Ini adalah biara di mana para biarawati tinggal dan kepala pertapaan ini adalah seorang biarawati berusia kira-kira enam puluh lima tahun. Biara kecil ini dapat dikatakan bersejarah karena hubungannya dengan ibu kota lama. Tapi ini tetaplah biara yang sunyi. Pintu gerbangnya tersembunyi dekat serumpun bambu sehingga wisatawan pun jarang berkunjung.
Karena tak dikenal, ruangan yang terpisah dalam biara itu jarang digunakan. Sebatas untuk upacara minum teh. Kadang kala, kepala biarawati keluar meninggalkan biara untuk mengajar seni merangkai bunga.
Apakah bisa dikatakan bahwa diri Tn.Sada Takichiro telah menyerupai biara ini, tempat di mana ia menyewa ruangan
Ia menjalankan usaha perdagangan grosir bahan-bahan tekstil di sebuah toko di distrik Nakagyo, Tokyo. Ia membentuk badan hukum bagi tokonya seperti kebanyakan pemilik toko di sekitarnya. Tentu saja Tn.Takichiro sendirilah pemimpinnya. Tetapi ia menyerahkan segala urusan transaksi pada para pegawai. Bahkan ia pertahankan praktik-praktik usaha yang mengingatkan orang pada cara kerja toko tradisional.
Sejak masa mudanya, Tn.Takichiro telah mempunyai watak pemimpin. Ia tak menyukai orangorang. Sama sekali tak mempunyai ambisi untuk menonjolkan diri pada usaha tenun dan pencelupan. Tapi bahan-bahan tekstil itu belum terjual, bahkan meski ia telah memajangnya, karena tampak sungguh baru.
Sang ayah, Tn.Takichibei, dengan tenang mengamati aktivitas putranya itu. Toko itu tidak kekurangan akan desain-desain yang penuh gaya, karena polapolanya dilukis sendiri oleh sang desainer yang juga pemilik toko, juga seniman-seniman lain. Tapi ketika Tn.Takichibei menyadari bahwa putranya yang jenius itu telah mulai mengalami kemerosotan dan mulai menciptakan desain-desain aneh di bawah pengaruh narkotika, maka dibawanya anaknya itu ke rumah sakit.
Setelah meninggalkan rumah sakit, desain Tn.Takichiro menjadi lebih normal. Tapi ia malah meratapinya. Nah, alasan dirinya mengurung diri dalam biara itu adalah agar ia mampu menghasilkan desain yang amat menyenangkan.
Perubahan gaya pada desain kimono sejak masa perang memang sangat mencolok. Tn.Takichiro mengenang kembali desain-desainnya yang aneh, yang mendapat inspirasi dari narkotika yang ia konsumsi bertahun-tahun sebelumnya, dan berpikir tidakkah kini desain-desain itu bisa dianggap sebagai karya abstrak yang menyenangkan. Tapi kini usianya telah mencapai lima puluhan akhir.
Haruskah aku membuat desain dengan pola klasik yang tegas dan berani Tn.Takichiro berbisik pada dirinya sendiri. Tapi dalam pikirannya membanjir sejumlah pola hebat dari masa sebelumnya. Seluruh pola dan warna yang ada pada kain buatan zaman kuno ada dalam bayangannya. Tentu saja ia juga melewatkan waktu dengan berjalan menyusuri taman-taman terkenal, gunung-gunung, dan tanahtanah padang di Kyoto sambil membuat sketsa-sketsa untuk kimono.
Kira-kira tengah hari datanglah Chieko.
Ayah, maukah jika aku rebuskan untukmu beberapa buah tofu morika Aku telah membelinya untukmu.
Oh, terima kasih. Ayah suka kau membawakan tofu untuk ayah, tapi ayah sudah cukup gembira kau datang kemari. Maukah kau tinggal sampai malam nanti, untuk membantu menguraikan pikiran di kepala ini... sehingga ayah bisa menemukan pikiran untuk membuat desain yang bagus
Seorang pedagang kain grosir tak perlu bisa menggambar pola desain. Pencarian seperti itu dalam kenyataannya memang bisa membawa seseorang sampai ke jalan bisnis. Tapi Tn.Takichiro sering menempatkan diri duduk selama setengah jam sehari di belakang meja tulis dekat jendela ruang tamu, menghadap taman sebelah dalam di mana lampu kristal berada. Di belakang meja tulis, dalam dua lemari pakaian dari kayu pohon kiri terdapat contohcontoh kain dari masa Tiongkok dan Jepang kuno. Rak-rak buku di sebelahnya berisi pola-pola kain dari seluruh dunia.
Di lantai kedua gudang tempat penyimpanan, terpisah dari bangunan toko, terdapat sejumlah kostum pertunjukan Noh dan juga kimono-kimono pernikahan yang diawetkan dalam kondisi semula. Bahkan di situ banyak sekali kain cita dari laut selatan.
Ia telah mewarisi beberapa jenis barang dari ayah dan kakeknya, tapi jika ada pameran-pameran kain kuno dan ia diminta agar mempertontonkan koleksi kainnya, Tn.Takichiro akan menolak dengan tegas. Sesuai dengan kehendak ayahku, kain-kain itu tidak boleh meninggalkan rumah ini, jawabnya, dengan keras kepala menolak permintaan itu.
