen dak individu, atau kehendak mayoritas, atau kehendak semua (omnes ut singuli). Ia adalah kehendak intensi umum (omnes ut universi), yang hanya dapat disingkapkan jika tiaptiap individu mengasingkan dirinya dari orang lain (berlaku se perti atom dalam masyarakat) dan menyisihkan semua kepentingan pribadinya. Kehendak umum tersebut adalah suatu kualitas tersembunyiia adalah suatu kebenaran Platonik yang memiliki eksistensi obyektifnya sendiri. Setelah kehendak umum itu ditemukan, diejawantahkan, melalui suara hati yang mur ni, ia menjadi berdaulat. Lebih jauh, yang berdaulat ini utuh, tak dapat dihilangkan, dan tidak bisa diwakili oleh organ badan politik apapun. Setiap orang dengan demikian harus sepe nuhnya tunduk pada yang berdaulat ini. Dan siapapun yang menolak untuk mematuhinya harus dipaksa untuk mel akukan hal itu oleh seluruh badan politikdi sini orang tersebut hanya dipaksa untuk menjadi bebas, karena pengejawantahan kehendak umum tersebut merupakan satusatunya penye lamatan politik bagi manusia terhadap kebebasannya.

Kini, kita harus mengajukan beberapa pertanyaan sederhana: bagaimana kita mengetahui kehendak umum itujika orangorang mengungkapkan opini mereka tentang beberapa persoalan umum Bagaimana kita yakin bahwa hal itu adalah ke hendak sejati mereka, dan bukan kehendak para demagog yang meyakinkan orangorang apa dan bagaimana berpikir Bagaimana kita tahu bahwa rakyat mengungkapkan kehendak mereka dengan kesadaran murni mereka terhadap pertanyaanpertanyaan ini, penjelasanpenjelasan Rousseau kurang memadai dan tidak jelas. Kita mungkin dapat menemukan jawaban utamanya dari kalimat penting ini: Kita selalu menginginkan apa yang baik bagi kita, namun kita tidak selalu mengetahui apa itu. Jadi, untuk membantu menemukan hal yang baik bagi kita ini Rousseau kemudian menoleh ke pembuat undangundang, yang akan menemukan hal yang baik bagi kita (kehendak umum) tersebut. Lebih jauh, pembuat undangundang itu juga akan menciptakan suatu jenis manusia baru, seorang makhluk yang murni politik, tanpa suatu kepentingan dan loyalitas apapun bagi diri individual dan asosiasi pribadinya selain bagi komunitas politiknya.

Pendek kata, jawaban Rousseau bukan hanya kontradiktif, namun juga malah membenarkan peran sebuah kelompok

suatu komunitas politik untuk bertindak seperti penemu sejati kebenaran, yang akan menghancurkan wilayah kehidupan indivi dual dan pribadi, dan menjadikan seluruh rakyat tunduk hanya pada satu entitas politik kolektif. Dengan demikian, Rousseau membuka kemungkinan untuk membenarkan seorang despot dan tiran totalitarian yang mengklaim bahwa mereka adalah perwujudan kehendak umum tersebut, atau bahwa diri merekalah yang tahu apa yang diinginkan rakyat. Despot dan tiran ini mungkin menghancurkan setiap individu yang menentang mereka tanpa rasa bersalah.

Selain itu, Rousseau, seperti yang dikemukakan J.L. talmon (1955), gagal melihat bahwa sebuah kehendak sangat mung kin tiranik, sekalipun diinginkan oleh semuanya, dan bahwa akan sama jahatnya bagi yang berdaulat untuk diperintah secara tiranik oleh dirinya sendiri ataupun oleh pihak lain. Dalam kasus ini, setiap individu akan menjadi tiran maupun bu dak. Rakyat bisa bodoh terhadap diri mereka sendiri, jika bukan terhadap orangorang lain. Opini rakyat bisa salah, dengan berbagai implikasi kejahatan (misalnya dalam eforia massa, dalam tekanan yang sangat besar, dalam perang, dll.). Stalin, dalam Perang Dunia II, dianggap oleh rakyat Rusia sebagai pahlawan nasional. hitler, di tahuntahun pertama Perang Dunia II, dipandang oleh rakyat Jerman sebagai seorang pe mimpin yang mengembalikan kebanggaan nasional mereka.

