NIKEN DAN PANDU - 19
Jantung mereka berdebar kencang karena mereka dapat mendengar dengan jelas ada suara langkah kaki yang semakin lama semakin keras.

"Loncat, Fei! Keluar! Sekarang!" kata Pandu sambil setengah mengangkat tubuh Niken, membantunya untuk memanjat keluar dari jendela.

Akhirnya Niken berhasil menjejakkan kembali kakinya ke tanah, di luar kelas.

Dari kaca jendela dia bisa melihat sesosok bayangan yang menuju ke arah kelas.

"Awas, Ndu! Ayo cepat!" buru Niken sambil menggapai-gapaikan tangannya ke arah Pandu.

"Lari Fei, pergi ke rumahku. Di sana kamu aman. Aku temui kamu di rumah. Bilang ibu untuk jangan kuatir." kata Pandu.

Niken cepat-cepat lari. Semenit kemudian dia dikagetkan oleh suara tembakan. Datangnya dari arah ruang kelas. Langkah larinya terhenti. Tapi kemudian dia lari lagi karena melihat ada orang yang keluar dari jendela kelas, siap untuk mengejarnya. Kebetulan Niken menemukan sepeda yang tergeletak di tengah jalan. Diraihnya sepeda itu cepat-cepat, lalu dikayuhnya sekuat tenaga.

Sesampainya di rumah Pandu, Niken mengetuk-ngetuk pintu pagar dengan tidak sabar.

Ibu Pandu yang membuka pintu.

"Oh Niken, ayo masuk. Pandu tidak ada di rumah..." katanya sambil membuka pintu.

"Niken tahu. Niken baru saja bersama Pandu." jawab Niken. Nafasnya masih tak teratur.

Jantungnya masih berdegup dengan kencang. "Ibu nggak dengar ada ramai-ramai di kampus

Undip" "Masya Allah. Kamu nggak apa-apa, Niken" tanya Ibu Pandu. "Pandu yang menolong saya keluar. Katanya saya disuruh kemari, karena saya lebih aman di sini. Dia juga menyuruh saya untuk menyampaikan ke ibu untuk jangan kuatir. Tapi saya pun nggak tahu apakah Pandu bisa selamat apa nggak. Mestinya saya nggak menuruti kata-katanya untuk lari duluan." kata Niken menyesal, sambil terisak.

Ibu Pandu lalu memeluk Niken. Niken menangis di pelukan Ibu Pandu. Rasanya seluruh tenaganya sudah habis terkuras. Tak sanggup lagi untuk berbuat apa-apa.

"Kamu tenang saja dulu di sini. Ibu yakin, kalau Pandu bilang dia akan baik-baik saja, maka dia akan baik-baik saja."

Tangis Niken makin keras. Dia teringat suara tembakan terakhir yang didengarnya tadi. Tapi dia menurut saja waktu ibu Pandu menuntunnya masuk ke dalam.

Sebelum sampai di dalam rumah, Niken pingsan.

Waktu membuka matanya lagi, Niken terperanjat melihat Pandu duduk di kursi di dekatnya.

"Sudah sadar, Fei" tanya Pandu sambil tersenyum manis. "Koq kamu sudah ada di sini" tanya Niken heran. "Kenapa Kirain aku sudah mati ya" gurau Pandu. "Nggak lucu ah, ngomong seperti itu." Niken cemberut.

"Gini lho ceritanya. Persis sesudah kamu pergi, ada dua orang yang masuk ke kelas. Seorang bermaksud menembakku, seorang berusaha melompat jendela untuk mengejarmu. Tapi sebelum dia sempat menembakku, salah seorang anggota aparat polisi sudah ada di depan pintu, menembak orang yang hendak menembakku tadi. Yang melompat jendela akhirnya terkejar setelah beberapa meter, tapi kamu sudah jauh."

"Tanganmu nggak papa, Ndu" tanya Niken setelah melihat siku Pandu dibalut perban.

"Nggak papa, koq. Cuma agak perih kena pecahan kaca aja."

