A SHOULDER TO CRY ON - 2
DAMARA melangkah ke luar ruang persidangan. Sekumpulan wartawan infotainment langsung menyerbu ke arahnya. Di sebelahnya, kliennya berjalan menunduk menghindari jepretan kamera wartawan. Imelda Azizah, model cantik berusia 26 tahun yang kasus perceraiannya sedang ditangani biro hukum tempat Damara bekerja.

"Mbak Imel, apa benar terjadi kekerasan dalam rumah tangga sampai Mbak Imel menggugat cerai"

Beberapa wartawan memberondong Imelda dengan pertanyaan yang sama, menyodorkan mikrofon ke arah Imelda seakan menuntutnya untuk menjawab.

Imelda semakin menunduk menyembunyikan wajahnya. Dua pria berbadan kekar, mengenakan baju safari, berusaha membantu Imelda berjalan meninggalkan kerumunan wartawan dan mengantarkan Imelda memasuki mobil yang kemudian melesat meninggalkan area pengadilan agama dengan cepat.

Damara menghela napas lega setelah melihat kliennya berhasil meloloskan diri dari kejaran para wartawan yang menodongnya dengan pertanyaan yang menyudutkan.

"Pak Damara, benarkah gugatan cerai yang dilakukan Mbak Imelda terjadi karena adanya kekerasan dalam rumah tangga yang dipicu kehadiran orang ketiga" Salah satu wartawan mengarahkan mikrofonnya ke arah Damara, diikuti wartawan-wartawan lain yang gagal mendapat pernyataan dari Imelda.

Damara risi dengan semua ini. "Maaf saya belum bisa memberikan statement apa-apa, permisi..." jawab Damara sembari berjalan meninggalkan kerumunan wartawan yang kecewa dengan pernyataan Damara. Tapi Damara tidak peduli dengan wartawan-wartawan itu, mereka seharusnya berempati dan bisa mengerti apa yang sedang dirasakan narasumber yang mereka mintai keterangan. Siapa pun pasti tidak mau bicara di depan belasan kamera dengan suasana hati yang begitu sedih.

Damara masuk ke Honda CR-V silver miliknya, berlalu meninggalkan area pengadilan agama. Setelah menghela napas, Damara mengendorkan ikatan dasinya, lalu mulai mengetukngetukkan jari ke setir mobil mengikuti alunan lagu Im Yours milik Jason Mraz. Di jok samping, berkas-berkas gugatan cerai Imelda Azizah tergeletak begitu saja.

Ini pertama kalinya Damara menangani kasus perceraian selebriti. Seperti dugaannya, memang cukup merepotkan. Datang dan pergi ke pengadilan diserbu wartawan jelas bukan hal menyenangkan. Tadinya Damara menolak menangani kasus Imelda. Kalau bukan karena Rizky, pengacara yang ditugaskan menangani kasus ini, tiba-tiba harus masuk rumah sakit untuk operasi usus buntu, Damara tidak akan bersedia.

Hanya saja keengganan Damara atas kasus ini pelan-pelan berkurang setelah ia mempelajari semua hal tentang kliennya. Bagaimana tepatnya wanita muda dan begitu cantik bisa melewati berbagai hal yang rasanya sulit dihadapi wanita mana pun.

Handphone di saku kemeja Damara bergetar. Nama seorang wanita muncul di layar, membuat Damara langsung melemparkan benda itu ke atas berkas-berkas gugatan cerai Imelda, membiarkannya terus berdengung tidak terjawab.

Gagal menelepon, sang penelepon mengirimkan SMS. Damara kembali meraih handphone-nya.

"Honey... I really miss you. Temui aku di tempat biasa."

Sekali lagi Damara melemparkan handphone-nya ke jok samping. Dengan segala ketidakberdayaannya Damara memutar balik arah mobilnya.

***

Tidak ada yang salah pada diri Danu saat Anka memberitahunya, bahwa ia baru saja resmi menjadi pacar Riko. Sama sekali tidak ada yang salah. Danu bahkan ikut senang melihat Anka terlihat begitu ceria dengan status barunya.

Awalnya memang tidak ada yang salah.

