Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 19
aku akan sisakan gerimis ini, untukmu

sampai tiba waktu bertemu, dan daun-daun yang baru mulai bertumbuh setelah seabad kemarau itu mengutukiku sebagai lelaki yang gagal mengubah batu

menjadi emas

seorang alkemis tua bernama khidir yang menghilang dalam keabadian

telah meninggalkanku pesan

satu rintik gerimis paling pahit sore itu

akan menjadi sebuah bola dunia baru

tak ada yang tahu, bayanganku pun kusekap dalam rumah tua tak berjendela itu dan aku mencari bayang-bayang lain

milik seorang perempuan yang bibirnya merah

memandangnya, gerimis akan turun lebih sedikit

dan setiap orang mulai mengekalkan rasa sakit

aku masih akan sisakan gerimis ini, untukmu

sampai tiba waktu bersua, dan daun-daun yang mulai belajar menuliskan nama

tidak kunjung tahu bagaimana namamu dieja

sebagai kematian atau cinta