Meja-meja tersaput kain linen, dan dilengkapi oleh poselen china, dan dikelilingi kursi berlapis linen; semua berwarna putih. Bahkan rangkaian bunga di tengah meja dan yang ditempatkan di sekeliling ruangan merupakan mawar putih, tangkainya di potong beberapa inchi dari kelopaknya dan ditempatkan di mangkok kristal pendek hingga seluruh permukaannya penuh. Tak dibutuhkan tanaman hijau sebagai dekorasi.
Warna-warni yang berada dalam ruangan hanyalah berasal dari pakaian para tamu. Bergerak diantara latar belakang berwarna putih, mereka bergemerlapan layaknya batu permata berwarna warni, dengan pengecualian para pria yang mengenakan tuksedo hitam mereka. Lucie memperhatikan mereka berkumpul dan bergerak dalam kelompok kecil dan hampir saja memuncratkan minuman dari hidungnya ketika menyadari mereka terlihat seperti penguin yang berjalan di atas es di Antartika.
"Apa kau baik-baik saja" Vanessa bertanya sembari menepuk-nepuk punggung Lucie. "Aku kan sudah bilang padamu jangan minum red punch itu saat mengenakan gaun berwarna putih. Terlalu beresiko. Kau harusnya meminum soda atau air."
Lucie meletakkan punch itu di atas meja dihadapannya dan melirik ke arah gaun satin panjang-menyapu-lantai-nya sambil mendesah. Tahun depan, Lucie harus bisa berkawan dengan seseorang dari panitia dekorasi, jadi ia tak akan berakhir dengan terlihat seperti bagian dari perabot acara. Hal baiknya adalah Lucie sudah berjemur di pantai akhir minggu lalu jadi setidaknya dia lebih mencolok di bagian atas korsetnya. Tetap saja, Lucie merasa tak dapat dibedakan dari sekelilingnya yang berwarna putih, menyatu sementara yang lain bersinar.
Dan bukankah itu terdengar seperti kiasan hidupnya.
Lucie melihat ke arah sahabatnya yang sudah berbaik hati untuk datang sebagai kencannya karena Lucie sudah membeli dua tiket sebulan lalu dengan harapan membawa Reid bersamanya. Vanessa tentu saja bersinar dengan rambut merah-emas liarnya yang dijinakkan dengan French twist dan gaun emerald yang nampak seperti diwarnai untuk menyamakan warna asli dari matanya. Vanessa menarik perhatian semua pria yang berada dalam ruangan itu tanpa susah payah. Selalu menjadi penyeimbang bagi Lucie. "Ingatkan aku lagi mengapa kau tidak mau menggunakan tiketku dan membawa salah satu dari pria dari perusahaan bersamamu" Lucie bertanya sembari meneliti ruangan itu dengan rasa gundah.
"Ah. Itu, sayangku, karena kau memiliki keahlian yang sangat melekat yaitu tak bisa mengatakan 'tidak' pada seseorang dan menyetujui untuk diperlakukan sebagai barang lelang layaknya seonggok daging," kata Vanessa dengan ekspresi yang terlalu senang.
"Oh benar. Itu."
Mengingat acara Lelang Date-A-Doc, perut Lucie melakukan gerakan akrobatik yang layak dianugrahi sebuah medali emas Olimpiade. Lelang itudimana para tamu bisa menawar seorang staff rumah sakit untuk sebuah kencanselalu menjadi pengumpul dana terbesar dari sepanjang acara. Lucie tak pernah diminta untuk berpartisipasi sebelumnya, juga tak ingin berpartisipasi. Sayangnya, salah satu peserta wanita mengidap mono (Mononucleosis) seminggu sebelum acara dan Sandy, kepala perawat yang mewujudkan setiap penggambaran dari Mrs. Claus yang pernah dikenal, memohon Lucie untuk mengambil tempatnya.
Suara mikrofon mendengung dan di tepuk beberapa kali terdengar dari speaker besar di bagian kepala ruang di mana panggung sudah didirikan untuk acara tersebut. "Dapatkah saya memiliki perhatian semua orang"
Omong-omong tentang Sandy.
