GOING TO HEAVEN - 2
Pukul sepuluh malam, Ibnu dipanggil oleh bapaknya. Malam ini adalah waktunya ia menyetorkan isi buku yang telah ia baca hari ini. Baru jam sembilan tadi ia merampungkan buku Die Traumdeutung karangan Sigmund Freud, seorang tokoh psikologi modern yang terkenal dengan aliran psikoanalisis-nya. Kali ini yang ia baca adalah salah satu bukunya tentang tafsir mimpi. Meskipun aktivitas kesehariannya teramat padat, tapi ia bisa menjalaninya dengan sangat baik. Selama ini ia mampu mengerjakan berbagai macam hal dengan cepat, khususnya dalam membaca. Mungkin kecepatan membacanya tiga atau empat kali lebih cepat dari orang pada umumnya. Ia menemukan resepnya dalam buku Quantum Learning karya Bobby De Porter. Meskipun sebenarnya cepat tidaknya seseorang dalam membaca tidak hanya ditentukan oleh metode, tapi juga jam terbang dalam membaca alias banyak sedikitnya orang dalam membaca.

Dimatanya, membaca buku-buku psikologi memang sangat menarik, meskipun sebenarnya ia lebih menyukai buku-buku bertemakan filsafat Islam. Beberapa waktu yang lalu ia telah menamatkan buku-buku karangan Mulla Sadra, Al Ghazali, Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid dan Iqbal. Sebelumnya lagi ia telah melahap habis buku-buku karangan orang sendiri: Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri, HAMKA, Tan Malaka dan Harun Nasution, hingga yang terakhir ia membaca Islam Doktrin dan Peradabannya Caknur dan Catatan Harian Ahmad Wahib. Ia merasa perlu untuk mengikuti pula khasanah keilmuan yang ditulis oleh orang-orang sendiri, karena ia ingin mengetahui sampai sejauh mana dinamika keilmuan yang ada di bangsanya sendiri. Sejauh ini yang ia tahu hanya ada beberapa tokoh Indonesia yang pemikirannya dijadikan rujukan secara luas hingga melintas batas negara. Dalam bidang agama ia menemukan Imam Nawawi Al Bantani, dibidang sastra ia menemukan Pramudya Ananta Toer, dibidang Ideologi ia menemukan Tan Malaka. Selebihnya buku-buku sejarah Jawa

Kuno yang banyak menghiasi perpustakaan di Belanda sehingga para calon Doktor Indonesia yang ingin menulis desertasi harus pergi ke negeri kincir angin tersebut, mengingat koleksi buku-buku tersebut didalam negeri sudah sangat terbatas.

Di ruang kerjanya, bapaknya telah menunggunya. Ruang kerja bapaknya berukuran 5 kali 5 meter. Didalamnya terdapat perpustakaan pribadi yang berisi tidak kurang dari seribu buah buku, semuanya tak ada yang berbahasa Indonesia. Buku-buku berbahasa Indonesia milik bapaknya diletakkan di perpustakaan pesantren. Sementara itu yang ada dalam ruang kerja bapaknya itu hanyalah buku-buku berbahasa Arab, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Belanda, Itali, Jawa, Mandarin dan Persia. Bapaknya sangat fasih dalam berbahasa Arab, Inggris, Jerman, Perancis dan Jawa, sedangkan sisanya hanya bisa pasif: membaca dan mendengar meskipun sedikit-sedikit bisa melakukan percakapan sederhana. Tampak dihadapan

Ibnu bapaknya sedang memegang sebuah buku. Serta merta ia menukas,

Buku apa Pak

Kamu lihat sendiri

Bapaknya memperlihatkan buku tersebut padanya. Ia baca judulnya: Il Principe, ditulis oleh Nicollo Machiavelli. Sejurus ia mengetahui siapa penulisnya. Sejak kelas 2 SD ia sudah pernah mendengar nama itu, tapi ia belum sempat membaca bukunya.

Wah kayaknya bagus Pak Ingin aku membacanya. Tapi kapan yah

Ya lain waktu saja. Sekarang kamu sedang fokus ke buku-buku psikologi, kan tanya sang bapak.

Iya, kemarin aku sudah baca buku-bukunya Abraham Maslow,

Skinner, Lacan sama Julian Kristeva jawab Ibnu mantap.

Hari ini apa yang sudah kau baca

Sekarang giliran Freud

Buku yang mana

Die Traumdeutung, Pak

Tafsir Mimpi. Oke, Explain what you read!

