Kapan kawin Udah lewat 2013 loh Kawin enak loh!
Turunin dong standar, jangan ketinggian, ntar jadi perawan tua
loh!
Kamu sih pilih-pilih. Mau yang kayak gimana lagi sih Banyak tuh
cowok di jalan, tinggal pilih aja!
.... Dan komen-komen pedas lainnya dari masyarakat sekitar ....
Entah dari mana munculnya pandangan-pandangan sinis itu.
Samar sekali maksud mereka, baik atau buruk. Ada yang merasa
mereka itu sebenarnya support, tapi bagi yang menjadi subjek
justru statement seperti itu adalah pembunuhan karakter sebagai
wanita.
Saya mendengar banyak sekali curhatan sahabat-sahabat yang merasa mentally abused by the community just because they have not married yet. Saya juga menyaksikan langsung bagaimana masyarakat di setiap sudut lingkungan saya tinggal (rumah, kantor, keluarga) selalu menanyakan hal yang sama kepada saya, yang tahun depan akan menginjak angka 30.
Sebenarnya apa mau mereka Berniat baik tapi dengan cara dan kata-kata menusuk. Atau memang mau menunjukkan kepada saya bahwa Hei hidup ini kiamat loh kalo belum kawin.
Saya kerap berpikir, masyarakat tidak pernah ada puasnya mencampuri kehidupan orang lain. Belum kawin, ditanya kapan kawin. Belum punya anak, ditanya kapan punya anak. Sudah dikarunia satu anak, ditanya kapan punya adik baru. Sudah kerja, ditanya kapan pensiunnya, Sudah usia 50, ditanya kapan menopause. Kenapa gak sekalian, sudah uzur, ditanya kapan matinya
Apa tidak ada tema pembicaraan yang lebih elegan di samping pertanyaan-pertanyaan itu.
Suatu ketika, saat saya tinggal setahun di keluarga berkebangsaan Canada. Tidak ada satu kali pun tercetus pertanyaan yang menyangkut urusan pribadi, kecuali mereka merasa ada hal yang jika dibiarkan mengganggu kenyamanan bersama.
Keluarga angkat saya selalu menanyakan hows your day, Fa Hows work Hows the weather Hows the soccer game Did you enjoy your dance practise Dan segunung pertanyaan yang saya pikir sangat elegan sekali.
Ada saat, biasanya waktu dinner, kami berdiskusi mengenai agama yang saya anut, kehidupan keluarga di negara saya, perubahan cuaca yang mulai tidak terprediksi, bahkan kami dengan asyiknya merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga setiap weekend.
Mungkin ini hanya gambaran ideal dari sudut pandang saya. Saya belajar banyak tentang menghargai dan memaknai setiap detail momen kehidupan tanpa harus memaksakan suatu konteks ideal kebanyakan masyarakat.
Memang tidak semuanya sesempurna dan seelegan kehidupan saya di keluarga angkat. Banyak juga teman-teman bule yang malas pulang ke rumah pada saat Christmas karena malas ditanya keluarga besarnya, kapan menikah Why you dont bring your boyfriend home Dan pertanyaan sejenis lainnya.
Atau mungkin sebenarnya di benua mana saja di dunia ini juga mempunyai stereotype yang hampir sama dalam hal ingin tau urusan orang lain.
Saya melihat, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana seorang wanita single atau yang in relationship dapat menyikapi social pressure seperti itu.
Nah baru deh, kemudian akan kelihatan tingkat kedewasaan dan pengendalian diri seseorang ketika menyikapi hal ini. Mau menganggapnya jokes semata atau mau frontal membalasnya dengan statement balik yang tajamnya setimpal The choice is yours, ladies.
Toh pada akhirnya tidak akan merubah situasi, atau jodoh langsung turun dari langit. Pada akhirnya, masyarakat juga lupa kalau mereka pernah menanyakan hal itu kepada single ladies di lingkungannya. Pada akhirnya semua menuai konsekuensi dengan berjalannya waktu.
Namun yang membuat saya tidak habis pikir, pernahkah mereka memposisikan diri sebagai orang tua yang anaknya juga jomblo sejati pada usia 30-an
Mungkin jika mereka sudah punya kesadaran itu, setidaknya mereka akan berpikir puluhan kali untuk mengeluarkan pernyataan-pernyataan seperti tertulis di awal.
Memang menghadapi society seperti ini susah-susah gampang. Apa yang kemudian perlu dilakukan
Entah secara kebetulan atau terencana, akhir-akhir ini saya merasa tertarik untuk bergaul dengan teman-teman 30s something. Beberapa ada yang sudah menikah, bercerai tanpa anak, bercerai dengan anak, in relationship, tetapi tentunya kebanyakan yang masih jomblo.
Dan memang yang sering sekali hang out itu adalah teman-teman saya yang berada pada dua kategori terakhir dan yang divorced.