Sandy yang riang dalam balutan gaun biru pucat yang indah berdiri di tengah panggung dengan program lelang di tangan.
"Oh, Tuhan," gumam Lucie sambil meletakkan tangan ke perutnya.
"Ayolah," kata Vanessa, meraih tangan wanita itu. "Mari kita cari Kyle dan Eric, bertahan di bar, dan membuatmu merasa baik dan terpengaruh alkohol hingga nomor antrianmu naik."
"Sampai nomor naik" Ulang Lucie, percaya, kemudian santai dan memutar matanya. "Oh, maksudmu sampai giliranku."
"Duh-uh," kata Vanessa sambil cekikikan.
"Sebenarnya, apa yang kau katakan adalah frase yang tepat untuk apa yang aku rasakan. Pimpin jalannya, oh, orang bijak."
Selama setengah jam Vanessa dan Kyle juga Erik berdiri dengan Lucie dan menyaksikan pria dan wanita di panggil satu per satu ke panggung dan diminta untuk berdiri di sana sembari biodata singkat itu dibaca yang terdiri dari minat dan hobi mereka dengan cara pengenalan yang murahan dari acara tv Love Connection.
Sepanjang malam Lucie mampu menghindari Stephen. Setelah Reid mematahkan hatinya dan dikuatkan oleh teorinya bahwa pasangan yang tidak kompatibel akan berakhir tragis, Lucie pergi berkencan dengan Stephen pada kesempatan lainnya. Meskipun dia tahu itu lebih karena dendam daripada masih percaya bahwa dia mencintai sang ahli bedah nan tampan itu, dia berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi kualitas yang baik menurut Stephen untuk membuktikan bahwa dia bisa cocok dengan pria itu sebagai pasangan dalam pernikahan dan kehidupan, seharusnya hal-hal berjalan hingga sejauh itu.
Tetapi pada akhir malam, semua yang Lucie lakukan adalah membandingkan setiap hal kecil yang Stephen lakukan atau katakan pada Reid. Dan seperti yang ia harapkan, Stephen jatuh mendapat nilai rendah di setiap tingkat. Lucie bahkan akan membiarkan Stephen menciumnya di akhir malam, berharap bahwa percikan akan terjadi untuk mengimbangi kekurangan di area yang lain. Tapi itu hanya membuktikan bahwa mencium Stephen Mann adalah sama menyenangkannya seperti menekankan bibirnya ke manekin CPR, yang juga telah mengingatkan bahwa sertifikatnya berakhir karena harus di daftar ulang. Jadi setidaknya itu tidak menjadi kerugian total.
Meskipun sakitnya begitu parah, Lucie tidak bisa membuat dirinya menyesal telah jatuh cinta dengan Reid. Beberapa minggu yang mereka lewati bersama-sama telah menjadi minggu terbaik dalam hidupnya. Reid mengajarkan begitu banyak tentang diri Lucie sendiri dan bagaimana menjalani hidup bukan hanya menonton dari pinggir lapangan. Lucie menjadi lebih percaya diri, lebih nyaman dengan dirinya sendiri, dan dia berutang atas semua itu pada Reid.
Jadi setelah seminggu penuh menangis dalam takaran yang tak terhitung dari Cherry Garcia es krimdan intervensi dari Nessie dan para priaLucie membangkitkan diri, merapikan dirinya, dan melihat ke masa depan dengan kepala terangkat tinggi.
Masalah terbesar Lucie sekarang adalah bahwa dia dan Stephen telah melakukan peran yang terbalik. Setelah kencan tersebut Lucie mengatakan padanya bahwa hubungan mereka tidak akan berhasil. Mann membalas dengan ide-ide keagungan seperti apa hidup mereka nantinya dan meminta Lucie untuk kencan lainnya. Untuk acara amal rumah sakit. Hal yang sangat Lucie inginkan sejak awal.