Dan sekarang ini, Slobodan Milosevic dan Radovan Karadzic, para penjagal Serbia, dianggap oleh rakyat Serbia sebagai pe lindung kehendak rakyat. Jika sebuah kelompok dari rakyat membenci kelompok yang lain, kehendak umum Rousseau sangat mungkin menjadi suatu sarana bagi para pemimpin des potik untuk melakukan pembantaian massa.

Rousseau tidak bersikap kritis terhadap kekuasaan politik. Contract Socialnya terlalu kuat bersandar pada negara (ko munitas politik, bangunan politik) sebagai sumber kemajuan sosial dan moral. Penyelamatan politik suatu masyarakat sipil yang korup baginya hanya mungkin jika terjadi suatu pen ye rahan absolut dari para individu, dengan semua hak dan ke kuatannya, kepada komunitas sebagai suatu keseluruhan. Keya kinan total dan romantiknya terhadap kolektivitas menghancurkan kemungkinan pengakuan akan eksistensi kehidupan pribadi dan individual. Ia begitu tergetarkan oleh majelis publik Romawi, di mana kemauan publik berkuasa. Baginya, negara ha rus memaksa setiap individu untuk luluh dalam kemauan publik ini demi kebaikannya sendiri. Di sinilah Rousseau memberikan jalan termudah bagi negara untuk melakukan kontrol totalitarian terhadap seluruh masyarakat.

Dalam hal ini Rousseau jelas sangat berbeda dari para filsuf liberal Inggris. Locke, misalnya, tidak banyak memberiperan kepada negara selain menjamin hak milik dan kehidupan rakyat. Dan hobbes, dengan kejelasannya yang brilian, me nyatakan bahwa satusatunya tugas yang harus diemban kek uasaan politik adalah menjaga ketertiban dan stabilitas ma sya rakat. Parafilsufinitidakbanyakmemberikekuasaankepadanegarauntuk ikut campur dalam urusanurusan masyarakat sipil. Pendekkata,tradisifilsafatkebebasanadalahsebuahtradisiskeptisisme terhadap politik. Rousseau, sebaliknya, mem buka suatu ha rapan baru terhadap negara dan politik untuk memainkan peran sebagai penggerak sejarah yang progresif. Pada dirinya sendiri mungkin tidak ada yang salah dengan har apan ini. Namun, dalam kasus Rousseau, kita tidak dapat me ne mukan jawaban apapun tentang bagaimana kita harus men etapkan batas bagi kemahakuasaan negara dan politik di wi layah sosial dan politik. Baginya, negarabadan politik ter sebutsepe nuhnya berkuasa.

JeanJacques Rousseau dengan demikian bukahlah ayahyang tidak sah dari totalitarianisme kiri dan kanan abad ke19 dan ke20. Memang, pedangnya menghancurkan para raja, simbol otoritas tradisionalnamun pedang itu juga memberi alasan bagi kaum revolusioner populis, atau bagi setiap despot, un tuk menjalankan teror dan penindasan atas nama kehendak umum.

Daftar Rujukan

1. Robert Nisbet, The Social PhilosophersCommunity and conflict in Western thought, thomas Cromwell Comp., 1973.

2. J.L. talmon, origins of totalitarian Democracy, Secker and Warburg, 1955.

3. Sir henry Sumner Maine, Popular Government, henry holt and Comp., 1886.

4. Giovanni Sartori, Democratic theory, Praeger, 1958.

5. JeanJacquesRousseau,"TheContractSocial",dalamJeanJacquesRousseau,The Basic Political Writings, diterj e mahkan oleh D.a. Cress, hacket Publishing Comp., 1987.