"Thanks, Ka." Danu mengambilnya dari tangan Anka, namun tidak langsung memakannya.
Danu terlihat lesu pagi ini, dan Anka tahu apa penyebabnya. Semalam suara keras Danu sedang berdebat dengan kakaknya terdengar jelas dari kamar Anka.
"Makan dulu, Nu," kata Anka lagi, mengingatkan Danu yang sedari tadi hanya terdiam. "Tuh, gue udah minta sama Pak Naryo supaya banyakin kejunya, lo suka banget keju, kan"
Danu tersenyum kaku, sambil mulai membuka bungkusan roti bakar yang hampir dingin di pegangannya. Dengan gerakan lemah, memasukkan satu gigitan ke mulutnya.
"Kejunya kebanyakan, jadi asin..." komentar Danu seraya mengunyah roti bakarnya. "Lo minta Pak Naryo nambahin garam juga ya"
"Sialan lo!" kata Anka mendorong bahu Danu.
"Abis rasanya aneh, kayak oralit, manis campur asin."
Akhirnya setelah beberapa hari tidak melihat Danu tertawa, Anka kembali bisa menikmati tawa yang dulu sering menjadi penghiburnya. Sepertinya sekarang Danu sedang menghadapi masamasa sulitnya. Banyak hal yang mengganggu pikirannya.
Anka sangat mengerti kalau beberapa hari belakangan ini Danu tidak seperti Danu yang biasa ia kenal. Tapi lagi-lagi ia hanya bisa menunjukkan keprihatinan untuk Danu, tidak bisa memberikan solusi atau bahkan sekadar saran. Karena Anka merasa tidak punya kepentingan mencampuri urusan yang dinilainya begitu pribadi baik bagi Danu maupun Damara.
Bagi Anka, mungkin dengan berada di dekat Danu untuk sekadar memberikan semangat seperti yang dulu selalu dilakukan Danu untuknya, adalah pilihan terbaik yang bisa ia lakukan. Ada untuk Danu sebagai teman, bukan untuk memberikan solusi tapi lebih sebagai tempat untuk berbagi. Andai saja bisa, hal yang sama sebenarnya ingin juga dilakukan Anka untuk Damara.
***
Damara membaringkan tubuh lelahnya di sofa ruang kerjanya, memejamkan mata dan berusaha membuat rasa sakit di kepalanya reda. Semalam Damara sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Pertengkarannya dengan Danu tentang orang yang tidak lagi ingin dianggapnya sebagai orangtua membuatnya memikirkan banyak hal. Begitu banyaknya sampaisampai ia merasa kepalanya penuh dan itu menekan saraf-sarafnya, menjadikan tiap masalah terasa begitu menyakitkan untuk dipikirkan.
Damara akhirnya membuka mata yang sulit dibuat terlelap padahal ia ingin sekali.
Pandangannya jatuh ke handphone di atas meja depan sofa, andai saja ia bisa menelepon seseorang sekadar menceritakan apa yang dirasakannya, sekadar meringankan beban dan berbagi dengan seseorang. Tapi dengan siapa Andai saja seseorang itu ada... Damara kembali memejamkan mata.
Sosok Imelda langsung terlintas di benak Damara. Kalau saja Imelda masih ada untuknya, pasti tidak terasa seberat ini. Kalau saja Imelda menjelaskan semuanya, dan tidak membiarkan ia terus bertanya "mengapa" pasti akan terasa lebih baik.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruang kerja Damara, tanpa menunggu jawaban, Cakka, rekan kerja Damara, masuk dan menghampiri Damara yang masih terbaring di sofa.
"Kamu kenapa, Mar Sakit" tanya Cakka.
"Nggak... cuma kurang tidur aja," jawab Damara, tanpa membuka matanya.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, Mar," kata Cakka sambil duduk di kursi kecil yang ditariknya dari depan meja kerja Damara.
Damara membuka matanya dan mencoba mendudukkan dirinya. Ia kembali mengernyit saat rasa sakit kembali menusuk kepalanya.
"Mau ngomong soal apa, Kka"
"Soal Imelda," jawab Cakka singkat.
"Imelda!" Mata Damara melebar saat mendengar nama Imelda disebut. "Ada apa sama Imelda"
"Tadi manajer Imelda telepon, katanya Imelda minta kasus naik banding perceraiannya nggak dipegang sama kamu lagi. Dia minta pengacara pengganti," jelas Cakka.