Dan sekarang Lucie berada di acara amal, sendirian, dan berharap dia bisa meringkuk di apartemennya dengan satu orang yang dia yakin bukan untuknya.
Yap, dia memikirkan hal itu sambil menenggak sisa minumannya. Hidup Lucie kini merupakan definisi dari ironi.
"Last but not least kami memiliki seorang wanita muda yang luar biasa yang ikut serta pada menit terakhir ketika Stacy jatuh sakit, Miss Lucinda Miller. Kemarilah, Sayang."
Kerumunan orang bertepuk tangan memanggil korban terakhir mereka. Lucie memandang Eric dan Kyle dengan tatapan tajam dan menusuk dengan jarinya di dada masing-masing secara diam-diam. Dengan senyum palsu terpampang diwajahnya Lucie berkata, "Jika salah satu dari kalian bukan penawar tertinggi, aku pribadi akan membuat kalian berdua berakhir menjadi seorang kasim pada akhir malam."
"Ya, ma'am," jawab mereka bersama-sama, gelas diangkat dan semua tersenyum.
Lucie secara mental mencemooh sembari berjalan ke panggung. Mereka tidak menanggapi Lucie dengan serius, tetapi mereka sebaiknya melakukan apa yang ia perintahkan. Mereka berjanji mereka akan memastikan tidak ada orang lain memenangkannya. Dengan cara itu Lucie melakukan bagiannya, rumah sakit mendapat uang, dan Lucie tidak harus pergi kencan dengan siapa pun yang menyeramkan, mudah marah, atau kata-kata buruk lainnya yang dimulai dengan "cr" campuran.
Beberapa menit kemudian, Lucie berdiri di samping Sandy saat ia selesai membaca biodata singkat yang bahkan Lucie tidak ingat pernah tulis. Dan kemudian lelang di mulai.
"Oke," kata Sandy ke mic, "mari kita buka dengan lima ratus dolar." "Lima ratus," kata Kyle dari bar.
Sandy menunjuk ke arahnya. "Bagus! Bisakah saya mendapatkan angka tujuh ratus lima puluh Tujuh ratus lima puluh
Dari sudut kiri matanya Lucie melihat seorang pria mengangkat tangannya. "Tujuh ratus lima puluh."
Stephen. "Ah sial." Lucie membeku dan menahan diri untuk menutup mulutnya dengan tangan. Lucie tidak bisa percaya dia mengatakannya dengan keras! Alkohol Sialan melepaskan lidahnya dalam sebuah acara mewah. Luar biasa.
Sandy menjauhkan mikrofon dari mulutnya dan berbisik, "Maafkan aku, Sayang, kau mengatakan sesuatu"
"Um, aku berkata 'betapa beruntungnya.'" Lucie memberi Sandy apa yang dia harapkan sebagai senyum malu-malu. "Aku takut aku tidak akan mendapatkan pembeli."
"Omong kosong, Sayang, kau wanita muda yang cantik." Lalu Sandy kembali keperannya sebagai pelelang dan menaikkan harga sampai seribu dollar.
Selama beberapa menit berikutnya Lucie memperhatikan dengan cemas karena penawarannya terus semakin tinggi, di dorong oleh cek Stephen yang tak ada batasnya. Lucie telah meyakinkan para pria bahwa dia akan membayar sejumlah yang mereka sebutkan, tapi dalam imajinasi terliar Lucie, ia tidak mengira Stephen akan bertahan selama ini.
Tawaran itu sekarang sampai dengan dua puluh ribu dollar, dan itu adalah Stephen. Lucie membuat kontak mata dengan Kyle dan memberikan gerakan kepalanya sedikit saat Sandy menaikkan lima ratus dari Mann. Pergi kencan lagi dengan pria itu bukanlah akhir dari dunia. Tentu saja itu tidak sebanding dengan harus menempatkan dirinya dan teman-temannya di garis kemiskinan.
Tapi jika Lucie benar-benar jujur dengan dirinya sendiri, itu akan menjadi kencan ketiga yang tak berguna dengan Stephen, dan tentang kencan menjadi pengingat yang menyakitkan dari apa yang dia tidak akan pernah dapatkan dengan Reid.
