Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya - 16
Semua berawal pagi ini. Nada telepon tiba-tiba mendahului jadwal alarm. Aku butuh beberapa detik untuk sepenuhnya sadar dan mengangkat telepon.

Halo

Hai kawan. Sudahkah kau terima surat dari Janelle

Terdengar suara seorang lelaki yang asing bagiku. Di layar handphone juga tak tertera nama.

Janelle Maaf, siapa Janelle

Ayolah. Jangan bercanda. Janelle mungkin akan bunuh diri kalau tahu kau belum membaca suratnya, tapi kau pasti sudah menerima nya, kan Aku hanya ingin memastikan saja.

Maaf, aku tidak tahu siapa Anda, siapa Janelle, dan surat yang Anda maksud.

Jadi surat itu belum sampai Belum kau baca

Sekali lagi aku tidak tahu. Mungkin Anda salah sambung.

Coba diperiksa lagi nomornya.

Segera kututup telepon, aku bahkan belum memulai kebiasaan pasca tidurku, membuka gorden dan bersiap menikmati cahaya pagi yang hangat menembus kaca jendela. Hm, hidup kadang mudah, aku hanya akan duduk menghadap sinar matahari dan kemudian berkata bahwa aku tidak kekurangan kalsium.

Namun ketenanganku pagi ini sedikit terusik dengan telepon itu. Apakah memang salah sambung Orang iseng Entahlah, aku memulai rutinitas dan siap-siap berangkat kerja. Semuanya harus tepat waktu, sangat tepat waktu, karena kalau terlambat sedikit maka jalan raya akan menjelma medan penuh ranjau, susah dan lama sekali untuk sampai ke tujuan, perang klakson, asap knalpot, orang m enyeberang sembarangan, lampu merah yang tidak ditaati, metromini berhenti tak teratur di badan jalan

Kutinggalkan kamar kontrakan sekitar pukul 06.14, sebenarnya aku hampir saja melupakan urusan telepon tadi sampai seorang ibu pedagang sayur yang kebetulan melintas di hadapanku bertanya,

Mau berangkat kerja ya

Iya, Bu.

Sudah terima surat dari Janelle, kan

Aku terdiam. Apakah ibu ini ada hubungannya penelepon gelap tadi, tapi ketika hendak kutanyakan lebih lanjut, tiba-tiba ia sudah dikerubungi pelanggannya.

Barangkali aku memang pernah mengenal seseorang bernama Janelle. Sistem pikiranku berubah, jika awalnya aku sama sekali tidak peduli siapa itu Janelle, kini otakku memberi asumsi, baiklah, aku memang kenal Janelle, setidaknya mungkin pernah mengenalnya di interval waktu yang lampau dan aku lupa. Dan tiba-tiba ia meng-irimiku surat.

Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk mereparasi i ngatan, aku buru-buru berjalan kaki menuju halte bus Trans Jakarta, membeli tiket, duduk menunggu bersama penumpang lain, dan ak hirnya naik ke dalam bus yang tiba empat menit kemudian.

Ketika melangkah masuk, sesaat aku melihat nama yang tertera di seragam kondektur bus yang kebetulan seorang perempuan, siapa tahu ia yang bernama Janelle.

Ternyata bukan, namanya Nalea.

Mungkin aku terlalu optimistis.

Suasana bus Trans Jakarta cukup lengang, tidak ada penumpang yang berdiri, mungkin banyak yang bangun terlambat karena semalam ada pertandingan sepakbola. Sebagian wajah penumpang cukup familiar bagiku, karena kami sudah terbiasa berangkat di jam yang sama, di bus yang sama. Jika dipikirpikir, kami seperti keluarga dalam sebuah bus yang berjalan. Dan aku baru sadar kalau hampir semua penumpang memandang kepadaku, termasuk sopir bus yang sesekali melihatku lewat kaca spion atas.

Nampak seorang gadis kecil yang duduk di bangku bagian b elakang sedang didorong-dorong ibunya, gadis kecil itu tampak enggan, tapi ibunya memaksa, dan akhirnya gadis itu pun berjalan, melangkah ke arahku.

Kakak, gadis kecil ini menyapaku, apa sudah terima surat dari Janelle

Aku terkejut, kali ini benar-benar terkejut. Entah siapa itu Janelle, yang pasti dia sudah gila kalau harus menitipkan pertanyaan itu pada semua orang. Seolah suratnya teramat penting. Aku meng-geleng. Gadis kecil itu lantas kembali pada ibunya. Orang-orang m asih memandangiku.

Sepertinya aku harus mulai berpikir siapa sebenarnya Janelle, untuk apa ia mengirim surat padaku, bagaimana mungkin ia meng umumkan pada banyak orang tentang surat itu, kenapa orang-orang begitu bersemangat menanyakan sampai tidaknya surat itu, dan yang terpenting, kalau memang surat itu ada, sekarang ada di mana Apa kah tersangkut di pos Atau dikirim lewat kurir dan tiba-tiba ketlisut

Empat puluh menit kemudian, aku turun di halte yang tepat berada di depan kantorku. Dan tidaklah setiap orang yang kutemui melainkan pasti memandang curiga padaku. Apakah mereka semua ingin bertanya tentang surat dari Janelle

Sepanjang hari di kantor, aku ditimpa perasaan gelisah yang rasanya sedikit konyol. Ketika sedang santai, aku membuka google, biasanya benda pencari itu akan selalu bisa menjawab semua perta nyaan di dunia ini, tapi ketika kuketik surat dari Janelle di kolom pencarian, hasilnya tidak jelas, tidak fokus. Mungkin Janelle hidup di suatu tempat yang tak mengenal internet, sehingga ia tak sempat mengunggah suratnya di website atau yang sejenisnya.