Bagi yang menikah, jangankan untuk kumpul, untuk membalas
SMS saja tidak sempat. Alasannya, sibuk urusin anak dan keluarga.
Lalu apakah mereka yang belum terikat tidak menikmati hidup Siapa bilang seperti itu Justru mereka, menurut saya, adalah orang yang paling bahagia dengan kebebasannya. Banyak hal yang mereka lakukan bersama-sama. Mostly, kegiatan yang super fun dan berguna bagi orang banyak seperti rutin melakukan kegiatan sosial.
Kemudian, traveling. This is the most priority for jombloers to spend the holiday, definitely! (Jombloers: real jomblo, in relationship, divorced, definisi menurut Fa).
Bagi mereka, traveling adalah surga.
Kebahagiaan terpancar di muka-muka mereka, setiap
kali saya nimbrung di acara
traveling.
Kadang mereka membuat joke
Hahaha ... coba kalau kita udah married, mana bisa have fun
seperti ini bersama teman-teman
dan sahabat ....
Semangat .... Ya, ternyata traveling juga dijadikan ajang
saling menyemangati satu sama lain untuk tidak pesimis menghadapi social
Di sisi kehidupan lain, saya juga kerap diajak curhat teman-teman yang sudah menikah. Hampir 80
persen mengeluhkan kurangnya waktu 24 jam sehari untuk menikmati hidup.
Mereka kerap mencibir iri jika ada temannya (khususnya saya, hehehe) yang single LDR dengan senangnya meninggalkan kantor di sore hari untuk sekedar lanjut hang out di mall.
Belum lagi keluhan tentang mertua, sifat buruk suaminya, nakalnya anak-anak, sampai dengan ketidakpuasan seksual.
Sayangnya, di komunitas ini, kami mempunyai time limit berkumpul karena mereka tidak tega meninggalkan anak-anak lebih lama lagi di rumah. Saya bisa bilang, maksimal hanya bisa ngobrol dua jam.
Saya jadi berpikir, sebenarnya apa ya mau mereka Padahal mereka sudah dikaruniakan kebahagiaan pernikahan jika dibandingkan dengan teman-teman jomblo yang teraniaya secara mental oleh masyarakat. Apa manusia tidak pernah ada puasnya ya Selalu saja ada yang kurang dalam hidupnya.
Kembali kepada komunitas jombloers. Beberapa kali saya bergabung dengan kegiatan sosial mereka. Ternyata sangat menyenangkan dan menyentuh hati nurani.
Sesekali kami melakukan bakti sosial di daerah kumuh, menjadi pengajar tamu di sekolah-sekolah pinggiran, mengumpulkan dan menyumbangkan buku-buku untuk anak-anak di daerah terpencil (tentunya sekalian traveling), dan beragam kegiatan sosial lainnya di waktu mendatang.
Saya pribadi berada pada titik merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena mendapat kesempatan having fun bersama mereka.
Lagi-lagi seputar gank jombloers, party adalah agenda wajib.
Mereka beranggapan, work hard, social hard, party hard. What a positive statement.
Tidak hanya itu, quality time bersama keluarga inti juga menjadi poin penting bagi mereka. Hahaha ... saya setuju sekali.
Oh ya, ada juga sesekali saya diajak kumpul-kumpul dengan komunitas divorced women. Kebanyakan sih setiap pertemuan penuh dengan cucuran air mata. Tidak lain karena mereka saling curhat masalahnya masing-masing.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), wanita lain, ikut campur keluarga besar dan keuangan. Ya ... cuma seputaran empat hal itu saja yang menjadi penyebab utama perceraian. Menurut saya.
Saya menarik kesimpulan seperti ini mungkin karena saya berada out of the box. Bisa melihat dan menyimpulkan secara sepihak. Tetapi apabila saya yang berada di posisi mereka, apakah saya akan sekuat mereka Entahlah ....
Hal yang membuat saya salut dengan teman-teman yang bercerai itu adalah kekuatan mereka menghadapi kenyataan dan kemandirian menanggung beban keluarga. Mereka berjuang hidup untuk membiayai kebutuhan keluarga dan anak-anak. Belum lagi keruwetan yang timbul dalam mengurusi administrasi perceraian yang kebanyakan ditanggung pihak wanita. Belum lagi cibiran masyarakat dengan status janda.
Mungkin bijaknya, ayo coba belajar untuk ikhlas dan tidak saling menjatuhkan satu sama lainnya. Lebih empati terhadap kehidupan orang lain. Yang paling perlu diingat, jodoh ada di tangan Tuhan.
Terus berdoa dan berusaha.
Lakukan banyak kegiatan seperti volunteer, enjoy life with family, traveling, go out to party, ikut kegiatan hobi lainnya.
Most importantly, perbanyak berkumpul dengan sahabat terbaik yang selalu memberi support positif.
Semoga dapat memberi warna dan hikmah.
Keep colours alive