Buku ini adalah salah satu karya besar Freud yang memuat hampir semua pemikirannya selama hidupnya, terbit pada tahun 1900. Dunia mimpi dalam pandangannya, dikuasai oleh id yang merupakan alam bawah sadar. Dalam dunia tak sadar ini setiap manusia terdapat keinginan-keinginan primitif dalam dirinya, atau dengan kata lain adalah dorongan biologis atau nafsu hewani. Tapi dalam kondisi tidur, ego dan super ego berjaga sebagai sensor. Sehingga makna mimpi tidak selamanya jelas, mereka dinyatakan dengan simbol-simbol dan memerlukan penafsiran seorang ahli

Ibnu menjelaskan dengan panjang lebar tentang semua isi buku tersebut. Dihadapan bapaknya, ia bercerita hampir setengah jam. Sang bapak menanyainya berbagai macam pertanyaan. Salah satunya adalah perbedaan antara id, ego dan super ego. Ia jawab dengan singkat, Id adalah pusat dari naluri seksual manusia. Bayi yang baru lahir adalah perwujudan dari id. Lambat laun ego berkembang dengan bertambah besarnya sang bayi. Ego tidak dibimbing seluruhnya oleh prinsip kesenangan sebagaimana id, tapi ia dikuasai oleh prinsip kenyataan. Ego ini sadar akan dunia disekelilingnya, dan berfungsi untuk mengontrol id agar tidak terjadi benturan dengan norma sosial. Sedangkan super ego, sebagaimana id, sifatnya tak sadar dan keduanya selalu berada dalam konflik yang tak terputus-putus, sementara itu ego sebagai wasitnya. Super ego adalah kampung halaman dari tingkah laku atau dalam bahasa agama adalah apa yang dinamakan dengan akhlak

Bapaknya serius mendengarkan penjelasannya sambil termanthukmanthuk. Sesekali ia membuat lelucon yang bisa membuat bapaknya tertawa atau minimal melebarkan bibirnya untuk tersenyum. Selesai semua penjelasan Ibnu, bapaknya berkata,

Bagus, bapak memberi nilai atas penjelasanmu hari ini... delapan

Wah pak, kok cuma delapan sih

Lantas kamu mintanya berapa anakku yang paling ganteng...

Sepuluh donk pak, hehe...

Enak aja kamu minta nilai sepuluh... nilai sepuluh itu buat Tuhan, sembilan buat bapak, sedangkan buat kamu cukup delapan saja, ya jelas bapaknya sambil tersenyum, bergurau.

Aaah bapak. Selalu saja, paling-paling aku cuma dapat nilai delapan atau tujuh

Ehm.. baiklah, karena hari ini kamu baru mengisi acara bedah bukumu, khusus hari ini bapak kasih kamu nilai sembilan

Hehe asyik asyik, besok aku kasih tahu ibu kalau aku dapat nilai yang paling tinggi dari bapak. Hehe...

Oke oke. Rasa senangnya disimpan dulu. Sekarang, bapak mau

tanya. Bagaimana sekolahmu Lancar-lancar saja kan

Lancar lah Pak... aku juga masih selalu ingat pesan bapak. Hormatilah orang yang mengajarmu! Iya kan Hehe

Baguslah kalau kau masih selalu memegangnya. Jangan anggap dirimu yang paling pintar, bahkan melebihi kepintaran guru-gurumu. Meskipun bapak yakin kamu dengan sangat mudah menyerap semua mata pelajaran, tapi jangan sampai kau menunjukkan sikap superior. Bersikap wajarlah seperti halnya teman-temanmu yang lain

Iya Pak, aku selalu ingat pesan bapak itu

Ya sudah. Rencanamu, buku apa yang akan kau baca selanjutnya Apa yah Bukunya Malthus, Essay on the Principle of Population, sudah. Bukunya Hitler, Mein Kampf, sudah waktu SMP. Bukunya Einstein, Relativity the Special and General Theories, sudah tahun lalu. Bukunya Newton, Principia Mathematica, sudah juga. Origin of Species-nya Darwin, juga sudah aku baca sampai pusing dulu. Hehe Kalau Das Kapital, bagaimana

Karl Marx Apa nggak terlalu tebal pak Waktu baca bukunya Darwin saja aku perlu waktu dua hari

Bapak kasih waktu kamu dua hari pula. Berarti besok malam kamu free

Okay

Waktu bapak kuliah di Jerman dulu, bapak pernah pergi ke toko

buku disana. Kamu tahu berapa jumlah bukunya Marx

Ibnu menggeleng.