Dan yang semakin membuatku penasaran adalah segerombolan email dari beberapa kawan, termasuk mantan kekasihku yang sudah lama tidak kuketahui kabarnya. Email itu intinya sama, Sudahkah kau terima surat dari Janelle

Tunggu. Apakah Janelle mengirimiku surat cinta Sebegitu dahsyatkah sebuah surat cinta yang bagi sebagian orang sudah dianggap sebagai budaya kadaluarsa

Seharian penuh aku terus dihujani pertanyaan itu, mulai dari t eman kantor, petugas cleaning service, pengamen di trotoar, pe njual gorengan, penumpang bus sepanjang perjalanan pulang, mereka s eperti bersahut-sahutan, Sudahkah kau terima surat dari Janelle

Dan terakhir, ketika aku berjalan menuju kamar kontrakan, handphone berbunyi lagi, dari nomor yang sama, yang menghubungiku pagi tadi.

Halo! Suaraku sedikit kutinggikan.

Maaf kalau aku mengganggu lagi, tapi aku hanya ingin tahu apakah surat dari Janelle sudah kau baca

Sebentar, apa Anda kenal Janelle aku balik bertanya.

Tentu saja, bukankah semua orang kenal Janelle Tapi ia hanya menulis surat untuk Anda, bukan untuk kami.

Kenapa harus aku

Janelle sendiri yang bilang begitu, ia telah menulis surat untuk Anda, dan setiap kali bertemu seseorang, ia selalu tampak cemas, takut suratnya belum sampai. Ia tidak berani menghubungi Anda. Terakhir kali aku bertemu dengannya, wajahnya begitu pucat.

Kututup telepon, ini tidak masuk akal. Aku tiba di depan kontrakan, segera kulepas sepatu dan kuletakkan di rak dekat pot bunga, lantas kubuka pintu.

Udara ruangan begitu pengap, aku baru saja ingin mengganti pakaian ketika kulihat sesuatu: Sepucuk surat di atas kasur. E ntah siapa yang meletakkannya dan bagaimana, sebab kamar sudah ku-kunci, kecuali ada penyusup yang punya ilmu meloloskan diri se perti Henry Houdini.

Kupungut surat tersebut, pada amplopnya tertulis: Dari Janelle.

Ah, jadi benar, ada seseorang bernama Janelle yang hidup di suatu tempat, tiba-tiba mengirim surat padaku. Dan kini sudah se lamat sampai tujuan.

Tanpa menunggu lagi, segera kurobek tepian amplop, ada b eberapa lembar kertas, lalu mulai kubaca surat itu pelanpelan, dan

Astaga, ini tidak mungkin, di surat ini aku membaca perasaan tragis yang sangat kukenal, kesedihan, kegelisahan yang kekal, rahasia-rahasia Janelle yang begitu penting, kisah-kisah menakutkannya yang selama ini berusaha ditutup-tutupi dan disembunyikan. Surat ini benar-benar berbeda dari surat-surat lain yang tadinya sempat kubayangkan, surat dari Janelle tidak seperti surat seseorang dari medan perang yang mengirimkan potongan telinga untuk kekasihnya, atau surat seorang wanita yang terpenjara, atau surat-surat seorang aktivis. Tidak, surat dari Janelle justru membuatku ter-kejut dan merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa aku melupakannya se lama ini Apakah aku telah mengalami cuci otak Tentu saja aku sangat mengenal Janelle, di surat ini ia mencurahkan segala hal yang ia bawa dan rasakan sendiri, segala hal yang seharusnya kami p erjuangkan sejak lama. Dan aku baru sempat membacanya Ah. Jika aku bisa menemukan si pengantar, tentu kutuntut ia ke pengadilan karena suratnya terlambat.

Kulipat kembali surat tersebut. Aku termenung cukup lama, membayangkan keadaan Janelle sekarang, segala penderitaan yang dirasakannya, kecemasannya karena surat ini ternyata terlambat. Apakah ia masih hidup Terkadang sebuah surat menjadi lebih pen ting daripada hidup itu sendiri. Pantas saja semua orang bertanya kepadaku apakah aku sudah menerima surat ini. Dan kupikir seluruh pembaca cerita pendek ini juga layak untuk ikut membaca surat dari Janelle, agar kalau seorang lupa, maka orang lain akan mengingatkannya, sehingga pengorbanan Janelle tidak akan pernah hilang dari sejarah. Tidak akan pernah.

Segera aku pergi ke tempat fotokopi, kugandakan surat itu sebanyak-banyaknya. Lantas esok harinya, seluruh tabungan gajiku kupakai untuk membeli amplop dan membayar biaya pos. Mungkin aku sudah gila, tapi Janelle lebih penting dari apapun. Kupastikan si apapun yang membaca cerita ini telah kukirimi salinan surat ter-sebut, dengan nama pengirimnya tetap Dari Janelle.

Setelah itu, perasaanku sesaat memang menjadi lebih tenang, tapi beberapa hari kemudian aku kembali diliputi rasa penasaran

Pembaca yang budiman, sudahkah Anda menerima surat dari Janelle