SEDUCING CINDERELLA - 2
"Bisakah kau menunjukan arah ke departemen fisioterapi" dimana beberapa orang bodoh yang sombong akan memberikanku latihan yang lebih cocok untuk balita, pada dasarnya ini adalah proses pengebirianku

Pernyataan bahwa Reid Andrews sedang dalam mood yang buruk mungkin terlalu sepele, tapi bukan berarti resepsionis rumah sakit pantas menerima amarahnya. Ia mendengarkan ketika petugas resepsionis itu memberikan arahan dan berterima kasih ketika ia selesai.

Semakin dekat ia mencapai tujuannya, semakin keras otot-ototnya menggumpal. Dia seharusnya tidak di sini. Seharusnya ia sudah kembali ke Vegas, merawat cideranya dengan pelatih dan tim dokter. Bukan kota Sparks, Nevadayang mana masih termasuk Reno dan mengkhawatirkan karena terlalu dekat dengan kota kelahirannya, bagian utara Sun Valey. Saat ini dia harus bekerja sama dengan seseorang yang tidak memiliki konsep sama sekali tentang olah raganya atau tentang betapa pentingnya ia untuk kembali ke markasnya secepat mungkin untuk melakukan persiapan menjelang pertandingan ulang itu.

Selama yang bisa ia ingatia adalah petarung. Bertarung di dalam olah raga yang sangat ia cintai di atas segalanyaMixed Matrial Arts atau MMAuntuk sampai ke puncak, dan kemudian berusaha keras memaksa dirinya agar berada di sini. Lima belas tahun kemudian, dia adalah salah satu dari petarung terkaya kelas berat ringan di UFC, dengan rekor 34-3 dan jutaan penggemar. Tentu saja tidak ada yang lebih penting dari mendapatkan kembali kesehatannya saat ini, karena jika ia tidak sembuh tepat waktu untuk melakukan pertandingan ulang, karirnya akan tamat.

Seorang Dokter bicara di telepon dan memeriksa berkas-berkas Reid di sekitar sudut ruangan dan menabraknya. Pria itu bahkan tidak berbalik untuk meminta maaf, ia hanya terus berjalan menelusuri lorong itu. Reid mengatupkan rahangnya dan memegang bahu kanannya, menunggu rasa sakitnya mereda. Bahkan hanya dari sebuah benturan kecil, sakitnya sangat terasa.

Dia mendapatkan salah satu cidera terberat yang bisa di dapatkan oleh seorang petarung; robeknya tendon bahu. Dan yang lebih memalukan lagi, cidera ini tidak didapatkannya ketika bertarung. Dia mengalami cidera sialan ini ketika sedang berlatih untuk perebutan gelar. 34 tahun bagi seorang petarung sudah cukup tua, apalagi yang sudah berada di sana sepanjang hidupnya, dan tubuhnya mulai menunjukan hal itu, penuh luka karena cidera terkutuk.

Reid menghindar ke samping ketika berpapasan dengan seorang wanita tua yang berjalan seperti siput tanah, ia mengutuki pelatihnya, Butch, yang sudah mengirimnya ketempat ini.

Tidak lama setelah menjalani operasi untuk memperbaiki bahu kanannya, dokter dari camp olahraga harus pulang untuk mengurus ayahnya yang sedang sakit. Scotty diperkirakan tidak akan kembali dalam beberapa bulan kedepan, dan karena Reid adalah satu-satunya yang cedera di camp itu, Butch menempatkannya di PT (physical therapy) lokal untuk sementara waktu. Tapi jika Reid tetap mengikuti kata-kata pria ini, ia tidak akan siap bertarung sampai usianya 50 tahun, jadi ia mengurus terapinya sendiri.

Sayangnya, Butch mengetahui apa yang akan dilakukannya dan dia meminta Reid untuk tidak mendengarkan kata-kata pengganti Scott dan bersikap santai. Tapi Reid tidak mengerti makna bersikap santai itu. motonya lebih dari sekedar motivasi rata-rata. Dia hidup dengan prinsip "Lakukan yang terbaik atau kau tidak akan mendapatkan apapun" dan "Jika kau tidak datang untuk menang, lebih baik kau tetap tinggal di rumah saja." kata-kata itu sudah di tanamkan pada dirinya sejak ia sudah berani membantah perintah ayahnya.

