insomniamu, anak muda sayang, bulan yang memerah
muda di wajah november tak kunjung memberimu
izin untuk tidur lebih awal
malam telah lama usai dan pagimu kini dingin membeku kau
tak kunjung mimpikan lagi bisik lirih suara semesta yang
bercerita padamu di satu pagi buta
kini, pagi datang beku, dingin bagai tembok batu kamar sepimu
di sini, aku menunggu separuh kenangan
tentang malam-malam khusyuk di balai-balai sawah dekat sungai
dan kuburan kampung tanah kelahiran
kucari separuh kenangan yang hilang, saat aku mengajak pohon-
pohon kelapa rukuk-sujud beserta semesta anak muda,
sekarang kau telah hijrah ke kota dan tak kau
temukan kenangan akan malam-malam kudusmu
di atap-atap gedung tempat tinggalmu sekarang hanya
ada suara pagi yang asing
yang masih menyimpan cekikikan puluhan penari belia
dan denting botol-botol minuman di bawah
lampu kedap-kedip penuh warna
sementara rembulanmu yang merah muda, tampak makin renta sendu,
mendengar pengaduanmu
aku kehilangan sepenggal kisah kudus hidup laluku ketika
kupercayai malam-malam suci, saat malaikat turun
membawa bendera-bedera
saat aku menenggelamkan kepalaku di dingin air sungai dan mengajak
padi serta pohon-pohon kelapa rukuk-sujud
bersama semesta
O, pagi insomnia inikah, yang mengingatkanku pada perjumpaan rahasia
kita