Kalau dijajar lebih dari dua meter

Kok bisa banyak banget gitu pak heran Ibnu.

Ya yang kita tahu selama ini kan cuma Das Kapital, The German Ideology. Yang lainnya sebenarnya masih sangat banyak. Belum lagi bukubukunya Hegel, Imanuel Kant, Nietzsce, terus yang akhir-akhir ini Horkhaimer, Marcuse, Gramsci, Habermas, Lyotard, Derrida. Di Eropa khususnya di Jerman dan Perancis memang surganya karya-karya filsafat barat. Sepertinya mereka memang benar-benar memegang khasanah ilmu pengetahuan dunia. Belum lagi Amerika dan negara-negara maju lainnya Iya ya pak Kok Indonesia nggak bisa kayak gitu ya Pak Itulah pertanyaan yang seharusnya kau jawab sendiri. Bagaimana para generasi muda sepertimu nantinya bisa mengubah kondisi yang ada Tapi kenapa selama ini sepertinya jarang sekali orang Indonesia yang berfikir seperti itu, Pak

Entahlah nak. Mungkin banyak faktor. Kemiskinan, keterbelakangan, penindasan. Kalau dinegara-negara maju, kau tahu sendiri perbedaannya. Bukankah kau sudah membaca bukunya Abraham Maslow Iya. Tentang lima tingkatan kebutuhan manusia itu ya Tingkatan kebutuhan pertama yang paling dasar adalah kebutuhan fisik: sandang, pangan, papan, biologis. Sedangkan kebutuhan yang kelima adalah kebutuhan aktualisasi diri. Karena di Indonesia masih banyak orang yang sibuk memikirkan kebutuhan pokoknya alias kebutuhan yang paling dasar, sehingga kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya, untuk belajar dan berkarya, tidak diperhatikan. Orang miskin lebih butuh memikirkan perutnya daripada harus menghafalkan rumus-rumus fisika. Bagaimana mungkin mereka bisa membeli buku untuk menambah wawasan, sementara

uang untuk beli minyak tanah saja mereka tidak punya

Kau sudah faham rupanya

Tapi bukankah sebenarnya banyak orang Indonesia yang pintarpintar, Pak Tapi kenapa mereka malah lebih suka pergi ke luar negeri dan tidak mau mengamalkan ilmu mereka untuk kepentingan bangsanya sendiri

Sebenarnya ada satu cerita yang belum bapak ceritakan padamu. Dulu, waktu bapak mengambil program doktor di Munchen Jerman, setelah lulus bapak ditawari untuk menjadi Dosen disana. Mereka menawarkan gaji yang jika dibandingkan dengan gaji dosen di Indonesia sangat jauh lebih tinggi. Salah seorang teman bapak ada yang menerima tawaran seperti itu dan akhirnya bekerja menjadi dosen disana. Tapi bapak menolaknya. Bapak merasa lebih baik kembali ke tanah air dan berjuang meningkatkan kualitas hidup orang-orang sendiri. Ketika bapak pulang ke Indonesia, ada beberapa perguruan tinggi ternama yang menawari bapak untuk mengajar. Tapi bapak juga menolaknya. Bapak merasa lebih baik kembali ke tanah kelahiran bapak dan mengabdikan diri untuk Ummat disini. Untuk itulah pesantren modern ini berdiri. Dengan kerja keras bapak, dan ibumu yang selalu setia menemani bapak, akhirnya bapak bisa mendirikan Pesantren ini, yang memang sudah bapak impikan sejak masih muda

Ibnu menangkap sorot mata kejujuran dari setiap kata yang bapaknya katakan. Terbersit rasa bangga dalam dada karena ia memiliki seorang bapak yang memiliki cita-cita mulia. Ia merasa harus mengikuti jejaknya.

Spontan bibirnya berkata lirih,

Ingin sekali aku seperti bapak

Kau harus lebih dari bapak, anakku. Bapak berharap kau bisa terus sekolah sampai menjadi seorang Profesor. Cukuplah bapak hanya menyandang gelar doktor dan tidak mungkin jadi profesor karena bapak tidak berada dalam struktur akademis. Tapi kau... akan jadi profesor kelak.