Niken lalu diam saja. Lega sekali rasanya Pandu selamat.

"Kenapa lagi Kecewa yah aku nggak mati" kata Pandu bercanda lagi.

"Aku sudah bilang, nggak lucu guyonan seperti ini. Apalagi tadi kita memang benar-benar sudah hampir mati."

"Maaf, maaf. Tapi asyik juga melihat kamu tiduran di ranjangku begini." kata Pandu dengan matanya yang nakal. "Sialan." kata Niken lalu duduk di ranjang.

"Kamu tahu nggak kita itu beruntung banget Nggak banyak orang yang selamat dari peristiwa di kampus tadi siang. Korban nyawa banyak sekali. Untunglah Wulan juga selamat. Aku tadi ketemu dia waktu petugas kesehatan membalut lukaku. Dia kena luka bakar, karena sembunyi di salah satu kendaraan bunga buat pawai. Tadinya sih aman-aman saja, sampai saat-saat terakhir ada yang berusaha menyulut api di semua kendaraan bunga. Tapi dia nggak papa koq. Sekarang sudah pulang ke rumah." "Syukurlah." kata Niken.

Pandu tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Oh ya, aku juga punya kabar tentang keluargamu, Fei."

"Bagaimana, Ndu Apa mereka selamat"

"Menurut keterangan dari Bapak, tak ada satu orangpun yang berhasil selamat keluar dari rumahmu sebelum rumahmu dibakar habis. Tapi Omamu sudah berhasil dihubungi, dia baikbaik saja di Kudus." "Bagaimana dengan Mama dan Papa" tanya Niken. "Fei, kamu mesti tabah." "Kamu nggak bercanda, Ndu"

Pandu menggeleng lemah. Niken langsung meledak tangisnya. Pandu mendekat, lalu membiarkan Niken menangis tersedu-sedu di pundaknya. "Mereka nggak pernah ada di rumah. Kenapa juga mereka mesti ada di rumah saat kejadian naas itu" kata Niken penuh sesal di selasela isak tangisnya. "Kata Oma, kalau situasi sudah membaik, dia akan datang ke Semarang. Tapi sementara kamu tinggal di sini dulu." kata Pandu.

"Aku pulang ke Kenanga saja, Ndu. Nggak enak ah tinggal di sini. Ngerepotin." "Jangan anehaneh kamu. Kalau terjadi apa-apa lagi gimana Kamu sendirian di sana Yang bener aja." kata Pandu tidak setuju. "Tadi Ibu juga menawari kalau kamu mau tinggal di sini sementara, sampai situasi benar-benar aman. Aku bisa tidur di depan teve. Aku kadang-kadang tidur di situ koq." "Baiklah. Melihat kamu ngotot begini kayaknya aku nggak punya pilihan lain kecuali melarikan diri dari rumahmu, dan rasanya aku belum cukup sinting." kata Niken. "Tapi aku butuh barangbarang dari rumahku. Baju, seragam sekolah, dan lain-lain. Kenanga aman nggak sih" tanya Niken. "Demonstrasi siang tadi nggak merembet sampai daerah Kenanga koq. Gampang, nanti pas Bapak mau dinas sore, sekitar satu jam lagi, kita bisa dianter ke rumahmu naik mobil, pulangnya naik mobil kamu. Gimana"

Niken mengangguk setuju. Benar-benar hari yang melelahkan.

Sekitar sebulan setelah hari naas itu, suasana di kota Semarang kembali normal. Acara puncak, pawai kendaraan bunga itu tentu saja dibatalkan. Para pemenang lomba diumumkan lewat surat kabar. Sayang sekali acara akhir yang seharusnya mengakhiri sepekan kompetisi yang bagus itu harus menjadi hari kelabu yang penuh duka. Bunga-bunga yang masih segar tidak lagi dijadikan untuk ajang pamer, melainkan untuk mengubur jazad para korban. Yang lebih ironis lagi, sebagian besar para pembuat onar hari itu masih belum berhasil ditangkap pihak yang berwajib, dan sepertinya kasus ini akan ditutup begitu saja karena terlalu banyak tersangka yang buron, dan terlalu susah untuk membuktikan keterlibatan masing-masing dalam peristiwa berdarah itu. Niken mendapat tempat kedua di lomba kimia, sedangkan Pandu menang lomba matematika. Rasanya menang lomba kali ini sama sekali tidak ada artinya mengingat kenangan pahit yang sampai sekarang masih terus menghantui mimpi Niken di malam hari.

