Ayo kita temui si Tuan Raja itu, katanya. Dalam gelap, yang terlihat cuma bola matanya yang memantulkan sinar lampu kamar.
Masih terlalu pagi.
Ia bergerak mendekati jendela dan cahaya lampu kamar kini menerpa tubuh kurusnya. Tubuh itu berlumur darah. Lebih pagi lebih bagus. Kita perlu tahu ceritanya sebelum yang lain.
Di dadanya, darah itu membentuk cipratan sampai ke wajah. Dia mati bahagia, katanya kemudian. Dia mati di depan televisi. Kamu masih bisa melihat senyumnya.
Akhirnya Orang-orang dewasa sudah tahu
Nanti saja. Sekarang kita ke pohon itu. Aku perlu mendengar Hikayat Bintang itu.
Aku melompat ke luar melalui jendela dan kami berlari ke bekas pabrik es batu. Pohon tua itu seperti raksasa gelap yang tengah berdiri di antara reruntuhan. Bau busuk menguar dan bau pesing yang kemarin kian pesing. Batu-batu dan ampas sabun cuci masih tergantung. Kami mengitari pohon besar itu seperti kemarin. Laki-laki itu tidak ada. Saat kami mendongak dan mencarinya di antara dahan-dahan pun ia tetap tak ada.
Dia sudah pergi.
Mungkin dia telah kembali ke cerita yang benar.
Hingga pagi dan dinding-dinding reruntuhan mulai memantulkan cahaya matahari, kami tak juga menemukan apa-apa. Akhirnya Umar mengajakku kembali. Kami berjalan menuju rumahnya untuk melihat dia yang mati di depan televisi. Apa yang dia katakan sebelum pergi
Dengan begini, tak ada lagi yang bisa mengalahkanmu. Dengan jari-jarinya Umar membentuk pistol dan meletakkannya di pelipis.
Begitu saja
Begitu saja. Yang terpenting dia mati bahagia.
Rumah Umar berdiri di tepi lain pesisir. Dari rumahku, aku mesti naik ke lantai dua untuk melihat atapnya yang menyembul di antara tetumbuhan pandan. Pandan-pandan itu dibiarkan tumbuh liar mengitari rumah. Dengan duri-duri di tiap sisi daunnya, banyak yang enggan memasuki rumah itu.
Perabot di dalam rumah hampir tumpang tindih. Di sini nyaris tak ada keteraturan. Daun jendela bisa menjadi tiang jemuran, dengan tali yang dihubungkan dengan pohon pandan di luar. Kemudian kursi-kursi itu tak ada yang seragam. Seperti dicomot satu per satu dari rumah-rumah yang berbeda. Di depan televisi yang masih menyala tubuh itu bersandar. Dengan kepala mendongak menatap langit-langit kamar. Mulutnya terbuka dan beberapa lalat mulai hinggap di bibirnya. Dari depan, ia terlihat seperti tubuh biasa yang tengah terlelap karena menonton TV terlalu lama.
Pada pelipisnya ada luka menganga. Pada sandaran sofa genangan darah sudah mengering. Di lantai ada jejak darah yang mengarah ke pintu belakang. Kami berlari mengikuti jejak darah itu, mendapati pintu di dapur masih terbuka dan pada tanah yang lembap di halaman belakang jejak itu mulai menghilang.
Dia pasti juga orang yang salah dalam cerita yang salah.
Seperti kalian
Umar pernah bercerita, suatu hari mereka pernah menjadi keluarga yang benar, dalam rumah yang benar, dalam dunia yang benar. Di sana berlaku hukum-hukum yang tak berlaku di sini. Satu kali rembulan bisa berlayar turun. Dari kaki langit terus mendekat ke pantai. Mereka bertiga menaiki perahu perak itu dan berlayar kembali mendaki langit. Di sana, katanya, bumi terlihat sebagai bola biru yang mengapung di lautan hitam. Lalu dalam dunia mereka yang serba perak, semuanya cemerlang dan berdenting dan menyilaukan. Seperti di dalam televisi, tetapi lebih berpendar dan lebih hangat.
Ketika rembulan kembali merapat di tepi pantai, ibunya tak mau turun. Katanya, pantai ini bukan pantai yang sama yang kita tinggalkan dulu. Di sini rumah kita tak seperti rumah kita yang kemarin. Ini bukan cerita yang benar untuk kita tempati.
Umar dan ayahnya melompat turun. Kata ayahnya, di mana-mana akan sama selama kita bersama. Tapi ibunya mengangkat jangkar dan perahu perak itu berlayar jauh. Saat itu laut menjadi merah dan rembulan tak pernah turun lagi. Mereka tinggal di rumah ini dan ayahnya mempertaruhkan semua agar mereka bisa kembali. Ke dunia mereka yang benar, dalam rumah yang benar dan menjadi ke luarga yang benar kembali.
Seperti apa rasanya berjalan dari pintu ke pintu
Itu bagian yang paling mengerikan. Kami berlari di atas lembaran putih yang aneh sekali. Ada gagak raksasa yang terbang mengintai. Tapi ayahku selalu berhasil mengecohnya. Gagak itu lalu mencengkeram mereka.
Mereka
Tokoh-tokoh yang salah dalam cerita yang salah. Mereka sama seperti kami. Mencari pintupintu untuk masuk ke cerita yang benar. Ada lembaran tipis mirip cermin. Dari situ, kami melihat gagak itu mencabik-cabik mereka. Sebagian berhasil menyelamatkan diri. Sebagian berakhir mengerikan.
Kamu bilang ada perahu bulan
Perahu itu yang membawa kami kemari. Langit di atas sana tidak seperti yang kamu kira, tahu!
Sekarang bertahun-tahun mereka menjadi tokoh yang salah dalam cerita yang salah. Salah satu tokoh salah lainnya datang menjemput ayahnya.
Suatu hari mereka juga akan mendatangiku, kata Umar. Kami memungut kerikil-kerikil kecil dan melemparnya ke pantai. Setidaknya kami tak kehilangan rumah kami. Dan yang terpenting dia mati bahagia.
Apa yang kamu lakukan kalau mereka datang lagi nanti
Aku yang akan menemui mereka lebih dulu.
Lalu apa yang akan kamu lakukan
Aku akan tahu nanti. Aku perlu membaca kisah-kisah mereka dulu.
Cerita-cerita terlarang itu
Nanti malam akan kubawakan ke rumahmu. Hari itu, malam datang terlambat.