Damara terdiam. Ada apa lagi ini Setelah Imelda tidak menemuinya, sekarang tidak mau lanjutan kasusnya ditangani oleh Damara lagi. Sebesar itukah ketidaksukaan Imelda padanya
"Kalau begitu, kasih aja dia pengacara pengganti," kata Damara dingin. "Kalau memang dia nggak mau aku jadi pengacaranya lagi, ya sudah. Kita kasih apa yang dia mau. Tapi sebelum aku nyerahin kasusnya ke orang lain, aku harus ketemu sama klien yang bersangkutan. Tolong bilangin, Kka, aku mau ketemu mereka dulu. Dan pastikan satu hal, Imelda harus ada, bukan cuma manajernya!"
Cakka mendongak menatap Damara yang berdiri marah di depannya, heran mengapa Damara menjadi semarah itu.
"Sebenarnya, ada apa sih kamu sama Imelda Aku nggak ngerti! Kemarin kerja sama kalian masih oke, tapi tiba-tiba sekarang jadi kayak gini. Kenapa sih, Mar"
"Kamu nggak bakal ngerti, Kka... Sekarang bilang aja ke mereka, aku mau ketemu sama Imelda sore ini," tegas Damara.
***
Damara duduk di depan Imelda dan manajernya, di kafe milik Rio. Entah cara apa yang dilakukan Cakka hingga berhasil mendatangkan Imelda ke kafe untuk menemui Damara. Terserahlah, Damara tidak begitu memusingkannya. Yang penting sekarang Imelda sudah duduk di depannya.
Damara lebih banyak diam, hanya lebih sering berusaha menatap mata Imelda yang disembunyikannya di balik kacamata besar berwarna gelap.
"Kita di sini bukan hanya untuk minum kopi dan diam, kan" kata Imelda setelah hampir setengah jam tidak ada yang bersuara. "Atasan Anda bilang, Anda ingin menemui saya sebelum semua berkas hukum saya beralih pada pengacara pengganti. Kalau Anda hendak mendiskusikan sesuatu, lakukanlah dengan cepat. Saya tidak punya banyak waktu."
Imelda kembali menunjukkan keangkuhannya di depan Damara, seperti awal mereka berkenalan. Tapi keangkuhan Imelda kali ini dirasa Damara gak keterlaluan, bahkan manajer Imelda pun dibuat tercengang dengan sikap Imelda. Kata "Anda" yang dulu terdengar biasa saja, kini terdengar begitu getir di telinga Damara.
"Oke, kalau memang Anda tidak punya banyak waktu..." Damara memaksimalkan kesabarannya, "saya hanya ingin bertanya, apa alasan Anda meminta pengacara pengganti Padahal kasus perceraian Anda sudah sejak awal saya tangani."
"Jawabannya simpel, saya hanya ingin kasus saya ditangani orang yang kompeten," jawab Imelda santai.
"Maksud Anda, saya tidak kompeten dalam menangani kasus Anda selama ini" sergah Damara, tidak percaya alasan yang dikemukakan Imelda.
"Mungkin penilaian kita tentang itu berbeda... Saya hanya mau kasus saya ditangani pengacara yang memiliki reputasi baik, yang tidak punya catatan hitam sama sekali. Dengan kata lain, pengacara yang bermoral baik!"
Damara terperangah dan langsung menatap Imelda dengan tajam. Ingin sekali Damara mencopot kacamata yang dipakai Imelda agar ia bisa melihat sorot mata Imelda. Jika dugaannya benar tentang alasan Imelda ini, pasti alasan yang sama pula yang menjelaskan semua perubahan sikap Imelda. Damara ingin meyakinkan diri dan mengetahui kejujuran Imelda lewat sorot matanya.
"Oke, saya rasa semuanya sudah cukup jelas. Besok saya mau pengacara pengganti yang datang ke pengadilan menemani saya... Permisi." Tanpa memberikan kesempatan pada Damara untuk bertanya, Imelda mengajak manajernya meninggalkan meja kafe.
"Bisa saya minta waktu Anda sebentar Saya ingin kita bicara berdua sebelum Anda pergi," pinta Damara, sebagai usaha terakhir untuk mendapat jawaban yang pasti.
Imelda berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya, kembali menghadap pada Damara.
"Kalau begitu Mbak jalan duluan ke mobil," kata manajer Imelda, sebelum berjalan meninggalkan Imelda keluar kafe.
Dengan ekspresi enggan harus kembali menghadapi Damara, Imelda duduk di kursi yang tadi didudukinya. Berusaha santai ddengan menyilangkan kedua tangan halusnya di atas meja.
