sia setengah iblis itu, tiba-tiba mengalami perasaan jatuh cinta yang akut saat ia masuk ke sekolah dasar untuk menjalani fase hidup sebagaimana lazimnya anak manusia di dunia.
Ya. Meski di tubuhnya terdapat 50% darah iblis dari ayah nya, tetapi Oxymora memilih untuk hidup seperti ibunya, menjadi m anusia. Dan kisah kelahiran Oxymora barangkali adalah kelahiran pa ling realistis dalam sejarah percintaan manusia dengan iblis. Waktu itu, memang muncul isu bahwa di desa Karangpati ada sebagian lelaki yang menikahi iblis perempuan, begitu pula sebaliknya, iblis laki-laki menikahi wanita manusia. Hal ini dikuatkan dengan pesona magis desa itu, yang memang dikenal dengan desa seribu dukun, di mana sebagian besar warganya mengandalkan perdukunan untuk kelancaran hidup, rejeki, keturunan, walaupun harus mengorbankan tetangganya sendiri.
Meski begitu, isu itu hanya sebatas isu, tak ada yang benarbenar bisa membuktikan bahwa memang ada warga yang menjalin cinta dengan kalangan iblis. Sebagian orang mulai menduga bahwa ini hanyalah mitos bikinan para dukun agar desa ini terkesan lebih mistis dan ditakuti desa lainnya.
Namun Antiona, wanita muda yang baru saja dicampakkan oleh seorang kiyai kaya raya di desa itu, diam-diam telah membuktikan percintaan tersebut. Sejak diceraikan oleh suami yang tigapuluh tahun lebih tua darinya, Antiona sering duduk menyendiri di tepi Sungai Serayu, melamun berjam-jam, mendengarkan aliran air yang deras, suara kereta melintasi jembatan ke arah Kebasen, dan meman dang matahari jatuh perlahan-lahan pada sore yang lengang. Wanita itu bahkan tetap berdiam di tepi sungai sampai tengah malam, k etika para pencari jangkrik, kepiting, dan belut mulai keluar untuk menjamah lahan persawahan gelap, di mana hanya bintang-bintang redup merenu ngi langit. Saat itulah, antara pukul 01.45 02.04, Antiona akan didatangi seorang iblis yang mengirim isyarat lewat suara embusan angin halus pada tengkuknya. Antiona sudah hapal, iblis itu akan membuat sedikit pusaran kecil di permukaan sungai, lantas dengan sebuah lompatan magis yang diiringi gugurnya beberapa daun-daun pinus, iblis itu muncul sebagai sosok lelaki modern: celana jeans, memakai kacamata hitam, jaket buatan Paris, di telinganya terpasang headset yang sayup-sayup memperdengarkan lagu Beyond The Dark Sun milik Wintersun, dan tangannya menenteng botol bir bermerk dragonheads.
Antiona selalu takjub melihat kemunculan lelaki itu. Ia tak peduli bahwa ia sedang berhadapan dengan iblis. Setidaknya iblis ini mau mencintainya dan tak mencampakkannya seperti suami dari kalangan manusia, begitu mungkin pikirnya.
Aku sudah lama menunggumu. Ucap Antiona dengan nada manja.
Maaf, tadi macet.
Lantas Antiona pun seperti diliputi kabut tebal yang membuatnya mengerti dengan segalanya. Maka tanpa hirau kata-kata, tanpa penjelasan deskriptif tentang ruang di mana daun-daun terus ber-guguran dan langit merendah dan burung-burung bersandar dan pepohonan mengembangkan bunga-bunga, Antiona larut pada percintaan musykil itu.
Baiklah, cukup, aku hampir bahagia. Kata Antiona di suatu malam yang lain. Sekarang tak ada lagi kesedihan akibat diceraikan suaminya, berganti perasaan canggung.
Tiga minggu kemudian, Antiona pun positif hamil. Oleh sang i blis, Antiona disuruh berdiam di rumahnya.
Enam bulan kemudian, anak itu akan lahir, kata iblis.
Jangan konyol, yang namanya mengandung bayi pasti sembilan bulan.
Tapi di dunia iblis, masa kandungan hanya butuh waktu tiga b ulan. Jadi, kalau gabungan iblis dan manusia, berarti tiga ditambah sembilan dibagi dua Hmm, hasilnya enam bulan.
Hah, sejak kapan iblis belajar matematika
Rahasia. Yang penting, setelah lahir, entah laki-laki atau perempuan, aku telah memberinya nama: Oxymora.
Nama macam apa itu
Entahlah. Aku lihat di wikipedia, kedengarannya bagus.