Jika Allah menghendaki

Tapi apa pentingnya menjadi seorang profesor, Pak

Kau memiliki kemampuan yang melebihi orang tuamu. Waktu masih seusiamu, bapak tidak semenonjol kamu. Bapak belajar hanya dengan modal keyakinan. Tidak punya kekayaan, hanya punya semangat. Dalam waktu yang cukup panjang bapak meraih cita-cita, itu saja dengan susah payah. Baru umur 28 tahun bapak bisa mendapat beasiswa untuk studi S2 ke Jerman. Disanalah bapak bertemu dengan Ibumu. Tapi waktu itu ibumu adalah seorang mahasiswi jurusan Psikologi di Universitas yang sama dengan bapak. Ibumu itu seorang muslimah sejak lahir, anak seorang Profesor Fisika di EHESS Perancis yang awalnya seorang atheis tapi kemudian masuk Islam karena memandang science sangat relevan dengan Al Quran.

Anakku, Kau lahir dari rahim seorang Ibu yang secara genetik mewarisi kecerdasan leluhurnya. Harapan bapak kepadamu sangatlah tinggi, karena memang sesuai dengan proporsimu. Bapak tidak akan berharap tinggi padamu seandainya kau tidak mampu menjalankannya, karena itu hanya akan membebanimu dikemudian hari. Tapi, dengan apa yang kau miliki saat ini, bapak yakin kau mampu menjadi orang besar.

Kemampuan yang besar menciptakan tanggung jawab yang besar. Kalau kau nantinya menjadi seorang profesor dalam bidang keilmuan tertentu, kau akan bisa membuat teori yang berguna untuk ilmu pengetahuan. Itu berarti kau menjadi orang yang bermanfaat untuk dunia, bukan hanya berguna bagi segelintir orang

Tapi bukankah nantinya aku tak bisa beramal secara riil seperti yang bapak lakukan saat ini Aku hanya akan bergulat dengan teori, tanpa menyentuh realitas sosial

Bapak mengerti maksudmu. Jadi begini anakku, akan bapak jelaskan padamu maksud bapak.

Bapaknya menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya,

Bapak hanya mengingatkanmu, bukankah kau sudah membaca pemikiran Foucault tentang relasi antara pengetahuan dan kekuasaan Ilmu pengetahuan, menurutnya, tidaklah bisa dilepaskan dari struktur kekuasaan. Science itu tidak value free, tidak bebas nilai. Ia memiliki nilai ideologis tertentu. Teori positivisme August Comte yang menyatakan kalau science itu netral sudah banyak dibantah oleh para ilmuan dari mulai Teori Kritis Madzhab Frankfurt hingga oleh Teori Posmodernisme. Bapak yakin kau sudah tahu itu. Bapak juga mengingatkan kalau science yang ada selama ini kental dengan nuansa kepentingan yang kalau tidak terkontrol bisa merusak tatanan dunia. Kau tahu kenapa bapak mendidikmu dengan ajaran agama sejak kau masih kecil Itu bertujuan untuk membekalimu semangat keIslam-an yang diharapkan tidak pernah akan luntur meskipun kau memakan banyak buku-buku sekuler dari barat. Untuk itulah bapak mempersiapkanmu untuk menjadi seorang ulama didunia science. Bapak menyebutnya Ulama science

Ulama science Kelihatannya keren sekali

Ya, jika Allah menghendaki, kau akan dipersiapkan menjadi seorang ulama science. Seorang ulama yang berjuang di dunia akademis, di wilayah ilmu pengetahuan. Kau akan memiliki kemampuan sebagaimana seorang futurolog, meramalkan masa depan dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Kau akan mampu memperkirakan tomorrows history dengan ilmu yang kau miliki. Tapi kau pergunakan kemampuan itu untuk kepentingan Islam sekaligus menyelamatkan dunia ini dari kehancuran yang salah satunya disebabkan oleh fikiran-fikiran para orang yang mengaku dirinya ilmuan tapi hanya membuat kerusakan di muka bumi. Kau tentu tahu bagaimana Charles Darwin menghipnotis banyak ilmuan sepanjang sejarah menjadi orang-orang atheis yang bahkan memusuhi agama. Materialisme, kapitalisme, liberalisme bahkan komunisme adalah keturunan dari rahim pemikiran Darwin tersebut. Harun Yahya dan Muhammad Quthb menjelaskannya dengan cukup detail dalam buku-buku mereka, meskipun sebenarnya banyak pula dikalangan filsuf barat sendiri yang membantah pemikiran Darwin.

