"Apaan sih, Ndro, pagi-pagi udah bikin rusuh!" gerutu Danu, menarik selimut menutupi wajahnya.
"Eh, bangun dulu lo!" Andro menyibakkan selimut Danu dengan kesal. "Kita harus pulang ke Jakarta, sekarang!"
"Sekarang Kan rencananya nanti siang. Ini masih pagi, Ndro."
"Lo nggak bakal setenang ini kalau tahu ada yang terjadi di Jakarta, sekarang... Elo sih, pake acara matiin handphone, semuanya jadi kacau!"
Danu mendudukkan dirinya, keningnya mengernyit heran dengan ucapan Andro.
"Emang di Jakarta ada apaan, Ndro" tanya Danu.
Andro tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, seakan apa yang akan disampaikannya sesuatu yang begitu berat diucapkan.
"Tadi malam, saat handphone lo mati, Kak Damara berkali-kali coba telepon lo. Dia juga coba telepon ke handphone gue, tapi karena handphone gue juga mati, dia baru bisa kasih berita tadi, lewat telepon hotel... Dia nyuruh kita cepat-cepat pulang ke Jakarta, Nu."
"Iya, tapi kenapa" tuntut Danu, mulai tidak suka dengan penjelasan Andro yang bertele-tele.
"Ibu Anka... tadi malam meninggal, Nu," kata Andro dengan suara lirih.
Untuk sesaat pikiran Danu mendadak kosong oleh kata-kata Andro. Ia tidak bisa berpikir normal. Nyaris tidak percaya... Ini terlalu buruk untuk menjadi nyata, ini terlalu kejam bagi Anka.
Danu menyibakkan selimutnya dan bangun dari tempat tidur. Ia menyambar celana jins di atas sofa dan memakainya secepat yang ia bisa.
"Kita pulang sekarang... Gue nggak peduli kita mau naik apa ke Jakarta, yang penting kita harus pulang sekarang juga!"
Seperti mengerti benar apa yang dirasakan Danu, tanpa banyak pertanyaan Andro segera memasukkan barang-barangnya ke ranselnya.
Danu tidak bisa memikirkan apa-apa kecuali Anka. Ia sudah pernah melihat Anka hancur ketika ayahnya meninggal, dan sekarang... Anka harus kembali kehilangan orang yang disayanginya, satu-satunya keluarga yang tersisa. Danu tidak berani membayangkan betapa terpuruknya Anka. Anka pasti membutuhkan dirinya, Anka pasti menginginkannya berada di sana sekarang. Anka pasti sangat membutuhkan sandaran.
***
Anka tidak tahu yang sekarang terjadi padanya bisa disebut apa. Takdir, jalan hidup, atau nasib Apa pun namanya, semua ini terlampau menyiksa. Ia masih belum bisa percaya bahwa setelah mengantarkan kepergian ayahnya sebulan lalu, kini ia harus berdiri lagi di pemakaman yang sama untuk mengantarkan ibunya. Kemalangan ini seakan enggan menunggu sampai ia siap dan lebih kuat menerimanya.
Air mata Anka tidak bisa dibendung agar berhenti mengalir, walaupun ia sudah berusaha menahannya. Sekali lagi harus melihat orang yang ia sayangi ditimbun tanah, membuat segala usaha Anka untuk tegar terkesan sia-sia. Anka tidak kuasa menahan jeritan pilunya saat batu nisan dipasangkan di atas makam ibunya, yang terletak tepat di sisi kanan makam ayahnya. Anka ingin berdiri tegak melepas kepergian ibunya, tapi kesedihan ini menyedot semua tenaga dan melemahkan lututnya.
Anka bisa merasakan lengan Damara kembali merangkul bahunya. Untuk kesekian kalinya Damara berusaha menenangkan saat ia mulai tidak sanggup mengontrol kesedihannya. Kehadiran Damara menemaninya menghadapi semua hal gila yang menimpanya sangat berarti bagi Anka.
