THE HALF BLOOD PRINCESS - 19
Aku sudah berada di rumah disinilah aku, aku takkan pergi kemana-mana lagi, tak ingin pergi apalagi harus mengulang yang telah terlewati, aku tau aku pasti akan merindukan temanteman lamaku, suasana kamarku, apa yang aku lakukan, sekolahku, guru-guruku, tapi terakhir kali aku berada disana aku tau aku ingin disingkirkan, tidak ada lagi tempat untukku, haruskah sekarang aku merubah keadaannya memilih apa yang harus kujalani, apa yang ada di depanku tanpa pernah menoleh lagi, baiklah, aku akan memilihnya, masa laluku terlah terkubur bersama mamaku.

Tapi setengah dari hatiku memberontak, memerintahkanku untuk kembali, bukan untuk kembali menjalani yang terlewati tapi kembali untuk memperbaikinya, tapi apa yang diperbaiki Aku harus bagaimana Setengah hatiku berharap untuk bisa bertemu Dante lagi, aku sangat merindukannya, tak mungkin buatku melupakannya begitu saja, aku masih ingin tau apa yang sebenarnya, aku memang tak mungkin mendatangi kuburan mamaku untuk meminta jawaban mengapa ia melakukan hal sekasar itu pada Dante, dan paginya mamaku memilih kematian untuk mengakhiri segalanya, mamaku tak pernah memberiku jawaban, mamaku hanya memberiku teka-teki, potongan-potongan puzzle yang harus kususun sendiri, mama dan Dante, dua orang yang aku cinta, dengan cara yang berbeda, bolehkan aku berpikir bahwa kejadian malam itu, mama melihat dengan sudut pandang schizophrenia-nya yang berpikir bahwa Dante melakukan pemaksaan seksual padaku, seperti yang pernah terjadi padanya dimasa lalu

***

Aku menatap kedua wajah yang mulai lelah karena usia, kakek dan nenekku, bila aku meninggalkan mereka, siapa yang akan menemani mereka kedua putranya telah memiliki keluarga mereka sendiri-sendiri, dan putri satu-satunya bahkan terlah pergi, apa aku cukup tega, tapi aku juga ingin menentukan hidup yang ingin kujalani.

Aciboleh Ghie bicara ragu-ragu aku mulai membuka percakapan.

Iya Lala, tapi sebelumnya Ni mu akan mengatakan sesuatu Kakekku memandang wanita yang telah mendampingi hidupnya melewati begitu banyak kesedihan dan kegembiraan, dengan pandangan meohon, seolah apa yang akan dikatakan Nenekku seharusnya dialah yang menyampaikannya. Nenekku memandang dengan hampa, sepertinya ini bukanlah hal yang mudah untuk disampaikan.

Ni

Dia meraih tanganku, dan membimbingku menuju kamar, kami duduk tempat tidur, beliau membelai rambutku dengan lembut, aku merebahkan kepalaku ke pangkuannya, kudengar nenekku mendesah pelan.

Lala, kami sangat menyayangimu, dan kami tak ingin lagi kehilangan putri yang sangat kami sayangi aku mendapat firasat bahwa mereka membaca pikiranku, keinginanku untuk kembali dan mereka takkan pernah mengizinkanku untuk pergi. Kami tau benar keinginanmu untuk pergi, kamu harus menyelesaikan pendidikanmu,tapi bolehkah bila kedua orangtua ini meminta pengorbanan cucunya sendiripengorbanan yang akan membawa kebaikan baginya juga Apa yang dikatakannya pengorbanan seperti apa aku bangun dari pangkuannya, kutatap matanya, ada genangan air mata disana, tak tega bila aku meneteskan lebih banyak lagi air mata.

Apapun yang bisa Ghie lakukan akan Ghie lakukan aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, hanya mereka yang aku punya, tak ingin membuat mereka lebih kecewa. Nenekku memelukku dan menangis, beberapa saat aku hanya membiarkan keadaan ini, setelah dirasanya ini waktu yang tepat, beliau berbicara lagi.

Lala, Lalu Gavner dan keluarganya ingin memintamu menjalin hubungan dengannya, kami tak ingin sebuah perjodohan tapi kami rasa ini baik buatmu, dengan adanya ikatan antara kalian kami bisa melepasmu untuk pergi, karena ikatan itu akan membawamu kembali lagi ke sini, maafkan kami, tapi kami telah menyetujuinya, ini kehormatan karena beliau adalah cucu langsung dari mendiang Dea Meraja, Sang Sultan, dan dia adalah pria yang baik buatmu, kami mengenalnya, juga keluarganya, pertunanganmu akan diadakan secepatnya, kami hanya meminta persetujuanmu, dan kami yakin kamu akan menyetujuinya, kami tau kamu gadis yang baik, dan kamu takkan mengecewakan kami. Beliau memelukku lagi.

Tertanya ada harga yang harus dibayar untukku bisa kembali, tak pernah aku menyangka bahwa hidupku akan serumit ini. Aku tersenyum dan mengangguk, tapi aku merasa hatiku remuk.