Di samping Lucie Sandy berdiri dengan senang, "Baiklah kalau begitu, dua puluh ribu satu, dua puluh ribu dua...dua puluh ribu..."
"Seratus ribu," Dari ujung ruangan terdengar teriakan bersuara berat. Sebuah suara yang telah Lucie kenal seperti ia mengenal suaranya sendiri.
Ruangan langsung di penuhi dengan suara orang-orang yang kaget dan berbisik dan hampir secara serempak para tamu undangan memutar kursi mereka. Reid melangkah maju sampai akhirnya dia berdiri di tengah-tengah ruangan. Semua mata tertuju padanya, namun Reid hanya memfokuskan pandangannya kearah Lucie tanpa sedikitpun perduli dengan orang lain.
Dalam keadaan yang masih bingung, Lucie tahu bahwa ia sedang terbelalak dan tertegun menatapnya seperti orang linglung, namun selama hidupnya dia tidak pernah melihat seseorang yang begitu seksi sebelumnya. Reid terlihat mencolok diantara para pria. Tuxedo yang ia pakai membuat badannya yang besar terbingkai dengan sempurna, tak diragukan lagi karena memang di jahit seperti itu, tidak seperti kebanyakan pria yang mungkin saja menyewa setelan menyedihkan yang mereka kenakan.
Reid adalah kesempurnaan yang tak terbantahkan. Lucie terlena oleh penampilan bad boy dari Reid yang bahkan membuatnya terlihat lebih menarik dari pada lautan pria biasa yang mengelilinginya. Kulit coklat terbakar matahari dan ujung lancip dari tato tribal di lehernya mengintip keluar dari balik kemeja putih yang ia kenakan. Kemejanya terbuka memperlihatkan kerongkongannya, dasinya longgar menggantung di kerah kemejanya seperti dia tidak punya waktu untuk mengikat dasinya dengan rapi.
Rambutnya di tata hampir menyerupai faux-hawk yang Lucie suka dan jenggotnya yang tidak di cukur membuat Lucie merindukan sensasi dari bulu-bulu kasar jenggot Reid di tempat sensitifnya. Bibir bawahnya terdapat bekas luka yang hampir sembuh dan semburat kemarahan membuat tulang pipinya memerah membuat ia terlihat seperti orang yang halus di dalam namun liar di luar.
Namun apa yang membuatnya tak kuat adalah pandangan mata coklat kehijauan Reid yang menusuk langsung kedalam jiwanya dan dalam cara yang aneh membangkitkan sensasi gelisah diperutnya dan menyalakan bara api gairah serta membuat lututnya lemas. Sandy berdehem suaranya seperti decitan. "Maksud anda"
"Aku menawar seratus ribu dolar, untuk satu kali kencan, bersama dengan wanita mengagumkan yang berdiri di atas panggung." Reid lalu memutar kepalanya untuk memberi Stephen tatapan menantang. "Kecuali jika ada orang lain yang menaikan tawaran, dan sudah pasti, aku juga akan menaikkan tawaranku."
Lucie menggigit bibir bawahnya saat menunggu reaksi dari Stephen. Stephen memandang Lucie dan Reid secara bergantian setelah beberapa saat dia pun menggelengkan kepalanya. Lucie mengeluarkan nafas lega yang selama ini tertahan dan membakar paru-parunya saat Sandy mengumumkan Reid lah penawar tertinggi. Entah karena tawaran Reid atau wanita itu baru saja mengetahui dia telah memenangkan perjalan ke Disney World. Sangat sulit mengetahuinya dengan kegembiraan yang ia tunjukan dan nada suara melengking yang Sandy ucapkan saat ia berbicara dengan cepat.
Apapun yang menyebabkan Sandy begitu gembira, Lucie tidak perduli. Pandangan mata Lucie terkunci pada pria tampan menggoda yang sekarang sedang berjalan menaiki menuju ke arahnya tepat pada saat pemain band memainkan lagu pertama mereka malam ini.
