"Kamu payah tadi, Ndu." kata Niken setelah agak sepi.
"Payah bagaimana Jelek nyanyinya"
"Bagus koq nyanyinya. Tapi nanti kita dikirain pacaran lagi"
"Nggak lah. Kamu nggak sadar kamu satu-satunya cewek yang duduk di baris paling depan tadi Tenang saja. Mereka pasti nggak curiga." "Sudah siap lomba matematikanya, Ndu" tanya Niken.
"Yah mau dipersiapkan seperti apa lagi Hampir tiap hari ada ulangan matematika. Itu sudah bisa dibuat persiapan kan Kamu sendiri bagaimana" "Aku ditraining terus sama Bu Ndari di lab kimia. Lombanya kan teori dan praktek. Teori sih jauh lebih mudah daripada praktek. Tapi sepertinya aku sudah cukup menguasai bahan lah. Waktu ujian praktikum kimia kemarin aku dapat nilai bagus koq."
"Iya, aku juga denger. Selamet yah. Aku denger kamu dapet nilai tertinggi seangkatan buat ujian praktikum kimia sekaligus biologi. Yang kimia terutama, kamu nomer satu, sementara nomer duanya nilainya lumayan jauh di bawahmu. Aku doain semoga sukses lah lombanya." "Lomba argumentasimu tiap hari ya, Ndu"
"Iya, soalnya pesertanya banyak, dan pake sistem gugur. Lumayan deg-degan juga, soalnya topiknya bakal ditentukan saat session itu, dan juga diundi pro atau kontranya. Semoga aja nggak dapet bahan yang aneh-aneh. Aku sudah rajin baca koran dan dengerin berita di teve setiap hari sih." "Wah, dengerin berita akhir-akhir ini justru bikin aku deg-degan. Bagaimana tidak Demo di mana-mana. Suasananya tambah hari tambah panas deh. Untung Semarang nggak pernah ada demo yang pake acara bakar-bakaran. Kantor papa yang di Solo kena korban bakar-bakaran massal lho."
"Oh ya Fei. aku juga jadi kuatir, karena target mereka tuh terutama orang keturunan Cina.
Kamu jelas-jelas kelihatan kalo keturunan Cina. Aku takut kalau."
"Heh. jangan ngomong yang nggak-nggak, dong. Aku bisa jaga diri sendiri. Kamu tahu nggak kalo aku bisa karate Nggak ahli sih, tapi pernah belajar sama Opa waktu kecil."
"Kamu belajar karate waktu kecil Kamu nakal ya waktu kecil" tanya Pandu heran.
"Wah, nakal sekali. Lawanku cowok berbadan besar-besar. Semakin besar badannya, apalagi yang gendut-gendut, semakin aku tertarik untuk menjatuhkan. Tapi aku nggak asal bertarung. Aku cuma melawan kalo dilawan duluan. Itu prinsip yang diajarkan Opa." "Hah Kamu jago berkelahi"
"Pertamanya nggak. Aku masih inget, waktu itu di SD ada anak cowok sombong sekali, dia selalu iri karena aku dapat nilai bagus. Terus suatu hari, buku catatanku yang di meja disobeksobek sama dia. Aku marah, tapi nggak bisa apa-apa karena dia berbadan besar. Trus aku lapor sama Opa. Lalu aku diajari karate itu tadi."
"Trus besoknya kamu pukuli dia" tanya Pandu tertarik akan cerita Niken yang seru.
"Wah, nggak. Aku kan sudah janji sama Opa untuk nggak memulai perkelahian. Kira-kira seminggu setelah kejadian buku sobek itu, dia mengganggu salah satu teman cewekku sampai temanku menangis. Trus aku belain temanku itu. Trus dia tantang aku. Ya aku jawab tantangannya. Trus udah deh, berkelahi, ditonton anak banyak. Ada rasa puas waktu itu karena aku berhasil bikin biru matanya."
"Kamu menakutkan juga ya, Fei. Aku aja waktu SD nggak pernah berkelahi." "Aku sering sekali. Tiap sehabis berkelahi aku pasti masuk ruang guru. Dinasehati untuk tidak berkelahi. Aku nggak pernah merasa bersalah karena aku nggak pernah yang memulai. Mama pasti marah-marah abis itu karena dia jadi sering dipanggil guru." kata Niken mengenang masa kecilnya yang heboh. "Trus kapan kamu berhenti berkelahi"
"Sampai semua anak cowok sombong yang di sekolah satu-satu sudah bertarung denganku, dan semua kapok untuk memulai lagi. Akhirnya keadaan aman dan damai." kata Niken sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu pasti ditakuti cowok-cowok di sekolahmu yah." tanya Pandu geli. Kalimat Niken tadi berkesan seakan-akan Niken seorang pahlawan pembela kebenaran dan keadilan. "Kira-kira begitulah."
"Cicimu juga jago berkelahi" tanya Pandu.
