KEPULANGAN KELIMA - 18
"Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh" (Gadis Pantai. hal. 269)

Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah

Pulang ke teduh matamu

Berenang di kolam yang kau beri nama rindu

Aku, ingin kembali

Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman Memetik

tomat di belakang rumah nenek.

Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku,

Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur

Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi

Aku ingin kembali ke rumah, Ayah

Tapi nasib memanggilku

Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi

Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata

Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya

Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah

Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada

Maka aku menungganginya

Maka aku menungganginya

Menyusuri hutan-hutan jati

Melihat rumput-rumput yang terbakar di bawahnya

Menyaksikan sepur-sepur yang batuk membelah tanah Jawa

Arwah-arwah pekerja bergentayangan menuju ibu kota,

Mencipta banjir dari genangan air mata

Arwah-arwah buruh menggiring hujan air mata,

ata mereka menyeret banjir

Kota yang tua telah lelah menggigil, sudah lupa bagaimana bermimpi

dan bangun pagi

Hujan ingin bercerai dengan banjir

Tapi kota yang pikun membuatnya bagai cinta sejati dua anak manusia

Aku tak bisa pulang lagi, Ayah,

kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya

Orang-orang datang ke pasar malam, satu persatu, seperti katamu

Berjudi dengan nasib, menunggu peruntungan menjadi kaya raya

Tapi seperti rambu lalu lintas yang setia,

sedih dan derita selalu berpelukan dengan setia

Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di

pelananya