"Apa lagi yang mau Anda bicarakan" tanya Imelda datar.
Damara tidak langsung membeberkan semua pertanyaan yang menjejali otaknya, terlalu takut dengan jawaban Imelda, takut kalau dugaannya selama ini benar adanya.
"Mau nanya kenapa aku menghindar dari kamu" Imelda mendului Damara. "Itu kan yang mau kamu tanyakan" katanya, kembali ber-aku-kamu.
Damara mengangguk membenarkan. Ia tidak tahu apa yang sedang merasuki Imelda sekarang. Yang jelas, semua hal yang dilakukan Imelda dan semua yang telah dan akan dikatakan Imelda selanjutnya membuat nyali Damara menciut.
"Ya, aku memang ingin tahu alasan perubahan sikap kamu ke aku."
Senyum sinis tiba-tiba mengembang di wajah Imelda.
"Oke, memang tidak ada gunanya menunda terlalu lama... Aku juga ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan selama beberapa hari ini."
"Kamu bisa segera mengatakannya," kata Damara tenang di tengah rasa gelisahnya.
"Rasa sakit di sini yang membuat segalanya harus berubah," kata Imelda seraya menyentuh dadanya dengan sebelah tangannya. "Rasa sakit karena kecewa, marah, dan sedih saat menghadapi kenyataan bahwa seseorang yang menyatakan ketulusan cintanya ternyata tak lebih dari pembohong."
Imelda melepaskan kacamata yang ternyata digunakan untuk menutupi mata sembapnya, lalu menatap Damara dalam-dalam. Damara membatu, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakannya saat semua yang ditakutinya bergerak menjadi nyata.
"Menyakitkan ketika aku tahu siapa kamu sebenarnya dan siapa Anggun Damariva. Tapi yang lebih menyakitkan, saat aku harus memikirkan bahwa ketulusan kamu hanyalah cara mendapatkan mangsa lain setelah bosan dengan Anggun!"
Damara menggeleng pucat. "Kamu salah, Mel... Aku nggak pernah punya niat sejahat itu pada kamu, selama ini aku..."
Imelda mengangkat tangannya, menghentikan semua penjelasan yang hendak keluar dari mulut Damara, ia tidak ingin mendengarnya lagi.
Damara frustasi, ia ingin meluruskan semua anggapan yang melenceng di pikiran Imelda, ia ingin Imelda mengerti yang sebenarnya.
"Di sini aku hanya mau memberi penjelasan, bukan mau mendengar pembelaan... Kalau kamu mengira aku bisa dijadikan pengganti Anggun Damariva atau entah siapa lagi wanita pelanggan kamu, kamu salah! Mulai detik ini aku nggak mau lagi berhubungan dengan laki-laki yang rela menukar hati dan tubuhnya dengan uang!"
Imelda bangun dari kursinya dan memakai kembali kacamatanya sebelum pergi meninggalkan Damara. Pengacara itu terdiam seperti baru saja dihantam badai yang tidak mencederai tubuhnya tapi melukai hatinya.
Damara tidak menyangka akan seperti ini akhirnya. Hal yang paling ditakutkannya saat mencintai seseorang akhirnya terjadi juga. Saat ia begitu bahagia merasakan cinta yang sesungguhnya, ternyata cinta itu harus pergi dengan cara yang menyakitkan. Andai dulu ia tidak mengikuti kata hatinya dan tidak membiarkan rasa cintanya pada Imelda terus membuai, tentu kenyataan ini tidak akan begitu melukai.
Sekarang, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki semuanya Tidak ada.
***
Untuk kesekian kalinya Anka melihat jam dinding di ruang tengah, sudah hampir jam sepuluh malam, tapi baik Danu maupun Damara belum pulang juga. Ini di luar kebiasaan, terutama Danu. Selama ini ia tidak pernah meninggalkan rumah sampai selarut ini. Anka sudah berkalikali mencoba menghubungi Danu, tapi handphone-nya tidak aktif. Begini rupanya kalau dua laki-laki bersaudara sedang bertengkar, masing-masing enggan untuk bertemu. Bagus juga sih, mencegah terjadinya pertengkaran lanjutan yang akan memperburuk masalah, tapi tidak bagus bagi orang yang mengkhawatirkan keadaan mereka, orang yang bertanya-tanya di mana mereka sekarang.
