MEMORIA - 19
Tak terhitung lagi

banyaknya doa yang berguguran.

Juga air mata

di antara puing-puing reruntuhan.

Para wanita berdoa,

semoga hari ini bukan anak mereka

yang dibawa lari

ke padang para malaikat,

tempat segala mimpi diciptakan.

Tapi misil-misil masih kelaparan

menunaikan tugas, menuai kematian.

Malaikat maut enggan beranjak,

membebaskan jiwa ke dunia yang semarak.

Tuhan pun seakan diam dalam penantian,

membiarkan mahaduka meraja di antara kematian.

Anak-anak menangis

dalam dekap kegelapan,

sambil menanti-nanti

kapankah peluru terakhir

dilepaskan dari dasar dendam.

Di Palestina,

doa-doa beku

dalam kelopak sang waktu

yang tak henti memekarkan tangis.

Adakah Tuhan berdiam diri dalam keabadian

(Sudut Kota, Minggu, 18 Januari 2009)