Saat Reid menaiki anak tangga pertama, ia mengulurkan tangannya. Badan Lucie bergerak tanpa berfikir, bahkan hanya dengan menggenggam tangan Reid, Lucie sudah kehilangan gravitasi akan tubuhnya, dan ia tahu percuma untuk melawan.
Namun kemudian Lucie mulai bersiap-siap untuk mengabaikan adegan yang tergambar di kepalanya seperti melemparkan minuman ke wajah Reid, yang sebetulnya itulah hal yang sangat ingin Lucie lakukan. Benarkan Tentu saja benar.
Saat di mana tangan mereka bertautan, Lucie merasakan sensasi getaran yang tak pernah ia duga sebelumnya menjalar dari tangannya dan menyebar keseluruh tubuhnya. Tak ada kata yang terucap ketika Reid membimbing Lucie menuju ke lantai dansa di mana pasangan lain mulai berkumpul. Reid menarik tubuh Lucie ke pelukannya, menyesuaikan tubuhnya seolah mereka adalah dua kepingan dengan bentuk yang sama. Satu tangannya yang besar melingkar, nyaman di dasar tulang punggungnya, menghangatkan kulit Lucie yang tersembunyi di balik pakaiannya yang tipis. Tangannya yang lain menggenggam tangan Lucie dalam sebuah gerakan dansa yang sempurna setara dengan bahunya.
Saat tubuh mereka bergerak mengikuti musik, Lucie bertarung dengan sisi lain dirinya yang mendorong dirinya untuk mencium Reid dengan liar dan berakhir menginjak keras kaki Reid sebelum mereka keluar dari ballroom.
"Kau baru saja menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang jelas tidak kau inginkan." Akhirnya Lucie membuka suara.
"Aku tahu."
Lucie memperhatikan Reid, mencoba untuk menyelesaikan teka-teki tanpa harus menanyakan jawabannya, namun tak satupun petunjuk yang ia temukan. Tidak ada senyuman puas, tidak ada otot rahang yang mengetat tanda kesal di wajahnya. Tidak ada dahi yang berkerut tanda tidak setuju atau bahkan tak ada satu alis yang terangkat keatas tanda menantang. Untuk pertama kalinya, Reid Andrews benar-benar tak terbaca.
"Kenapa"
"Karena kau tak mau menerima teleponku, dan aku tahu kau terlalu terhormat untuk bisa menolak kencan dengan orang bodoh menyedihkan yang telah mengeluarkan uang dari yang biasa mereka keluarkan untuk lelang ini."
Lucie menghidari tatapan mata Reid dan berkata, "Jadi semua ini hanya untuk bersenang-senang dan sebuah permainan untukmu. Itu sangat menenangkan."
"Tentu saja tidak, ini bukan permainan." Dengan ujung jemarinya Reid membawa kembali wajah Lucie untuk melihatnya. "Aku harus bertemu denganmu, sialan, aku sangat merindukanmu sayang."
Udara. Lucie membutuhkan udara.
Dengan kalap Lucie berbalik dan berjalan berkelok-kelok berusaha menerobos pasangan-pasangan lain yang sedang berdansa menuju kearah dimana dia tahu ada sebuah pintu besar yang akan membawanya keluar menuju teras yang luas dan taman yang terawat. Lucie berharap Reid mengikutinya, namun ia tak lagi perduli, asalkan dia bisa terbebas dari kerumunan orang dan tatapan mereka yang menyelidik. Lucie menolak untuk menangis di depan rekan kerjanya serta para undangan.
Mendorong melewati pintu Lucie menarik nafas dan mencium aroma buket bunga kedalam paru-parunya lalu mengeluarkannya tepat di saat ia melewati air mancur besar bertingkat tiga yang terletak di pintu masuk taman. Lucie menyilangkan tangannya di dadanya dan memeluk erat dirinya sendiri seolah itu bisa mencegahnya kehilangan kendali atas dirinya.