Beberapa hari setelah Riko menjadi laki-laki terdekat Anka, barulah Danu menyadari ada yang salah pada dirinya. Rasanya ada yang tidak beres di kepalanya saat Anka mengatakan tidak bisa lagi berangkat dan pulang sekolah dengan sepeda bersamanya seperti biasa, karena dengan senang hati Riko bersedia menjemput dan mengantar Anka dengan mobilnya. Rasanya ada yang mengusik batinnya saat harus menerima kenyataan bahwa sahabat terdekatnya tidak bisa lagi menghabiskan waktu bersama.

Fakta yang tidak menyenangkan ini membuat Danu uring-uringan, walaupun kenyataannya semua rasa itu masih bisa ia sembunyikan dengan rapi, tapi tetap saja rasanya agak menyesakkan.

"Si Riko nempelin Anka mulu ya, Nu..." kata Andro, melihat ke arah Anka dan Riko di koridor kelas IPA, sementara dia dan teman sekelasnya, termasuk Danu, sedang melakukan pemanasan di lapangan olahraga yang suhunya sudah cukup memanaskan tubuh mereka tanpa harus pemanasan.

Danu mengikuti arah pandangan Andro dan melihat Anka sedang berjalan membawa tumpukan buku di bantu Riko. Senyum terus mengembang di wajah keduanya, membuat pemanasan yang dilakukan Danu bekerja maksimal.

"Namanya juga baru jadian, Ndro, jelas aja lagi lengket-lengketnya," komentar Danu pura-pura tidak peduli.

"Lo nggak marah sama Anka waktu dia bilang mau diantar-jemput Riko"

Guru olahraga mereka memperagakan peregangan otot kaki kiri hingga Danu punya kesempatan untuk menutupi wajahnya dari Andro.

"Kenapa gue harus marah! Bareng Anka atau nggak, gue tetap bakal pulang-pergi naik sepeda."

Masih dalam posisi peregangan, Andro menggeser posisinya mendekati Danu dan berbisik pelan di punggung Danu.

"Yakin lo nggak marah Yakin lo nggak ngerasa kehilangan Anka"

"Berapa kali sih harus gue bilang! Gue nggak ada masalah Anka jadian sama Riko!" sergah Danu sambil berdiri tegap membalikkan badannya menghadap Andro, sedangkan semua teman sekelasnya masih serius melakukan peregangan kaki.

Beberapa anak menyeringai diam-diam, beberapa malah tertawa terang-terangan melihat kebodohan Danu. Sementara guru olahraganya yang tidak sehumoris teman-teman sekelasnya, menatap galak ke arah Danu. Dengan suara lantang layaknya pemimpin upacara di istana saat 17 Agustus, ia menyuruh Danu berlari keliling lapangan lima kali.

Diawali dengan mood yang kurang baik, Danu melewati harinya dengan aura kurang baik pula. Ini bukan tanpa sebab. Setelah melewati pelajaran olahraga yang sangat melelahkan fisiknya di awal hari, Danu masih harus melewati hal lain yang melelahkan mentalnya.

Entah kenapa, hari itu ke sudut mana pun Danu pergi selalu berpapasan dengan Anka dan Riko. Padahal jarak antara gedung kelas Bahasa dan kelas IPA, dihalangi gedung kelas IPS serta gedung kelas X. Tapi nyatanya ke perpustakaan, kantin, bahkan sampai ke toilet pun, Danu tetap berpapasan dengan mereka. Tentunya Danu berusaha bertingkah sewajar mungkin saat bertemu Anka, menyapa dan tersenyum seperti biasa, tapi hanya di depan Anka. Hari itu Danu bahkan gagal menutupi kekesalannya di depan Andro.

"Tuh, kan! Lo uring-uringan lihat Anka sama Riko," kata Andro merasa menang, sementara

Danu hanya diam. "Lo cemburu ya sama Riko Lo sebenernya suka sama Anka, kan"

"Lo nggak ngerti juga ya, Ndro Gue nggak cemburu, gue juga nggak suka sama Anka!" sanggah Danu. "Gue cuma ngerasa kehilangan Anka. Selama ini kan Anka selalu sama gue, apa-apa bareng gue. Ya... gue berasa aneh aja saat Anka tiba-tiba lebih sering bareng orang lain."