Rumah keluarga Sada adalah sebuah rumah Kyoto bergaya kuno, sehingga seseorang harus melintasi ruangan sempit di samping meja tulis Tn.Takichiro untuk bisa mencapai kamar mandi. Ia akan mengernyitkan dahinya diam-diam melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Tapi jika toko sudah mulai ribut, ia akan berkata dengan tegas, Tak bisakah kau sedikit lebih tenang
Pegawai yang dipanggil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Kita kedatangan pelanggan yang dari Osaka.
Akan lebih baik bagiku jika ia tidak membeli apa pun di sini. Masih banyak pedagang grosir yang lain.
Tapi beliau adalah pelanggan setia, Tuan.
Orang membeli kain itu pakai mata. Jika ia hanya pakai mulut, sudah tentu ia tak betul-betul punya selera terhadap kain-kain itu. Pengusaha yang sejati sudah tahu hanya dari melihat sekilas saja. Lalu... lagi pula kita punya banyak barang murah di sini.
Ya, Tuan.
Tn.Takichiro mempunyai selembar karpet antik dari luar negeri, terbentang di atas lantai dari meja tulisnya hingga mencapai alas duduk. Di sekeliling tempatnya duduk adalah bahan-bahan gorden dari kain cita yang menyenangkan, berasal dari selatan. Penempatan kain-kain itu merupakan ide Chieko. Kain-kain bahan gorden itu menjadikan suara-suara dari toko terdengar pelan. Dari waktu ke waktu Chieko merubah posisi susunan kain-kain itu. Saat itu pula Tn.Takichiro menyadari kelembutan hati gadis itu. Ia berbicara pada gadis itu tentang Jawa dan Persia, tentang beberapa masa dalam sejarah atau tentang desain bahan gorden. Chieko tak selalu paham terhadap detail-detail uraian ayahnya itu.
Kalau ini terlalu bagus untuk dibuat tas, dan terlalu besar untuk dibuat pembungkus teh. Coba jika Ayah buat sebagai obi, bisa jadi berapa potong tanya Chieko sambil melihat sekeliling, pada kainkain cita di seputar ruangan itu.
Ambilkan ayah gunting! seru ayahnya.
Dan Tn.Takichiro pun mulai memotong-motong bahan gorden dari kain cita di hadapannya dengan keahlian yang sudah bisa diduga.
Ini akan menjadi obi yang bagus untukmu, Chieko. Bukankah begitu
Chieko terkejut. Kedua matanya berkaca-kaca.
Oh, tidak, Ayah.
Tak apa. Jika kau mau memakai obi yang terbuat dari kain cita ini, mungkin beberapa ide baru untuk pola-pola desain akan kembali ayah peroleh.
Dan obi itulah yang dipakai Chieko saat mengunjungi ayahnya di biara itu.
Tentu saja Tn.Takichiro segera mengetahui obi dari kain cita yang dikenakan anak gadisnya itu, tapi ia tidak mengamatinya. Polanya lebar dan cukup mencolok, dengan beberapa bagian berwarna gelap dan pucat. Ia berpikir bagaimana tampaknya pola ini jika gadis seusia Chieko yang memakainya.
Chieko meletakkan kotak makan siang di samping ayahnya.
Ayah mau makan sesuatu Tunggu sebentar, saya akan mempersiapkan tofu untuk Ayah. Sang ayah hanya terdiam.
Chieko berdiri dan memandang ke arah rerumpunan bambu dekat gerbang.
Ini telah masanya musim gugur daun bambu, kata ayahnya. Tembok dari tanah yang mengelilingi tempat ini telah mulai remuk dan miring. Hanya belum runtuh saja... seperti ayahmu ini.
Chieko biasa mendengar ayahnya berkata seperti itu. Ia bahkan tidak berusaha untuk menghibur. Ia hanya mengulangi ucapannya, musim gugur daun bambu.
Bunga sakura di sepanjang jalan menuju tempat ini... bagaimana kelihatannya tanya sang ayah sambil lalu.
Mahkota bunga yang berguguran ada yang jatuh dan mengambang di permukaan kolam. Ada sepasang pohon baru mulai mekar bunga-bunganya, di antara kehijauan daun pepohonan lain di gunung. Semua terlihat lebih menyenangkan jika dilihat dari kejauhan, tempat kita berjalan.
Chieko menuju ke dapur. Sang ayah dapat mendengar suara saat gadis itu mencacah bawang merah dan memanggang ikan asin. Gadis itu kembali setelah meletakkan perkakas yang digunakannya untuk mempersiapkan hidangan. Ayahnya itu telah membawa cukup banyak makanan dari rumah untuk persediaan.
Chieko menunggui ayahnya dengan setia.
Mengapa kau tidak makan bersama ayah tanya ayahnya itu.
Terima kasih Ayah, sahut Chieko.
Tn.Takichiro menatap anak gadisnya itu dari pundak hingga ke pinggang. Betapa sungguh tidak menarik. Kau selalu memakai desain buatan ayah. Mungkin kau satu-satunya yang melakukan itu. Kau selalu mengakhiri memakai kimono yang ayah buat desainnya, yang tidak laku terjual.