Niken sudah kembali ke rumahnya di Kenanga. Oma sejak minggu lalu datang ke Semarang karena dijadwalkan besok sore untuk ikut hadir dalam pembacaan warisan keluarga Tjakrawibawa. Lumayan sejak ada Oma, Niken jadi tidak merasa kesepian. Lamunannya selalu melayang ke papa-mama, juga cici-nya. Rasa nelangsa karena rasanya sudah tidak punya siapasiapa lagi, kecuali Oma tersayangnya.

"Niken, lihat siapa yang datang... " suara manis Oma membuyarkan lamunannya. Pandu melongokkan wajahnya yang kocak dari belakang punggung Oma. Niken tersenyum. Anak ini memang selalu tahu cara membuat orang senang, batinnya.

"Yuk ke teras belakang aja." ajak Niken.

"Kangen tidur di ranjangku nggak" tanya Pandu iseng.

"Nggak. Ranjang kamu bau." jawab Niken seenaknya.

Pandu melongo. Membelalakkan matanya lebar-lebar. "Bau apa" tanyanya kemudian.

"Bau... apa ya Susah menjelaskannya." Niken pura-pura berpikir.

"Ya kalau begitu kamu perlu sering tidur di situ untuk melenyapkan baunya.

Mulai besok, bagaimana" tantang Pandu.

"Boleh..." Niken tidak pernah takut menerima tantangan.

"Oh.. " lanjutnya, "Nggak bisa, Ndu. Besok ada hal penting yang harus aku lakukan."

"Hal penting" Pandu mengernyitkan dahinya.

"Iya. Pembacaan warisan. Aku sebetulnya sama sekali nggak tertarik untuk datang. Pengacara Papa, Pak Suyudi itu yang memaksa semua orang yang tercantum namanya di dalam daftar warisan harus datang." "Kenapa kamu nggak mau datang" tanya Pandu lagi.

Niken diam saja. Dia juga tidak tahu jawabannya. Malas Seharusnya tidak. Ini mungkin kewajiban terakhir yang harus dilakukannya sebagai anak papanya. Masih sakit hati Sakit hati apa Semua itu sudah jauh dari benaknya. Tidak perlu diusir juga sudah pergi sendiri. Yang ada sekarang hanya perasaan bersalah, karena selama ini sebagai anak dia merasa tidak pernah dekat dengan papa maupun mamanya. Tidak sempat menunjukkan pengabdiannya sebagai anak. Dan sekarang sudah terlambat.

Seakan tahu yang dipikirkan Niken, Pandu menepuk-nepuk punggung Niken dengan halus. Tanpa sadar air mata Niken mengalir ke pipi. "Sudahlah Fei. Kamu pasti mikir, aku ini arogan sekali ya Tadi kamu sudah bisa tertawa-tawa. Sekarang aku datang, kamu malah nangis. Aku memang nggak berguna. Sssh.. sudah.. jangan menangis lagi."

Niken masih sesenggukan. Kalau sudah menangis begini jadi susah berkata-kata.

"Fei," kata Pandu sambil masih menepuk-nepuk punggung Niken. "Papi dan mami kamu pasti juga merasa bersalah meninggalkan kamu sendirian seperti ini. Jangan menambah rasa bersalah mereka dengan terus-menerus larut dalam kesedihanmu. Kamu musti bangkit. Kamu musti kuat."