Lucie mendengar kerikil berderak dibawah sepatunya saat pria itu datang dan berdiri di belakangnya, tapi Reid tetap diam saat Lucie memandangi air mancur kecil di hadapannya. Saat Reid mulai bicara, suara rendah Reid bergelung di sekitar tubuh Lucie, menambah kekuatan dalam dekapannya, meredakan sedikit ketegangannya. 'Gaun itu terlihat mengagumkan saat kau pakai. Kau adalah wanita yang paling menakjubkan dari semua wanita yang pernah kulihat."
Lucie tidak mengatakan apapun. Dia bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata meskipun ia menginginkannya. Tenggorokannya terkunci rapat. Dia mendengar sedikit suara gesekan, seperti amplas, dan membayangkan dia menggosok rahangnya.
"Aku mendapatkan sabuk gelarku lagi. Aku mengalahkan Diaz." "Aku tahu," Jawab Lucie lembut.
Tak perduli berapa kali Lucie berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak ingin melihat pertarungan Reid, Lucie tahu bahkan sejenis perang nuklir pun tak mampu menghalanginya untuk menonton pertarungan itu. Duduk di sofanya lalu menarik lutut kedadanya dan giginya menggerogoti segala kesakitan yang keluar dari bibirnya, Lucie telah mengamati setiap saat yang menyiksa. Tentu saja ini sudah terlalu berlebihan untuk meminta pertarungan cepat. Tidak, Lucie sudah menjadi sasaran hampir tiga ronde penuh menonton Reid menerima pukulan dan tendang di kepala dan tubuh yang tampaknya bisa merobohkan seekor gorilla. Untungnya, Reid sebanding dengan lawannya, dan di ronde ke tiga Reid berhasil mengalahkan lawannya dengan tendangan di kepala yang spektakuler.
Lucie tidak pernah merasa selega ini dalam hidupnya. Atau begitu bangga.
Berhenti melamun dan katakan sesuatu, sialan kau. Dia berdehem dan berkata sebagaimana respon yang logis. "Selamat. Sekali lagi kau menjadi juara...seperti yang sudah kau inginkan selama ini."
"Tidak sepanjang waktu." Sebuah jari menjalar ringan dari bahu hingga siku Lucie dalam gerakan lamban nan menyiksa. "Tujuan dan ambisiku telah berubah banyak semenjak aku melangkahkan kakiku di kantormu hari itu."
Lucie menggelengkan kepalanya. Itu bukan apa yang Reid nyatakan sebulan yang lalu ketika Lucie membuka dirinya untuk Reid lebih dari yang sudah pernah ia lakukan dengan orang lain.
"Lucie, aku pensiun setelah pertarunganku."
Lucie berbalik dan menatap Reid dengan membelalak. "Kenapa kau melakukan itu Kau menang."
"Tidak masalah apakah aku menang atau kalah. Aku telah membuat keputusan untuk berhenti sebelum pertarungan itu, apapun hasilnya."
"Tapi," Lucie tergagap. "Kau mau kerja apa"
"Ada banyak hal yang bisa kulakukan dalam hidupku selain bertarung. Aku berpikir aku bisa kembali kesini dan mencoba hal yang lain. Mungkin mengejar ambisiku untuk menjadi pematung, atau membeli pakaian Argyle yang mengerikan dan bermain golf. Aku tidak perduli apa yang kulakukan, asalkan aku bisa bersamamu."
Lucie menggelengkan kepalanya bahkan sebelum Reid menyelesaikan kalimatnya. "Tidak. Itu yang kau katakan saat ini, tapi nantinya kau akan merasakan rasa gatal itu lagi, kebutuhan itu, dan di umurmu ini, jika kau sudah keluar dari jalurmu kau akan kesulitan untuk kembali lagi. Kau tidak bisa berhenti karena aku, Reid. Kau tidak bisa memberi tekanan semacam itu padaku."
"Wow, pelan-pelan, sayang," Kata Reid. Menggenggam bahu Lucie dengan tegas dan memastikan wanita itu memberikan perhatian penuh padanya sebelum ia memulai lagi. "Aku tidak berhenti, aku pensiun. Dan aku tidak melakukannya karena kau. Aku melakukannya untuk diriku sendiri."
