banyaknya doa yang berguguran.
Juga air mata
di antara puing-puing reruntuhan.
Para wanita berdoa,
semoga hari ini bukan anak mereka
yang dibawa lari
ke padang para malaikat,
tempat segala mimpi diciptakan.
Tapi misil-misil masih kelaparan
menunaikan tugas, menuai kematian.
Malaikat maut enggan beranjak,
membebaskan jiwa ke dunia yang semarak.
Tuhan pun seakan diam dalam penantian,
membiarkan mahaduka meraja di antara kematian.
Anak-anak menangis
dalam dekap kegelapan,
sambil menanti-nanti
kapankah peluru terakhir
dilepaskan dari dasar dendam.
Di Palestina,
doa-doa beku
dalam kelopak sang waktu
yang tak henti memekarkan tangis.
Adakah Tuhan berdiam diri dalam keabadian
(Sudut Kota, Minggu, 18 Januari 2009)