Niken mendongakkan kepalanya. Ditatapnya wajah Pandu yang duduk di sampingnya. Pandangan mata Pandu begitu teduh, begitu nyaman. Seolah menghipnotisnya dengan katakata "Semuanya akan baik-baik saja." Pelan-pelan isaknya berhenti.

"Lagipula, seperti yang aku sudah bilang dari dulu-dulu, kamu masih ada aku. Selamanya. Kamu usir aku sekalipun, aku akan tetap setia menjagamu. Aku nggak akan ke mana-mana."

Tersenyum, Niken memeluk Pandu. Hangat sekali rasanya dalam pelukan Pandu. Kalau katakata Pandu tadi benar, dunianya bakal sempurna sekali, selamanya.

"Memangnya kamu kira aku mau ke mana" tanya Niken blo'on. "Nggak tahu. Tapi aku harap juga nggak kemana-mana." sahut Pandu. "Gimana kalau aku mau pipis Kan musti ke WC. Masa' suruh di sini terus" Niken tambah menjadi-jadi pura-pura blo'onnya.

"Niken!!!!" Niken yang sekarang sudah hafal, kalau Pandu memanggilnya 'Fei' itu berarti situasi biasa dan aman-aman saja. Kalau dia panggil "Niken", itu berarti situasi sudah memanas.

"Kamu nakal ya Sebentar nangis, sebentar godain. Minta dicium apa" kata Pandu sambil memegang dagu Niken dan memonyongkan mulutnya. "Hus Pandu..." kata Niken menyingkirkan tangan Pandu dari dagunya, walaupun dengan setengah hati. "Ingat status kita sekarang apa Aku bukan pacarmu. Nggak boleh cium-cium!"

"Memangnya kenapa" tanya Pandu. Setelah menepiskan tangan Niken, dipegangnya lagi dagu mungil itu. "Nggak ada yang tahu ini. Selama nggak ada yang lihat, kita aman kan" lanjutnya dengan nada nakal. "Kan ada.. "

"Oma" Belum sempat Niken menjawab, Pandu sudah menyahut. "Oma kan merestui kita. Dia senang malah kalau kita jadian."

"Pandu!!!" Gantian Niken yang teriak. Ternyata Pandu itu cepat sekali geraknya. Terutama kalo soal mencuri ciuman. Secepat kilat bibirnya sudah menyentuh bibir Niken. Di luar dugaannya, Niken spontan menjauhkan tubuhnya.

"Jangan, Ndu." sahut Niken tertunduk.

"Kenapa" tanya Pandu hati-hati.

"Aku nggak tahu." Niken menggeleng-gelengkan kepalanya yang kelihatan berat sekali itu.

"Jangan bohong." sahut Pandu. Diangkatnya dagu Niken supaya dia bisa menatap wajahnya.

"Kalaupun kita nggak pacaran, kita bersahabat. Kamu kan bisa bilang apa saja yang kamu mau.

Jangan kuatir aku nggak akan tersinggung." Niken terdiam.

"Sungguh, Pandu. Aku juga masih belum tahu jelas perasaanku. Yang jelas, semenjak papamama meninggal, aku jadi sering berpikir, aku ini anak yang nggak berbakti. Kalau aku bisa memutar ulang kejadian hari itu, aku mungkin akan berkata lain." "Semuanya sudah ... "

"Aku belum selesai." Sebelum Pandu selesai bicara, Niken sudah memotongnya. "Aku mungkin akan berkata: Papa, Fei akan belajar mencintai Tante Mia seperti keluarga sendiri, kalau itu yang Papa mau. Fei akan pergi ke Amerika kalau itu yang papa mau... "

"Fei nggak akan lagi ketemu Pandu kalau itu yang papa mau" sahut Pandu menebak arah jalan otak Niken.

Niken sudah akan menundukkan kepalanya kalau saja Pandu tidak menahan dagu Niken dengan tangannya.