Dia menolak untuk menerima kemungkinan tidak mendapatkan kesembuhan total dalam dua bulan kedepan, hingga kehilangan kesempatan untuk merebut kembali gelarnya. Setiap tahun, olahraga itu selalu menghasilkan petarung yang lebih muda dan lebih baik, dan itu menjadi halangan untuk petarung yang lebih tua dalam bersaing. Itulah sebabnya Ried berlatih sekeras mungkin. Selalu saja ada beberapa orang yang menginginkan sabuknya dan selalu mencoba menyingkirkannya untuk mendapatkan sabuk itu, sehingga ia harus melatih dan mempersiapkan dirinya lebih keras lagi untuk menjaga sabuk itu. dia begitu marah ketika Butch memberinya ultimatum: tinggalkan kamp dan lakukan PT dengan benar, atau dia akan ditarik mundur dari pertarungan.

Persetan dengan hal itu.

Baiklah, terserah. Dia sudah membuat pelatihnya senang dengan pergi ke PT sialan itu. Tapi itu bukan berarti dia tidak akan melakukan hal berbeda dari latihan rutinnya. Dia tidak punya waktu untuk bermain-main. Dia harus sesegera mungkin kembali ke Vegas sehingga ia bisa merebut kembali apa yang menjadi haknya.

Reid mendorongterbuka pintu ganda dan masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang mirip dengan bagian dalam YMCA (Young Men's Christian Association, organisasi Kristen yang memberikan support dalam bidang olah raga). Treadmill, eliptik, angkat beban, dan bola latihan. Tidak ada sparring Cage. Tidak ada matras lantai. Tidak ada sansak. Namun ada seorang pria tua kisaran 80 tahun berjalan begitu lambat di atas treadmill, yang membuatnya praktis tidak bergerak.

"Ini menyebalkan," gumamnya ketika sampai di sebuah kantor kecil dengan nama PT nya, Lucinda Miller, pada pintu yang tertutup sebagian. Ia mengangkat tangannya untuk mengetuk sebelum menunjukkan dirinya, tapi berhenti saat ia mendengar isakan pelan dari seseorang berambut coklat yang tertunduk di belakang meja. Setidaknya ia mengasumsikan itu adalah sebuah meja. Sangat sulit menjelaskan apa yang berada di bawah tumbukan berkas dan dokumen itu. alih-alih mengetuk, ia malah berdehem. "Maaf, apakah ini waktu yang tidak tepat"

Wanita itu memutar kursinya hingga menghadap ke dinding di belakangnya, menekan lututnya pada lemari arsip dan menggumam kata serapah yang tentu saja Reid bertaruh, dia tidak terlalu sering menggunakannya di depan publik. Meskipun ia belum melihat wajahnya, ia merasakan sebuah kecanggungannya lumayan manis. Ketika ia meraih tisu dari suatu tempat di lantai dan meniup hidungnya, itu mengingatkan Reid, bahwa wanita ini sedang dalam masa yang rentan. "Aku bisa kembali,"

"Tidak, tidak," dia membersihkan hidungnya dan menunjuk kebelakang tanpa berbalik. "Anda bisa duduk sebentar di ruang sebelah, aku akan segera menyusul,"

Ide yang baik. Terlebih karena kebenciannya melihat seorang wanita bersedih, baginya menghibur wanita yang ia kenal saja sudah cukup buruk, apalagi yang ia tidak kenal sama sekali. Ia memasuki ruangan itu, menyandarkan pinggulnya di meja yang empuk, tanpa sadar merenggangkan buku-buku jarinya ketika ia menunggu. Itu hanya sesaat sebelum wanita itu melenggang masuk, matanya memeriksa berkas Reid, sambil berjalan lurus kearah meja kecil di sepanjang dinding.

"Aku benar-benar minta maaf tentang kejadian tadi," katanya.