Tak mengapa. Saya memakainya karena memang menyukainya.
Hmm, kimono-kimono itu begitu sederhana.
Memang sederhana, tapi...
Tapi tak ada salahnya gadis belia sepertimu memakai pakaian sederhana, seru ayahnya dengan suara keras yang tidak terduga.
Orang-orang yang mengamati dari dekat selalu memuji saya.
Sekarang Tn.Takichiro menggambar desain hanya untuk hobi atau sebagai hiburan. Toko mereka menjadi tempat usaha grosir dengan membidik selera yang tengah digemari. Maka, wajar jika kepala pegawai tak pernah memproduksi lebih dari dua atau tiga potong pakaian dari setiap pola desain buatan Tn.Takichiro, untuk menyelamatkan muka sang pemilik toko. Chieko akan selalu memakai pakaian itu dengan senang hati. Apalagi kain untuk bahan pakaiannya dipilih dengan hati-hati.
Kau tak perlu mengkhususkan diri untuk hanya memakai desain buatan ayah, kata sang ayah. Dan kau pun tak harus hanya memakai kimono yang ada di toko kita. Kau tidak perlu merasakan itu sebagai kewajiban.
Kewajiban tanya Chieko terkejut. Saya memakai kimono-kimono itu tidak karena kewajiban.
Jika kau sudah mulai memakai kimono yang mencolok, apakah bisa ayah simpulkan bahwa kau telah menemukan pria idamanmu tanya sang ayah sambil tertawa keras-keras, tapi tanpa tersenyum.
Saat gadis itu menyajikan tofu rebus, ia memerhatikan meja tulis besar milik ayahnya. Tak ada tanda-tanda bahwa ayahnya itu sedang mendesain pola celupan. Hanya sekotak suzuri dari zaman Edo dan dua gelondong kain Koya tiruan tersandar di sudut.
Chieko bertanya-tanya apakah kedatangan ayahnya ke biara ini adalah untuk melupakan masalah bisnisnya di toko.
Tak ada kata terlambat untuk terus belajar. Makanya ayah sekarang belajar kaligrafi, kata ayahnya itu agak malu. Barisan huruf-huruf Fujiwara mungkin akan memperkaya desain. Chieko terdiam.
Oh, betapa menyedihkan. Bahkan tanganku pun sudah gemetar.
Bagaimana jika Ayah menggambar huruf-huruf itu lebih besar lagi.
Ayah ini juga sedang mulai menggambar huruf-huruf dengan lebih besar.
Bagaimana dengan tasbih di atas kotak suzuri itu
Oh, itu Ayah meminta kepada biarawati untuk mendapatkannya. Beliau pun memberikannya.
Ayah pakai untuk pemujaan
Kalau anak-anak muda sekarang mungkin akan menyebutnya maskot atau jimat. Tapi terkadang ayah seperti ingin meremukkan manik-maniknya dengan gigi.
Kejamnya! Saya membayangkan benda ini telah kotor karena bekas tangan yang tertinggal bertahuntahun.
Apa yang kau maksud dengan kata kejam Itu adalah bekas-bekas jari para biarawati dari generasi ke generasi.
Seperti merasakan dukacita ayahnya, Chieko terdiam menundukkan pandangnya. Ia membawa hidangan yang tersisa ke dapur.
Di manakah kepala biarawati itu tanya Chieko ketika ia kembali.
Mungkin sebentar lagi juga pulang. Kau mau apa
Saya ingin jalan-jalan keliling Saga, lalu pulang. Mungkin sekarang banyak orang berkunjung di Arashiyama. Tapi saya juga menyukai Nonomiya, Adashino, dan jalan kecil menuju Biara Nisonin. Jadi saya pun akan ke sana.
Jika kau menyukai tempat-tempat itu di masa mudamu, aku bisa membayangkan akan seperti apa kamu jika sudah tua. Jangan tiru ayahmu ini! seru Tn.Takichiro.
Apakah mungkin perempuan meniru lakilaki
Ayah Chieko pun kini berdiri di beranda, mengawasi anak gadisnya itu saat ia melangkah pergi.
Biara tempat Tn.Takichiro mengurung diri tersembunyi dari jalanan kampung dekat serumpun bambu. Untuk mengunjungi biara Nembutsuji di Adashino, Chieko mendaki undak-undakan kuno sampai se-
jauh dua patung Buddha di karang terjal sebelah kiri. Tapi, mendengar suara orang bercakap-cakap dari kejauhan, gadis itu menghentikan langkahnya.
Ratusan batu yang berasal dari tiang-tiang roboh di sana biasa disebut tanah pemakaman kaum miskin Buddha. Sekarang, kursus fotografi kadangkadang diadakan di sana; perempuan dengan kimono-kimono tipis dan tak lazim biasa berpose di antara batu-batu pilar kecil yang sudah rebah. Hari ini, suara-suara itu mungkin datang dari sekumpulan orang.