"Bilang aja lo nggak rela posisi lo digantiin Riko," tukas Andro. "Udah, Nu, nggak usah bohong sama gue, dari dulu gue emang nggak pernah percaya cowok sama cewek bisa sahabatan."

Danu bergerak hendak memprotes kata-kata Andro, tapi membatalkannya dan memutuskan diam menekuni buku paket bahasa Jepang yang menampilkan huruf-huruf kanji yang harus dihafalnya untuk tes lisan jam terakhir nanti.

"Anka kan udah jadian sama Riko, Nu. Kenapa lo nggak nyoba deketin Zevana, anak kelas sebelas yang Valentine kemarin kasih lo cokelat. Dia cantik, Nu! Anak-anak kelas dua belas banyak yang ngincer dia tuh," saran Andro serius.

"Sembarangan lo. Dia kasih cokelat juga belum tentu suka sama gue."

"Ya ampun, Nu! Cewek kalo udah ngasih cokelat Valentine sama cowok, terus cokelatnya dipitain segala, udah jelas tuh cewek ada rasa. Kemarin aja gue liat tuh anak masih suka ngeliatin lo," jelas Andro dengan begitu yakin. "Zevana lo jadiin pacar pertama aja, ketimbang lulus SMA masih jomblo."

"Emang kenapa kalo gue lulus SMA dan masih jomblo"

"Ya... nggak oke aja buat reputasi lo. Masa cowok udah kuliah belum pernah pacaran."

"Eh, kakak gue mati-matian cari duit buat biaya sekolah gue. Dia pasti pengin liat gue belajar yang bener dan bukan cuma main-main, supaya duit yang dia keluarin berguna, nggak mubazir..."

"Ah, susah ngomong sama lo. Gue berasa ngomong sama bapak gue, bukannya lagi ngomong sama anak SMA," gerutu Andro. "Udah ah, mendingan gue nimbrung sama anak belakang yang lagi pada ngeliat majalah Playboy edisi Amerika. Ngomong sama lo nggak ada ujungnya."

Andro bangun dari kursinya, melangkah melewati Danu menuju bangku belakang yang dikerubuti lima anak yang duduk berdempetan. Kepala mereka menunduk dengan ekspresi takjub dan ngiler.

Danu tersenyum melihat teman-temannya yang bertingkah layaknya remaja laki-laki kebanyakan. Danu bukannya tidak mau seperti remaja seusianya, bersenang-senang semasa sekolah. Hanya saja Danu tidak ingin kakaknya kecewa dan semua pengorbanan kakaknya siasia, kalau ia tidak menghargai apa yang sudah mereka lalui sejak perceraian kedua orangtua mereka dengan ketidakseriusannya.

***

"Yang tadi ngantar kamu pulang siapa, Ka" tanya ayahnya saat mereka sedang berkumpul di ruang tengah sambil menonton TV. Kebiasaan yang hampir setiap malam dilakukan keluarga Anka.

Anka tidak langsung menjawab. Ia menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling menyilang di atas bantal sofa, menghindari tatapan ayahnya yang sesekali saling bertukar senyum dengan ibunya.

"Itu tadi Riko, Yah... Temen dekat Anka..." jawab Anka lirih, takut-takut bercampur malu. "Sedekat apa" tanya ayahnya lagi, tanpa nada menginterogasi. "Apa lebih dekat dibanding Danu"

"Riko itu..." Anka bergerak salah tingkah, "Riko itu pacar Anka, Yah."

Anka mendongak untuk melihat reaksi ayah dan ibunya, heran saat melihat kedua orangtuanya malah tersenyum lebar mendengar pengakuannya.

"Ayah sama Ibu nggak marah kan, kalau Anka deket sama Riko"

"Kenapa harus marah Kamu sudah cukup besar untuk dekat dengan seseorang," kata ayah Anka. "Ayah dan Ibu percaya sama kamu, Ka."