"Berikan aku sedikit waktu untuk mempelajari berkas ini lebih lanjut, dan kita akan memulai urusan ini,"

"Ya silahkan," sesuatu dalam suaranya menusuk-nusuk otak Reid. Sepertinya ia pernah mendengar suara itu sebelumnya.

"Oke, Mr. Johnson, mari kita lihat pada"

Mereka membeku ketika mengenal masing-masing sosok di hadapan mereka.

"Luce"

"Reid"

Sudah beberapa tahun lamanyamungkin, enam tahun, atau tujuh tahun, atau lebih, dia tidak bisa mengingatnyasejak terakhir kali dia melihat adik dari sahabat baiknya. Wajahnya berjerawat dengan mata memerah habis menangis sehingga ia hampir tidak menyadari bahwa wanita itu adalah Lucie, tapi bintik muka di sudut luar mata kirinya yang samar-samar berbentuk hati mengingatkannya. Hal itu nyaris tidak terlihat di bawah bingkai gelap kacamata yang ia kenakan.

"Astaga," kata Lucie, meremas pinggang Reid dengan kuat. Sudah sangat lama Reid tidak pernah bertemu seseorang dari kota kelahirannya, selain kakak Lucie, dia adalah orang yang selalu ingin ia temui. Reid membalas pelukannya. Rambutnya tercuim seperti campuran bunga dan musim panas, begitu berbeda dengan ramuan parfum menyengat yang biasa digunakan oleh wanita.

Ia melepaskan pelukannya, duduk kembali di bangku putar di belakang mejanya dan menyelipkan sehelai rambutnya kebelakang telinga. "Aku tidak percaya itu kau. Tunggu, mengapa catatanku tertulis Randy Johnson"

Reid terkekeh pada nama konyol yang ia gunakan untuk samarannya. "Ini adalah nama samaran," bermaksud untuk menghapus penampilan menyedihkan yang diakibatkan oleh sesuatu sebelum ia datang, dia memberikannya senyuman nakal dan menambahkan. "Dan kadang-kadang menjadi status keberadaanku,"

Alisnya berkerut untuk beberapa saat ketika ia meresapi katakatanya, kemudian pipinya memerah dan matanya terbelalak. "Reid!"

Dia tidak bisa berhenti tertawa meskipun ingin. Ekspresi terkejut di wajahnya benar-benar lucu. "Ayolah, Lu-Lu, kau tidak bisa terusterusan polos seperti itu setelah bertahun-tahun."

"Kepolosanku atau kekuranganku bukanlah urusanmu Andrews. Dan sebagai peringatan: jika seseorang mendengar kau memanggilku dengan panggilan konyol itu, aku akan menusukmu tepat di lehermu dengan penaku,"

Ia mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Cukup adil, Lubert." Lucie memutar matanya, tapi ia segera mengintrupsi sebelum wanita itu mulai marah. "Omong-omong tentang nama, ada apa dengan Lucinda Miller Aku tidak melihat cincin. Apa kau sedang dalam perlindungan seorang saksi atau apa"

Ia mengalihkan pandanganya, tiba-tiba merasa perlu untuk merubah kembali name tagnya. "Tidak. aku pernah menikah sebentar ketika di perguruan tinggi. Jackson mungkin tidak memberitahumu tentang ini, karena kami kawin lari dan ini tidak bertahan lama," ia berdeham dan tersenyum padanya, tapi hampir tidak menyentuh pipinya, apalagi matanya. "kau tahu bagaimana itu. anak muda labil dan semuanya. Aku hanya tidak pernah repot-repot mengganti nama belakangku lagi, tapi setidaknya aku masih memiliki inisial nama yang sama, kan"

Usaha wanita itu dalam menyamarkan perasaannya yang sebenarnya mengingatkan Reid akan apa yang sedang di alaminya. Sesuatu atau seseorang sudah menyakitinya, dan itu langsung menggugah naluri melindunginya. Biar bagaimanapun, Lucie bukanlah wanita sembarang. Dia tumbuh besar mengikuti kemanapun kakaknya, Jackson Maris dan Reid. Dan karena Jax, yang juga seorang petarung UFC, sedang berada di Hawaii dengan kamp pelatihannya hingga tidak bisa membantu adiknya, Reid akan dengan senang hati akan menggantikannya.

