"Acaranya keren ya, Mel," kata Ify, salah satu model yang mulai akrab dengan Imelda sejak pemotretan bersama di Singapura dua bulan lalu. "Yang datang orang-orang penting semua."
Imelda mengangguk membenarkan. Memang begitu biasanya, acara membosankan seperti ini banyak dihadiri orang penting, pikir Imelda.
"Sepulang dari Bali kemarin, gue sempet liat lo di infotainment, Mel. Kabar lo punya hubungan istimewa sama si pengacara itu cuma gosip kan, Mel" tanya Ify santai, seraya menyuapkan salad buah ke mulutnya dengan gerakan anggun. "Wartawan memang nggak pernah ngerti apa yang kita rasain. Saat kita lagi sedih, mereka malah seenaknya bikin cerita yang membuat kita terpojok di depan publik. Padahal semua orang yang kenal lo pasti tau, lo nggak mungkin bikin skandal macem-macem. Apalagi sama pengacara yang megang kasus perceraian lo sendiri."
Imelda menelan ludah pelan menanggapi kata-kata Ify. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Ify. Mungkin lebih baik kalau ia membenarkan anggapan Ify, kabar di infotainment hanya gosip biasa.
"Iya... mereka emang suka kelewatan kalau bikin gosip soal gue. Seminggu penuh gue dibikin susah ke mana-mana," ujar Imelda, memalingkan wajah kikuknya.
"Tapi saran gue nih, Mel... lo jangan terlalu deket deh sama pengacara lo itu." Ify mendadak menatap Imelda dengan wajah serius.
"Emang kenapa Lo takut gue kena gosip lagi"
"Salah satunya itu. Tapi ada alasan lain..." tambah Ify, memelankan suaranya hingga nyaris seperti bisikan. Ify mencondongkan kepalanya ke dekat Imelda. "Lo tau cewek cantik yang duduk di meja ujung sana Yang pake gaun warna hitam"
Imelda mengikuti arah yang ditunjuk Ify, dan mengangguk pelan saat matanya berhasil menangkap sosok cantik yang terlihat glamor dengan semua perhiasan dan barang mahal yang melekat di tubuhnya.
"Memang dia siapa, Fy"
"Anggun Damariva, dia pengusaha salon & spa ternama. Suaminya juga pengusaha properti sukses," jelas Ify, masih menatap ke arah wanita yang ditunjuknya tadi.
"Terus... apa hubungannya sama pengacara gue"
Ify menatap prihatin ke arah Imelda, seakan menyayangkan segala ketidaktahuan Imelda.
"Lo tuh ya! Sekali-sekali harus ikut acara kumpul gosip juga dong, jangan cuma bisa jadi bahan gosip doang..."
"Udahlah, Fy, nggak usah banyak omong deh. Lo bilang aja apa hubungannya dia sama pengacara gue" desak Imelda, semakin tidak sabar mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan Ify.
"Menurut gosip terbatas di kalangan elite, pengacara lo itu simpenannya Anggun," bisik Ify dramatis.
Mata Imelda membelalak lebar menyusul pernyataan Ify. Sesaat Imelda menatap Ify dengan pandangan kosong, seakan apa yang baru saja didengarnya membuatnya mendadak trans. Di tengah keterkejutan yang membuatnya mati rasa, Imelda mengalihkan pandangannya ke arah Anggun, yang sekarang sedang mengangkat gelas red wine.
Seakan menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya, Anggun membalas tatapan Imelda, lalu senyum mengembang di wajahnya. Senyum yang dirasa Imelda jauh dari kesan ramah.
"Mel, lo jangan ngeliatin dia kayak gitu. Entar ketahuan kita lagi ngomongin dia," tegur Ify pelan, berbisik ke telinga kiri Imelda.
Imelda mengerjapkan matanya, buru-buru melepas kontak mata dengan Anggun dan menunduk menatap steak salmon di depannya.
"Kenapa sih, Mel Lo kaget sama informasi yang baru lo dengar"
"Lo yakin, Fy, Anggun punya hubungan sama pengacara gue" Imelda balik bertanya dengan suara datar, seolah-olah itu bukan hal penting baginya. "Mungkin gosip yang lo denger tentang mereka salah, kali"
Imelda kembali menatap Ify, seakan berharap teman dekatnya mengatakan ia hanya mendugaduga, atau ia hanya mendengar itu semua dari mulut-mulut usil kalangan atas, atau apa pun yang menegaskan kabar itu diragukan kebenarannya.
