MASA LALU TERJATUH KE DALAM SENYUMANMU - 19
langit siang itu berkaca-kaca

antara diri dan mereka yang pergi

laut membantingkan tubuhnya

ke rumah-rumah yang dibuat

dari asin keringat

dan pantun yang lebat.

air hujan mengetuk rumah-rumah

kedai kopi ngantuk

di depan gerbang masjid sultan raja.

aku raba jantungku

tak ada apa-apa di sini

.

orang-orang sibuk menyusun rencana

dari kopi-kopi encer, sebatang rokok,

dan asap yang meliuk seperti goyang penyanyi dangdut

di kampungku, Tambah lagi dong sawerannya

lantas mereka tertawa

sambil menuliskan puisi terbarunya.

apabila banyak berkata-kata

di situlah jalan masuk dusta.*

langit menanamkan kesedihannya di rambutku

yang panjang oleh mimpi dan kata-kata.

Kedatangan kalian tak direstui.

ujar nenek di kampung itu.

kami berlalu pergi

berjingkat-jingkat di bawah gerimis

yang mengusir kami.

aku berdoa di bawah hujan

tentang rumah-rumah yang hanyut

ke sungai dan laut.

sumur-sumur keruh

pecahan batu yang ditinggalkan tuan mudanya

dan orang-orang sibuk menengok ke sungai itu

ke laut itu

ke sumur itu

yang airnya menggenang di mataku.

di makam raja

suara doa berdengung

serupa lebah gantung

bergerombol di kepalaku

sementara mereka masih sibuk merekam

riwayat masing-masing

menggosipkan puisi dan ongkos pulang.

setelah berdoa, orang-orang pergi

sambil menimbang-nimbang puisi

yang akan segera dituliskannya.