"Nggak. Cici tu pendiam. Kalem sekali dari kecil. Bisa jadi waktu dilahirkan nggak menangis juga. Kalo nggak disapa nggak akan bicara duluan. Pemalu sekali. Papa selalu bilang, koq aku nggak bisa seperti cici. Aku selalu saja buat onar. Bikin malu keluarga. Pokoknya aku sama cici tu bertolak belakang sekali, lah. Cici nggak begitu pandai di sekolah. Kasihan sekali dia dari kecil hari-harinya penuh acara les." "Memangnya kamu nggak"
"Nggak. Aku dari kecil suka memberontak. Aku nggak mau les kalo merasa nggak ada gunanya. Aku lebih suka belajar sendiri. Akhirnya aku cuma les Inggris dari kecil, karena aku merasa butuh seorang guru untuk latihan conversation. Selebihnya aku les bidang-bidang yang aku sukai, termasuk renang, piano, saxophone, nge-drum, dan lain-lain. Itu pun aku daftar-daftar sendiri di sekolah musik. Tadinya mama cuma suruh aku les piano di sekolah musik. Trus setelah itu aku yang daftar-daftar sendiri." "Aku nggak pernah les piano, lho." kata Pandu mengaku. "Trus kamu bisa canggih main piano dari mana" tanya Niken keheranan. "Waktu masih kecil di Yogya, aku tetanggaan sama Mas Baron Kanginan." "Baron Kanginan yang pemain piano klasik yang sering main di konser nasional itu" tanya Niken kaget.
"Iya. Waktu aku kecil dulu, Mas Baron belum ngetop. Dia cuma ikut ngeband kecil-kecilan di kampusnya. Aku sering mendengar dan melihat dia main piano dari jendela kamarku yang berhadap-hadapan dengan kamarnya. Suatu hari dia memanggilku. Trus dia menawari aku untuk mengajari aku main piano. Tentu saja aku mau sekali."
"Wah. beruntung amat kamu bisa diajari langsung sama Baron Kanginan. Pantas saja kamu punya gaya main piano yang lain dari orang kebanyakan. Baron Kanginan kan unik sekali." "Piano yang di rumah itu juga pemberian Mas Baron sebelum dia pindah ke Jakarta. Dia bilang waktu itu dapat tawaran konser. Dia nggak bakal sanggup memindah piano seberat itu ke Jakarta, makanya dia hadiahkan ke aku."
"Kamu masih sering kontak sama dia"
"Masih. Kadang-kadang dia masih kangen Yogya, terus ya menginap di rumahku. Sejak pindah ke Semarang, aku belum pernah bertemu dia lagi. Tapi dia tahu koq kalau kita pindah Semarang. Dia kan hampir seumur sama kak Darmawan yang di Jakarta. Mereka masih sering kumpul-kumpul katanya." Niken cuma manggut-manggut.
"Manggut-manggut seperti burung pelatuk saja kamu, Fei. Sudah sore lho. Nanti kamu dicariin mama kamu, lho." kata Pandu mengingatkan. "Aku musti di sini sampai anak-anak perlengkapan selesai memindahkan alat-alat ke gudang."
"Biar aku aja. Nanti aku laporan ke kamu. Kamu capek kan dari tadi siang belum pulang rumah"
"Nggak. Ini tanggung jawabku, Ndu. Mana bisa aku serahkan ke kamu"
"Ya sudah. Aku temani." Pandu yakin tidak akan bisa melawan kehendak tuan putrinya ini.
"Niken, kunci gudangnya kamu yang tanggung jawab, kan" tanya Rudi. "Iya. Sudah selesai semua ya"
"Sudah barusan. Anak-anak sudah pada mau pulang. Ini kuncinya. Aku pulang duluan ya." kata Rudi sambil menyerahkan kunci ke Niken.
"Iya. Makasih ya Rud." kata Niken sambil memutar-mutar kunci itu di jarinya.
"Fei, ikut aku yuk."
"Mau ngapain"
"Ikut aja." kata Pandu sambil menggandeng tangan Niken.
"Iya,... iya..." kata Niken sambil melepaskan gandengan Pandu, takut ada orang yang melihat, lalu mengikuti langkah Pandu.
Rupanya Pandu berjalan menuju ruang musik lewat belakang.
Lalu dia duduk di kursi piano. Pelan-pelan dibukanya penutup piano itu.
"Besok kamu ulang tahun kan"
Niken mengangguk. Tujuh belas tahun. Sudah sebulan ini dia bertengkar dengan Papa karena menolak merayakan ulang tahunnya secara besar-besaran seperti anak-anak gadis yang lain. Akhirnya Papa nggak bisa apa-apa karena Niken mengancam untuk nggak akan datang kalau Papa nekad mengadakan pesta apapun untuknya. Niken cuma ingin makan di rumah saja, mengundang Oma dari Kudus.
"Besok hari Minggu, kita mungkin nggak bakal sempet ketemu. Aku ingin ngasih kado hari ini. Boleh kan" Niken mengangguk lagi.
