antara diri dan mereka yang pergi
laut membantingkan tubuhnya
ke rumah-rumah yang dibuat
dari asin keringat
dan pantun yang lebat.
air hujan mengetuk rumah-rumah
kedai kopi ngantuk
di depan gerbang masjid sultan raja.
aku raba jantungku
tak ada apa-apa di sini
.
orang-orang sibuk menyusun rencana
dari kopi-kopi encer, sebatang rokok,
dan asap yang meliuk seperti goyang penyanyi dangdut
di kampungku, Tambah lagi dong sawerannya
lantas mereka tertawa
sambil menuliskan puisi terbarunya.
apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta.*
langit menanamkan kesedihannya di rambutku
yang panjang oleh mimpi dan kata-kata.
Kedatangan kalian tak direstui.
ujar nenek di kampung itu.
kami berlalu pergi
berjingkat-jingkat di bawah gerimis
yang mengusir kami.
aku berdoa di bawah hujan
tentang rumah-rumah yang hanyut
ke sungai dan laut.
sumur-sumur keruh
pecahan batu yang ditinggalkan tuan mudanya
dan orang-orang sibuk menengok ke sungai itu
ke laut itu
ke sumur itu
yang airnya menggenang di mataku.
di makam raja
suara doa berdengung
serupa lebah gantung
bergerombol di kepalaku
sementara mereka masih sibuk merekam
riwayat masing-masing
menggosipkan puisi dan ongkos pulang.
setelah berdoa, orang-orang pergi
sambil menimbang-nimbang puisi
yang akan segera dituliskannya.