Dan takdir pun menunjukkan jalannya. Memang benar, enam bulan kemudian Antiona melahirkan Oxymora, tokoh utama cerita ini. Oxymora lahir tanpa ari-ari dan tanpa tangisan. Setelah melompat keluar dari rahim, bayi itu langsung menatap wajah ibunya de ngan tatapan tajam, seperti setengah dendam, dan kelahiran itu seperti sesuatu yang magis, ketika selembar pelangi berwarna hitam menaungi rumah Antiona. Pelangi dari dunia iblis.
Warga desa Karangpati menduga anak itu adalah anak Antiona bersama mantan suaminya sebelum bercerai. Maka tak ada yang c uriga. Antiona merawat bayinya di rumah kumuh dekat masjid yang hanya ramai ketika sholat jumat. Wanita itu tak tahu bahwa usia bayi iblis berkembang lebih cepat dari usia bayi manusia. Jadi, k etika Oxymora berusia tujuh tahun dan mendaftar ke sekolah dasar, hati dan perasaan Oxymora sesungguhnya telah tumbuh layaknya seorang remaja.
Di hari pertama masuk sekolah, Oxymora tak banyak bicara, ia hanya berdiri di depan gerbang sekolah, melihat anakanak kecil bercanda tawa, berlari-larian, hampir semuanya masih dijaga orang- t uanya. Barulah ketika bel berbunyi, Oxymora ikut berbaris masuk. Ia masih tak banyak bicara sampai matanya terpaku pada seorang guru wanita yang memasuki kelas. Guru yang wajahnya seperti peri. Oxymora langsung jatuh hati.
Guru cantik itu bernama Nalea Mendieta, seorang guru muda yang banyak diidolakan oleh guru lelaki serta tukang kebun di sekolah itu. Dan Oxymora, yang jiwanya telah tumbuh remaja, langsung terjatuh pada pusaran kekaguman atas sosok Ibu Guru Nalea.
Seperti kabut di kaki Gunung Slamet yang bersih, seperti be ning air Serayu yang mengalir dan tak menyisakan sedih. Begitu ucap Oxymora dalam hati untuk menggambarkan kesan pertamanya pada Ibu Guru Nalea.
Maka kebosanannya pun mendadak berubah menjadi semangat yang menyala-nyala. Beberapa jam ia pandangi guru itu berbicara dalam kelas. Oxymora larut dalam khayalannya
Kau tak boleh menyukai guru itu, kata Antiona suatu sore, k etika Oxymora menceritakan kisah cintanya.
Tapi, Bu. Aku benar-benar
Pokoknya tidak boleh!
Oxymora, yang tingginya hanya 130 cm namun memiliki p erasaan seperti remaja 17 tahun itu, termenung sendiri di kamar. Sebenarnya ia tak benar-benar sendirian, selalu ada kawan-kawan dari golongan iblis yang berkunjung untuk mengajaknya bermain, tetapi Oxymora selalu menolak. Bahkan ia lebih suka duduk memandang senja di luar jendela.
Tidak ada ceritanya iblis duduk memandang matahari. Kamu ini harusnya takut cahaya, kata Antiona pada anaknya itu. Mungkin A ntiona lupa kalau ini adalah cerita pendek dan ia sebagai tokoh ce rita tentu tak berhak menentukan apa yang terjadi.
Maka begitulah Oxymora diam-diam terus menumbuhkan cintanya. Sepanjang hari, di dalam kelas, ia akan memandangi guru itu. Kalau jam istirahat, ia suka duduk di kantin menunggu Ibu Guru Nalea makan siang. Begitu pula ketika pulang sekolah, saat guru itu berdiri di trotoar menunggu angkot, Oxymora akan melamun di bawah pohon dengan mulut meneteskan air liur. Oxymora juga rajin berkunjung ke rumah wanita impiannya itu
Dan lama kelamaan, karena tak kuasa menahan perasaan itu, suatu malam Oxymora nekat menulis surat:
Dear, Ibu Guru Nalea Mendieta
Malam terasa melambat ketika saya membayangkan bahwa ibu guru s edang duduk menyendiri di tepi Bendungan Gerak Serayu, memandangi kerlip lampu jalan atau daun-daun yang ditimpa cahaya bulan. Sejak pertama kali saya melihat wajah ibu, saya langsung merasa menjadi anak manusia yang sempurna. Saya mencintai ibu, saya seperti terbawa pada kisah bidadari surga yang selalu bernyanyi nada-nada alam paling suci dan paling lembut, atau jangan-jangan ibu ini sebenarnya adalah bidadari yang sedang mengumpulkan ongkos untuk kembali ke surga
Saya ingin menemani ibu selamanya
Keesokan harinya ia selipkan surat itu di meja guru. Dan tiga hari kemudian, ia menerima surat balasan. Surat itu ia temukan di dalam tasnya menjelang jam terakhir.
