Selama ini aku selalu bisa tersenyum senang kan Tak ada yang tau luka yang tersimpan dalam hatiku. Konyol jika aku menjadikan Bells sebagai alasanku untuk menikahi Dudi sementara ada banyak pria diluaran sana yang juga sangat mencintaiku, dalam khayalanku, aku membayangkankan Win yang diam-diam mencintaiku, Phillo yang bahkan tak kupercaya bahwa dia mencintaiku lebih dari yang kukira hanya sebagai seorang sahabat, Damar yang tak pernah melupakan aku, pacar cupu pertamanya, Arghie yang ternyata juga menyimpan hati untukku, sepupuku Garin yang menyadari bahwa dia begitu menyayangiku tapi tak pernah berkesempatan untuk mengakuinya, Kiky yang akan selalu dan terus menerus menyayangiku dengan caranya sendiri, atau Hero yang begitu mencintaiku sampai membuatku harus mengambil langkah ini, Heroyeah semuanya gara-gara Hero, mau tak mau aku mengutuk cowok brengsek parah yang terpaksa harus kupacari delapan tahun ini, aku memang terlihat mencintainya, tapi jauh dalam hati aku menyimpan benci.
Memacarinya adalah kebodohan terbesar yang pernah kuperbuat, kebodohan karena membuatku larut dalam cinta yang salah, tapi itulah otak bodoh pelajar SMA. Pesona cowok basket sang raja lapangan olahraga, saat SMA semua terlihat indah tanpa disadari bahwa keindahan itulah yang nantinya akan membuat kita menderita. Bisa kau bayangkan masa SMAmu Apa yang kira-kira paling diinginkan seorang gadis SMA jangan munafik bila kamu mengatakan ingin menjadi bintang pelajar, peraih emas dalam olimpiade Fisika, juara lomba debat atau prestasi-prestasi akademis lainnya. Saat usiamu 15 sampai 17 tahun, hal-hal semacam itu bukan prioritas hidupmu, SMA adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta, saat yang tepat untuk membuat berbagai keputusan salah, kita mencoba berbagai kesalahan, contohnya, seperti bolos sekolah, yeah itu adalah sebuah prestasi bila kamu cukup berani melakukannya.
***
Siapa yang tak bangga bila berhasil memacari cowok terkeren di sekolah Ketika tatapan iri para cewek lain mengarah padamu sementara kamu berjalan sambil bergandengan tangan di lorong sekolah apalagi ketika namamu selalu dikait-kaitkan dengan namanya, Heronya Dara atau Daranya Hero, seperti itu mereka selalu berkata, kita seperti icon cinta di sekolah, kapten basket dan kapten cheer leader, yeah kita seolah sejajar dengan Romeo dan Juliet atau Peter Parker dan Mary Jane, sangat menyenangkan, pada awalnya, dan tak lagi menyenangkan ketika cinta mulai minta untuk dibuktikan, itu kesalahan terbesar, karena salah mengartikan cinta bisa menjadi suatu hal yang sangat fatal.
Hari itu, Hero ulang tahun ketujuh belas, dan sorenya dia baru saja memenangkan kompetisi basket antar sekolah, pantas dirayakan memang. Setelah perayaan dan bersenangsenang dalam pesta dengan para teman, Hero menginginkan pesta lainnya, pesta antara kita berdua, pesta yang melibatkan dosa, sepasang sepatu basket dari uang jajan yang kutabung beberapa bulan tak cukup baginya, aku mengerti, Hero bisa membeli apa saja dengan mudah, tapi kupikir sepasang sepatu itu cukup berharga, sayangnya Hero meminta kado lainnya kado yang lebih mahal, bahkan tak ternilai harganya, diriku sendiri, Hero ingin bukti seberapa besar aku mencintai, dibutakan oleh cinta atau kepalaku yang dipenuhi kebodohan aku menurutinya, kuberikan harta paling berhargaku. Hal itulah yang membuatku terus bergantung dan bertahan untuk terus menerus mendampingi Hero selama delapan tahun ini, bukan cinta sebenarnya, tapi karena ada hal lain yang lebih mengikat, tak peduli betapa kerasnya Hero, tak peduli ketika mulutnya memaki, tak peduli bahkan kadang aku mendapatkan pukulan bertubi-tubi, aku selalu bertahan, bertahan karena kesalahan yang terlanjur kubuat.
Puncaknya, ketika aku dan Hero harus mengambil keputusan luar biasa berat, yeah Hero mencintaiku, tapi saat itu usia kami masih terlampau muda, jadi keputusan untuk membunuh makhluk yang tercipta dari proses dosa yang menjadi aktivitas yang sering kami lakukan, sumpah aku terpaksa melakukannya, kadang aku merasa bersalah, tapi Hero memang selalu bisa untuk memaksa, dan lebih baik aku menyerah, waktu itu umurku 16 tahun, kukatakan pada Hero, bahwa aku mengandung anaknya, apa yang bisa kami perbuat aku takut luar biasa, tak mungkin meninggalkan sekolah, tak mungkin mencoreng nama orang tua, jadi dengan terpaksa, aku dan Hero membunuh anak pertama kita, sialnya bukan hanya dosa dan rasa bersalah yang harus kutanggung, tapi juga kesempatan untuk menjadi ibu di masa depanku.
