berilah aku sekadar tempat lain
cuaca lain, juga waktu yang lain
untuk menangis.
Duduk di tepi sebuah kolam
kulihat ikan-ikan riang berkejaran,
dan aku berkata:
inilah dunia, inilah dunia.
Lalu di tepi lain dekat kolam yang sama
kudapati pula bangkai seekor ajak
dengan tulang pipi yang menonjol karena lapar
serta perut yang digembungkan ajal.
Maka sekali lagi kukatakan:
inilah dunia, inilah dunia.
Pada kali berbeda kusaksikan
seorang fakir tua
dengan raut serupa lautan berkabut
gelambir besar melendot di bawah dagunya,
hidungnya melesak, dan kantung matanya senantiasa
mengesankan kedatangan petaka
tiba-tiba teduh kedua alisnya, merah pipinya,
dan memancarkan seluruh cinta yang tersisa
dalam dirinya dan seisi dunia
ke arah sepasang kekasih yang berjalan
dengan tangan saling menggenggam
dan berbicara dalam nada rendah
di kejauhan.
Tetapi mungkin fakir itu tak pernah tahu
apa yang kemudian kuketahui:
bahwa jari-jari yang saling menghimpit itu
telah lama biru warnanya, dengan rasa sakit
yang telanjur menjalar hingga ke bahu.
Sementara kata-kata yang mereka ucapkan
bisa melakukan apa saja
kecuali mencegah keduanya
untuk terus berpura-pura.
Bapa,
berilah aku sekadar tempat lain
cuaca lain, juga waktu yang lain
untuk menangis.
/2013