Handphone berdering, dan foto narsis Zera terpampang di sana.
Napa ZerGue menguap, gue mencoba tidur, tapi nggak bisa, jadi gue berbaring di sofa sambil menghisap rokok.
Happy bday to you, you were born in the Zoo, with the Lion and the Tiger, and the Monkey like you. Dan lagu konyol itu ditutup dengan cekikikan manja, ada suara lain di sana, pasti Farah, dan
Mas happy bday ya, kapan pulang, kita kangen
Pulang dong mas, Farah bentar lagi bakal lupa tampang mas Win kalo mas Win nggak pulang-pulang. Suara manjanya terdengar merajuk.
Aku melirik jam dinding, jam setengah tujuh pagi, yeah ini 24 Juli, ini hari kelahiran gue 25 tahun lalu, bagaimana bisa gue pulang, rasanya ingin tertawa. Gue sudah berjanji nggak bakal pernah kembali ke balik tembok penuh kemunafikan yang orang-orang sebut sebagai rumah.
Hey Win, neh gue Poppy, happy bday ya itu Poppy sepupuku
Thanks girls, iya sabar ya, mas bakal ngunjungin kalian, tapi nggak sekarang ya.
Win, please pulang, atau elo bakal nyesel. Suara Poppy terdengar bergetar, permainan kuno, mama dan papa, mereka menggunakan adik-adik gue untuk meminta gue pulang, takkan pernah, Ada kekecewaan besar yang ortu gue buat, mereka pasangan sempurna yang terlihat dari luar tapi menipu diri mereka sendiri, mereka penipu yang menjijikan, Papa gue bersama gadisgadis seusia gue, dan mama gue bersama pria-pria kaya, apa yang mereka inginkan kemilau kehidupan duniawi yang sangat nikmat hal itu membuat gue terpuruk, dan betapa bodohnya gue dulu, yeah gue bodoh hingga sekarang.
Salam aja buat Mama-Papa, berapa loe di bayar buat minta gue pulang tanya gue
sinis.
Bukan tentang Mama-Papa elo, ini tentang Dara, Dara bakal nikah, loe nggak mau nyesel kan Gue tau Win, sampai kapan elo mau jadi stupid secret admirer dan telponpun terputus.
Dara, gadis itusatu-satunya gadis yang pernah membuat gue jatuh cinta, gue masih ingat hari itu 17 Agustus 1992, dia pasangan gue bacain Pancasila di Lomba kemerdekaan di TK, dia gadis berkuncir kuda berponi lebat dengan derai tawa manja penuh ceria, dia seperti tau perasaan gue kala itu, nggak ada Mama-Papa yang menyaksikan salah satu moment paling penting buat seorang bocah lima tahun yang terlalu naf mengharapkan kedua orang tuanya untuk meluangkan waktu, Dara seperti tau isi hati gue, sepanjang kami menghafalkan Pancasila diatas panggung, dia menggengam tangan gue, ada rasa menenangkan, tapi gue begitu bego, setelah itu gue bahkan menghindari Dara, hanya memandangnya dari kejauhan, gue jadi pribadi seperti monster kutub, dingin dan menyeramkan, gue bikin masalah, gue jadi anak bandel, supaya orang tua gue mau memberi, seenggaknya sedikit perhatian, tapi apa mereka hanya ngasih gue materi tanpa perhatian dan kasih sayang, mereka nyaris tak berguna jadi orang tua!.
Gue sering pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya, nggak pernah lebih dari satu Cawu gue bisa bertahan di satu sekolah, sampe gue SMA, sekolah lama bakal mengeluarkan surat pindah, dan ortu gue akan membayar mahal untuk sekolah baru, dan begitu seterusnya, berulang, gue hanya ingin bikin mereka kesal, tapi ternyata gue nggak pernah berhasil.
Sampai akhirnya gue pindah sekolah ke sekolah Dara, itu tahun 2003, akhir SMA kelas dua, kala itu gue terlalu tipsy untuk masuk kelas, dan gue cuma nongkrong bareng Pak Lik penjual bakso di kantin sekolah, dengan ngelantur gue mulai bercerita saat melihat sosok Dara dari kejauhan, sedang bercanda dengan teman-temannya dalam seragam olah raga, sialnya ternyata Dara adalah sahabat kental sepupu gue Poppy.
Pak, tau cewek itu nggak gue menunjuk sosok Dara, semoga dia tak menyadari bahwa gue tengah memperhatikannya.
Mbak Dara jawabnya sambil mengelap mangkok Bakso
Iya, paling cantik ya diantara temen-temennya gue bener-bener mengaguminya.
