Perhaps I had a miserable youth
But somewherein my wicked, miserable past
There must've been a moment of truth
For here you are, standing here, loving me
Whether or not you should
So, somewhere in my youth or childhood
I must have done something good
Nothing comes from nothing
Nothing ever could
So, somewhere in my youth or childhood I must have done something good.
Ini hari ulang tahun Niken. Tapi Niken sibuk mengepak pakaian dan barang-barangnya ke koper sambil marah-marah. Ada apa gerangan Oma pun tak kuasa menahan Niken untuk tidak pergi. Niken sudah membulatkan tekadnya untuk tinggal di rumah lamanya, yang memang tidak dijual karena biasanya disewakan. Tapi kebetulan sudah dua bulan ini tidak ada yang menempati. Kembali ke persoalan mengapa Niken marah. Pasalnya, Papa baru saja mengumumkan akan menikahi Tante Mia. Itu sama sekali tidak berarti menceraikan Mama. Jadi Tante Mia mulai hari ini bakal tinggal di rumah. Niken marah besar. Satu, ini semua terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada yang merencanakan Tante Mia bakal tinggal di rumah ini sampai hari kemarin. Kedua, waktu ditanya Tante Mia bakal tidur di kamar mana, Papa juga masih bingung. Jawabnya, mungkin di kamar Tasya. Apa-apaan Hal yang paling menjengkelkan, Papa tahu betul Niken benci
setengah mati sama Tante Mia. Apakah Papa nggak bisa cari hari lain yang lebih pantas untuk mengumumkan berita seperti ini, mengingat ini hari ulang tahunnya
"Fei Fei, ayolah jangan marah-marah begitu." bujuk mamanya. Oma masih menghalang-halangi di pintu dengan kursi rodanya.
"Ma, mama juga mestinya marah dong. Sejak kapan mama kehilangan semangat untuk mempertahankan keluarga ini Kenapa mama seperti menyerah begitu saja Apa sih istimewanya Tante Mia Biasanya yang Fei denger tu oom-oom serong sama cewek-cewek ABG, atau tante-tante yang lebih muda. Tante Mia cuma beda umur 2 tahun sama Mama. Malah Tante Mia tu keliatan lebih tua dari Mama. Fei benar-benar nggak mengerti." Niken masih mengomel sambil terus memindahkan barang-barangnya dari lemari ke koper. "Ceritanya panjang, Fei." Oma yang jawab. "Oma akan ceritakan semuanya kalau kamu berjanji untuk tinggal."
Niken berpikir sejenak sambil menatap omanya. "Oma, sebenarnya Fei nggak sungguh-sungguh ingin tahu. Fei sudah muak. Papa mau berbuat apa saja aku sudah nggak peduli lagi." katanya kemudian sambil terus mengepak pakaiannya ke dua buah kopernya.
"Fei, seandainya saja kamu anak laki-laki." keluh mamanya pelan.
Niken tersentak. "Memangnya kenapa, Ma" katanya, menghentikan proses memasukmasukkan barang-barangnya.
"Cerita singkatnya begini. Sesudah kamu lahir, mamamu sempat keguguran sekali. Sesudah itu dokter bilang, mamamu sudah tidak mungkin bisa punya anak lagi. Papamu kecewa sekali karena dia sangat menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan usahanya." kata Omanya menjelaskan. "Terus memangnya kenapa" tanya Niken lagi, mengulangi pertanyaannya. "Lalu Papamu jengkel, sering uring-uringan dan mulai jarang pulang. Ternyata dia diam-diam menikahi Tante Mia, karena yakin kalau terus terang sama Mama, Mama pasti tidak setuju. Kejadian ini sudah bertahun-tahun yang lalu. Kamu bahkan sudah punya adik laki-laki sekitar tiga tahun lebih muda, Fei." lanjut Mama. "Mama pun baru tahu sekitar lima tahun yang lalu, saat semuanya sudah terlambat." kata Mamanya menambahkan.
"Papa begitu pandai menyimpan kebusukannya." kata Niken geram. "Ayolah, Mama. Ikut aku pergi dari rumah ini. Rumah ini bakal terasa asing dengan adanya Tante Mia di sini."
"Nggak bisa begitu, Fei. Biar bagaimanapun Papamu itu suami Mama. Mama harus tetap tinggal di sini." kata Mama.
"Walaupun Papa sudah mengkhianati Mama seperti ini" tanya Niken. Mama mengangguk pelan.