Ayah Anka mengeratkan rangkulan sebelah tangannya ke pundak ibu Anka, keduanya saling tersenyum, menggambarkan betapa saling mencintai dan bahagianya pasangan yang sudah menikah selama 19 tahun ini.

"Ibu dan Ayah percaya kamu bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak."

Senyum perlahan mengembang di wajah Anka, bukan hanya lega kedua orangtuanya memperbolehkannya dekat dengan Riko, tetapi Anka juga bahagia melihat kedua orangtuanya begitu harmonis, begitu saling menyayangi dan saling mencintai.

Sedari kecil Anka memang bermimpi memiliki kisah cinta seperti kisah cinta kedua orangtuanya. Sejak kecil ia sangat senang ketika sebelum tidur ibunya bercerita tentang kisah cinta ibu dan ayahnya dulu, menggantikan dongeng tentang pangeran dan putri raja. Bagi Anka kisah cinta kedua orangtuanya jauh lebih romantis dari cerita cinta negeri dongeng mana pun.

Ayah dan ibu Anka dulunya dibesarkan di tempat yang sama, di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Bandung. Mereka penghuni panti yang tinggal sejak balita, sama-sama dititipkan tanpa penjelasan dari orangtua.

Kisah cinta mereka berjalan layaknya roman fiksi. Tumbuh besar bersama dengan perasaan senasib, menjadikan keduanya begitu dekat bahkan seperti tak terpisahkan. Anka tertawa geli membayangkan betapa konyol kedua orangtuanya waktu kecil saat melakukan hal-hal menyebalkan, seperti pura-pura kejang-kejang atau mendadak kesurupan setiap kali ada yang mau mengadopsi salah satu di antara mereka. Hingga pengurus panti kewalahan dengan ulah mereka.

Ulah konyol itu berhasil membuat mereka menjadi penghuni abadi panti asuhan dan tinggal di sana sampai menyelesaikan SMA. Tapi tinggal di panti selama itu tidak membuat mereka menjadi beban bagi pengurus panti, paling tidak dalam segi finansial. Meski terkenal bandel, keduanya tergolong pintar. Dari SD sampai SMA mereka tercatat sebagai penerima beasiswa. Tidak heran saat lulus SMA ayah Anka mendapat beasiswa di salah satu universitas swasta elite di Jakarta, smeentara ibunya diterima di universitas di Bandung lewat jalur PMDK.

Mereka meninggalkan panti pada waktu bersamaan. Mengabaikan cinta untuk sementara demi cita-cita dan masa depan. Mereka tetap berhubungan meski hanya mengandalkan sarana komunikasi seadanya pada zaman itu. Banyak hal yang menguji kesungguhan cinta mereka. Ayah Anka sempat dicintai gadis cantik, anak seorang dosen yang selama ini mendaulatnya menjadi asisten. Begitu pula ibu Anka, kecantikannya yang alami membuatnya menjadi incaran mahasiswa-mahasiswa top di kampusnya, dari ketua senat sampai anak pengusaha otomotif terkenal di Bandung berusaha menarik perhatiannya. Namun semua tidak mengubah apa-apa, mereka sudah menetapkan hati.

Setelah menyelesaikan kuliah, mereka akhirnya menikah. Ayah Anka membawa ibu Anka pindah ke Jakarta, memulai segalanya dari awal. Ibu Anka sempat bekerja menjadi customer service di sebuah bank swasta, sebelum akhirnya berhenti setelah melahirkan Anka. Sementara ayah Anka memulai kariernya di bidang travel, sampai sekarang menjabat sebagai manajer marketing di perusahaan travel ternama di Jakarta. Dari menghuni rumah kontrakan kecil, hingga sekarang menempati sebuah rumah mungil yang nyaman.

Seperti itulah kisah cinta yang dikagumi Anka.

"Danu apa kabar, Ka Sudah lama Ayah nggak ketemu dia." Suara ayah Anka, membuat Anka kembali ke dunia nyata.