"Kenapa kau menangis Lu"

"Oh, itu" ia melambaikan tanganya tak acuh. "Tidak apa-apa. Aku mendapat alergi musiman yang mengerikan dan kadang-kadang itu terjadi sangat buruk hingga terkadang aku terdengar seperti sedang terisak, menangis tersedu-sedu, begitulah."

Dia mendengus. "Itulah sebabnya aku dan Jax tidak pernah membiarkanmu ikut dalam 'petualangan' licik kami. Kau adalah pembohong yang sangat buruk dan tidak akan bertahan lebih dari lima detik dalam introgasi orang tua."

Dia berdiri, menempatkan tangannya di pinggang. "Oke, menurut pelatihmu, kau adalah pasien yang sangat menyedihkan, jadi kita berdua memiliki kesalahan masing-masing. Sekarang, kalau kau tidak ingin menyia-nyiakan waktumu dengan obrolan yang tidak berguna, biarkan aku mengevaluasi cederamu,"

Reid mengenali keberadaan dinding pertahanan ketika ia menemukannya. Lucie tidak akan bicara tentang hal itu belum. Dengan suatu cara ia pasti akan mengetahuinya. "Oke, periksalah Luey," ia menyentuh tulang belikat dengan tangan kirinya, menarik t-shirtnya keatas kepala, berusaha keras untuk tidak menggerakan tangan kananya terlalu banyak. Dia melemparkan t-shirtnya kekursi di sudut ruangan.

"Berapa banyak PT yang kau temui sejak oprasi itu"

"Aku tidak tahu, jumlah yang biasa, sepertinya. Satu sesi dalam sehari atau lebih. Tapi ini tidak cukup, jadi aku melakukan latihan tambahan di sisi lain."

Dia berhenti dan mengangkat alis padanya. "Dengan kata lain, kau sudah berlebihan dalam melakukan hal ini, yang justru malah kontraproduktif untuk pemulihanmu,"

"Berlebihan itu suatu istilah subjektif,"

"Tidak Reid. Melakukan Lebih dari apa yang di katakan dokter atau terapismu adakah berlebihan. Jika aku akan membantumu, kau harus melakukan sesuai dengan apa yang kukatakan. Jika kau bisa melakukannya, aku akan membuatmu sesehat sebelumnya dalam waktu sekitar 4 bulan."

"Apa Tidakkah Butch mengatakan bahwa pertandingan ulangku akan berlangsung dua bulan lagi Aku harus bertanding pada pertandingan itu, Luce. Diaz memiliki sabukku, dan aku akan mengambilnya kembali,"

Lucie menggeleng. "Reid itu gila. Bahkan walaupun aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk penyembuhanmu, aku tidak bisa menjamin kau bisa siap untuk bertarung secepat itu."

"Omong kosong. Kau harus mengatakannya secara professional, tapi kau harus tetap memperhatikan siapa yang menjadi pasienmu. Aku tidak seperti orang-orang lain yang kau tangani. Aku tidak seperti pasien-pasienmu yang berharap normal. Aku adalah atlet yang sangat terlatih dan sudah pulih dari berbagai macam cidera selama lima belas tahun terakhir dibandingkan dengan seratus pasienmu jika disatukan,"

Ia mengehela nafas. "Mari lihat apa yang sebenarnya kita hadapi sekarang, yang pertama, oke, jagoan duduk."

Reid melompat ke meja dan mencoba untuk tidak tegang karena gagasan tangannya dimanipulasi. Dia memiliki toleransi tinggi terhadap rasa sakit, tapi bukan berarti pemeriksaannya itu tidak akan membuatnya meringis.

"Ulurkan lenganmu kesamping, dan coba untuk tetap begitu ketika aku mendorongnya ke bawah." Ia terdiam sejenak sebelum melakukan gerakan itu dengan menggumamkan kutukan. Lucie berpura-pura tidak menyadarinya dan memberikannya lebih banyak tes kekuatan, dimana dia berhasil menjaga teriakannya di dalam kepalanya sendiri. Meneriakinya.