Keduanya sama-sama tidak berkata apa-apa sesudah itu. Niken tidak bisa berkata apa-apa karena jujur saja memang kata-kata Pandu itu persis yang akan dia katakan. Walaupun dia tahu untuk melupakan Pandu, akan membutuhkan seluruh masa kehidupannya di dunia ini. Pertemuan mereka begitu singkat, kurang lebih setahun, tapi sudah menorehkan makna yang sangat tajam di hatinya.

Sedangkan Pandu, dia masih terkejut akan kata-kata Niken tadi. Dia tak menyangka Niken sanggup bilang begitu. Walaupun memang secara de facto selama ini mereka tidak pernah pacaran, tapi dia tahu persis Niken sayang dia, dan Niken pun sudah paham betul akan perasaannya. Selama ini yang menjadi

kendala hanya orang tua Niken yang tidak menyetujui hubungan mereka. Setelah melalui berbagai peristiwa, sekarang justru setelah orang tuanya meninggal, Niken malah berubah arah. "Benar-benar memusingkan!" batin Pandu.

"Aku sudah bilang, aku nggak tahu. Kamu yang memaksa." kata Niken kemudian, setelah keduanya terdiam beberapa lama.

Pandu tidak menjawab. Dilepaskannya dagu Niken, dan beranjak pergi.

"Ndu!" panggil Niken sambil mengikutinya. "Jangan pergi dulu. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan."

"Aku yakin kamu sudah tahu persis apa yang kupikirkan. Aku pulang dulu." jawab Pandu singkat, dan meninggalkan Niken sendirian di ruang tengah. Limbung, Niken terduduk di kursi. Pikirannya kembali melayang ke papa-mamanya. Peristiwa setragis ini, biasanya cuma ada di tv, batinnya berteriak, "Aku pasti berdosa besar sampai dihukum seperti ini!"

"Wulan, ada yang nyari tuh!" ibu Wulan mengetuk kamarnya. Wulan yang sedang mengerjakan soal-soal kimia sambil mendengarkan radio, jadi bingung. "Siapa, Bu Malam-malam begini" "Cowok. Ganteng. Cepet temuin sana." goda ibunya.

"Oooh.. Kamu toh, Pandu! Ada apa malam-malam mencariku" Walaupun Wulan lega yang mencarinya ternyata cuma Pandu, heran juga melihat Pandu ada di rumahnya malam ini.

"Lagi bingung, nih." kata Pandu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Bingung apa Ujian kimia besok ya Mustinya kamu ke rumah Niken, dia kan yang jago kimia." tebak Wulan.

"Aku bahkan tidak bisa konsentrasi untuk belajar. Ini lebih serius dari ujian kimia." jawab Pandu masih dengan tampang bingungnya.

"Lalu"

"Kamu sering ngobrol sama dia akhir-akhir ini" tanya Pandu.

"Semenjak EBTANAS mulai awal minggu ini sih nggak. Memangnya ada apa Niken kenapa"

"Dia nggak papa, kayaknya. Aku nggak tahu. Dia sepertinya paling ahli bikin orang patah hati." jawab Pandu dengan nada sinis.

"Patah hati Aduh,... ada apa pula ini Setahuku Niken bukan tipe orang yang suka menyakiti hati orang. Lagipula, terakhir aku cek, dia bukannya masih cinta mati sama kamu"

"Terakhir aku ketemu dia, dia bilang ga mau ketemu aku lagi tuh." keluh Pandu. "Ha Kenapa dia bisa berubah drastis begitu"

Pandu mengangkat bahunya. Pandangan matanya kosong menatap ke arah pintu depan. Wulan menggoyang-goyangkan tangannya persis di depan wajah Pandu. "Malah melamun!" ujarnya kemudian.

Pandu tersontak kaget. "Sorry.. " Cuma itu saja yang terucap dari bibirnya, lalu seakan-akan hendak kembali lagi ke lamunannya.

"Jadi tujuan kamu kemari cuma mau melamun Kalau begitu aku tinggal masuk ya, masih banyak soal-soal kimia yang masih ingin aku kerjakan," desak Wulan, dengan harapan dengan begitu Pandu akan mengatakan apa sebenarnya tujuan dia ke rumahnya malam ini.