Niken menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ma, tapi Fei Fei harus pergi. Rumah ini sudah bukan rumah Fei lagi. Kalau boleh, Fei untuk sementara ingin tinggal di rumah Jalan Kenanga. Boleh, Ma Kalau nggak boleh, Fei akan ke rumah Wulan."
"Fei, Mama butuh kamu di sini. Cuma kamu satu-satunya yang Mama miliki saat ini."
Niken lalu memeluk mamanya. Ini pelukan pertamanya setelah sekian lama. Niken sudah lupa kapan terakhir dipeluk atau memeluk mamanya. Mungkin waktu masih kecil dulu.
"Ma, Mama tahu sendiri Fei orangnya seperti apa. Setiap hari bisa bentrok sama Tante Mia kalau Fei di sini. Suasana bakal tambah kacau. Buat Fei Fei apalagi. Bentar lagi udah mau ujian. Fei harus pergi." jawab Niken mantap. "Baiklah. Kamu benar juga. Mama jadi ingat, rumah di Jalan Kenanga itu atas nama Mama. Nanti Mama akan ke notaris, menghibahkan rumah itu ke kamu. Mama takut kalau rumah itu bakal dipindahtangankan secara paksa ke Tante Mia sebagai cara Papamu untuk memaksamu pulang."
"Terserah mama. Pokoknya Fei butuh tempat tinggal sampai lulus SMA nanti. Dan Fei nggak mau tinggal di rumah ini."
"Pamit sama Papa dulu, Fei." saran Omanya sewaktu Niken sudah siap akan berangkat.
"Males ah." jawab Niken ogah-ogahan.
"Ayolah, Fei. Bilang saja nanti sesudah ujian kamu pulang kemari lagi. Nanti Mama yang jelaskan ke Papa, supaya Papa nggak marah sama kamu." bujuk Mama.
Dengan wajah cemberut, Niken akhirnya setuju untuk berpamitan dengan Papa. "Fei pergi dulu untuk sementara ya, Pa. Sampai kelar ujian nanti." "Baiklah," kata Papa mengijinkan. "Tante Mia koq nggak dipamitin" tanya Papa melihat Niken langsung nyelonong pergi.
Niken pura-pura tidak dengar, dan berjalan menuju garasi. Dibukanya bagasi mobilnya. Kedua koper besar-besar itu ditaruhnya di bagasi. Lalu cepat-cepat menstater mobilnya pergi.
Hari keenam festival akbar. Besok pemenang lomba selama festival akan diumumkan. Sore ini banyak sekali anak-anak di lapangan dan gedung kampus Universitas Diponegoro, mempersiapkan acara puncak besok. Kontingen dari masing-masing sekolah sibuk mendekor kendaraan bunganya masing-masing. Kampus universitas jadi bau wangi. Macam-macam bunga ada di situ. Jadi walaupun lelah, semua kelihatan bersemangat. Terutama Niken. Di hari ketiga, dia lolos ke babak praktek lomba kimia. Entah bagaimana nanti hasil akhirnya, tapi menurutnya sendiri sih lumayan. Pandu tidak berhasil lolos masuk final adu debat, tapi kelihatannya dia bakal sukses di lomba matematika tingkat SMA.
Keduanya sama-sama menjadi anggota pendekor kendaraan bunga buat pawai besok. Sayang sekali Niken tidak sempat melihat Pandu manggung saat lomba band kemarin lusa, karena bertepatan waktunya dengan babak praktek lomba kimianya. "Niken!!"
Niken menoleh mendengar ada yang memanggil namanya. Jimmy rupanya. Lari-lari dari jauh menghampirinya. Spontan Niken berdiri.
"Ada apa, Jimmy Koq kamu kayak dikejar-kejar setan begitu" tanya Niken. "Pucat sekali mukamu, Jim," kata Wulan yang duduk di sebelah Niken. Jimmy lalu menarik Niken agak menjauh dari kerumunan anak-anak. Pandu yang kebetulan melihat ikut mendekat.
"Niken, aku baru saja ditelepon Mama. Kompleks rumah kita di Kinanti diserbu massa demonstran. Mama sempat lari lewat belakang. Waktu lewat rumahmu, katanya rumahmu sudah dibakar massa. Mama pesan aku untuk memberitahu kamu untuk jangan pulang ke rumah." Jimmy memaksudkan rumah gedongan Niken yang memang satu kompleks dengan rumah tinggal Jimmy. Niken kaget sekali mendengar berita buruk Jimmy. Gunting yang dipegangnya jatuh ke tanah. Untung tidak mengenai kakinya.