"Tadinya gue nggak terlalu percaya, biasanya gosip yang beredar di kalangan elite kayak gitu cuma diembuskan untuk saling menjatuhkan, tapi beberapa hari yang lalu saat gue ada acara di sini, gue sempet lihat Anggun keluar bareng sama pengacara lo dari hotel ini. Pagi-pagi lagi! Itu yang bikin gue yakin gosip itu bener."
Tiba-tiba Imelda merasakan ada yang tidak beres pada dirinya. Apa yang baru saja didengarnya dari Ify membuat semua hal indah yang baru sebentar ia rasakan bagai fatamorgana yang sengaja diciptakan seseorang untuk memberikan kesenangan sesaat, namun menyimpan sesuatu yang begitu menyakitkan di baliknya.
"Mel, lo nggak apa-apa, kan" Ify kembali bertanya, melihat tingkah aneh Imelda. "Lo bener nggak punya hubungan apa-apa kan sama pengacara lo"
Imelda menggeleng dengan sigap, senyum canggung mengembang di wajah kakunya.
"Nggaklah, Fy. Mana mungkin gue punya hubungan sama orang kayak gitu," kata Imelda, seraya mengambil pisau dan garpunya untuk memotong salmon di depannya.
"Baguslah kalo begitu. Tadinya pas lihat gosip lo di infotainment, gue takut lo jadi sasaran dia selanjutnya. Ada kemungkinan dia mau cari pasangan yang seumuran dan juga menjanjikan dari segi finansial, setelah dia bosen sama Anggun yang lebih tua darinya."
Garpu di pegangan Imelda terjatuh, tanpa terasa air mata mengalir pelan di pipinya. Rasa sesak di dadanya begitu sulit disembunyikan. Ia tidak bisa lagi bersikap seolah baik-baik saja, karena kenyataan perasaannya jauh dari kata baik-baik saja.
"Mel, lo kenapa Lo sakit" Ify terkejut melihat perubahan Imelda.
"Iya nih, Fy... kayaknya gue harus pulang," kata Imelda lirih, sambil mengusap air matanya. "Lo bisa anterin gue balik ke apartemen kan, Fy"
"Oke, gue anterin lo pulang sekarang."
Imelda bangun dari kursinya, melangkah keluar ruang pesta. Sebisa mungkin ia bergerak pelan, agar tidak ada yang menyadari kepergiannya yang mendadak. Sebelum keluar Imelda sempat menjatuhkan pandangannya ke arah Anggun. Dadanya terasa makin sesak saat Anggun-entah sadar atau tidak dengan apa yang dirasakan Imelda-tersenyum sambil mendongak, senyum yang terkesan penuh kesombongan.
***
Dengan kecewa Damara meletakkan handphone di atas meja kerjanya. Untuk kesekian kalinya sejak tadi malam ia gagal menghubungi Imelda. Berkali-kali Damara mencoba menelepon Imelda, tapi Imelda tidak pernah menjawab. Sepuluh pesan yang dikirimkan Damara pun tidak mendapat balasan. Ini membuat Damara bingung, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Imelda, mengapa tiba-tiba Imelda seakan menghindar darinya.
Sekali lagi Damara meraih handphone-nya, berharap kali ini ia bisa berbicara dengan Imelda. Tapi sekali lagi ia harus kecewa. Damara terdiam, mulai tidak suka Imelda membuatnya seperti ini, tidak suka Imelda membuatnya khawatir.
"Mar... meeting!" panggil Debo, teman kerja Damara, seraya melongok ke ruang kerjanya dari pintu yang sengaja tidak ditutup.
"Iya, sebentar aku nyusul."
Damara menghela napas, menyerah sesaat untuk usahanya menghubungi Imelda. Walaupun sebenarnya yakin bahwa ia tidak akan bisa benar-benar berhenti memikirkan alasan Imelda tidak mau menjawab teleponnya.
***
Danu duduk di bangku kelasnya, menatap dengan bingung kotak persegi berwarna biru muda berpita putih. Untuk kedua kalinya Zevana memberikan hadiah tanpa alasan yang jelas. Dan yang paling membingungkan, secarik kertas yang menyertai kotak hadiah tersebut.