Chieko menuruni undak-undakan batu dari patung-patung Buddha, mengingat kata-kata ayahnya. Bahkan jika alasannya pergi ke Adashino hanya untuk menghindari para wisatawan yang khusus datang pada musim semi di Arashiyama, tempat-tempat seperti Adashino dan Nonomiya benar-benar tak pantas untuk dikunjungi seorang gadis belia, bahkan lebih tidak pantas dibanding kesukaannya memakai kimono dengan desain buatan ayahnya yang tampak menjemukan itu.
Aku tak melihat Ayah melakukan sesuatu di biara tua itu. pikir Chieko. Lamat-lamat ia merasakan kesedihan menusuk dada. Aku penasaran, apa yang dipikirkan saat duduk sambil menggigiti manikmanik tasbih yang tua dan sangat kotor itu.
Chieko tahu bahwa di toko ayahnya akan sering berusaha untuk meredam suara saat menggigiti tasbih itu dengan keras, seolah ia ingin meremukkan manik- manik dengan gigi-giginya.
Masih lebih baik jika ia menggigit jariku, Chieko berbisik sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lalu ia ganti membayangkan saat ketika ia dan ibunya membunyikan lonceng di biara Nembutsuji bersama-sama. Menara tempat lonceng itu tergantung baru dibangun. Sang ibu bertubuh kecil, sehingga meskipun ia sudah sungguh-sungguh mencoba, lonceng itu hanya bersuara pelan. Tapi Chieko menaruh tangannya di atas tangan ibunya, menarik napas dalam-dalam, lalu memukul lonceng bersama-sama. Ternyata gemanya lebih keras.
Kita berhasil! Sampai seberapa jauh ya suara gema itu akan terdengar Ibu Chieko tampak sangat gembira.
Tidak sejauh kalau biksu yang memukulnya. Beliau kan berpengalaman, seru Chieko sambil tertawa.
Chieko mengingat kejadian saat ia melintasi jalanan kecil menuju Nonomiya. Di dekat jalan ada papan pengumuman yang berbunyi Jalan ini melewati semak- semak bambu yang tinggi. Papan tanda itu belum begitu lama terpasang, tetapi jalan setapak yang semula nampak kotor dan suram itu kini nampak bersih dan terbuka. Bahkan di pintu gerbang ada seorang wanita penjual bunga yang memanggil Chieko.
Tetapi, kuil kecil di tempat itu sama sekali tak berubah. Kisah Genji Monogatari pun menerangkan keberadaan kuil itu. Putri-putri istana kekaisaran yang mengabdi Kuil Ise akan melewatkan masa tiga tahun di kuil ini demi mensucikan diri dari kekotoran noda dunia sebelum pergi ke kuil Ise. Kuil itu terkenal dengan pagar kecilnya yang diliputi belukar, juga dengan adanya gerbang Shinto yang terbuat dari kayu, tanpa mengelupas kulitnya.
Jalan yang ada di sana terbentang dari muka Nanomiya, menembus padang dan tanah lapang untuk akhirnya mencapai sebuah tempat terbuka di Arashiyama.
Chieko naik bus di samping barisan pohon cemara di dekat jembatan Watatsuki.
Bagaimana aku harus berkata pada ibu Beliau akan mengira sesuatu yang tidak beres terjadi dengan Ayah.
Beberapa rumah di Nakagyo terbakar habis saat terjadi kebakaran di Teppo dan Dondon, sebelum restorasi Meiji. Toko Tn. Takichiro tidak lepas dari kerusakan.
Meski ada beberapa rumah tua gaya Kyoto yang masih tertinggal, dengan pintu dan jendela kisikisinya di tingkat dua, tak ada satu pun yang telah berusia lebih dari seratus tahun. Meski begitu, kata orang tempat penyimpanan yang berada di belakang toko keluarga Takichiro mampu bertahan dalam ganasnya api.
Toko itu belum diperbarui lagi menurut gaya modern. Sebagian karena tabiat sang pemilik yang memang seperti itu. Tapi mungkin pula karena kelesuan usaha perdagangan grosir.
Sesampainya di rumah, Chieko membuka pintu kisi-kisi dan menatap lurus ke bagian belakang rumah. Ibunya, Ny.Shige, tengah duduk di meja sang ayah sambil merokok. Wanita tua itu menyangga pipinya dengan tangan kiri, dan punggungnya membungkuk, seolah sedang membaca atau menulis. Meskipun begitu tak ada sesuatu pun di atas meja.
Aku pulang, seru Chieko sambil mendekati ibunya.
Oh, terima kasih atas bantuanmu. Ny.Shige seperti baru tersadar. Bagaimana dengan ayahmu
Mmmp..., Chieko tampak mencari-cari jawaban. Saya membelikan ayah beberapa buah tofu.
Yang jenis Morika Ia mungkin sangat senang. Direbus
Chieko mengangguk.
Bagaimana keadaan di Arashiyama tanya ibunya.
Banyak orang berkunjung hari ini.
Kau pergi ke sana dengan ayahmu
Tidak. Kepala biarawati sedang pergi, sehingga ayah harus jaga di sana. Chieko kembali memikirkan sesuatu. Ayah sedang belajar kaligrafi.
Kaligrafi Seru sang ibu mengulangi, tanpa menunjukkan bahwa itu adalah sesuatu yang luar biasa. Kuharap dengan mempelajari kaligrafi hati-nya akan senang. Ibu juga pernah mempelajarinya.
