Jabatan ayahnya di Polri tidak begitu tinggi, jadi ibunya harus ikut menopang keluarga dengan membuka usaha jahit pakaian. Kakaknya empat orang, laki-laki semua. Tapi hanya Pandu yang masih tinggal bersama orang-tuanya. Hidupnya penuh kesederhanaan, tapi kelihatannya bahagia. Kemana-mana Pandu naik sepeda bututnya. Selain main basket, dia hobi main piano rupanya. Cuma itu keterangan yang berhasil didapatnya dalam waktu singkat. Kurang kuat untuk melancarkan aksi balas dendam. Niken harus mengetahui lebih banyak tentang pribadinya. After all, this is a personal war!
Maka dari itu, Niken mengurungkan niatnya untuk pindah tempat duduk. Dengan duduk di sebelah Pandu, semakin mudah menyusun siasat untuk balas dendam, bukan
Tapi ke mana anak itu hari ini Ini sudah jam tujuh kurang tiga menit. Bel pertama sudah bunyi dua menit yang lalu. 3 menit lagi pelajaran mulai. Pandu biasanya tidak pernah terlambat.
Tuh, bel sudah berbunyi lagi. Kemana dia Mata Niken jelalatan ke luar kelas mencari sesosok Pandu.
Bu Tanti sudah masuk kelas, langsung memperingatkan murid-murid untuk menyusun buku catatannya, karena ringkasan mereka akan diperiksa. Beberapa anak panik mencari buku catatannya di dalam tas dan di laci. Beberapa lemas karena belum selesai meringkas. Yang nekad langsung antri lapor tidak membawa buku. Niken tenang-tenang saja. Ringkasannya sudah selesai dua hari yang lalu. Malah dia sudah mulai meringkas bab berikutnya.
Niken melongok ke arah luar jendela. Itu dia si mata jangkrik! Dia dihukum lari keliling lapangan tengah karena terlambat. "Hihi.. sukurin."
"Maaf Bu, saya terlambat." kata Pandu saat masuk kelas.
"Kamu anak baru, ya"
"Betul, Bu. Saya Pandu."
"Baiklah, Pandu. Silahkan duduk. Kamu sudah selesai meringkas Bawa kemari buku catatanmu."
"Sudah, Bu." Pandu lalu mencari-cari buku catatan biologi dari tas kumalnya, lalu diletakkan di atas tumpukan buku di meja guru.
"Kenapa kamu terlambat" tanya Niken, iseng.
"Bukan urusanmu." jawab Pandu singkat.
"Iiih... galaknya. Ya sudah. Aku kan tanya baik-baik."
"Aku musti mengantar ibu beli kain di pasar. Biasanya juga begitu sih, tapi tadi sial, ban sepedaku kena paku di tengah jalan dari rumah kemari. Makanya lama. Kamu tumben tanyatanya" Pandu heran. Selama ini Niken jarang buka mulut. Paling-paling cuma bilang permisi kalau mau lewat. "Nggak boleh tanya-tanya"
"Boleh, tapi nanti yah. Soalnya Bu Tanti meperhatikan kamu terus tuh." bisik Pandu menunjuk ke arah depan.
Oh, baik juga dia, memperingatkan dia sebelum Bu Tanti menyemprotnya. Juga mengantar ibunya ke pasar sampai rela terlambat. Tapi itu tak cukup untuk mengurangi rasa bencinya.
"Jadi, kamu setiap hari mengantar ibumu ke pasar" tanya Niken penuh selidik.
Ini jam istirahat, jadi dia bebas bertanya sekarang. "Nggak. Cuma kalo ibu dapet orderan aja."
"Pagi, Niken," Jimmy mengagetkannya dari jendela. "Nih aku beliin sate telor dari kantin buat kamu,"
"Aku nggak lapar." jawab Niken singkat.
"Aku punya aqua juga." tawar Jimmy sambil mengacungkan segelas aqua. "Enggak haus."
Merasa kehadirannya tidak diinginkan, Jimmy pun berlalu.
"Jimmy itu anak 2A kan" tanya Pandu hati-hati, takut kalau macan betina ini mengaum lagi seperti hari itu.
"He eh."
"Kamu koq ketus amat sama dia"
"Aku nggak akan ketus sama dia kalau dia tidak berniat mau pacarin aku. Dia terang-terangan bilang suka sama aku seminggu yang lalu." "Kenapa Nggak suka sama dia"
"Aku nggak ada niat untuk pacaran. Aku nggak punya waktu buat semua itu." "Trus, kenapa kamu mesti ketus sama dia" Pandu masih tidak mengerti. "Karena dia tidak mau menyerah.
Kalau aku bersikap baik-baik sama dia, nanti aku dikiranya memberi angin. Blo'on bener sih kamu" "Oooh. Kamu nggak boleh atau nggak ingin pacaran"
"Nggak boleh Maksudmu"
"Nggak boleh sama ortu,... biasanya anak cewek kan nggak boleh pacaran sama ortunya."