Pandu lalu mulai sibuk dengan pianonya. Mendengar intro lagu yang sangat dikenalnya, Niken lalu ikut duduk di kursi piano yang memang cukup panjang untuk buat berdua itu. Tangan kanannya ikut memainkan variasi melodi. Pandu lalu menyanyi. Niken tidak ikut menyanyi karena suaranya tidak pas dengan
tangga suara yang dipilih Pandu. Terlalu rendah untuknya. Dia lebih suka menikmati suara empuk Pandu sambil ikut iseng memainkan piano bagian kanan. Tangan kanan dan kiri Pandu begitu lincah di atas piano. Pasti dia sudah latihan dahulu. Susah memainkan lagu Guns 'n Roses ini dengan piano, lebih
gampang memainkannya dengan gitar.
Shed a tear 'cause I'm missin' you
I'm still alright to smile
Girl, I think about you every day now
Was a time when I wasn't sure
But you set my mind at ease
There is no doubt you're in my heart now
Said, woman, take it slow, it'll work itself out fine
All we need is just a little patience
Said, sugar, make it slow and we come together fine
All we need is just a little patience
I sit here on the stairs 'cause I'd rather be alone
If I can't have you right now, I'll wait, dear
Sometimes I get so tensed but I can't speed up the time
But you know, love, there's one more thing to consider
Said, woman, take it slow and things will be just fine
You and I'll just use a little patience
Said, sugar, take the time 'cause the lights are shining bright You and I've got what it takes to make it.
"Makasih Ndu." kata Niken saat Pandu selesai memainkan seluruh lagu. "Ini hadiah ulang tahun terindah yang aku terima."
"Tunggu. Aku masih punya satu lagi." kata Pandu. "Copot sepatumu."
Walaupun keheranan, Niken menurut juga, lalu mencopot sepatunya.
"Kaos kakinya juga."
"Kamu mau apa sih, Ndu" tanya Niken heran.
Pandu yang tidak sabar lalu berlutut di bawah kaki Niken, sambil mencopot kaos kaki Niken sendiri.
Lalu dia merogoh saku celananya, sebentuk cincin ada di tangannya. Niken masih tak mengerti.
Pandu lalu memakaikan cincin itu di jari telunjuk kaki Niken.
"Oh..!" Niken terpekik. "Toe ring..." kata Niken setelah mengerti.
"Kalau aku kasih cincin di tangan kan aneh, kita kan nggak pacaran. Makanya aku kasih cincin buat kaki aja. Orang-orang juga jarang melihiat. Jadi nggak akan ada yang tanya." kata Pandu menjelaskan.
"Makasih sekali lagi, Ndu. Nggak akan aku copot dari jari kakiku." kata Niken. "Selamat ulang tahun, Fei Fei." kata Pandu sambil mencium pipi kiri Niken. Ini ketiga kalinya Pandu mencium pipi Niken. Dua kali waktu di kelas 2C. Niken masih belum lupa bagaimana rasanya yang pertama dan kedua dulu. Niken memejamkan kedua matanya. Rasanya persis sama seperti yang kali ketiga ini. Pandu masih menatap wajah Niken yang begitu halus. Mata Niken masih terpejam erat. Wajahnya terlihat begitu polos. Pandu baru ragu-ragu ingin mencium bibir mungil Niken, saat Niken membuka matanya. Sadar bahwa Pandu hendak menciumnya, Niken malah mencium Pandu duluan. Walaupun agak kaget, Pandu pun balas menciumnya. Sepuluh detik kemudian, Pandu melepaskan ciumannya.
"Fei,... Kamu nggak perlu menciumku untuk bilang kamu sayang aku. Aku juga nggak harus. Maksudku, jangan merasa terpaksa karena kamu takut aku nanti bilang kamu nggak sayang aku kalau kamu nggak mau cium aku. Aku akui aku tadi memang ingin mencium kamu, tapi aku takut kamu bakal bereaksi lain." "Terpaksa Koq kamu bisa bilang begitu"
"Kamu kan tadinya anti cowok, lagipula aku waktu itu pernah menawarkan untuk nggak pernah menyentuhmu. Ini berarti aku melanggar tawaranku sendiri."
"Apa aku pernah menerima tawaranmu itu, Ndu Kamu nggak melanggar apa-apa koq. Lagipula yang kita lakukan sekarang ini cuma mengungkapkan rasa sayang kita satu sama lain. Dan aku tahu kita berdua sama-sama tahu batas-batas koq. Aku tapi benar-benar menikmati perasaan dicium kamu. Rasanya damai, dan aku seperti lupa segalanya. Bahkan lupa bahwa sekarang ini kita nggak berstatus pacaran." "Jadi kamu suka"
"Ah, sudah diam, sekarang cium aku lagi. Nanti kamu bakal tahu sendiri aku suka apa nggak." Dan Pandu pun melakukan apa yang Niken bilang.