Chieko menatap wajah ibunya yang tampak mulia dan berkulit putih itu. Tak ada gerak tertentu dari roman muka yang bisa ditebaknya.
Chieko, Ibunya memanggil dengan lembut. Chieko, kalau tiba waktunya, kau tak harus meneruskan usaha toko ini. Karena Chieko tak menanggapi, ibunya itu meneruskan, jika mau, kau boleh menikah dan meninggalkan rumah ini; tinggal di rumah suamimu.
Tetapi Chieko masih membisu.
Kau dengar kata ibumu ini
Mengapa Ibu membicarakan hal itu
Ibu tak bisa menyampaikannya secara singkat, tapi ibu sekarang sudah lima puluh tahun. Kadangkala ibu berpikir apa yang harus kusampaikan kepadamu.
Bagaimana kalau Ibu dan ayah berhenti saja berbisnis lalu beristirahat. Bagaimana Bu Sepasang mata Chieko yang indah mulai basah.
Kami belum memikirkan lompatan besar seperti itu, tapi..., kalimat itu putus. Ibu Chieko tersenyum tipis.
Chieko, kau bilang ayah dan ibu berhenti saja berbisnis. Apakah ini sebenarnya yang selama ini kau pikirkan Suara ibunya itu tak keras, tapi terasa memojokkan Chieko. Atau apakah gadis itu membayangkan senyuman di bibir ibunya
Itu memang yang sedang saya rasakan, jawab Chieko. Seberkas kepedihan menembus dada.
Ibu tidak marah. Roman mukamu jangan seperti itu. Kau tentunya dapat membayangkan siapa yang lebih bersedih. Gadis yang bisa berkata seperti itu ataukah telinga seorang wanita tua yang mendengarnya.
Ibu, maafkan saya Ibu!
Ini bukan masalah ibu memaafkanmu ataukah tidak.
Kemudian sang ibu benar-benar tersenyum. Kedengarannya lain dengan yang ibu ucapkan barusan, ya
Saya tak tahu harus berkata apa.
Orang-orang... terutama wanita, bisa mengubah apa yang telah ia ucapkan.
Ibu.
Kau juga berkata begitu pada ayahmu di Saga
Tidak. Saya belum mengatakan apa pun pada ayah.
Katakan padanya, dan lihatlah bagaimana tanggapannya... tolong. Ia seorang pria. Jadi mungkin saja ia marah. Tapi ibu yakin ia tak akan sakit hati. Sang ibu menopang keningnya. Ibu duduk di sini juga berpikir tentang ayahmu.
Ibu, kau tahu apa yang sedang terjadi saat ini
Apa maksudmu
Ibu dan anak itu terdiam beberapa saat. Kemudian Chieko berseru, seolah ia tak bisa tetap diam. Haruskah saya ke Nishiki untuk mencari sesuatu buat makan malam
Ya, tolong.
Chieko bangkit dan melangkah menuju toko, menuruni tangga menuju tempat masuk berlantai tanah. Sejak semula, ruangan itu sempit, memanjang sampai bagian belakang rumah. Pada dinding setentang dengan toko, kompor-kompor yang sudah menghitam diletakkan berbaris. Inilah dapur mereka.
Sekarang tentu saja kompor-kompor itu tak lagi dipakai. Sebuah kompor gas telah terpasang di belakang ruang masuk, dan lantai kayunya masih ada hingga sekarang. Tapi bagian dasarnya adalah lantai yang diplester sehingga udara dingin yang biasa masuk membuat musim gugur yang hebat di Kyoto terasa menekan keras.
Tungku yang ada di sana masih utuh. Mungkin karena keyakinan terhadap Kojin -dewa api di bumi- masih mengakar. Sebuah jimat Shinto tergantung di belakang perapian, sebagai pencegah kebakaran. Patung-patung gendut Hotai, sang dewa keberuntungan berjajar dalam barisan tersendiri. Jumlah patung itu ada tujuh, tapi jumlahnya terus bertambah satu sejak keluarga Sada membelinya setiap bulan Februari di Kuil Inari di Fushimi, daerah Hatsuuma. Jika ada yang meninggal dalam keluarga itu, mereka akan menghentikan jumlah bilangan dan memulai lagi dari satu.
Tujuh patung dewa berdiri pada perapian di toko itu. Tak ada yang meninggal dalam tujuh tahun, bahkan sepuluh tahun.
Sebuah vas putih dari porselin terletak di samping patung-patung dewa di perapian. Setiap dua atau tiga hari, ibu Chieko akan memercikkan air pada rak di situ dan dengan hati-hati menyekanya.
Baru saja Chieko bersiap untuk pergi belanja dengan keranjang di tangannya, ia melihat seorang pemuda memasuki pintu kisi-kisi.
Ia tentu pegawai bank, serunya pada sang ibu. Pemuda itu tak mengetahui keberadaan Chieko.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia adalah pegawai bank biasanya, yang selalu datang berkunjung. Tapi kaki Chieko terasa berat saat ia sudah berada di dekat pintu kisi-kisi di muka toko. Sambil melangkah, ia masukkan jemarinya, menyusur setiap bilah kisi-kisi.
