MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 18
Bapa,

berilah aku sekadar tempat lain

cuaca lain, juga waktu yang lain

untuk menangis.

Duduk di tepi sebuah kolam

kulihat ikan-ikan riang berkejaran,

dan aku berkata:

inilah dunia, inilah dunia.

Lalu di tepi lain dekat kolam yang sama

kudapati pula bangkai seekor ajak

dengan tulang pipi yang menonjol karena lapar

serta perut yang digembungkan ajal.

Maka sekali lagi kukatakan:

inilah dunia, inilah dunia.

Pada kali berbeda kusaksikan

seorang fakir tua

dengan raut serupa lautan berkabut

gelambir besar melendot di bawah dagunya,

hidungnya melesak, dan kantung matanya senantiasa

mengesankan kedatangan petaka

tiba-tiba teduh kedua alisnya, merah pipinya,

dan memancarkan seluruh cinta yang tersisa

dalam dirinya dan seisi dunia

ke arah sepasang kekasih yang berjalan

dengan tangan saling menggenggam

dan berbicara dalam nada rendah

di kejauhan.

Tetapi mungkin fakir itu tak pernah tahu

apa yang kemudian kuketahui:

bahwa jari-jari yang saling menghimpit itu

telah lama biru warnanya, dengan rasa sakit

yang telanjur menjalar hingga ke bahu.

Sementara kata-kata yang mereka ucapkan

bisa melakukan apa saja

kecuali mencegah keduanya

untuk terus berpura-pura.

Bapa,

berilah aku sekadar tempat lain

cuaca lain, juga waktu yang lain

untuk menangis.

/2013