"Itu juga sih. Tapi aku memang sama sekali nggak ada keinginan untuk pacaran.
Apalagi sama Jimmy."
"Apa sih jeleknya Jimmy" pancing Pandu.
"Okay, Pandu. Kamu benar-benar usil deh. Rasa ingin tahumu itu benar-benar segede gajah."
Pandu ketawa. "Baiklah. Aku nggak akan tanya-tanya lagi tentang Jimmy." lanjutnya. Pandu membesarkan hatinya, "Pelan-pelan aku pasti bisa mengerti.
Sabar."
Niken gantian bertanya, "Ganti topik. Yang agak asyik sedikit. Mmmm. Siapa tokoh idolamu"
"Wah, pertanyaanmu seperti pertanyaan buat finalis kontestan Miss World deh." Pandu ketawa lagi. "Okay, biasanya kalo aku bilang nama tokoh idolaku, orang-orang pasti bilang 'Siapa', jadi aku bilang Ibu Teresa saja."
"Jadi siapa sebenarnya tokoh idolamu itu Pamela Lee Anderson" goda Niken.
"Kamu bisa becanda juga ternyata." Pandu terheran-heran.
Niken tersenyum. "Oh, ternyata dia manis sekali kalau tersenyum." batin
Pandu.
"Siapa dong" desak Niken lagi. "Sun Tzu".
"Siapa" kata Niken, bercanda. Tentu saja dia tau siapa Sun Tzu, karena Sun Tzu juga salah satu idolanya. "Tuh kan." kata Pandu lagi.
"Sun Tzu Wu, jendral Cina yang mengarang Ping Fa, seni siasat perang Cina itu Atau kamu kenal Sun Tzu yang laen" tanya Niken iseng. "Jadi kamu tahu Sun Tzu" Pandu terheran-heran.
"Kamu heran Aku yang seharusnya lebih heran. Kamu koq bisa kenal Sun Tzu Satu, tampang kamu enggak ada Chinesenya sama sekali. Nggak sipit seperti aku. Rasanya lebih wajar kalo aku lebih tahu tentang Sun Tzu daripada kamu." jawab Niken geli.
"Tidak ada orang yang tahu tentang pribadi Sun Tzu, karena dia sangat misterius. Seperti yang dilukiskan dalam kutipan yang terkenal dari bukunya, 'Bergeraklah samar sehingga kau tak kasat mata. Selimuti dirimu dengan misteri sehingga kau tak tersentuh...'" Pandu belum sempat menyelesaikan kutipannya, Niken sudah menyeletuk.
"Maka digenggamanmulah nasib lawan-lawanmu."
"Kamu!..." Pandu terperanjat. "Jadi kamu bener-bener tau Sun Tzu" "Eeeh. dibilangin. Aku juga lagi heran tentang hal yang sama. Aku sih punya bukunya, 'The art of war', dalam bahasa Inggris. Sudah aku lalap habis. Dari mana kamu tahu tentang dia"
"Aku nggak sengaja pinjam bukunya di perpustakaan waktu masih SMP. Buku itu benar-benar bagus. Aku baca terjemahannya dalam bahasa Indonesia, sih. Judulnya Falsafah Perang Sun Tzu. Karena bagus sekali sampai aku fotocopy lho." Pandu mengaku.
"Kalau kamu memang suka, besok aku bisa bawakan bukuku. Kamu boleh pinjam kalu mau. Asal kamu nggak keberatan baca buku berbahasa Inggris." "Wah, terima kasih sekali, Niken. Baru kali ini ada orang yang bisa menanggapi omonganku tentang Sun Tzu."
"Sama, aku sendiri sengaja nggak pernah bilang-bilang kalo suka Sun Tzu, takut dikira licik, padahal memang iya!" jawab Niken tergelak-gelak. Pandu melihat kilau indah di mata Niken saat Niken tertawa. Gadis ini benar-benar mempesonanya. Nilai plus lagi untuk
pengetahuannya tentang Sun Tzu. Kalau dihitung-hitung, berapa nilai Niken sekarang ya Dalam skala satu sampai sepuluh, mungkin sudah sebelas nilainya.
"Kamu sendiri, selain Sun Tzu, siapa tokoh idolamu" gantian Pandu yang tanya.
"Ya Sun Tzu itu doang." jawab Niken, seperti menutup-nutupi sesuatu. Pandu mendesak, "Ayo dong, aku sudah jujur sama kamu tadi. Gantian dong." Niken menggeleng. Untung saja bel segera berbunyi. Pak Heri, guru bahasa Indonesia, sudah berdiri di depan pintu.
Pandu buru-buru menyobek kertas dari buku tulisnya, "Dilanjutin nanti pulang sekolah yah!"