Setelah mencapai jalanan, Chieko menengok ke belakang, ke arah toko, kemudian melihat ke atas. Papan merek yang sudah tua, yang terpasang di muka jendela kisi-kisi lantai dualah yang dilihatnya. Atap rumah yang kecil melekat pada papan itu, menandakan bahwa toko itu sudah lama berdiri. Tapi, papan itu juga tampak sebagai semacam dekorasi.
Matahari musim semi yang penuh kedamaian naik di atas kepala, menyinari huruf pada papanpapan merek yang telah pudar dimakan cuaca, menjadikannnya tampak lebih menyedihkan. Tirai katun yang tebal di pintu toko juga telah memutih. Beberapa helai benangnya yang kasar tampak menjuntai.
Bahkan pepohonan sakura Merah di kuil Heian pun mengalami masa kesepian, karena ditundukkan oleh perasaan semacam ini, pikir Chieko sambil bergegas pergi.
Orang-orang ramai berkerumun di sekitar pasar Nishiki seperti biasanya.
Dalam perjalanan pulang, Chieko melihat seorang wanita dari Shirakawa dan gadis itu pun memanggilnya, tolong, mampir ke rumah kami juga.
Baiklah, terima kasih. Kamu mau pulang tanya perempuan itu. Kamu tadi dari mana
Dari Nishiki. Aku juga ingin membeli bunga darimu untuk ditempatkan di altar keluarga.
Oh, terima kasih. Lihat saja apakah ada yang kau suka.
Bunga yang dimaksud tadi sebenarnya adalah ranting-ranting Sakaki seperti yang biasa digunakan pada ritual agama Sinto. Di pucuk-pucuk ranting itu ada kuncup-kuncup muda.
Wanita dari Shirakawa tadi selalu berkeliling menjajakan bunga setiap tanggal satu dan tanggal lima belas setiap bulannya.
Aku begitu gembira kau pulang hari ini, seru perempuan Shirakawa itu.
Jantung Chieko berdegup keras saat memilih sebuah ranting kecil dengan kuncup-kuncup kecil yang masih lembut. Dengan menggenggam ranting Sakaki, gadis itu memasuki rumah. Ibu, aku pulang. Suaranya terdengar jelas.
Chieko membuka pintu kisi-kisi separuhnya dan menatap ke jalanan. Perempuan Shirakawa itu masih di sana.
Silakan masuk dan beristirahat sebentar sebelum Anda pergi lagi. Saya akan membuatkan teh, kata Chieko padanya.
Terima kasih. Kau memang selalu baik hati, jawab wanita itu sambil menganggukkan kepala. Sambil membawa bunga-bunga di atas kepala, wanita itu melangkah menuju ruangan masuk. Semua yang kubawa ini adalah bunga-bunga yang biasa tumbuh di padang rumput.
Oh, saya suka bunga padang. Terima kasih telah mengingatkan. Chieko menatap bunga-bunga yang dihimpun dari padang rumput dan gunung-gunung itu.
Di dalam gerbang di samping perapian ada sumur tua dengan penutup dari anyaman bambu. Chieko menempatkan ranting Sakaki dan bungabunga di atasnya.
Saya akan mengambil gunting. Oh, saya pun harus membasuh kuncup-kuncup sakaki itu.
Ini guntingnya, seru wanita Shirakawa itu sambil mengulurkan benda yang dimaksud. Perapianmu selalu tampak menyenangkan. Kami para pedagang bunga betul-betul perlu berterima kasih pada orang sepertimu.
Uh, ibukulah yang mempunyai kepekaan seni.
Kau juga, Nona.
Chieko hanya terdiam.
Di rumah-rumah yang kukunjungi sekarang banyak perapian dan vas yang dibiarkan saja diliputi debu, dan penutup sumur pun tampak kotor. Harihari seperti ini adalah waktu yang menyulitkan bagi pedagang bunga keliling. Ini terlalu buruk. Tapi saat datang ke rumahmu ini, aku merasa terbebas dan sangat senang.
Chieko masih terdiam. Ia tak tega membicarakan betapa bisnis yang menyediakan pelayanan personal ke rumah-rumah seperti ini akan berkurang atau mengalami kemunduran seiring berjalannya waktu.
Ny.Shige masih duduk menghadap meja itu.
Chieko memanggil ibunya itu agar menuju ke dapur, untuk menunjukkan apa yang telah ia beli di pasar. Saat Chieko mengeluarkan barang-barang dari dalam keranjang, ibunya heran melihat betapa anak gadisnya itu menjadi suka berhemat. Mungkin itu karena ayahnya pergi ke biara di Saga.
Akan kubantu, kata ibunya saat ia masuk ke dapur. Bunga ini dari wanita yang biasa datang
Ya.
Apa ayahmu membawa buku tentang lukisan pemberianmu itu di Saga tanya ibunya.
Saya tak melihatnya.
Ia pasti hanya membawa satu dari beberapa buku yang didapatnya darimu, bukan begitu
Buku-buku itu memuat koleksi lukisan Paul Klee, Matisse, Chagall, dan beberapa seniman pelukis abstrak modern lainnya. Chieko membeli bukubuku itu untuk ayahnya, dengan harapan agar dapat membangkitkan kepekaan baru.