"Oke, yang terakhir Reid. Tempatkan tanganmu didepan perutmu, dan coba untuk menahannya di sana ketika aku menariknya menjauh dari tubuhmu."

Ia menggertakan rahangnya dan mengepalkan tangan kirinya, mencoba untuk memikirkan hal lain, selain rasa sakit yang luar biasa dari bahunya. Tapi, seburuk apapun rasa sakit itu, fakta bahwa dirinya begitu lemah dan tidak bisa menyembunyikannya adalah hal yang jauh lebih buruk.

"Baiklah, kau bisa rileks sekarang," Lucie membuat beberapa catatan dalam berkasnya, kemudian berbalik dan bertanya, "Pada skala nyeri satu sampai sepuluh, dengan yang kesepuluh adalah ukuran rasa paling mengerikan yang bisa kau bayangkan, bagaimana perasaanmu saat ini"

"Empat mungkin. Atau bahkan tiga,"

Lucie mengangkat alisnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Lupakan sikap jantan sialanmu, Andrew. Aku tidak menantang kejantananmu di sini. Jika kau ingin aku melakukan pekerjaanku, maka kau harus seratus persen jujur padaku."

Reid menatap Lucie dengan tatapan yang seakan menciutkan wanita itu. namun Lucie sama sekali tidak bergeming. Reid tentu sudah memuji Lucie dengan sikapnya pada tatapannya jika ia tidak sedang jengkel dengan keseluruhan situasi ini. "Oke, enam." Gerutunya. "Tapi beberapa hari ini lebih baik,"

"Jangan khawatir, itu normal. Sekarang berbaring menelungkup di atas meja. Aku ingin melakukan beberapa hal lagi."

"Kau sangat suka memerintah diusia tuamu, kau tahu itu" ia sedikit kecewa ketika Lucie tidak terpancing dengan kata-katanya, tapi melontarkan Mm-hmm secara sarkastis ketika Reid meletakan tubuhnya di atas meja. Dengan lengan kirinya menjadi tumpuan wajahnya. Ia memejamkan matanya ketika Lucie mulai memeriksa tubuhnya.

Ujung jari lembutnya memeriksa otot di sekitar bahunya. Reid tidak tahu apa yang sebenarnya sedang di cari Lucie, tapi ia berharap Lucie tetap mencarinya untuk sementara waktu. Sentuhannya terasa jauh lebih baik daripada yang biasa dia terima. Tentu saja tangan Scotty tidak selembut itu, tapi ini jauh lebih dari itu. ini adalah tehnik yang digunakannya; seakan-akan dirinya bukanlah seorang petarung yang terbuat dari otot-otot keras yang membutuhkan penanganan kasar, dorongan jari, tapi seorang pria yang membutuhkan pijatan lembut setelah hari yang panjang.

Ia mendengar isakan lembut, dan ini membuat otaknya kembali bertanya-tanya, apa yang sudah membuatnya sekacau ini. Tumbuh sebagai kakak kedua Lucie, membuatnya menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk.

Apapun itu, Lucie sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya"Ah, sialan!"

"Maaf,"

"Ya, betul." Katanya kecut. "Itu mungkin sebuah balasan karena menggunakan kelinci floppy-mu sebagai target panah,"

Reid tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia mendengar ia tersenyum ketika bicara. "Aku lupa tentang semua itu. Jakson dihukum selama tiga hari dan ibuku harus menjahit semua lubang kecil itu secara bersamaan. Ibuku bilang dia adalah seorang pahlawan perang yang harus dioprasi untuk ditambal sebelum menerima medali dari presiden,"

"Ibumu selalu pandai bercerita. Aku dan Jax memintanya untuk memberikan semua informasi latar belakang misi pura-pura kami ketika kecil."

"Ibu adalah hal yang paling spesial. Aku merindukan dongeng sebelum tidurnya."

Oran tua Lucie meninggal karena kecelakaan mobil pada musim panas, setelah Reid dan Jackson lulus dari SMA, dan Lucie berumur tiga belas tahun. Jackson memutuskan untuk mengurus Lucie dari pada menyerahkannya pada sanak saudaranya, itulah sebabnya karirnya di MMA tidak sejauh Reid. Itu adalah hal yang sangat terhormat, dan jelas ia sudah melakukan pekerjaan yang baik juga.

