MEMORIA - 17
Karena pagi begitu berarti,

kami ingin sunyi menjelang pagi.

Biarkan matahari mengunyah sunyi kami.

Telah kami dengar suara gemercik.

Bukan nyanyi hujan. Bukan teriak bintang.

Melainkan suara sunyi yang jatuh dari tiang doa kami.

Kami jahit lagi sobek sunyi kami

sebelum subuh merekah. Sebelum fajar semerbak.

Kami panjat lagi tiang doa kami dan berharap

pagi akan menjadi indah. Sebelum pagi bernyanyi,

kami ingin sunyi berkibar sebagai panji di tiang

doa kami. Kami tahu, pagi yang indah akan

tercipta dari kibaran sunyi di tiang doa kami.

(Oepoi, Maret 2008)