Tak apa jika ayahmu tak lagi menggambar desain sama sekali. Sudah cukup dengan mengurusi barang-barang celupan dari tempat lain. Tapi ayahmu..., ucapan ibunya terputus. Dan kau, Chieko. Kau cukup berbaik hati hanya mau mengenakan kimono buatan ayahmu. Ibu harus berterima kasih, kata ibunya melanjutkan.
Berterima kasih pada saya Saya memakainya hanya karena suka.
Tidakkah kau berpikir bahwa ayahmu sedih saat ia melihat kimono dan obi yang dikenakan anak gadisnya
Ibu, kimono dan obi itu memang tampak biasa saja. Tapi jika dilihat dari dekat, mereka mempunyai cita rasa yang istimewa. Orang-orang memujiku karenanya.
Chieko teringat betapa ia pernah mengatakan hal yang sama pada ayahnya.
Kadang memang seorang gadis cantik terlihat makin cantik meski hanya mengenakan kimono biasa, tapi..., ibunya mengangkat tutup periuk dan mencicipi masakan dengan sumpitnya. Ibu heran juga mengapa ayahmu tak bisa lagi menggambar desain yang indah, mencolok, dan sesuai dengan mode. Biasanya ayahmu mampu membuat desain yang begitu indah dan orisinil.
Apakah Ibu punya kimono buatan ayah
Ibu sudah terlalu tua untuk mengenakannya.
Tua Berapa usia Ibu
Bagi seorang yang sudah tua..., kalimat ibunya kembali terputus di tengah-tengah.
Bagaimana dengan Kekayaan Budaya yang Tak Bisa Dinyatakan secara Jelas kekayaan hidup, bukankah begitu sebutannya Misalnya pola-pola desain ciptaan Komiya dari zaman Edo. Ketika gadisgadis belia mengenakannya, mereka tampak lebih mencolok. Menonjol. Ketika mereka lewat, orangorang akan menengok.
Ayahmu takkan pernah bisa menyamai Master
Komiya.
Tapi desain ayah tercipta dari kedalaman gelombang batin.
Kau ini bicara rumit-rumit. Lalu ekspresi wajah ibunya berubah. Kulit sang ibu putih bersih, ciri khas wanita Kyoto. Tapi, Chieko, ayahmu pernah berkata kalau ia akan membuat sebuah kimono yang memesona untuk pernikahanmu. Ibu sudah lama menanti-nanti itu.
Pernikahan saya Chieko mengerutkan kening dan sejenak terdiam. Ibu, apakah Ibu pernah mengalami suatu peristiwa yang sangat memengaruhi perasaan Ibu, sepenuhnya
Mungkin ibu pernah mengatakan ini sebelumnya. Pertama adalah saat menikah dan kedua adalah saat aku dan ayahmu mencurimu dan membawamu lari bersama deru mobil. Itu terjadi dua puluh tahun silam. Tapi bahkan sampai sekarang ibu merasakan debaran di dada ketika memikirkan kejadian itu.
Chieko, tolonglah! Bantu ibu menenangkan hati ini.
Ibu. Saya bukan anak temuan kan
Tidak. Tidak. Ibunya menggeleng dengan tegas.
Kadang kala sekali atau dua kali dalam hidupnya, manusia bisa melakukan kejahatan yang begitu menakutkan, kata ibunya melanjutkan. Menculik seorang bayi adalah perbuatan dosa, lebih parah ketimbang mencuri uang ataupun yang lainnya. Bahkan mungkin lebih jahat ketimbang pembunuhan. Mungkin orang tua kandungmu sudah gila karena kedukaan. Ketika berpikir tentang hal ini, bahkan ibu jadi ingin mengembalikanmu. Tapi, tentu saja itu sangat terlambat. Jika kau ingin mencari asal-usulmu, orang tuamu yang sebenarnya, ibu tak bisa mencegah. Tapi, ibu mungkin akan segera mati.
Ibu, jangan bicara seperti itu! Engkaulah satusatunya ibuku. Itu yang selalu kurasakan sepanjang waktu.
Ibu mengerti. Dan itu membuat ibu tambah merasakan parahnya dosa itu. Ibu menyadari bahwa ibu akan masuk neraka bersama ayahmu... Lalu seperti apakah neraka itu nantinya Tapi mungkin ini demi agar anakku tersayang ini bisa kembali ke rumah tempat ia dilahirkan.
Nada bicara ibunya keras, tapi tetap saja air mata membanjiri pipinya. Chieko berusaha untuk tak menitikkan air mata.
Ibu, tolonglah ceritakan yang sebenarnya. Saya bukan anak temuan kan
Tidak, ibu telah mengatakan yang sebenarnya. Ibunya kembali menggelengkan kepala. Mengapa kau berpikir bahwa kau bukan anak temuan
Saya tak bisa membayangkan betapa Ibu dan ayah telah mencuri seorang bayi.
Bukankah sudah kuceritakan kepadamu bahwa sekali atau dua kali dalam hidupnya, manusia bisa saja melakukan suatu kejahatan yang begitu menakutkan, yang kemudian mengubah perasaannya.