Namun kemudian kenyataan itu menyentak Reid. "Ini karena seorang pria, kan"

Tangannya berhenti sesaat, tapi ini sudah cukup sebagai jawaban yang ia butuhkan. "Apakah nyeri jika kutekan di sini"

Seperti sensasi terbakar yang parah, sebuah kemarahan asing muncul sebagaimana pada umumnya kebanyakan pria, sampai-sampai ia tidak bisa mengarahkannya pada orang yang pantas. Ia mendorong tubuhnya dengan lengan kirinya, hingga berhadapan dengan Lucie.

"Apa yang kau lakukan Aku belum selesai."

"Tidak sampai kau katakan siapa orang itu dan apa yang sudah ia lakukan." Geramnya.

"Reid"

"Quid pro quo, Lu. Katakan padaku siapa yang membuatmu menangis, dan kenapa. Dan aku berjanji akan mencarinya, memburunya, dan menendang giginya masuk ketenggorokannya untuk menunjukannya padamu."

Dia hampir menyesali ancaman kasarnya ketika wajah Lucie memucat, tapi jika ini adalah satu-satunya jalan untuk

mengetahuinya, maka ia tidak peduli. "Kemari, duduklah di sini, kita akan bertukar tempat." Katanya sambil berdiri. Ketika Lucie membuka mulutnya untuk membantah, Reid menyipitkan matanya, untuk menunjukan padanya bahwa ia tidak sedang main-main. Lucie menghela nafas pasrah dan melakukan apa yang Reid katakan, meskipun tidak dengan senang hati.

"Nah sekarang kau pasiennya," terlepas dari rasa sakit yang disebabkan pada bahunya, ia menguatkan tangannya di kedua sisi pinggulnya, mencegah pemikiran Lucie untuk melarikan diri sepertinya adalah sebuah alternatif yang baik. "Jadi, Miss Miller," katanya sambil menatap mata abu-abunya yang lembut. "Katakan padaku dimana yang sakit,"

***

Lucie masih tidak bisa percaya jika saat ini Reid berada di ruang terapinya. Ketika mereka kecil, ia terus membuntuti kakaknya hanya untuk berada di hadapan sahabat baik kakaknya. Namun, karena Reid memperlakukannya sebagaimana seorang kakak, itu mencemaskan hati mudanya, dia selalu mendongak pada Reid dan Jackson.

Sekarang ia dalam masa yang sulit untuk mengalihkan pandangannya dari Reid.

Dia sudah cukup berotot ketika di SMA, tapi ini luar biasa. Pria ini mendefinisikan kembali ide kesempurnaan dari Michelangelo, membuat patung David yang justru terlihat seperti pengecut. Rambut pirang gelapnya di potong pendek dan disisir kedepan dan ketengah. Membuat elang tiruan terkecil, dan membuatnya tampak lebih baik jika dilihat dari samping. Dan tato ituYa Tuhantato itu

Desain tribal hitam menenun pola rumit di sekitar lengan atas kanannya, melewati bahu dan otot-otot dadanya, dan melingkar di pertengahan sisi kanan lehernya. Dibagian bawah tulang rusuknya

tertulis Fight to Win dalam huruf latin, berakhir di otot yang memotong diagonal dengan

"Lu"

Lucie bertemu dengan mata coklat cerdasnya. "Hmm"

"Kau akan mulai bicara atau aku harus kembali menggelitikmu" Bagus, Lucie, benar-benar halus. Sadarlah, ini hanya Reid.

Dia memutar matanya dan berpaling, berharap Reid tidak melihat air mata yang yang ia tahan. Ia tersenyum, perlu mengembalikan pembicaraannya tetap ringan. Lucie perlu membuat Reid tidak memaksanya untuk menceritakan apa yang terjadi. "Aku bukan gadis

delapan tahun lagi Reid. Jika kau terus seperti ini, aku akan menamparmu dengan gugatan pelecahan seksual,"

Dengan lembut Reid menyentuh dagunya, memiringkan kepalanya kebelakang dan menatap matanya, dan dengan hanya memanggil namanya sekali. "Lucie" pertahanan air matanyapun hancur dan membiarkan air mata pertamanya turun.