Mungkin aku bisa memilih Hero, tapi dia cowok phsyco yang takkan bisa menjadi ayah bagi Bells. Untuk sebuah keluarga diperlukan tidak hanya cinta, bagaimana bisa aku memberikan hadiah sebuah keluarga yang sangat tak sempurna bila Hero menjadi seorang ayah, Hero akan selamanya seperti itu, takkan bisa berubah bagaimanapun dia mencoba, bukan kali petama dia berjanji akan berubah, dia berjanji berkali-kali, dia menangis dan meminta maaf setelah dia membuatku terluka baik secara fisik atau mental, dia akan meraung seperti anak kecil dan terlihat sangat menyesal, tapi hal buruk itu akan diulangi berkali-kali, Hero tak tertolong lagi. Dia mencintai, tapi dengan cara yang hanya bisa dimengerti hatinya, pernah satu kali aku ingin pergi untuk selama-lamanya dari hidupnya, dan aku bertemu Widi, adik kelasku yang sangat mengerti dan mau mendengar kisah-kisahku yang sedih, tapi Hero menjadikan hidup Widi menjadi sebuah tragedi, sejak hari itu aku tak lagi melihat Widi, dan sejak hari itu rasa benciku pada Hero makin menjadi.
Sampai akhirnya aku bertemu Dudi, Dudi perlu seorang istri untuk menjadi bukti bahwa dia lelaki sejati, dia hanya ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia bukan banci, dan aku punya kebutuhan lain seperti yang kita ketahui.Jadi, Dudi menerima aku yang bukan wanita sempurna, seperti aku menerimanya sebagai lelaki yang juga tak sempurna.
Sambil menghapus air mata aku keluar ruangan, inilah waktunya, ayahku sudah menunggu dibalik pintu, kugandeng tangannya, dan bersama-sama kami berjalan menuju altar tempat upacara pemberkatan yang membawaku pada bukannya sebuah perkawinan, tapi hanya sebuah sandiwara.
***
Entah bagaimana cara untuk mengungkapkan rasanya, ketika aku berjalan dan melihat tatapan banyak orang, aku merasa pandangan mata mereka seolah menghakimiku sebagai pribadi yang sangat salah, tapi apa mau dikata. Disaat terakhir inipun aku masih mengharapkan sebuah keajaiban, tapi sudahlahharus terlupakan, aku melihat Win di sana, menatapku, hanya menatap tanpa datang kehadapanku dan menyatakan cinta, Phillo tidak menghantamku dengan blitz kameranya dan menghadiahiku dengan ungkapan cinta dalam sebuah photo mozaik berfigura, Damar hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, Garin juga disana, duduk bersama mamanya sebagai keluarga, bukan sepupu yang jatuh cinta dan berbuat nekat membuat keributan besar bersama Arghie untuk memperebutkan aku, keduanya tak pantas untukku, mereka lebih pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada aku, Kiky juga berada di sana, hanya bersama mama papanya dengan muka kecewa, tak ada senyum jail cerianya, ataupun rombongan penngamen kecilnya, aku tau dia merasa putus cinta tapi ada cewek lain diluaran sana yang memang jauh lebih pantas untuknya, dan yang terakhir Hero, terlihat kuyu tak berdaya di kursi roda dengan dokter dan perawat yang mendampinginya, dia nyaris tak bisa apa-apa tapi dia memaksa berada di sini, padahal seharusnya dia berada dibawah perawat intensif setelah percobaan bunuh diri karena patah hati, tapi maaf tak bisa ada cinta untuk Hero lagi.
Ketika gandengan tanganku harus berpindah, dari ayahku ke Dudi, aku tau tak ada yang berubah, bahkan Remon yang turut hadir hanya bisa menahan emosi dan pedih hati, mereka tak bisa memperindah kisah cintanya, keduanya menyadari bahwa ini yang terbaik untuk Dudi,.
Seulas senyum dari Dudi dan bisikan terima kasih sedikit menenangkan hatiku, dan segalanyapun dimulai, aku tau sejak saat ini hidupku takkan pernah sama lagi. Dudi mulai mengikrarkan janji, dia berjanji untuk menikahi, menjadi suami yang menjaga istrinya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Berjanji untuk mendampingi sampai ajal menjemput, berjanji untuk meneruskan drama ini apapun yang terjadi. Dan ketika Dudi diizinkan untuk menciumku pertama kali secara resmi, yang kutau bahwa dongeng dan drama indah telah menipuku, sebuah ciuman penuh cinta diakhir kisah itu ternyata tak ada, karena yang kuterima hanya sebuah ciuman tanpa rasa. Tolong katakan dan buktikan akan ada kebahagiaan dalam kehidupan, karena aku masih ingin percaya, bahwa di dunia nyata ada akhir bahagia seperti dalam drama.
The End