"Aku nggak tahu lagi musti berbuat apa, Wulan." Pandu mendesah panjang. "Sepertinya dia sudah nggak butuh seorang Pandu lagi. Rasanya aku ini hanya beban untuknya. Seolah-olah hubunganku dengannya adalah dosa yang menyebabkan terenggutnya nyawa orang-tuanya."

"Astaga, Pandu! Koq kamu bisa berpikiran buruk seperti ini sih Dapat dari mana pikiran sejelek ini"

"Dari Niken. Dia sendiri yang bilang... "

"Nggak mungkin. Nggak mungkin Niken bilang begitu. Nggak mung... "

Pandu menyela, "Aku juga nggak akan percaya kalau nggak mendengarnya sendiri, Wulan.

Sungguh, ini kata-kata Niken sendiri."

Wulan terdiam. "Memang akhir-akhir ini Niken terlalu larut dalam kesedihannya," pikirnya dalam hati.

"Ndu.. " kata Wulan setelah berpikir beberapa saat. "Orang yang sedang galau pikirannya seperti Niken ini, omongannya sering yang nggak-nggak. Ditelan mentah-mentah dulu lah, Pandu. Beri dia waktu. Aku saja nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya ditinggal kedua orang tua sekaligus. Aku masih ada ibuku. Di saat-saat seperti ini, dia butuh kamu sebagai tiang sandaran, Ndu. Cobalah untuk menahan emosi. Aku yakin Niken sama sekali tidak bermaksud menyakiti perasaanmu."

Menghadapi wajah putus-asa Pandu, Wulan jadi tidak yakin lagi akan yang kata-kata yang baru saja diucapkannya sendiri. Rasanya terlalu berat untuk membiarkan Pandu sakit hati seperti ini terus-terusan. Tapi di lain pihak dia juga yakin Niken pasti merasakan hal yang sama.

Pelan-pelan Pandu mencerna kata-kata Wulan yang masih terngiang-ngiang di telinganya. Direkam dan diputarnya di otak perlahan-lahan, berkali-kali. Wulan masih terdiam, tidak berani mengganggu Pandu bahasa tubuhnya seperti orang yang sedang khusuk bermeditasi.

"Baiklah Wulan. Aku permisi pulang dulu." kata Pandu sambil berdiri. "Lho" ujar Wulan bingung.

"Oh ya, terima kasih. Rasanya kata-katamu itu pas sekali. Aku mungkin tadi cuma butuh orang untuk menyadarkanku akan hal ini." kata Pandu kemudian. "Ooh... " Wulan menghela napas lega. "Syukurlah kalau aku tadi mengatakan hal yang benar." batinnya.

"Terima kasih sekali lagi, Wulan. Maaf sudah mengganggu jam belajarmu." "Jangan sungkansungkan begitu, Ndu. Aku yakin kalau aku punya masalah kamu pasti juga akan meluangkan waktumu untuk menolongku sebisamu, kan" Pandu mengangguk sambil tersenyum. Semakin lega Wulan melihat senyum di wajah Pandu.

Setelah Pandu lenyap dari pandangannya, Wulan mengutuki sahabatnya itu dalam hati "Aduh Niken! Ada apa denganmu kali ini!"

Sudah lima menit Niken menunggu di dalam ruangan ber-AC ini. Ada seorang anak laki-laki seumurnya yang dari tadi menatapnya dengan penuh rasa benci. "Siapa sih itu, Oma Koq pandangan matanya nggak enak begitu" bisik Niken ke Oma yang duduk di sebelahnya.

"Itu anak Papamu sama Tante Mia. Anak yang paling besar. Ada dua lagi adiknya, perempuan semua. Kayaknya tidak dijadwalkan untuk hadir, karena dianggap masih terlalu kecil."

Niken lalu berpikir sebentar, lalu melangkahkan kakinya dan duduk di sebelah anak laki-laki itu.

"Hallo, siapa namamu" tanya Niken ramah.