"Aku tidak mengerti, kau sangat suka bertarung."
Reid mengambil tangan Lucie ke dalam genggamannya, membawa genggaman itu diantara mereka, mengusap ibu jarinya diatas jari-jari Lucie. "Kau ingat saat aku bilang padamu bahwa aku menyukai olahraga itu, tapi tidak selalu suka untuk melakukannya"
"Ya. Kau mengatakannya setelah makan malam waktu itu."
"Itu lah maksudku. Hatiku tidak lagi berada dalam pertarungan itu."
Mata Reid mencari-cari mata Lucie berharap ia akan melihat bahwa wanita itu mengerti, tapi Lucie tidak yakin dia mengerti. "Lalu dimana hatimu sekarang"
"Denganmu Lucie. Hatiku ada denganmu."
Lucie sangat ingin setuju dengan apa yang dikatakan Reid, namun sebagian besar dirinyabagian yang telah hancur sebulan lalu saat Reid pergi darinyamenahannya, memperingatkannya akan harapan yang salah. Lucie membutuhkan pengesahan yang lebih dari itu.
"Sejak kapan" Tantang Lucie.
"Sejak kapan hatiku ada bersama denganmu" Lucie mengangguk. Reid melangkah lebih dekat dan membingkai wajah Lucie dengan kedua tangan besarnya. "Kemungkinan besar sejak saat pertama kali aku mendengarmu mendengus." Reid menempatkan ciumannya diujung hidung Lucie. "Sangat mungkin lagi saat kau main mata dengan pelayan kita." Sebuah ciuman hangat pada bintik-bintik di samping matanya. "Hampir pasti saat pertama kali kau tertidur di pelukanku." Sebuah ciuman kecil pada pipi. "Dan tentu saja pada malam kita bercinta." Akhirnya, sebuah ciuman lembut di bibir Lucie.
Bagaimana mungkin seorang pria bisa menjadi beberapa orang yang berbeda Seorang petarung, ahli pengubah penampilan, perayu profesional, seniman, dan sekarang sebagai seorang penyair. Wanita takkan mempunyai kesempatan melawan kombinasi seperti itu. Lucie tak pernah berfikir Reid memiliki semua yang ia cari dalam diri seorang pria, namun ternyata Reid memiliki segala yang ia inginkan, dan Lucie menginginkan lebih.
Dengan berjinjit di atas jempolnya, Lucie melingkarkan tangannya di leher Reid dan menciumnya dengan segala apa yang ia layak dapatkan. Lengan yang kuat membungkus tubuhnya, memeluk tubuhnya dengan erat saat Reid menandai bibir Lucie dengan ciuman yang membara. Dari kejauhan terdengar suara lonceng gereja berdentang sebuah melodi yang menenangkan hati saat mereka menghentikan ciuman mereka untuk mengambil nafas.
Dengan nafas terengah Lucie membuat satu permintaan. "Katakanlah Reid."
Reid menyeringai. "Kau akan membuatku mengatakannya, kan"
"Kau beruntung aku tidak memintamu untuk menuliskannya di angkasa dengan menggunakan pesawat kecil itu."
Reid terkekeh, tapi dia kembali serius dengan cepat. Masih memeluk tubuh Lucie, Reid menempatkan keningnya di kening Lucie dan bicara dengan penuh ketulusan terpancar di mata hijau kecoklatannya. "Lucie Marie Maris....Aku benar-benar telah jatuh cinta padamu. Dan tuhan sebagai saksiku...tak perduli berapa lama waktu yang kubutuhkan...Suatu hari aku akan menjadi cukup layak untuk menjadi suamimu, karena aku tak sanggup jika harus hidup tanpa dirimu."
Lonceng berdentang di waktu tengah malam dalam bunyi genta yang lambat saat Lucie menyerap kata-kata indah yang berperan sebagai balsem untuk jiwanya, memperbaiki keretakan yang disebabkan oleh Reid di minggu sebelumnya. Lucie merasa utuh kembali dan, untuk pertama kalinya dalam kehidupan dewasanya, merasa dicintai tanpa syarat.