"Apaan tuh, Nu" tanya Andro sekembalinya dari kantin. "Ulang tahun lo belum dimajuin, kan"
Danu tidak menjawab. Andro duduk di samping Danu, menatap dengan penuh perhatian pada kotak biru muda di depannya.
"Kayaknya gue kenal nih sama kotak hadiah kayak gini," kata Andro sambil membolak-balik kotak tersebut. "Dari Zeva lagi ya"
Danu mengangguk lesu menjawab pertanyaan Andro. "Tadi gue ketemu Zeva di ruang OSIS, dia kasih ini ke gue."
"Wah, gila lo, Nu! Tuh cewek kayaknya beneran suka sama lo. Terus, dia ngomong apa pas kasih ini ke lo"
"Nggak ngomong apa-apa, dia cuma kasih ini sama gue." Danu menyodorkan secarik kertas yang langsung dibaca Andro.
"Wah, ini sih dia nembak lo, Nu..." komentar Andro selesai membacanya. "Terus lo mau jawab apa ke Zeva Lo terima, atau lo mau nolak dia"
"Itu yang bikin gue bingung, Ndro... Zeva itu sebenernya baik, cantik lagi, tapi gue nggak bisa terima dia."
"Emang kenapa sih Nggak ada salahnya nyoba jalanin dulu sama Zeva."
Danu mengusap wajahnya dengan lelah dan menghela napas berat, bertingkah seakan dilema yang sedang dialaminya merupakan masalah yang sangat berat.
"Gue sayang sama Anka, Ndro... Gue nggak bisa sama Zeva saat gue nggak bisa berhenti mikirin Anka."
"Nah... kejadian, kan Gue udah tahu bakal kayak gini ujungnya. Dari dulu tuh gue nggak pernah bisa percaya cewek sama cowok bisa sahabatan. Bener kan yang gue bilang"
Danu tidak membantah Andro kali ini. Ucapan Andro memang benar adanya. Sekuat apa pun Danu berusaha menekan semua perasaannya pada Anka, pada akhirnya segalanya terlalu sulit untuk disimpannya sendiri.
"Jadi sekarang gimana Lo mau bilang ke Anka kalo lo sebenernya suka sama dia"
Danu kembali menggeleng lesu, membuat Andro geregetan melihat tingkah sahabatnya ini.
"Yaaah... gimana sih"
"Anka kayaknya nggak suka sama gue, Ndro. Kayaknya dia nganggap gue sebatas sahabat doang," kata Danu datar. "Entahlah... Sekarang gue malah ngerasa Anka suka sama Kak Damara."
"Hah Lo tahu dari mana Anka suka sama Kak Damara"
"Ya... ketahuanlah dari sikap Anka ke Kak Damara. Cara dia ngelihatin Kak Damara, cara dia nurutin semua yang Kak Damara bilang..."
Andro diam, ada raut kebingungan di wajahnya. Sulit baginya memikirkan solusi masalah Danu, sebab ia sendiri belum pernah mengalami masalah seperti ini. Yang akan dilakukannya saat ada gadis cantik, baik, dan begitu perhatian, menyatakan rasa suka, tanpa pikir panjang pasti ia langsung menerimanya. Tapi untuk Danu, Andro tahu benar Danu selalu memiliki pemikiran istimewa dalam segala hal. Maka sebagai sahabat, kali ini ia hanya bisa berkata lirih, "Semua pasti ada penyelesaiannya, Nu..."
Andro mungkin tidak tahu apa yang benar-benar mengganggu pikiran Danu. Masalah dilema cinta masih bisa dianggap Danu sebagai hal yang tidak terlalu penting. Belakangan Danu sudah terbiasa mengindoktrinasi pikirannya dengan pernyataan bahwa ia masih terlalu muda untuk terlalu serius memikirkan perasaan cinta. Yang membuat Danu lebih tertekan adalah keadaan ayahnya di Bandung. Berbagai hal yang terjadi belakangan membuatnya tidak punya kesempatan menceritakan kabar ayahnya pada Damara. Lagi pula, Danu tidak cukup punya keberanian untuk mengungkapkannya. Kondisi ini membuatnya bingung. Sementara Danu di sini menimbang-nimbang berani atau tidak untuk bercerita pada Damara, mungkin di sana ayahnya tidak bisa menunggu lama hingga keberanian Danu muncul.