Mungkin kau akan bertanya bagaimana caranya mengcounter pemikiran-pemikiran menyesatkan yang muncul sepanjang sejarah, khususnya dalam dunia keilmuan Kau tentu telah membaca buku Thomas Kuhn yang berjudul The Structure of Scientific Revolution. Ia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang alias selalu terjadi perubahan. Pada awalnya ilmu pengetahuan tertentu didominasi oleh suatu paradigma tertentu. Kemudian ia berkembang menjadi Normal Science yang merupakan periode perkembangan ilmu pengetahuan dimana para ilmuan bekerja melakukan riset berdasar pada paradigma yang sedang berpengaruh. Kemudian akan muncul pertentangan terhadap paradigma sebelumnya, inilah yang dinamakan dengan Anomali. Pertentangan tersebut akan menciptakan Krisis dimana pandangan-pandangan sebelumnya mulai dipersoalkan. Kemudian terjadilah Revolusi Science, yakni revisi atau koreksi terhadap pandangan-pandangan lama yang akhirnya digantikan dengan pandangan-pandangan baru. Dengan cara seperti itulah kau bisa mengubah pemikiran-pemikiran sesat tersebut menjadi pemikiran yang selamat.

Jadi, ada sebuah persoalan yang lebih besar dari sekadar persoalan ditingkat lokal. Persoalan dunia ini, persoalan peradaban dan persoalan masa depan ummat manusia. Kau harus hadir ditengah-tengah mereka, anakku. Dan mencurahkan segala kemampuanmu untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Jika bapak bertanya kepadamu, kau pilih yang mana

Presiden yang adil atau lurah yang adil

Tentu presiden yang adil jawab Ibnu mantap.

Itulah anakku. Presiden yang adil akan bermanfaat untuk jutaan orang, sedangkan seorang lurah yang adil hanya bisa bermanfaat untuk ratusan orang. Kalau kau hanya berfikiran seperti bapakmu, kau hanya akan berperan untuk segelintir orang. Kau ingat dengan kisah sufistik yang sering bapak ceritakan padamu ketika kau masih kecil dulu Ada seorang Sufi yang tinggal di sebuah pondok didaerah pegunungan. Suatu hari ia menyuruh murid-muridnya melakukan rihlah ke balik bukit. Ditengah perjalanan murid-muridnya akan menemukan sebuah sungai yang didalamnya terdapat banyak batu-batuan. Ada batu yang kecil, sedang dan besar. Sang sufi mengatakan kepada murid-muridnya: Jika kalian melewati sungai begitu saja tanpa mengambil batu, kalian akan menyesal. Tapi jika kalian mengambil batu disungai, kalian juga akan menyesal. Mendengar perkataan Sang sufi, murid-muridnya mengalami kebingungan. Pada akhirnya mereka terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang pertama adalah murid-murid yang tidak mengambil batu. Alasan mereka: daripada sama-sama nantinya akan menyesal, lebih baik sekalian tidak mengambil batu karena sama saja. Sedangkan golongan yang kedua berpendapat: lebih baik kita mengambil batu, tapi batu yang paling kecil dari sekian banyak batu yang ada. Kalaupun menyesal hanya sedikit. Pada akhirnya, setelah murid-muridnya telah sampai ke balik bukit, Sang Sufi berkata: Wahai murid-muridku... Barangsiapa diantara kalian yang mengambil batu di sungai, tolong genggamlah batu tersebut. kemudian setelah golongan yang mengambil batu menggenggam batu tersebut, beberapa saat kemudian sang sufi menyuruh mereka membuka tangannya. Setelah dibuka, ternyata semua batu yang diambil berubah menjadi emas, sehingga terbuktilah perkataan sang sufi: semua murid-muridnya mengalami penyesalan. Mereka semua menangis dengan sangat keras. Bagi yang tidak mengambil batu menangis sangat keras karena merasa tidak mendapatkan apa-apa. Sedangkan bagi yang mengambil batu, mereka juga semuanya menangis. Mereka merasa menyesal karena batu yang mereka ambil adalah batu yang paling kecil diantara batu yang ada. Dengan begitu terbuktilah perkataan Sang Sufi.