"Kita pulang sekarang, Ka" tanya Damara, setelah hampir 30 menit Anka duduk di samping makam ibunya. "Banyak hal yang harus kita lakukan setelah ini."
"Saya masih mau di sini, Kak," kata Anka terisak pelan.
Damara tidak mengatakan apa-apa. Ia duduk di samping Anka, menunggu Anka selesai melakukan apa yang ingin dilakukannya. Sementara itu Anka hanya duduk diam, menatap dengan penuh kesedihan makam ayah dan ibunya yang berjajar di hadapannya. Sesekali air matanya mengalir pelan membasahi pipinya.
"Mereka pergi terlalu cepat, Kak... Anka bahkan belum sempat memberikan apa-apa untuk mereka," katanya parau. "Mereka nggak kasih kesempatan bagi Anka untuk bikin mereka bahagia..."
"Dengan semua yang kamu lakukan selama ini, Kakak yakin mereka sudah sangat bahagia. Mungkin dari suatu tempat yang indah, tempat ayah dan ibu kamu berada sekarang, mereka pasti tersenyum bangga."
Andai saja yang dikatakan Damara benar... Ayah dan ibunya sudah berada di suatu tempat yang indah dan tersenyum bahagia di sana, akan lebih baik kalau mereka membawa dirinya serta ke tempat indah itu, bukannya meninggalkannya sendiri di sini. Anka menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menutupi isak tangisnya di depan Damara.
"Mungkin terdengar sangat klise... tapi Kakak hanya bisa bilang, kamu harus kuat menghadapi semua ini. Kakak tahu ini bukan hal mudah, tapi inilah hidup."
"Anka sekarang sendirian, Kak... Anka nggak punya siapa-siapa lagi," ratap Anka.
Damara menghela napas, kembali merangkulkan lengannya ke bahu Anka menyandarkan kepala Anka ke dadanya, dan membelai lembut rambut Anka.
"Kamu nggak sendirian, Kakak akan selalu jaga kamu, Kakak akan selalu ada untuk kamu... Kakak janji."
Sekarang Anka hanya bisa memeluk erat tubuh Damara, sekali lagi membiarkan Damara menjadi sandaran baginya. Ia ingin untuk terakhir kalinya ia menangis sekuat yang ia bisa di pelukan Damara, mengeluarkan segala kepedihan yang ia rasakan sekarang, agar besok ia dapat kembali mengangkat kepalanya dengan tegak.
***
Danu berdiri terpaku beberapa meter dari tempat ibu Anka dimakamkan. Matanya menatap lurus ke arah Damara yang sedang memeluk Anka seraya membelai lembut rambut Anka. Apa yang dilihat Danu sekarang menghentikan langkah bergegasnya, menghentikan keinginannya untuk segera berada di samping Anka, untuk menjadi sandaran bagi Anka.
Kini Anka sudah menemukan tempat bersandar untuk kesedihannya. Damara pasti bisa menjadi sandaran yang kokoh bagi Anka. Danu merasa ia seharusnya bersyukur Damara ada untuk Anka saat ia tidak ada, tapi entah kenapa dadanya terasa sesak saat melihat Damara menggantikan posisinya. Ada desakan ketidakrelaan yang muncul saat ia melihat Anka menangis di pelukan Damara.
***
"Kamu jaga Anka sebentar ya. Kakak harus ke masjid di dekat rumah Anka, mau minta tolong agar pengajian untuk ibu Anka dilakukan di sana."
Danu mengangguk tanpa bantahan. Sekarang ia duduk di sisi tempat tidur Anka, menatap Anka yang tertidur lemas selesai dari pemakaman.
"Biarkan Anka istirahat, Nu. Sejak semalam dia nggak tidur. Nanti kalau ada apa-apa, kamu langsung telepon Kakak ya."
Danu kembali mengangguk.