***
Siang ini jadwal sidang permohonan banding suami Imelda akan digelar. Damara sedikit bernapas lega. Setelah berhari-hari Imelda tidak menjawab teleponnya, hari ini ia akan kembali mendampingi Imelda di persidangan. Berarti akan berakhir pula hari-hari penuh pertanyaan dan kecemasan yang dilalui Damara.
"Apa! Imelda nggak bisa datang ke persidangan" tanya Damara dengan suara keras di telepon, saat manajer Imelda mengabarkan bahwa Imelda tidak bisa datang ke persidangan hari ini. "Kenapa dia nggak bisa hadir"
Manajer Imelda menjelaskan bahwa Imelda tidak datang karena merasa Damara sudah cukup mewakilinya. Saat Damara bertanya Imelda berada di mana, manajernya mengatakan bahwa Imelda ada di apartemennya dan tidak ingin diganggu siapa pun.
"Oke, terima kasih." Damara menutup teleponnya, terdiam sebentar. Ada yang aneh dengan Imelda. Mendadak ia seperti menarik diri, terutama dari Damara. Jelas ada sesuatu yang disembunyikan Imelda, yang membuatnya berubah begitu drastis.
Damara bertekad akan segera mencari tahu alasannya.
Selesai persidangan, yang tidak dihadiri Imelda dan mantan suaminya, Damara segera memacu mobilnya meluncur ke apartemen Imelda, tentu saja tanpa sepengetahuan wartawan infotainment yang tadi mengerubunginya. Ia tidak peduli ucapan manajer Imelda yang mengatakan bahwa Imelda sedang tidak ingin diganggu. Damara merasa perlu tahu mengapa Imelda menghindarinya, dan yang paling penting dari semuanya, ia amat merindukan Imelda.
***
Bunyi bel kembali terdengar dari luar pintu apartemen Imelda, kali ini disusul ketukan keras. Hampir lima menit Damara berusaha membuat Imelda membuka pintu, tapi Imelda hanya duduk diam di sofa dengan berbagai perasaan campur aduk saat Damara mencoba bicara padanya dari balik pintu.
"Aku tahu kamu di dalam, Mel... Aku mohon buka pintunya, kita perlu bicara. Aku harus tahu kenapa kamu menghindar dari aku."
Air mata Imelda menetes pelan. Apa yang membebani dirinya selama beberapa hari ini terasa lebih menyiksa saat orang yang membuatnya harus merasakan ini semua berada di dekatnya.
"Aku akan terus berdiri di sini sampai kamu membuka pintu, Mel." Suara Damara kembali terdengar.
Imelda tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ingin rasanya ia berjalan ke luar untuk sekadar menampar, memukul, atau melakukan apa pun yang bisa melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya pada Damara. Hanya saja ia tidak yakin akan sanggup melakukannya. Saat ia membuka pintu dan melihat wajah Damara, pasti ia akan menangis dan menunjukkan kelemahannya.
Menit demi menit berlalu. Berjam-jam dihabiskan Imelda dengan duduk terpaku di sofa. Imelda mengusap wajah sembapnya, bangun dari sofa, dan berjalan ke pintu apartemennya. Damara tampaknya sudah pergi. Dari lubang kecil di pintu Imelda sudah tidak melihat sosoknya. Pelanpelan, Imelda membuka pintu apartemennya dan terkejut saat mendapati Damara duduk di samping pintu apartemennya. Imelda segera menarik tangkai pintu, tapi tangan Damara lebih cekatan menahannya.
"Kita perlu bicara, Mel... Tolong kasih aku waktu," pinta Damara.
Melihat tangan Damara yang memerah menahan pintu agar tidak tertutup, Imelda menyerah. Ia melepaskan tangannya dari tangkai pintu. Damara terlihat lega saat Imelda menghentikan usahanya. Sekarang mereka berdiri di ambang pintu, terdiam, seakan masing-masing tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk memulai pembicaraan.
"Aku senang akhirnya kamu mau nemuin aku," Damara berkata pelan, seraya meraih tangan
Imelda. "Beberapa hari ini kamu sudah berhasil bikin aku seperti orang linglung..."
Imelda menarik lengannya dari pegangan Damara, membuat Damara tersentak.
"Aku terpaksa membiarkan pintu ini terbuka, karena nggak mau tangan terampil kamu terluka," kata Imelda dingin. Ia membalikkan badannya, seakan enggan bertatapan dengan Damara. "Lebih baik kamu segera pergi."