Nah, anakku... Itulah analogi kita hidup didunia ini. Jika kita mempergunakan hidup ini hanya untuk berbuat sesuatu yang kecil, maka dimasa yang akan datang kita akan menyesal. Apalagi kalau kita tidak berbuat apa-apa diwaktu sekarang. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dikerjakannya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

Tapi, Apakah aku mampu, Pak ragu Ibnu.

Bapak sangat yakin padamu, anakku. Jika kau memiliki niat dan tekad yang tinggi bapak yakin kau akan mampu. Tinggal waktulah yang akan membuktikan. Kau ingatlah orang-orang besar yang pernah menorehkan tinta dalam sejarah. Kalau kita lihat dari legenda-legenda orang-orang besar, kita akan menarik kesimpulan kalau orang-orang besar terdiri dari dua golongan. Pertama, golongan orang-orang besar yang memang dalam dirinya sejak awal telah mempersiapkan diri untuk menjadi orang besar. Mereka memiliki internal driving force, atau kekuatan dari dalam yang menggerakkan dirinya. Ia memiliki cita-cita dan rencana yang matang untuk masa depannya. Kedua, golongan yang pada awalnya tidak menyadari, atau bahkan tidak pernah berfikir untuk menjadi orang besar. Mereka menjadi orang besar karena faktor kesempatan atau karena paksaan sosial. Tentunya kau ingat dengan cerita yang pernah bapak ceritakan dulu ketika kau masih kecil.

Ada seorang pencuri yang mencoba untuk mencuri harta di rumah orang kaya. Ia membawa sebuah peti besar yang ia kira didalamnya berisi banyak harta. Karena kecerobohannya, ia tidak memeriksa terlebih dahulu isi peti besar tersebut. Sesampainya dirumahnya, ia membuka peti curiannya tersebut. apa yang dilihatnya setelah pencuri itu membuka peti Sama sekali ia tidak menemukan sekeping uangpun. Ia justru melihat tumpukkan kitab-kitab agama. Sejurus pencuri tersebut meluapkan amarahnya dengan menyiramkan minyak tanah ke seluruh kitab-kitab tersebut. Ketika ia hendak menyulutkan api untuk membakarnya, tiba-tiba ia membatalkan niatnya. Ia merasa akan berdosa jika ia membakar kitabkitab agama, takut kualat. Siang harinya, untuk menghapus rasa bersalahnya, ia menjemur kitab-kitab tersebut diatas atap rumahnya. Orangorang disekitarnya keheranan. Mereka mengira kalau pemilik rumah itu adalah seorang ulama karena mereka melihat banyak kitab yang dipajang diatas atap rumahnya. Suatu hari ada seorang tamu yang datang kerumah pencuri tesebut. Ia memintanya mengisi sebuah acara ceramah agama di rumahnya, karena beberapa waktu yang lalu ia melihat banyak kitab agama yang dipajang diatap rumahnya. Tamu itu mengira pencuri tersebut adalah seorang ulama. Pada akhirnya, karena pencuri tersebut merasa harga dirinya naik lantaran dianggap sebagai ulama, spontan ia menerima permintaan sang tamu. Akhirnya ia membaca kitab-kitab agama yang semula akan dibakarnya. Dengan begitu ia memiliki materi untuk berceramah. Tak disangka-sangka, ternyata ceramahnya banyak menarik perhatian orangorang yang mendengarnya. Hal itu menyebabkan banyak orang berdatangan ke rumahnya untuk memintanya menjadi penceramah. Karena banyaknya orang yang meminta, sang pencuri tersebut akhirnya membaca semua kitabkitab yang ada, hingga akhirnya ia menguasai semua kitab yang ada. Sejak itulah ia tidak lagi menjadi seorang pencuri, tapi dikemudian hari menjadi seorang ulama besar.

Bisakah kau bayangkan, anakku Seorang pencuri berubah menjadi seorang ulama besar Dia tidak pernah merencanakannya sama sekali sebelumnya. Ia memulainya dengan sebuah kebetulan, bahkan keterpaksaan.

Bapak berharap kau menjadi orang besar untuk kategori golongan yang pertama. Golongan yang mempersiapkan diri mereka sejak awal untuk menjadi orang besar. Orang besar bukan berarti orang yang mencari popularitas, tapi orang besar yang bapak maksud adalah orang yang memiliki amal besar, kontribusi besar untuk ummat.

Mendengar kata-kata sang bapak yang sarat nuansa spirit, Ibnu seakan sedang berada diatas angkasa, terbang bersama bintang gemintang, tamasya diruang petala langit, going to heaven.