Anka mengerjapkan matanya. "Danu... Danu baik, Yah," jawab Anka. "Kenapa Ayah nanyain Danu"

"Nggak apa-apa. Ayah cuma kehilangan temen ngobrol aja. Soalnya Danu jarang ke sini sejak kamu dekat sama Riko," jelas ayah Anka. "Danu kenapa nggak jemput kamu lagi, Ka"

"Anka yang minta, Yah. Kasihan Danu kalau harus berangkat naik sepeda terus, rumahnya kan jauh. Makanya Anka bilang, Anka dijemput Riko, biar Danu mau berangkat bareng temennya pake motor."

"Kamu nggak ada masalah sama Danu kan, Ka" Kali ini ibu Anka yang bertanya.

"Nggak, Bu. Memang kenapa harus bermasalah sama Danu" tanya Anka heran.

Ayah dan ibu Anka saling bertukar senyum, membuat Anka semakin heran.

"Bukan apa-apa. Tadinya Ayah sama Ibu berpikir ada yang istimewa antara kalian selama ini."

"Ayah... harus berapa kali Anka bilang Anka sama Danu sahabat. Jadi nggak usah ada yang aneh-aneh. Danu malah seneng kok Anka jadian sama Riko."

Ayah Anka kembali tersenyum, sorot mata ramahnya seakan meragukan kata-kata Anka.

"Ayah kok kayak gitu ngelihatnya, nggak percaya!"

"Bukan... Ayah sebenarnya agak kecewa karena bukan Danu yang jadi pacar kamu. Tadinya

Ayah sudah cukup tenang ada Danu yang jagain kamu. Ayah suka anak itu."

"Ayah, Danu itu sahabat Anka, jadi jangan bebanin Danu dengan kewajiban jagain Anka segala."

Ayah Anka mengangguk pelan menanggapi pernyataan Anka. Lalu lagi-lagi bertukar senyum dengan ibu Anka, seakan dalam senyum mereka mengatakan "dasar pikiran anak muda".

Anka sendiri terkadang bingung, terlalu banyak orang yang menyalahartikan kedekatannya dengan Danu. Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa kedekatannya dengan Danu murni persahabatan yang tidak mungkin dengan begitu gegabah dicampur dengan rasa yang akan merusak persahabatan itu sendiri. Karena sebenarnya, Anka tidak berani kehilangan sahabat seperti Danu.

***

Danu duduk di depan meja kerja di kamar kakaknya, matanya menatap bosan layar laptop yang menampilkan akun Facebook miliknya. Di sinilah Danu biasa menghabiskan malam setelah menyelesaikan tugas sekolah. Duduk sendiri di kamar kakaknya untuk mengakses internet.

Seperti kebanyakan remaja seusianya, Danu termasuk pengguna internet aktif, walaupun tidak sampai pada tingkat keranjingan. Paling tidak, sejak Anka mendapat laptop lengkap dengan fasilitas internet sebagai hadiah sweet seventeen dari orangtuanya, Danu sering menggunakan fasilitas internet di kamar kakaknya untuk berkomunikasi dengan Anka.

Tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Danu chatting dengan Anka lewat messenger.

Anka : Eh, ke mana aja lo, Nu Dicariin di sekolah nggak pernah ada.

Danu mencibir membaca kalimat yang dikirimkan Anka.

Danu : Lo yang ke mana aja, gue ada terus di kelas, makanya kalo nyari gue jangan sambil pacaran!

Anka : Hehe... Bisa aja lo. Kemaren malam kok lo nggak online sih, kenapa

Danu : Gue banyak tugas. Banyak tes lisan.

Inilah enaknya berkomunikasi Imel internet, bisa berbohong dengan lancar tanpa harus takut ketahuan. Sebenarnya, Danu tidak online tadi malam bukan karena banyak tugas atau semacamnya. Ia malas online kalau hanya untuk menerima rentetan cerita Anka tentang keistimewaan Riko.

Anka : Oh, gitu... Malam ini gue seneng banget deh, Nu.

Danu : Seneng kenapa

Sedetik kemudian tulisan dengan huruf kapital tampil di kolom messenger Danu.

Anka : GUE BAHAGIA PUNYA ORANGTUA KAYAK AYAH SAMA IBU GUE.

Danu tersenyum membaca kalimat yang dikirim Anka.

Danu : Kenapa gitu

Anka : Karena... karena mereka setuju gue deket sama Riko.

