Tok-tok-tok
Sebuah ketukan di pintu, dengan cepat kubuka pintu kamarku.
Aci itu kakekku
Mau menemani Aci berkuda sore ini
Aku mengangguk dan melupakan tujuanku untuk menghubungi Dante juga Eve.
***
Aku selalu berharap bisa memiliki kuda sungguhan, kuda milikku sendiri, aku sempat berlatih berkuda dulu, aku tak menyangka bahwa aku bisa berkuda dengan Aci. Kami ngobrol ringan sambil mengitari peternakan milik kakekku, rencananya, kakekku akan mengajakku berkuda hingga pantai.
Kuda itu milikku sekarang, namanya Freedom dan saudaranya, yang kutunggangi ini adalah Independent. Lama kami berdiam diri, tak tau harus bicara apa, hingga kakekku membuka suara lagi, aku merindukan mamamu, selalu, dulu aku sering berkuda dengannya, melewati jalanan ini, ketika dia masih gadis kecil hingga seusiamu, kumuhon Lala, jangan pergi, jangan tinggalkan kami seperti mamamu meninggalkan kami. Aku memandang ada kilau bening dimatanya yang berkaca-kaca, ingin kuhapus dengan janji tapi aku tak yakin apakah bisa kuberjanji, aku hanya tersenyum tipis tanpa bisa memberikan makna pada senyumku itu., tapi tiba-tiba Freedom membuatku tersentak dia berlari kencang dan aku tak bisa mengendalikannya, samar-samar kudengar teriakan kakekku, aku dihinggapi serangan panik, jantungku berdegup kencang, keringan dingin bercucuran dan nafasku memburu, oh Tuhanaku tak ingin hal yang buruk terjadi, aku merasa terkejut dan takut ketika aku merasa tubuhku melayang, jatuh dari kuda dan menghantam pada pohon dan terhempas ke tanah, aku merasa lelah tak berdaya, aku tau aku pasti mengalami luka dan memar, seseorang mengulurkan tangannya padaku, kusambut uluran tangannya dan mencoba untuk berdiri, oh sudahlah Ghieangkat bokongmu, kibaskan, dan berdiri, kamu gadis kuat aku mencoba menyemangati diriku sendiri, tapi diotakku kembali memutar kebodohan-kebodohan yang kulakukan untuk mengatasi sedihku, memuntahkan makananku, memaki diriku di depan cermin hingga melukai diriku sendiri, betapa lemahnya aku, betapa menyedihkannya aku, apakah ini saat yang tepat untuk membuang jauh-jauh Ghie yang lama dan menjadi Lala, putri yang kuat seperti yang diinginkan kakek dan nenekku Tidak ada kata terlambat untuk berubah, namun aku ragu apakah aku sanggup dan meninggalkan Ghie yang lama, Ghie yang berarti kesedihan dan hidup suramnya, lalu berpura-pura hingga terbiasa menjadi Lala, sampai kapanpun aku adalah Ghie, Lala, hanya panggilan sayang yang berarti Putri, aku bukan sang Putri sejati, aku cuma, seseorang yang.
Hey seorang cowok menggerak-gerakkan tangannya di hadapanku, mencoba mengetahui apakah aku sadar atau mungkin menurutnya apakah aku terkena geger otak. Berapa ini dia menekuk jempol dan kelingkingnya.
Tiga jawabku pelan, Terima kasih aku bersiap-siap mendekati Freedom lagi, aku harus mengelus-elusnya agar ia lebih tenang, mungkin ia hanya gugup bertemu orang baru, sama sepertiku, kupikir kuda bisa sama berperasaannya seperti manusia.
Lala Briegitha mau tak mau aku harus mendongak dan menatap wajah orang yang mencoba untuk berbicara denganku, mungkin aku perlu berbasa-basi, sepertinya terima kasih belumlah cukup, kupikir wajah ini familiar, ataukah tampangnya yang memang pasaran, mungkin dia orang yang sering kulihat di televisi entah anggota Boyband atau pemain sinetron, tapi sadarlah Ghieini Tana Bulaeng!
Hey boleh aku mengantarmu pulang, aku yakin, kudamu perlu lebih dijinakkan lagi, aku lebih memahami kuda daripadamu, anak kota dia berkata lagi, ada nada mengejek dalam katakatanya, kupandang wajahnya, bila dia menyebutku anak kota, lalu dia siapaTana Bulaeng memang bukan desa, tapi yeah cuma Kabupaten kecil yang yeah terlalu kaya, tapi entahlah cowok ini, bertampang terlalu kota, mungkin karena wajah blasterannya.Gavner dia memperkenalkan dirinya, namanya juga bukan produksi lokal, Suka atau tak suka aku akan mengantarkanmu pulang, itu yang dilakukan pria sejati, memastikan seorang gadis sampai di rumah dengan selamat.
Terima kasih Gavner, tapi aku bisa pulang sendiri. Aku mendengar derap langkah kuda, kakekku, setelah berada di dekat kami, dia buru-buru turun dari kudanya.
Dea Gavner menyapa kakekku dengan panggilan kebangsawanannya, Dea adalah gelar kebangsawanan.
Lalu Gavner, terima kasih Wow aku baru tau bahwa dia juga keturunan bangsawan, Lalu adalah sebutan untuk putra bangsawan, sama seperti Lala,hanya saja Lala digunakan untu perempuan.
Kupikir takdir mulai lagi memberiku kisah baru, dan Gavner adalah orang baru yang dimasukkan dalam hidupku, entah untuk kisah yang bagaimana, tapi yang kurasa aku dan dia memiliki kesamaan, ada perasaan senasib ketika kupandang mata sendunya dan ketika kutatap matanya, aku merasa seperti menatap kesedihan yang juga ada di mataku, aku merasa berkaca, dan sentuhan tangannya ketika dia membantuku untuk menaiki kudaku seolah adalah pertanda untukku memulai hal yang baru, sekilas bayangan Dante berputar di otakku, tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengingat Dante, kali terakhir saat kurasa aku mencintainya mamaku tak menyetujuinya, apakah aku harus mengingatnya, ataukah boleh buatku untuk lupa padanya sejenak, dan mencoba mengikuti kisah yang diinginkan takdir untuk kujalani kupikir ini terlalu cepat untuk menjadikan sebuah kebetulan adalah bagian dari nasib untuk dijalani, tapi kadang aku percaya bahwa firasatku mampu memberikan gambaran-gambaran masa depan untukku.