Saat Damara beranjak hendak keluar dari kamar Anka, Danu buka suara. "Kak... makasih ya udah bantuin Anka. Makasih juga Kakak udah jagain Anka selama Danu nggak ada."
"Kamu ini ngomong apa sih Mulai sekarang jangan menganggap Anka itu tanggung jawab kamu sendiri. Kakak akan bantu kamu menjaga Anka, sebab Anka sudah jadi bagian keluarga kita."
Danu tersenyum kecil. Entah kenapa ia tidak begitu suka ucapan Damara.
"Oke, kalau begitu Kakak jalan dulu. Ingat ya, kalau ada apa-apa sama Anka, beritahu Kakak."
Damara akhirnya melangkah keluar dari kamar Anka. Danu kembali menatap wajah Anka yang terlihat begitu lelah. Lingkaran hitam terlihat jelas di sekeliling mata basahnya. Anka pasti menangis meratapi kepergian ibunya semalaman. Betapa menyesalnya Danu tidak berada di samping Anka saat itu.
Danu mengusap keringat di kening Anka dengan gerakan lembut seraya berkata, "Maaf ya, Ka, gue nggak ada buat lo saat lo menghadapi semua ini."
Air mata terlihat masih merembes dari sudut mata terpejam Anka. Kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa pasti begitu berat bagi Anka, ia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang. Kesedihan ini bahkan membuatnya menangis dalam tidurnya.
Danu menyentuh pelan pipi Anka, menyeka air matanya. "Lo nggak usah takut, Ka. Walaupun sekarang lo sendiri, gue akan selalu ada selama lo butuh gue. Gue janji!"
***
Sepertinya sudah sangat jelas dipahami Anka belakangan ini bahwa waktu akan tetap berjalan apa pun yang terjadi dan menimpa kita. Walaupun yang baru kita alami hal yang terburuk yang berani dibayangkan, hidup tetap berjalan dan seakan enggan memberi jeda meski sebentar.
Dua hari setelah pemakaman ibunya, Anka terduduk di antara makam ayah dan ibunya. Kini ia sudah mampu menerima kenyataan yang harus ia lalui sebagai bagian perjalanan hidupnya. Tangan Anka terulur, menaburkan bunga di atas makam ayah dan ibunya, tersenyum getir menatap pembaringan terakhir dua orang yang sangat disayanginya.
"Sekarang Ibu sama Ayah udah bersama-sama, Anka ikhlas... Yang penting, Ibu dan Ayah kasih Anka kekuatan ya, supaya Anka bisa bertahan tanpa kalian," bisik Anka lirih. "Anka akan berusaha hidup dengan baik. Anka akan bertahan."
Anka mengusap setitik air mata yang mengalir pelan ke pipinya, menghela napas panjang, dan memaksakan diri membentuk senyum di wajah kakunya sebelum ia berdiri dan melangkah meninggalkan makam kedua orangtuanya. Anka sempat menoleh sekali lagi, makam itu seakan menggambarkan cinta abadi kedua orangtuanya. Dalam hati yang paling dalam, di tengah segala kesedihannya yang coba diredamnya, Anka lega karena ibunya tidak terlalu lama menderita. Dan sekarang... Anka yakin, di sana ibunya telah bahagia bersama ayahnya.
***
Setelah kepergian ibu Anka, Danu mengira akan banyak hal yang mengalami perubahan. Tadinya Danu mengira Anka akan kembali ke rumah orangtuanya setelah klien Damara yang menyewa rumah mereka kembali ke negaranya. Nyatanya, Anka menuruti permintaan Damara untuk tetap tinggal bersama mereka dengan alasan keamanan. Damara menyarankan agar rumah Anka tetap disewakan agar Anka bisa menabung untuk masa depannya.