"Kamu kenapa sih, Mel Kenapa kamu berubah seperti ini"
Damara membalikkan tubuh Imelda menghadap ke arahnya, agar saat bicara bisa menatap ekspresi Imelda. Tapi Imelda memalingkan wajah, menunduk dan menghindari tatapan Damara.
"Aku belum mau bicara sama kamu, Mar... jadi tolong pergi..."
"Tapi kenapa Kalau aku memang punya kesalahan sama kamu, aku berhak tahu apa kesalahanku."
"Dan aku juga punya hak untuk tidak menjelaskan semua sikapku," tegas Imelda, tiba-tiba menantang dengan menatap tajam ke arah Damara. "Sekarang, cukup aku yang tahu alasannya, cukup aku yang tahu mengapa aku muak melihat kamu berada di sini, di depanku! Jadi kalau kamu masih punya sedikit empati, sekali lagi, tolong segera pergi."
Damara nyaris tidak bisa memercayai semua yang dikatakan Imelda padanya. Imelda yang di depannya sekarang berbeda dari Imelda yang dikenalnya. Imelda bukan lagi sosok wanita yang mencintai dan menyayanginya, sekarang Imelda berubah menjadi seseorang yang begitu membencinya.
Tanpa memberikan sedikit pun penjelasan tentang perubahan menyakitkan ini, Imelda mengusir Damara pergi dari apartemennya.
Ada banyak kemungkinan yang terpikirkan oleh Damara setelah menerima luapan kebencian dari Imelda, tapi baru membayangkannya saja Damara sudah merasa sakit kepala. Mungkinkah Imelda tahu hubungannya dengan Anggun Dari semua kemungkinan, hanya alasan ini yang paling jelas bisa membuat perubahan sikap Imelda. Andai dugaan Damara benar, entah akan seperti apa jadinya nanti... Damara tidak berani membayangkan lebih jauh.
Sebulan yang lalu, mungkin Damara tidak akan begitu peduli jika kliennya mengetahui kehidupan pribadinya, namun sekarang... saat ia telanjur memiliki perasaan istimewa pada Imelda, demi Tuhan... ia tidak ingin rahasia itu terungkap.
***
Malam harinya, Danu memberanikan diri mengetuk pintu kamar Damara. Sore tadi Danu sudah memutuskan akan mengatakan semuanya kepada kakaknya.
"Kak, bisa ganggu sebentar" tanya Danu setelah masuk dan melihat Damara sedang menghadap layar deskbook di meja kerjanya. "Ada yang mau Danu omongin sama Kakak." Tatapan Damara beralih dari layar deskbook-nya dan ganti menatap Danu yang berdiri di depannya.
"Memang mau ngomongin apa, Nu" tanya Damara pelan.
Danu tidak langsung bicara, sekali lagi ia memperhatikan ekspresi Damara. Kakaknya terlihat sangat lelah, wajahnya lusuh. Sepertinya malam ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan semua pada Damara, tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi masalah ini akan tersampaikan
"Kenapa malah diam Duduk, kalau memang kamu mau ngomong sama Kakak!"
Dengan patuh Danu duduk di kursi kecil di depan meja kerja Damara. Sekarang, saat sudah duduk berhadapan dengan Damara, tidak ada lagi alasan baginya untuk menunda-nunda lagi.
"Begini, Kak, saat Danu ke Bandung, di sana Danu ketemu sama Om Hari, temen sekantor Papa dulu..." Danu berhenti sebentar, menunggu perubahan ekspresi Damara. Ia kembali melanjutkan saat tidak melihat ekspresi yang berarti. "Waktu itu, Om Hari bilang ke Danu..."
"Dia bilang apa ke kamu"
"Dia bilang... Papa sakit, Kak. Papa kena stroke, dan sudah hampir dua minggu dirawat di rumah sakit."
Danu kembali mendongak menatap Damara, tadinya ia menyangka akan melihat kemarahan atau ketidaksukaan di wajah Damara. Nyatanya, wajah Damara hanya menunjukkan ekspresi datar yang sulit diartikan.
"Jadi kita harus gimana, Kak"
"Maksud kamu" Damara balik bertanya dengan nada tidak begitu peduli.