Dagunya bergetar saat ia mencoba menahan air mata yang bergegas keluar di matanya, tapi itu tidak ada gunanya. Mereka tumpah di pipinya, satu demi satu, dan akan beruntung jika air mata jelaganya itu tidak menetes ke gaunnya dan merusaknya. Pria bodoh.
"Sekarang lihat apa yang sudah kau perbuat dan lakukan." Lucie terisak, bertekad untuk setidaknya menahan ingusnya keluar dari seluruh kekacauan pada riasannya yang sebelumnya diterapkan dengan hati-hati. "Katakan 'I love you' dengan simpel pasti sudah cukup."
Reid tersenyum sebelum menempatkan ciuman lembut di bibirnya. "Aku mencintaimu."
"Sudah terlambat, aku sudah berantakan."
"Kupikir kau cantik."
Lucie mengernyitkan hidung. "Kau bias. Aku tidak bisa kembali ke sana seperti ini.
"Reid memiringkan kepalanya ke samping untuk sesaat, dan kemudian tersenyum padanya. "Jam sudah mau menunjukkan angka dua belas, Cinderella. Aku mungkin harus membawamu dengan selamat ke kamar hotelku. Kau tahu, untuk berjaga-jaga."
Lucie tertawa pendek, menggunakan bagian belakang tangannya untuk menggesek garis-garis hitam di bawah matanya dan mengangkatnya sebagai bukti. "Aku cukup yakin aku sudah kembali ke keadaanku terdahulu, tapi keluar dari gaun ini dan masuk kedalam bak air panas terdengar seperti surga."
Mata Reid gelap dengan intensitas dan otot dirahangnya berkedut. Lucie tidak bermaksud pernyataannya terdengar seksual, tapi jelas itulah yang ia terima dinilai dari reaksi Reid.
Meraih tangannya, ia hampir menggeram dan berkata, "Aku sangat setuju." Tanpa menunggu sedetikpun, dia berbalik, menarik Lucie keluar dari kebun menuju ke depan hotel. Langkahnya begitu panjang dan cepat hingga Lucie harus menaikkan gaunnya dan berlari kecil dibelakangnya untuk menyeimbangi. Cukup mengagumkan Lucie bisa mengatur kecepatannya dengan baik ketika tiba-tiba tumit sepatu kanannya terjebak dalam celah, menyebabkannya goyah saat kakinya terus berjalan tanpa itu. Untungnya Reid menggunakan refleksnya yang secepat-kilat untuk menangkap Lucie sebelum dia terjatuh mengenai batu trotoar di dekat pintu Prancis.
Tidak dapat menahan diri, Lucie tertawa histeris saat ia mengulurkan tangan dan mencoba untuk melepas sepatunya. Sejumput rumput menyentak bebas sepatunya...tapi bukan di bagian tumit. Dengan mulut ternganga Lucie menatap tumit besar yang dengan keras kepala masih terjepit di batu. "Well, sial. Bukankah itu baru saja terungkap."
Reid mendekap tubuh Lucie ke dalam pelukannya, melirik kakinya yang telanjang dan berkata, "Well, sekarang itu resmi." Lucie memeluk lehernya, alas kakinya yang patah menggantung di jemari salah satu tangannya.
"Apa yang resmi"
"Kau benar-benar Cinderella."
"Well, kalau begitu..." Lucie menangkap bibir bawah Reid di antara giginya, menelusuri kulit coklat yang tersingkap oleh bagian V terbuka dari bajunya, lalu melirik malu-malu melalui bulu matanya, tepat seperti yang Reid ajarkan padanya.
"...mari memulai Happily Ever After kita."
Saat bunyi lonceng terakhir memudar ke malam berbintang, Reid membalas tatapannya dengan senyum yang meluluhkan hati dan
berkata, "Sesuai permintaanmu, tuan putri." sebelum menggendongnya saat itu juga.
Tamat