"Sudah, gitu dulu yah. Aku diajak mengungsi ke Bali sama Mama. Aku mau ke airport ketemu Mama sekarang. Bye Niken." kata Jimmy lalu cepat-cepat lari. Niken masih terbengongbengong menatap Jimmy dari kejauhan. Galau sekali hatinya.
Lalu dia mulai berjalan menuju arah Jimmy lari.
"Hey, mau ke mana kamu, Fei" cegah Pandu sambil meraih lengan Niken. Langkah Niken terhenti. "Aku mau ke Kinanti, Ndu."
"Ngapain ke sana Jimmy spesial kemari bilang kamu jangan ke sana koq, kamu malah mau ke sana, gimana sih"
"Mama, Oma, Papa, semua ada di sana, Ndu. Aku harus ke sana." jawab Niken emosi.
"Trus kamu kalo ke sana lantas bisa apa, Fei Mau cari mati" balas Pandu ikutan emosi.
"Lalu bagaimana dong Aku nggak bisa diam saja di sini, kan!"
"Tunggu sampai keadaan tenang, nanti aku temani kamu ke sana. Gimana"
Pandu berusaha menyarankan.
"Nanti-nanti bisa terlambat." Niken masih ngotot.
"Kamu bahkan nggak tau apa mereka berhasil melarikan diri sebelum demonstran masuk. Kamu kan yang bilang sendiri Papa-Mamamu jarang di rumah Omamu mungkin sekarang sudah ada di Kudus. Kamu nggak tau kan Yang penting kamu tenang dulu. Kalo sudah tenang kan bisa berpikir jernih." Pandu belum selesai ngomong saat tiba-tiba saja mereka dikagetkan oleh suara tembakan. Spontan anak-anak yang berdiri termasuk Pandu dan Niken langsung tiarap di tanah. Suara tembakan itu terus dar-der-dor berkali-kali. Keras sekali. Pasti sumbernya tidak jauh dari sini. "Ada apa ini, Ndu" tanya Niken bingung. "Entahlah."
Sebentar kemudian mereka mendengar suara ibu-ibu, mungkin salah satu dosen di kampus itu, dari atas podium, "Anak-anak, lari semua, lari selamatkan diri masing-masing.!" Suaranya terhenti bersamaan dengan bunyi dor yang keras. Dikomando begitu, semua anak-anak di lapangan lari menuju pintu gerbang. Tapi ternyata justru massa demonstran ada di pintu gerbang, siap masuk ke arah dalam. Semua lalu lari terbirit-birit masuk kembali ke lapangan, tanpa tahu arah.
"Ayo Fei, ikut aku!" ajak Pandu sambil menggandeng tangan Niken.
Mereka lalu lari ke arah pintu gerbang parkir belakang, satu-satunya pintu keluar lain yang Pandu tahu, karena dia selalu masuk lewat situ dengan sepedanya.
Mereka sudah hampir sampai ke pintu gerbang saat mereka mendengar suara lantang yang menyuruh semua tiarap. Pandu dan Niken sama-sama tidak mempedulikannya.
Tiba-tiba lengan Niken dicekal dari samping.
"Mau lari ke mana, nona manis" Suara laki-laki bertubuh tegap yang membawa gobang itu sungguh sangat menyeramkan.
"Dia mau lari lewat pintu belakang." jawab Pandu dengan nada galak. Niken bingung menatap wajah Pandu. Pandu pura-pura tidak tahu Niken menatapnya. "Untung saya menangkapnya." lanjut Pandu lagi.
"Baiklah. Bawa dia ke bangsal utama tempat semua gadis-gadis." suruh laki-laki itu.
"Dia cantik, kamu beruntung sekali", kata laki-laki garang itu mengedipkan matanya ke arah Pandu.
Pandu lalu mencekal lengan Niken, balik kanan, lalu membawanya menuju ke bangsal.
"Apa-apaan, Ndu" bisik Niken.
"Sssh. Diam saja. Aku akan pikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kamu. Sepertinya aku aman di sini." kata Pandu.
"Hey, terus jalan, jangan berhenti." seru laki-laki itu galak melihat Pandu dan Niken berjalan pelan-pelan.
"Fei, di hitungan ke tiga, kamu lari ke arah pintu gerbang belakang itu. Kayaknya yang jaga cuma si galak itu. Aku pasti bisa lari dari sini. Percayalah." bisik Pandu.
"Kamu bermaksud ingin berkelahi dengan si galak itu, lebih baik jangan. Jangan nekad, Ndu. Apa yang membuat kamu mengira kamu bakal menang melawan dia" jawab Niken balas berbisik.
"Sudahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Lakukan saja apa yang aku bilang tadi. Kita nggak punya banyak waktu, dan nggak punya pilihan lain.
Oke" "Baiklah." "Satu, dua, tiga!"
Niken cepat-cepat balik kanan lalu lari menuju ke arah pintu gerbang. Pandu pelan-pelan lari, pura-pura mengejarnya. Di luar dugaannya, ternyata lumayan banyak penjaga di pintu gerbang belakang. Tidak cuma satu si galak itu.
"Berhenti!" teriak Pandu. Salah seorang penjaga menangkap Niken. Pandu lalu menghampirinya lagi.
"Terima kasih. Dia akan saya bawa ke bangsal sekarang." kata Pandu sambil membawa Niken kembali. Untung tidak ada yang curiga. Mereka pasti mengira Niken ingin melarikan diri dan Pandu mengejarnya.
"Fei, banyak sekali orang di sini. Rasanya kita nggak mungkin bisa lari dari tempat ini." bisik Pandu dengan nada kuatir setelah agak jauh dari pintu gerbang.
"Ndu, selamatkan saja dirimu. Pergi dari sini sebelum mereka tahu bahwa kamu bukan salah satu dari mereka. Jangan berusaha menyelamatkanku. Aku yakin aku bakal baik-baik saja." Niken balas berbisik. Baik Niken maupun Pandu tahu bahwa kata-kata Niken tadi sama sekali tidak berdasar pada kenyataan. Semakin dekat ke arah bangsal, suasana semakin terasa mencekam. Jeritan terdengar menggaung dari arah dalam bangsal. Hati Pandu terasa tersayatsayat mendengarnya, terutama memikirkan bahwa salah satu dari jeritan itu mungkin saja bakal keluar dari mulut Niken.
"Fei, aku akan tetap tinggal di sini. Akan aku pikirkan bagaimana cara menyelamatkanmu. Jangan putus harapan, ya." katanya sambil mengantar Niken masuk ke dalam bangsal.
Niken terpekik saat pintu bangsal terbuka. "Ndu, aku takut." bisiknya sambil menyembunyikan kepalanya di dada Pandu. Pandu merasa bersalah karena tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa. Dilihatnya sekeliling. Di bangsal kotor itu banyak baju-baju kotor berserakan, berlumuran darah. Banyak mayat gadis-gadis telanjang, sepertinya mereka habis diperkosa, lalu dibunuh. Ada banyak juga yang masih hidup, tapi melihat kondisi mereka, sepertinya mereka lebih memilih mati.
"Fei, aku nggak sanggup meninggalkan kamu di sini. Kita keluar sama-sama, atau mati samasama. Aku nggak akan keluar tanpa kamu." Niken masih tak bisa berkata apa-apa. Yang dilihatnya barusan adalah pemandangan yang paling mengerikan dalam sejarah hidupnya. Jauh melebihi adegan film-film horor sekalipun. Ini begitu nyata, begitu dekat di pelupuk mata.
"Aku ada akal. Ikut aku." kata Pandu tiba-tiba, sambil menarik lengan Niken untuk bergerak menjauhi tempat mengerikan itu. Niken yang kepalanya masih sempoyongan karena shock cuma bisa mengikuti Pandu yang menggandeng tangannya.
Sambil berjalan, Pandu berbisik menjelaskan, "Aku ingat waktu lomba debat, dari jendela ruang kelas yang dibuat debat aku bisa melihat jalan ke luar. Dan ruang kelas itu kalo nggak salah, nggak jauh dari bangsal ini. Kita mungkin bisa keluar lewat jendela. Ayo!" Setengah berlari, setengah berjingkat-jingkat, Niken mengikuti langkah Pandu. Mereka tak ingin gerak-gerik mereka terdengar siapapun, karena itu berarti "skak-mat".
"Sial! Ruangannya dikunci!" keluh Pandu saat sampai di depan ruang kelas itu. Dipukulnya daun pintu ruangan itu dengan kesal. "Minggir, Fei." katanya kemudian. Niken mundur selangkah.
Pandu berlutut, lalu membenturkan sikunya di kaca pintu bawah. Kaca gelas itu langsung berhamburan. Suara pecahnya kaca begitu keras, pasti menarik perhatian orang.
"Cepat masuk!" Pandu membantu Niken masuk lewat pintu kaca yang sekarang sudah pecah bagian bawahnya. "Lekas buka jendelanya" kata Pandu saat Niken sudah masuk ke dalam ruang kelas.
Pandu lalu masuk juga ke dalam ruang kelas itu, sementara Niken membuka jendela untuk keluar dari tempat berdarah itu.