Duduk, berdiri, menyalakan TV, mematikannya lagi, sudah bosan dilakukan Anka selama menunggu Danu dan Damara kembali. Anka sadar sepenuhnya ia tidak perlu mengkhawatirkan keduanya, sebab baik Danu maupun Damara sudah cukup dewasa untuk menerima kekhawatiran berlebihan. Danu mungkin menginap di rumah Andro, Damara mungkin tidur di kantornya karena harus menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam. Tapi bagaimanapun, Anka tetap mencemaskan keduanya. Ia sudah mencoba tidur, tapi hasilnya ia tidak henti-henti melihat ke arah jam dinding dan jendela.
Hampir jam dua belas malam saat Anka mendengar suara mobil masuk ke garasi rumah. Anka segera keluar dari kamarnya dan menyalakan lampu ruang tengah.
Saat Anka melihat ke luar lewat jendela, Damara terlihat berjalan agak limbung menuju pintu depan. Sepertinya Damara setengah sadar, ini semakin jelas terlihat saat Damara mendorong pintu tubuhnya langsung terhuyung hingga ia harus memegang tembok agar tetap bisa berdiri.
Anka mulai merasa ada yang tidak beres dan segera menghampiri Damara.
"Kak Damara... Kakak kenapa"
Damara mendongak menatap Anka, senyum kecil tersungging dengan aneh di wajah lusuhnya.
"Anka... kamu belum tidur" tanya Damara dengan suara dalam yang aneh.
"Saya terbangun denger suara mobil Kak Damara," jawab Anka sedikit berbohong, matanya terus menatap khawatir pada Damara yang sepertinya untuk berdiri tegak saja kesulitan.
Damara mengangguk sekenanya, dan berusaha melanjutkan langkah limbungnya. Namun baru berapa langkah saja gerakan tubuhnya sudah tidak bisa terkontrol. Cepat-cepat Anka memegang lengan Damara, mencegah agar Damara tidak terjatuh.
"Saya bantu ya, Kak."
Anka memapah tubuh Damara yang samar-samar tercium bau alkohol dan mendudukkannya di sofa ruang tengah.
"Sebentar, saya ambilkan air hangat untuk Kakak."
"Terima kasih, Ka... Maaf membuat kamu repot," kata Damara parau.
Anka mengangguk pelan, lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan segelas teh manis hangat yang mungkin bisa membuat Damara merasa lebih baik. Banyak alasan yang membuat Damara pulang dalam keadaan mabuk begini, pertengkarannya dengan Danu pasti salah satu di antaranya.
Saat Anka kembali ke ruang tengah dengan segelas teh hangat, Damara sudah tertidur, kepalanya terkulai lemas di lengan sofa. Anka meletakkan gelas teh yang dibawanya di atas meja, lalu mendudukkan dirinya di lantai, tepat di depan sofa yang ditiduri Damara.
Belum pernah Anka menatap Damara selekat dan sedekat ini. Ada rasa aneh yang dirasakan
Anka, jantungnya seperti berdetak tak keruan membuat perasaannya campur aduk. Wajah Damara menyiratkan begitu banyak kepedihan yang disembunyikan di balik ketegaran yang selama ini ditampilkannya. Anka sangat mengenali raut wajah seperti itu, karena sudah berbulan-bulan ia melihatnya di pantulan cermin. Dan benar dugaan Anka, tak berapa lama ia melihat setitik air mata mengalir pelan dari mata terpejam Damara.
Anka menggerakkan tangannya mendekati wajah Damara, agak ragu menyeka lembut air mata yang mengalir ke pipi Damara. Apa yang dialami Damara pasti bukan hal sepele hingga membuatnya terpuruk seperti ini. Damara pasti kelewat sedih sampai-sampai saat ia tidak sadar pun kesedihan itu tetap bisa dirasakannya.
Sekali lagi Anka menyentuh wajah Damara. Seolah-olah dengan sentuhan itu ia bisa merasakan kesedihan yang sekarang sedang dirasakan Damara. Andai saja ia bisa selalu ada seperti sekarang ini setiap kali Damara merasa sedih, pasti ia akan sangat bahagia dan merasa berharga. Seperti memuaskan dahaga atas perasaan anehnya pada Damara yang entah sejak kapan hadir, dan pelan-pelan semakin terasa nyata. Perasaan yang baru kali ini dirasakan Anka.
Sementara Anka membiarkan perasaan anehnya menemukan aliran yang tepat malam ini, Danu berdiri beberapa meter di depan Anka, di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup. Terdiam saat melihat apa yang ditakutkannya selama ini menjadi begitu nyata.