Naksir ya mas
Mana mau dia sama saya Pak. Gue terkekeh, lebih tepatnya mengejek diri sendiri.
Si Mas juga cakep kok
Tau nggak pak, saya naksir dia dari kecil, dari segini nih gue menggambarkan tinggi ukuran anak TK.Tapi saya nggak pernah bilang, saya itu bandel, anak nakal, mana mau dia ngeliat saya, apalagi nyamperin, cuma mimpi jadiin dia pacar saya, yang mau jadi pacar saya, paling cewek-cewek bandel kayak saya. Gue tertawa lagi, dan akhirnya gue cuma bisa menertawakan diri gue sendiri.
***
Kejutan tak terduga terjadi esoknya, seperti biasa gue lebih suka menghabiskan waktu membolos di luar kelas daripada di dalam kelas, jadi hari itu gue memilih merokok di belakang kantin, ada bangku panjang di belakang sana, tempat yang tenang untuk mengasihani diri sendiri.
Heyantara percaya dan nggak percaya gue melihat sosok Dara berdiri dan tersenyum manis, senyumnya semanis yang gue ingat cuma gigi-giginya nggak lagi hitam termakan permen dan coklat seperti Dara yang berumur lima tahun.Masih ingat aku kanDara
Gue mengangguk singkat, lalu mengalihkan pandangan dari wajahnya ke sepatunya yang berwarna merah, dia melanggar aturan sekolah, siswa harus memakai sepatu berwarna hitam, sudahlah, lupain, apa sih yang gue pikirinDara duduk tepat di sebelah gue, begitu dekat, gue bisa rasain hangat lengannya, semoga Dara nggak merasakan betapa gugupnya gue.
Win, udah lama yah kita nggak ketemu hmmm kamu masih ingat kan lomba hapalin Pancasila dulu, kita menangtapi nada suara Dara berubah nggak lagi ceria.Tapi setelah itukamu nggak mau main lagi sama aku, kamu nggak lagi narik kuncir kuda aku, kamu nggak lagi sembunyiin tas aku, kamu nggak lagi ada buat dorongin aku di ayunan, kamu nggak lagi manggil aku si centil, kamu nggak lagiDara menangis, dan dalam hati gue pun menangis, harusnya gue hapus air mata itu supaya nggak tumpah lebih banyak lagi, bibirnya bergetar ketika Dara mulai bicara lagi.Aku bego ya Dara mencoba tersenyum, dia lalu menggengam tangan gue, gue coba resapi rasanya, begitu menenangkan.Dara membuka tasnya dengan cepat dan terlihat piala kuningan kusam.Gue egois, harusnya piala ini kamu yang simpan, sekarang piala ini buat kamu yah.Dara meletakkan piala itu di tepat diantara gue dan dia, lama kami terdiam dan gue pikir pastilah Dara merasa jenuh, Dara bangkit, dia mencium pipi gue, dan rasanya seperti terbakar tapi juga manis, seperti rasa luka ketika terjatuh dari sepeda tapi juga seperti mendapat senyuman, nggak bisa gue jelasin lebih jauh, dan ketika Dara pergi gue bahkan nggak menghentikannya, gue cuma terpaku sampai melihat Poppy berdiri bertolak pinggang dengan tampang galak.
Elo tau elo baru aja ngelepas kesempatan elo, Dara selalu tanyain elo, tanyain elo setiap waktu, cinta monyetnya yang sampe sekarang masih betah jadi monyet.
Kata-kata Poppy seperti sebuah tamparan, dan besoknya bahkan sebelum sekolah ngeluarin surat pindah karena gue sudah terlalu banyak berulah, gue udah minta ortu buat mindahin gue, gue bukan Win the Winner, gue nggak lebih dari pecundang yang milih menghindari apa yang bisa gue dapatin, dan sekarang gue nggak akan bisa lagi memilikinya, tapi jika masih ada kesempatan, gue pengen berada di sana, mungkin udah saatnya buat gue berhenti menghindar dan pulang, gue pulang untuk memaafkan apa yang harus gue maafkan, orang tua gue, waktu udah berlalu, mereka mulai menata hidup baru, dan gue juga harus menata hidup baru, bukan hanya mereka yang perlu dimaafkan tapi juga diri gue sendiri, kalaupun gue nggak bisa mendapatkan Dara karena gue terlalu bego udah buang-buang kesempatan tapi minimal Dara harus tau bahwa cinta monyetnya nggak bertepuk sebelah tangan, gue harus ada di sana untuk menjadi bagian dari kebahagiaannya.