Terbayang senyum lebar yang pasti menghiasi wajah Anka saat mengetik tulisan itu, sementara Danu terpaksa mengerutkan senyum di wajahnya.

Anka : Helo... lo masih di situ, kan

Danu : Iya, gue masih di sini.

Anka : Pokoknya gue seneng banget waktu ayah gue bilang, dia nggak masalah gue deket sama Riko.

Danu : Syukur deh kalo gitu, gue ikut seneng.

Anka : Thanks ya, Nu, lo emang sahabat gue yang paling oke.

Danu : Santai aja...

Anka : Oh iya, ayah gue nanyain lo, dia kangen sama teman main caturnya.

Danu : Bilangin ayah lo, malam Minggu besok gue ke rumah lo.

Anka : Malam Minggu Tapi gue mau pergi sama Riko.

Danu menghela napas setelah membaca apa yang dikirim Anka di layar laptop-nya.

Wajar bila pasangan yang baru jadian pergi malam Mingguan. Tadinya Danu mengira malam Minggu ini ia bisa main catur bersama ayah Anka dan Anka duduk bingung di sampingnya seperti malam-malam Minggu sebelum ada Riko.

Danu akhirnya mengetik dengan agak tersinggung.

Danu : Nggak ada urusan sama lo, kan Gue mau main catur sama ayah lo, bukan sama lo.

Anka : Oh, gitu... Ya udah, ntar gue bilang Ayah.

Danu : Eh, Ka, gue ada tugas bahasa Jepang, udah dulu ya.

Anka : Oke deh, sampai ketemu besok di sekolah... Sweet dream.

Danu menyandarkan punggungnya di kursi putar, menengadahkan kepala dengan mata terpejam dan memblokir semua hal melelahkan di sekitarnya. Tiba-tiba handphone Danu berdengung di atas meja, menuntut dijawab. Dengan enggan Danu membuka mata dan meraih handphone itu. Kak Damara calling...

Ternyata dari kakaknya.

"Halo... Iya, Kak Danu udah makan, tadi beli nasi di warteg depan... Kakak nggak pulang lagi!

Iya, nggak apa-apa, Kakak selesaiin kerjaan dulu aja."

Danu menegakkan punggung setelah menerima telepon dari kakaknya. Untuk kesekian kalinya kakaknya, Damara, tidak tidur di rumah karena pekerjaan. Sebagai pengacara, sering Damara tidak pulang. Terlebih saat Damara menangani kasus perceraian Imelda Azizah, model cantik yang kabarnya mengalami KDRT.

Pandangan Danu jatuh pada figura foto di atas meja. Lengannya terulur mengambil figura yang membingkai foto dirinya dalam rangkulan Damara, foto yang diambil ketika mereka masih tinggal di Bandung, saat mereka masih bisa berfoto dengan senyum yang lebar.

Banyak hal yang terjadi setelah perceraian orangtuanya. Perceraian yang hampir membuat kehidupan kakak-beradik itu berantakan, dan membuat Damara dengan sisa harga diri dan kenekatannya membawa Danu ke Jakarta. Mereka tinggal di kamar kos yang sempit, memulai kehidupan baru di Jakarta.

Sebelum mendapat pekerjaan yang layak dan sesuai dengan tingkat pendidikannya, Damara rela melakukan pekerjaan kasar, seperti pekerja bangunan, sopir taksi, sampai buruh kasar di pabrik baja untuk membayar uang sekolah Danu dan mencukupi biaya hidup mereka. Dari tinggal di kos sempit sampai tinggal di rumah nyaman dengan fasilitas lengkap, Damara tak henti bekerja keras demi kehidupan mereka. Perjuangan hidup yang membuat Danu begitu mengagumi dan menghormati Damara sebagai kakak dan panutannya. Hingga Danu mendikte dirinya agar menjadi seseorang yang membanggakan untuk Damara. Seperti ia bangga memiliki Damara sebagai kakaknya.

* * *

"Ka... Ayah tetap lebih suka kamu pergi ke sekolah pakai sepeda bareng Danu, daripada dijemput Riko." - Anka's Father