KERAMAT SEBUAH HATI - 17
'PENGALAMAN ITU ADALAH GURU YANG PALING KEJAM KERANA IA AKAN MENGUJI DAHULU KEMUDIAN MENGAJAR'

Secara fitrah hati itu bersifat lembut (latifah), mudah tersentuh, dan sangat peka terhadap berbagai perubahan psikologi yang terjadi. Setiap hati sejatinya membimbing kita untuk pulang ke sumber kedamaian, mewartakan kerinduan pada kebenaran hakiki. Kompas di hati setiap manusia adalah kompas hanif yang cenderung untuk selalu menunjukkan jalan yang benar. Kompas yang ditujukan untuk menyelamatkan Nabi Ibrahim dan keturunannya agar memiliki visi dan orientasi yang jelas dalam hidup.

Bencana sesungguhnya yang terjadi saat ini adalah tercetusnya sifat hanif dari hati manusia. Keadaan ini kita sebut eroksi hati, di mana nilai-nilainya tersapu dengan kuatnya arus hawa nafsu. Banyak kes menunjukkan bahawa erosi hati ini berpunca dari meningkatnya keinginan kemunafikan. Di satu sisi memahami dan berusaha menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT, namun di sisi lain mempraktikkan pula hal-hal yang dilarangNya.

Akhir-akhir ini Allah SWT membukakan mata kita bahawa ukuran yang kita yakini (secara manusiawi) tentang kriteria kesolehan, tidak selamanya sesuai dengan kenyataan fitrah. Sehingga lahir aneka perbuatan yang seolah -olah sukar dikerjakan. Kisah berikut dapat menjadi sedikit gambaran tentang fenomena ini.

Seorang pedagang pelbagai sup daging mencampur supnya dengan daging monyet yang harganya jauh lebih murah dari daging lembu. Itu semua dilakukan demi mengaut keuntungan berlipat kali ganda.

Konsep Mahabatullah

Inilah sekelumit gambaran tentang nilai-nilai keislaman yang mulai terhakis dari taman hati. Akibat apa Salah satunya, kerana kita terbuai dalam kondisi yang menanduskan hati, iaitu menikmati kesenangan dunia tanpa batas. Aneka budaya, perilaku dan gaya hidup kita tiru tanpa berfikir dan menimbangnya lagi.

Namun hal tersebut belum menjawab fenomena kesolehan yang munafik. Menurut Rasulullah SAW, salah satunya tanda kemunafikan adalah tidak amanah. Semua aktiviti dan perbuatan yang kita lakukan harus kita pertimbangkan dengan tenang. Tidak terburu-buru dan dikerjakan tanpa ilmu.

Maka, belajarlah memetik hikmah dari setiap keadaan, belajar untuk memberikan manfaat secara maksima bagi diri, keluarga, dan umat, serta terus belajar untuk memaafkan. Memetik hikmah bererti meluruskan niat belajar dan mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Sikap seperti ini akan menumbuhkan keimanan dan ketakwaan. Jika keimanan telah tersemai di hati, maka Allah akan mencurahkan keberkatan dari langit dan menumbuhkan keberkatan dari bumi.

Dengan adanya visi yang jelas (lillahi taala), semua aktiviti hidup kita akan menjadi sebahagian dari ibadah. Motivasi yang muncul pun adalah motivasi yang sinergi dan harmoni. Sinergi antara semangat mensyukuri nikmat potensi dengan cara mengoptimakan manfaatnya. Serta harmonis antara tuntutan ,memenuhi hak dengan memenuhi kewajiban. Konsep harta sosial akan berjalan dengan sendirinya karena tumbuhnya kesedaran untuk saling berbahagi. Dengan demikian keadilan akan terwujud dan kesejahteraan akan tercipta.

Apabila kolaborasi semangat (ghairah), ketenangan, dan cinta itu telah kita adunkan, maka Allah akan menciptakan kemudahan-kemudahan dalam menghadapi berbagai kesulitan. Termasuk diberikan rezeki tanpa kesulitan.

Apabila hikmah telah berhasil dipetik maka belajarlah untuk menebarkan manfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain