KEPULANGAN KELIMA - 17
pukul dua pagi, kau berusaha tidur melawan malam

insomniamu, anak muda sayang, bulan yang memerah

muda di wajah november tak kunjung memberimu

izin untuk tidur lebih awal

malam telah lama usai dan pagimu kini dingin membeku kau

tak kunjung mimpikan lagi bisik lirih suara semesta yang

bercerita padamu di satu pagi buta

kini, pagi datang beku, dingin bagai tembok batu kamar sepimu

di sini, aku menunggu separuh kenangan

tentang malam-malam khusyuk di balai-balai sawah dekat sungai

dan kuburan kampung tanah kelahiran

kucari separuh kenangan yang hilang, saat aku mengajak pohon-

pohon kelapa rukuk-sujud beserta semesta anak muda,

sekarang kau telah hijrah ke kota dan tak kau

temukan kenangan akan malam-malam kudusmu

di atap-atap gedung tempat tinggalmu sekarang hanya

ada suara pagi yang asing

yang masih menyimpan cekikikan puluhan penari belia

dan denting botol-botol minuman di bawah

lampu kedap-kedip penuh warna

sementara rembulanmu yang merah muda, tampak makin renta sendu,

mendengar pengaduanmu

aku kehilangan sepenggal kisah kudus hidup laluku ketika

kupercayai malam-malam suci, saat malaikat turun

membawa bendera-bedera

saat aku menenggelamkan kepalaku di dingin air sungai dan mengajak

padi serta pohon-pohon kelapa rukuk-sujud

bersama semesta

O, pagi insomnia inikah, yang mengingatkanku pada perjumpaan rahasia

kita