Niken merebut kertas itu dari tangan Pandu, lalu menulis, "Nggak ada yang perlu dilanjutin."
Pandu mengambil kertas itu kembali ke tangannya, "Please, tinggal sebentar siang ini di kelas."
Belum sempat Niken mengambil kertas itu kembali, tiba-tiba kertas itu sudah diserobot seseorang dari belakang. dari belakang. Keduanya terperanjat. Pak Heri! Guru yang terkenal killer itu membaca yang baru saja ditulis Niken dan Pandu.
"Kalian berdua, nanti pulang sekolah tinggal di kelas selama satu jam." kata
Pak Heri, sambil membuang kertas itu ke tempat sampah.
Jam dua siang. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Pak Heri sudah menunggu di depan pintu kelas 2C.
"Pak, maafkan kami." kata Pandu memelas.
"Kamu kan yang ingin bercakap-cakap Sekarang saya berikan kesempatan sepuas-puasnya, satu jam. Silahkan. Pintu saya tutup. Satu jam dari sekarang, cari saya di ruang guru. Awas kalo berani keluar sebelum satu jam." jawab Pak Heri sambil menutup pintu.
"Sial!" gerutu Niken dalam hati, sambil menghentakkan kakinya ke lantai. "Kamu! Selalu saja cari gara-gara." tuduh Niken sambil menudingkan jarinya ke arah Pandu.
"Hey, jangan bilang begitu. Kita cuma sedang bernasib jelek. Sekarang kita enjoy saja."
"Enjoy bagaimana Aku baru kali ini dihukum guru. Ini gara-gara kamu." Niken menggerutu.
"Jadi kamu murid alim ya Ketua kelas, panutan semua orang Kelihatannya kamu begitu sempurna." jawab Pandu dengan nada sinis. Niken diam saja. Dia masih jengkel. Dia ada les bahasa Inggris jam setengah 3 siang ini.
"Kamu lagi mikir apa" tanya Pandu.
"Aku ada les jam setengah 3. Sekarang aku harus kelaparan sampai jam setengah 4 karena aku mesti les dari jam setengah 3 sampe jam setengah 4. Sudah terlambat les, masih nggak sempat makan dulu. Aku benci kamu." "Ya sudah. ya sudah. Aku yang salah. Oke Sekarang pertanyaanku dijawab dong. Siapa tokoh idolamu"
"Sudah kubilang, Sun Tzu. Seandainya saja kamu tadi percaya, ini semua nggak akan terjadi." Niken menggerutu lagi.
"Sayang sekali aku bukan orang yang mudah ditipu. Kamu bisa menipu semua orang, tapi kamu nggak bisa nipu aku." "Omong kosong apa lagi nich"
"Baiklah kalo kamu memang nggak mau jawab. Aku tanya yang laen. Kamu bilang kamu nggak mau pacaran, tapi kamu menyebut-nyebut tentang asmara di puisi kamu. Apa maksudmu Berarti kamu pernah jatuh cinta dong" "Sok tau kamu. Sekadar informasi, orang tidak perlu mengalami untuk menyelami perasaan. Belajar dari pengalaman orang lain itu terkadang lebih baik daripada harus mengalami sendiri."
"Jadi bukan kamu yang jatuh di perangkap cinta" tanya Pandu, masih penasaran.
"Bukan."
"Lalu siapa dong"
"Aku nggak suka kamu tanya-tanya melulu. Aku nggak akan jawab." kata Niken ketus.
"Jadi ini yang kamu dapat setelah baca falsafah perang Sun Tzu Sok misterius." sindir Pandu.
Niken diam saja. Dia seperti ingin berpegang teguh pada prinsipnya, untuk tidak membuka dirinya, terutama pada orang asing.
Berlama-lama mereka mengacuhkan satu sama lain. Pandu sendiri sudah tidak bersemangat lagi untuk mengorek keterangan lebih lanjut. Gadis yang satu ini benar-benar susah dimengerti.
Lama sekali menunggu satu jam usai. Ini bahkan baru lewat sepuluh menit. Pandu mengambil walkman dari tasnya, lalu mulai memutar kasetnya sambil manggut-manggut.
"Lagu apa sih" tanya Niken, memecah kesunyian. Pandu tidak mendengarnya, karena volume walkmannya yang keras. Niken lalu menyenggol kakinya. Pandu melepas salah satu ear piecenya. "Ada apa lagi" tanya Pandu.
"Lagu apa"
"Ini Kamu gak bakal suka lah. Ini Metallica, Enter Sandman" kata Pandu. "Aku boleh ikut dengerin" tanya Niken.
Heran, tapi dengan sopan Pandu memberikan ear piece yang dipegangnya ke Niken.
Niken ikut menyanyi.
Something's wrong, shut the light
Heavy thoughts tonight and they aren't of snow white
Dreams of war, dreams of liars, dreams of dragon's fire