Namun saat Danu meminta Anka berhenti bekerja di kafe yang begitu menguras tenaganya, Anka malah menolak, padahal Danu hanya ingin Anka memiliki kehidupan seperti kebanyakan remaja seusianya. Setelah segala hal yang dilaluinya, Danu hanya ingin Anka tinggal bersama mereka dengan aktivitas normal, bukan dengan kesibukan yang tetap menggila walaupun kini tanpa kewajiban menjaga ibunya dan menginap di rumah sakit.
"Ka, dua bulan lagi kita Ujian Nasional, lo nggak apa-apa masih tetep sibuk kerja begini" tanya Danu, di sela makan siang mereka di kantin sekolah. Untuk kesekian kalinya Danu meminta Anka secara halus untuk melepaskan pekerjaannya di kafe.
"Emang kenapa"
"Ya... nggak kenapa-kenapa sih. Cuma gue kepikiran aja, lo bakal berat kalo ujian sambil kerja. Pelajaran anak IPA kan susah-susah, Ka," Danu melanjutkan hati-hati.
"Nggaklah, Nu. Gue tahu kapasitas gue," jawab Anka singkat, dan dengan lahap memasukkan sesendok demi sesendok bubur ayam ke mulutnya.
"Ngapain buru-buru banget sih makannya Entar keselek lho." Danu menatap cara makan Anka yang terlampau cepat untuk ukuran normal.
"Gue harus cepet-cepet balik ke kelas nih. Ada tugas yang belum selesai gue kerjain," kata Anka seraya meletakkan sendoknya di pinggir mangkuk bubur yang sudah tandas. "Gue duluan, Nu.
Nih duit bubur gue, ntar tolong kasih ke si ibu ya." Tanpa menunggu jawaban Danu, Anka beranjak meninggalkan kantin setelah meletakkan selembar uang 5.000 di depan Danu.
Danu hanya bisa menatap prihatin, menghela napas berat seraya mengambil uang Anka dan bangun dari tempat duduknya. Danu sebenarnya bangga dan kagum dengan ketegaran Anka. Bangga karena Anka mampu bangkit dari keterpurukannya dengan begitu cepat. Hanya saja, Danu tidak suka cara Anka menyibukkan diri. Ia seperti tidak membiarkan dirinya diam, sekadar bersantai sejenak atau sedikit bersenang-senang, padahal Danu tahu sekali Anka sangat membutuhkan itu semua.
Sulit memang mengubah keputusan Anka. Walaupun sebenarnya enggan, kali ini demi kebaikan Anka, Danu akan meminta Damara membujuk Anka melepaskan pekerjaannya di kafe. Paling tidak selama menempuh Ujian Nasional.
Lagi-lagi Danu akan membiarkan Damara mengambil alih apa yang sebenarnya ingin ia lakukan sendiri...
***
Malamnya, sejam setelah Anka pulang dari kafe, Danu duduk di ruang tengah bersama Damara dan Anka. Ini tindak lanjut permintaan Danu agar Damara bicara dengan Anka, meminta supaya Anka mau melepas pekerjaannya.
"Anka... Kakak bukannya mau mencampuri pilihan hidup kamu, hanya saja Kakak rasa akan lebih baik kalau kamu melepas pekerjaan part time di kafe selama kamu mempersiapkan ujian."
Danu melirik Anka yang duduk di sofa di depannya, ingin tahu seperti apa reaksi Anka mendengar kata-kata Damara.
"Saya memang sudah berpikir begitu, Kak. Rasanya saya tidak akan sanggup jika tetap kerja di kafe sementara harus menempuh ujian," kata Anka datar. "Saya memang sudah memutuskan akan berhenti bekerja di kafe saat mendekati waktu ujian nanti."
Danu tersentak. Mengapa kemarin Anka tidak mengatakan begitu Anka bergaya seperti tidak akan pernah melepaskan pekerjaannya, walaupun ujian sudah di depan mata. Itu sebabnya Danu sampai meminta Damara bicara serius dengan Anka. Kenapa sekarang Anka begitu mudahnya mengatakan bahwa ia memang akan berhenti Ini tidak bisa dipercaya!