"Maksud Danu... kita harus gimana sama Papa"
"Kakak pernah bilang sama kamu, kan Kita sudah nggak punya siapa-siapa yang disebut keluarga setelah kita pindah ke Jakarta. Kita juga sepakat, anggap saja orang yang sudah menelantarkan kita untuk memilih kesenangan masing-masing, tidak pernah ada dalam kehidupan kita... Kamu masih ingat semuanya, kan"
Danu terdiam. Dia masih ingat jelas, dengan penuh kebencian ia sendiri mengatakan tidak akan pernah lagi menganggap ada ikatan darah dengan kedua orangtuanya. Tapi sekarang, saat rasa benci itu bertahun-tahun tersimpan rapi, ia bertanya-tanya, apa masih benar untuk kembali merasakan itu semua
"Papa sakit, Kak... Om Hari bilang sebagian badan Papa sudah nggak bisa bergerak lagi."
"Kalau begitu, biarkan saja keluarga barunya yang mengurus semua," kata Damara enteng, seraya membuka lembaran berkas kasus yang sedang dipelajarinya. "Kita sudah nggak punya urusan apa-apa sama dia. Mungkin dia juga nggak mau kita datang ke sana, atau bisa jadi dia juga sudah lupa sama dua anak laki-laki yang dia buang."
"Kak, Papa sekarang udah nggak punya keluarga!" sergah Danu, kesal dengan sikap Damara.
"Istri barunya pergi ninggalin Papa buat laki-laki lain saat usaha Papa bangkrut."
Damara mendengus pelan mendengar ucapan Danu. Senyum puas tergurat di wajahnya. Danu terperangah, untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi seperti ini di wajah kakaknya. Damara seperti menikmati rentetan kemalangan yang menimpa ayah mereka.
"Akhirnya orang itu menerima karmanya juga," kata Damara dingin. "Sekarang dia tahu bagaimana rasanya terbuang..."
"Kak! Bisa-bisanya Kakak bilang begitu!" Danu berdiri tegak di hadapan Damara, kemarahannya mulai menggelegak. Ia tidak menyangka Damara berkata begitu untuk orang yang pernah membesarkan mereka.
"Memang apa yang kamu harap akan Kakak katakan untuk dia Kakak akan cemas atau khawatir dengan kabar dia terkapar di rumah sakit sendirian! Atau kamu berharap kita akan pergi ke Bandung dan merawat dia! Mimpi kamu, Nu, kalau berharap Kakak melakukan itu!"
Damara bangun dari kursi kerjanya, berjalan menjauhi Danu, dan berhenti di sisi jendela kamarnya. Ia memandang ke halaman depan dengan tatapan kosong untuk beberapa saat.
"Kita sudah sepakat untuk tidak terkait dengan apa pun yang pernah kita tinggalkan di Bandung dulu, dan Kakak mau kamu pegang kesepakatan itu." Suara Damara kembali terdengar tegas. "Kakak nggak akan pernah kembali ke Bandung untuk menemui orang itu, dan Kakak juga melarang kamu menemuinya. Tidak peduli berita apa pun yang mungkin kamu dengar nanti."
"Tapi, Kak... Dia masih orangtua kita. Apa pun alasannya, kita harus ada saat dia butuh kita," kata Danu memelas.
Damara menggeleng tegas, membalikkan badan, dan berjalan kembali mendekati Danu. "Dia bukan orangtua kita lagi setelah dia menelantarkan kita! Ngerti kamu!" Mata Damara menatap tajam pada adiknya.
Danu menghela napas lelah, menggeleng pelan seakan tidak percaya kakaknya bisa begitu tak berperasaan.
"Danu nggak percaya Kakak bisa jadi orang kayak gini," kata Danu, sebelum berjalan keluar kamar Damara dengan marah.
Damara mengenyakkan dirinya di kursi yang tadi diduduki Danu, mengusap wajahnya dengan lelah. Danu boleh menganggapnya sebagai orang yang sangat kejam dan tak berperasaan. Danu bebas beranggapan apa saja, dan ia pun berhak untuk marah.
Toh bukan Danu yang harus bekerja begitu keras untuk menghidupi mereka, juga bukan Danu yang terpaksa melakukan pilihan melenceng dari garis lurus demi bertahan hidup.
Damara memiliki banyak alasan untuk membenarkan sikapnya pada lelaki itu. Ia tidak merasa kejam sama sekali. Karena orang yang menyebabkan ia harus menjalani kehidupan menyiksa nurani selama bertahun-tahun, bahkan hingga sekarang, dan orang yang membuat kehidupannya bagai sampah, jauh lebih kejam..
"Gue ngerti apa yang lo rasain, Nu," - Andro