THE HALF BLOOD PRINCESS - 2
Aku benci pulang ke rumah dan melihat pemandangan yang membuatku marah, aku tak tau sejak kapan aku mulai marah, karena sepertinya itu sudah lama sekali. Seorang pria, keluar dari kamar mamaku dengan senyum memuakannya menyapaku yang tak pernah balas menyapa, malah masuk kamar dan membanting pintu dengan keras, aku menangis, selalu seperti itu.

Aku benci pria itu, aku benci mamaku, dan aku benci diriku sendiri yang tak bisa menerima kenyataan. Seharusnya aku terbiasa, tapi yang kutau ternyata aku takkan pernah bisa. Sejak dulu pertanyaan-pertanyaan bodoh ini meneror otakku Siapa pria itu

Apa yang dilakukannya dengan mama

Apa dia papaku

Kalau dia papaku, kenapa dia tak mengatakannya, kenapa dia hanya melemparkan senyum tanpa pernah berbagi sepatah kata.

Kenapa mama hanya mengurung diri di kamarnya

Kenapa ia tak pernah mau melihat mukakumenatap mataku

Kenapa ia tak pernah memberikan ciuman selamat pagi atau menyelimutiku di malam hari

Kenapa mama tak pernah menjadi ibu bagiku

Kenapa mama tak pernah mencintaiku

Aku selalu berusaha menjadi sosok anak sempurna, aku menciptakan prestasi yang membanggakan, aku menjadi anak manis, tapi itu takkan pernah membuatnya mencintaiku, dia memberikan segala sesuatu, barang-barang mahal, segala fasilitas mewah, kehidupanku seperti seorang putri, tapi apa gunanya bila ia mencintaiku

Aku sampai pada suatu kesimpulan bahwa aku anak yang tak diinginkan, mamaku bukan perempuan baik, dia perempuan simpanan pria kaya, dia nggak lebih dari seorang munafik matrealistis memuakan, dia menjijikan, aku membencinya, dia memberiku makanan haram yang didapat dari menjual pesona dan kecantikannya, itu sebabnya aku selalu memuntahkan semuanya.

Mungkin semuanya adalah kesalahanku, dia takkan bisa mencintaiku karena aku tak berusaha begitu keras untuk membuat dia mencintaiku, kadang aku sangat membenci diriku yang sangat payah, kuambil pisau disisi mangkuk buah, kusayat telapak kakiku, membentuk pusaran, ada rasa sakit tak tertahan yang anehnya sangat menyenangkan, kulihat wajahku di cermin, aku begitu mirip mama, sangat, ada air mata di wajah itu tapi ada seringai jahat di bibirnya aku seperti monster yang sangat cantik.

Lupakan semuanya!!!!!!!!!terdengar teriakan dari dalam kepalaku

Aku tau cara mengobati luka ini, dan luka hatiku, kulepas seragam sekolahku dan menggantinya dengan dress favoritku, kukenakan ballet flats shoes, kusambar tas Hermes baruku, saatnya menggesek kartu kreditku.Yeah aku adalah satu dari bagian 8% populasi dunia pengidap shopaholic, well, bukankah belanja adalah terapi terbaik ketika sedang depresi