Kudengar langkah kaki, dan kurasakan belaian hangat pada rambutku, itu nenekku, aku diminta memanggilnya dengan sebutan Ni.
Lala dia memanggilku, Lala berarti putri
Iya, Ni Aku menatapnya, memandng wajah yang mulai menua, memandangnya membuatku terkenang akan mama. Dia menuntunku, mengajakku duduk di kursi kayu antik, tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.Mau Ni ceritakan dongeng
Aku menatapnya, mengangguk dan tersenyum, beliau memulai kisahnya.
Dahulu kala, ada seorang putri bangsawan yang cantik jelita, kulitnya kuning bercahaya keemasan, wajahnya rupawan, matanya seterang rembulan, bibirnya semerah darah, tak ada yang tak ingin menatap wajah indahnya, kedua orang tuanya sangat menyayanginya, dan saudara-saudaranya, para lelaki yang memang dilahirkan sebagai pelindung senantiasa berada disisinya untuk menjaganya, sang putri adalah cahaya bagi keluarganya, tapi waktu sungguh cepat berlalu sang putri tumbuh dewasa, dia bukan lagi seorang gadis kecil manja yang selalu ingin dijaga, dia gadis remaja, sudah saatnya dia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, sudah saatnya untuk dia menentukan langkahnya, dia ingin melakukan apa yang diinginkannya, dia ingin jatuh cinta, tapi dia lupa siapa dia, dia adalah sang putri, menjadi seorang putri adalah anugerah, tapi baginya adalah kutukan, dia ingin terbebas dari belenggu tradisi, dia berlari, jauh pergi, mencari jalannya sendiri, dia pergi meninggalkan satu-satunya dunia yang dikenalinya, untuk menemui dunia baru, dunia tempat kebebasan, dunia yang penuh warna baginya, tapi sang putri, terlalu lugu dan menganggap semuanya seramah yang dipikirkannya, dia tak tau bahwa tidak semua orang berhati mulia, dia jatuh cinta pada orang yang salah, sang putri sangat mencintai pria biasa yang hanya dikenalnya melalui manisnya suara dan alunan nyanyianrayuan, sang pria bukanlah orang yang berperasa bak manusia, dia adalah kutukan bagi si putri yang malang, sang pria hanya menginginkan raganya, sang putri tak pernah menyangka, sang pria memaksa untuk bisa mendapatkan keinginannya, tak hanya sang pria tapi juga temantemannya, dengan kebiadaban mereka yang bak binatang.Semakin lama suara nenekku makin rendah, agak bergetar, kutatap matanya, telihat berkaca-kaca, aku menggenggam tangannya, nenenkku menatap langit-langit, dia menarik nafas panjang, ingin kukatakan, berhentilah bercerita, tapi ketika aku hendak berbicara, beliau mulai bercerita. Sang putri kehilangan mahkotanya, sang putri kehilangan harga dirinya, dia terluka, terbalut ketakutan dan trauma, seluruh keluarganya tak bisa apa-apa, hanya berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sang putri mendapat anugerah kecil yang dipikir bisa menghapus lukanya, tapi ternyata ini makin memperparah segalanya, sang putri tersiksa setiap melihat wajahnya itu sama dengan memutar kembali amarah yang tak pernah bisa diluapkannya, sang putri seumur hidupnya tenggelam dalam derita nestapanya, hidup sang putri sungguh miris dan dia menjadikan akhir hidupnya sangat tragis Nenekku menangis dengan isakan yang tertahan, dia berusaha menguatkan dirinya, apa yang didongengkannya bukanlah dongeng itu adalah kisa hidup Mama, aku menangis, mengetahui bagaimana kisah ini dimulai, bagaimana dimulainya kehidupanku, ada perasaan tak berharga dalam diriku, tapi entah mengapa aku merasa pelukan hangat dari nenekku membawaku pada kedamaian, kami sama-sama terluka karena kisah sang putri, sang putri yang malang, Mama.