"Bagus kalau keputusan kamu seperti itu. Kakak senang kamu mengerti alasan yang membuat Kakak meminta kamu untuk bicara di sini... Kakak sama Danu hanya tidak mau kamu terlalu keras terhadap diri sendiri."
"Saya ngerti, Kak. Terima kasih Kakak peduli sama saya. Kakak sama Danu sudah terlalu banyak membantu saya."
"Jangan khawatir, Ka, kami pasti akan selalu bantu selama kamu masih bersedia menerimanya," kata Damara bijak. "Kamu sudah Kakak anggap sebagai orang yang harus Kakak jaga dan Kakak sayangi."
Danu menatap bingung ke arah Damara, tidak mengerti ke mana arah kata-kata Damara barusan. Kalimat "dianggap sebagai orang yang harus dijaga" masih terdengar wajar di telinga Danu, tapi "dianggap sebagai orang yang disayangi" mulai terdengar janggal dan berlebihan.
"Terima kasih, Kak." Anka tersenyum lebar menyusul kata-kata Damara.
"Oke, kalau begitu kamu bisa istirahat sekarang. Kamu pasti sangat capek setelah seharian sekolah dan kerja," kata Damara seraya bangun dari sofa. Sebelum berjalan kembali ke kamarnya, Damara mengusap pelan kepala Anka.
Danu mengerjap-ngerjapkan matanya, seakan tidak percaya apa yang barusan dilihatnya. Kakaknya terlihat begitu dekat dengan Anka, dan seperti sudah biasa melakukannya.
Melihat ekspresi Anka yang terlihat begitu senang, Danu mulai merasa ada yang tidak beres, namun tidak berani membayangkan dugaannya.
"Ka, lo kok nggak bilang-bilang mau berhenti kerja" sergah Danu, meredam semua pikiran anehnya. "Kenapa waktu gue minta lo berhenti, lo nggak langsung bilang iya Kenapa pas Kak Damara yang minta lo langsung bilang bakalan berhenti"
"Kemarin kan gue nggak bilang nggak mau. Sekarang kebeneran Kak Damara nanya masalah itu, ya sekalian gue bilang emang udah niat mau berhenti kerja," jelas Anka santai. "Terus emang kenapa Sama aja kan gue bilang sama lo kemarin atau sekarang"
"Iya sih... tapi seharusnya lo bilang sama gue dulu dong, Ka. Sahabat lo kan gue, bukan Kak Damara."
"Ya ampun, Nu! Penting, ya Yang kayak gitu aja lo masalahin. Gue bilang ke Kak Damara karena Kak Damara kan yang cariin gue kerjaan waktu itu."
Danu tidak membantah lagi. Walaupun masih ragu dengan alasan Anka, ia tidak ingin banyak bertanya. Bukan karena lelah mempertanyakannya, Danu hanya takut jawaban yang dituntutnya dari Anka malah akan menyakiti dirinya sendiri.
"Ya udah, lo tidur sana, istirahat," kata Danu akhirnya. Anka mengangguk, mengulas senyum kecil. Danu merasakan tangannya bergerak pelan mendekati kepala Anka, berniat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Damara tadi. Tapi sebelum tangan Danu sampai ke kepala Anka, tiba-tiba Anka membalikkan badannya.
"Gue tidur duluan ya, Nu. Sampai ketemu besok," kata Anka seraya melangkah menjauhi Danu yang masih berdiri dengan sebelah tangan terangkat di udara.
Danu menarik tangannya kembali lalu mengusap wajahnya. Ia membaringkan tubuh di atas sofa, menatap kosong langit-langit polos di ruang tengah, sebelum akhirnya menghela napas lelah dan memejamkan matanya.
* * *
"Danu nggak percaya Kakak bisa jadi orang kayak gini," - Danu