Sesampainya di rumah, Oxymora pun masuk kamar, melompat ke tempat tidur, dan membacanya:
Oxymora yang baik, selama ini ibu tahu kalau kau sering memerhatikan ibu.Y a. Ibu mengaku, ibu memang kesepian, ibu tidak pernah menjadi tokoh cerita pendek yang berakhir bahagia, tetapi kau justru membat ibu lebih takut lagi. Sikapmu dan suratmu seperti menunjukkan seolah-olah kau bukan anak manusia. Kau benar-benar tidak seperti anak lainnya. M ulai detik ini, jauhi ibu ya, please. Yang engkau kagumi, Nalea.
Jawaban itu membuat dinding hati Oxymora runtuh. Sejak malam itu, sampai hari-hari berikutnya, ia bersedih sepanjang waktu, mengunci diri di kamar, tidak mau makan. Ia tetap hidup meski tak makan sampai dua minggu karena ia 50% iblis.
Antiona sendiri bingung dan tak bisa berbuat apa-apa terhadap anaknya. Ia pun berkonsultasi dengan suaminya, iblis tua yang masih hidup di Sungai Serayu.
Setelah berunding, akhirnya sang ayah meminta Oxymora b erhenti dari sekolah dan mengembalikan identitas keiblisannya. Oxymora harus berkawan dengan sesama iblis, belajar bagaimana cara menyengsarakan manusia. Penampilan Oxymora pun m ulai berubah, gigi taringnya tumbuh, di kepalanya muncul tanduk k ecokelatan, dan matanya memerah seperti aliran kemarahan
Dan karena Oxymora telah menunjukkan komitmennya m enjadi iblis sepenuhnya, ia pun dibawa pergi ke dunia ghaib oleh sang ayah. Oxymora pamit pada ibunya. Saat itu Antiona hanya menangis ter sedu, seolah tak akan pernah bertemu anaknya lagi
Di dunia iblis itu, Oxymora mengalami pendidikan yang keras, ia tak menyangka bahwa sekolah iblis lebih menyedihkan dari sekolah di dunia. Ia dikarantina, tak boleh berhubungan dengan man usia termasuk ibunya sendiri. Ia menjalani pendidikan selama enam p uluh tahun, diajarkan teknik-teknik mengganggu, menakut-nakuti, dan menjerumuskan manusia, baik itu teknik yang diwariskan nenek moyang maupun inovasi baru milik iblis-iblis kreatif. Meski begitu, Oxymora masih menyim pan perasaannya pada Ibu Guru Nalea, hati manusianya tak ikut luntur, perasaan kasih sayang yang begitu tulus telah menguatkannya di mana pun ia berada
Enam puluh tahun kemudian, setelah lulus cumlaude, Oxymora diijinkan untuk menyentuh alam dunia, bersinggungan dengan m anusia.
Saat itulah, Oxymora berniat untuk menemui Ibu Guru Nalea, ia yakin, dengan tubuhnya yang kini telah tampak remaja, pastilah Ibu Guru Nalea mau menerimanya, sebagaimana kisah cinta ayah dan ibunya sendiri.
Dengan hati riang Oxymora pun menjelajahi bumi, menembus mega-mega sambil menyanyikan lagu-lagu Omnos milik Eluveitie. Namun sepertinya ia lupa, enam puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar di dunia manusia. Ketika Oxymora mendatangi desa Karangpati untuk kedua kalinya, ia terkejut saat mengetahui bahwa rumah Ibu Guru Nalea kini nyaris tak terawat. Daun-daun kering berserakan, ilalang panjang dan pohon tua, juga genteng yang tak rapi lagi. Di teras rumah itu Oxymora melihat sesosok nenek yang sedang duduk, dan ketika didekati, terdengar mulutnya bergumam aneh.
Oxymora, di mana, Oxymora, di mana begitu rintih nenek tua itu.
Oxymora tertegun. Ia terpaku beberapa saat, sampai ia sepenuhnya sadar bahwa nenek itu adalah Ibu Guru Nalea, yang setelah enam puluh tahun masih saja kesepian. Ibu guru yang kini telah menjadi keriput, ringkih, rabun, dan sama sekali tak menarik lagi baginya.