Jika itu benar, dari mana ibu memungutku
Dari bawah pohon sakura di kuil Gion pada malam hari, kata ibunya tanpa ragu. Aku mungkin telah memberitahumu sebelumnya. Saat itu kami akan duduk di bawah pohon. Tapi kami malah menemukan seorang bayi mungil yang cantik terbaring. Ia menatapku dan tersenyum seperti sekuntum bunga. Aku tak tahan untuk tidak menimangnya. Dan ketika kulakukan itu, hatiku terasa tertusuk. Aku tak bisa menahannya. Kusentuh pipinya dengan pipiku. Ketika aku melihat ke arah ayahmu, ia berkata, Shige, ayo kita bawa anak ini. Apa Cepat, ayo kita pergi. Dan yang terjadi selanjutnya adalah seperti impian kabut. Kukira waktu itu kami melompat ke dalam mobil di muka kedai sop di Hirano. Ibu sang bayi baru saja melangkah pergi untuk beberapa saat. Kami mencuri bayi itu segera.
Kisah ibunya tak mengandung detail yang tidak masuk akal.
Sudah takdir... sehingga kau pun menjadi anak gadis kami. Dua puluh tahun telah berlalu. Apakah ini baik ataukah buruk, ibu tak tahu. Bahkan jika ini bagus untukmu, ibu selalu memohon ampun dalam hati. Ibu pikir ayahmu juga merasakan hal serupa.
Ini bagus, Ibu. Kupikir ini bagus. Chieko menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangan.
Terlepas dari apakah ia anak temuan atau anak curian, Chieko telah terdaftar di kantor catatan sipil sebagai anak gadis yang sah dari keluarga Sada.
Ketika pertama kali diberitahu kedua orang tuanya bahwa ia bukan anak mereka yang sebenarnya, Chieko tak bisa mempercayainya. Saat itu ia baru saja masuk sekolah menengah. Ia meragukan kata-kata mereka, berpikir bahwa mereka membuat cerita seperti itu karena mereka kesal padanya.
Karena khawatir kalau-kalau ia mendengar kabar dari tetangga, kedua orang tuanya memutuskan untuk berterus terang sebelum orang lain mengatakannya. Mereka yakin bahwa Chieko mencintai keduanya dan bahwa anak gadisnya itu telah mencapai usia di mana ia bisa mengerti.
Chieko terkejut, tapi tak merasa begitu sedih. Bahkan ini tidak menjadi masalah baginya ketika ia telah dewasa. Tak terdapat banyak petunjuk yang menandakan bahwa gadis itu mempunyai masalah seperti yang mereka perkirakan. Begitulah tabiat Chieko.
Tapi jika benar ia bukan anak mereka, orang tua nya yang sebenarnya pasti ada di suatu tempat. Dan mungkin ia juga punya saudara lelaki dan perempuan.
Saya tak benar-benar ingin bertemu dengan mereka. Tapi..., pikir Chieko. Perasaan mereka tentu lebih tersiksa daripada perasaan saya.
Chieko tak tahu bagaimana cara mengetahui keberadaan orang tua kandungnya. Kesedihan hidup bersama ayah dan ibunya, di toko tua dengan pintupintu kisi dan ceruk-ceruk dalam, memaksa Chieko untuk menyeka matanya di dapur.
Chieko. Sang ibu meletakkan tangannya di pundak anak gadisnya itu. Jangan tanya lagi tentang yang sudah lalu. Kadang kala, di suatu tempat, ada mutiara yang jatuh dari langit.
Sebutir mutiara yang menyenangkan. Saya harap Ibu bisa menjadikannya sebagai mata cincin. Lalu Chieko berpaling dan mulai bekerja dengan tekun.
Setelah makan malam Chieko dan ibunya mencuci piring, lalu naik tangga menuju bagian belakang rumah.
Bocah-bocah lelaki penjaga toko telah tertidur di ruangan beratap rendah dengan jendela-jendela kisinya. Ruangan di sebelah taman dalam rumah dibiarkan kosong hingga tangga ke lantai atas. Ruangan ini juga bisa dicapai dengan melewati toko. Keluarga Sada sering mengadakan jamuan makan bersama pelanggan-pelanggan favorit mereka dan mengajak mereka melewatkan sisa malam di lantai atas. Sekarang, keluarga Sada menangani sebagian besar urusan bisnisnya di ruang tamu, menghadap taman sebelah dalam. Meski disebut ruang tamu, tapi ruangan itu terbentang dari toko sampai bagian belakang bangunan. Bahan tekstil dan kain-kain menumpuk di rak di satu sisi, sampai menjulur-julur keluar dari rak karena tidak muat. Ruangan itu luas, jadi sangat cocok untuk membentangkan kain-kain saat dipertunjukkan pada pelanggan. Sebuah lapik tikar rotan telah tergelar di lantai itu selama setahun.
Langit-langit ruangan sebelah belakang di lantai dua dibuat tinggi. Ada dua ruangan yang digunakan sebagai kamar tidur dan ruang duduk seluruh keluarga. Chieko duduk di muka cermin, menguraikan rambutnya yang panjang, yang selalu ditata rapi.
Ibu, serunya memanggil ibu di ruang sebelah.
Kegelisahan tampak dari nada bicaranya.