"Ya Tuhan, ini sangat bodoh. Sungguh, bukan apa-apa." Katanya sambil mengusap air matanya penuh kekesalan dengan jemarinya.

"Ketika seorang pria membuat wanita menangis, itu tidaklah sepele."

"Dia tidak bermaksud; dia bahkan tidak tahu jika ia melakukannya, hanya saja" Lucie mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan napas gemetar. "Aku sudah jatuh cinta padanya selama bertahun-tahun tapi ia tidak pernah menyadarinya. Well, tidak seperti itu juga. Hanya saja, tepat sebelum kau muncul, dia meminta nomor telepon sahabat baikku. Dia ingin membawanya ke pesta amal rumah sakit."

"Apakan wanita itu akan pergi"

"Tidak, Vanessa tidak akan pernah melakukan hal itu padaku. Sangat menyakitkan ketika mengetahui ia sudah bertemu sekali dan sejak itu ia ingin mengajaknya berkencan. Kami sudah menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sama, hanya saja ia tidak pernah melihatku."

"Jadi tentu saja dia adalah seorang bajingan buta."

Lucie mendengus dan menggelengkan kepala. "Kau tidak tahu siapa Stephen. Pria yang memiliki pesona lebih banyak dari pada sebagian dari Reno. Dia adalah ahli bedah ortopedi yang menakjubkan yang selalu bisa lebih dekat dengan pasiennya. Dia pintar, sukses, dan sangat tampan. Aku tahu aku bisa membuatnya bahagia jika saja ia memberikanku sebuah kesempatan,"

"Jika dia terlalu lambat untuk bergerak, mengapa kau tidak memulainya terlebih dulu"

Wajahnya memanas, ia langsung menundukan pandangannya, menatap jarinya yang bertautan. "Aku tidak bisa. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Dan kalaupun aku melakukannya, dan seandainya dengan sebuah keajaiban dia mengatakan iya, aku"

"Kau apa"

"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan," bisiknya.

"Lakukan" Reid mencoba berpikir apa yang dimaksudkan oleh Lucie, tapi dia tidak tahu. Kecuali "Lucie kau pernah berkencan setelah perceraianmu, kan"

"Ini konyol, Reid, biarkan aku turun."

Reid tidak bergeming. "Kau pasti bercanda. Kau tidak punya pacar"

"Aku harus memberitahumu Andrews, ketidak percayaanmu membuatku tidak ingin membicarakan masalah ini denganmu, jadi biarkan saja masalah ini dan kami akan membuatkanmu jadwal untuk minggu depan."

"Oke, Oke, maafkan aku," katanya, menempatkan tangannya di lengan atasnya. Ia meringis ketika rasa nyeri menyerang bahunya. Ia tidak bermaksud untuk membuatnya lebih terganggu dari sebelumnya. Ia mengerjapkan matanya karena sakit itu. "Tunggu, apa maksudmu dengan 'minggu depan' Bukankah setidaknya kita mempunyai sesi harian"

"Untuk sebagian besar, Ya. Tapi karena sekarang hari jumat, kita akan memulainya minggu depan. selain itu, kau bukanlah satusatunya pasienku. Aku memiliki jadwal yang padat."

Sial, sekarang apa Reid membutuhkan lebih banyak perhatian daripada hanya sekedar beberapa hari dalam seminggu.

"Mungkin kau harus menyewa PT yang berdedikasi. Kau tahu, seseorang yang bisa bersamamu selama 24 jam, 7 hari seminggu. Untuk bekerja bersamamu dan menjagamu dari overtraining. Jika kau masih seperti yang kuingat, kau tidak memiliki konsep untuk menahan diri."

"Sempurna. Itulah yang kubutuhkan. Dengan jenis perawatan seperti itu, aku akan siap untuk bertarung pada malam pertarungan." Ia melangkah mundur dengan senyum puas dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu dan barang-barangmu nanti," ***

Lucie sudah turun dari atas mejanya dan sekarang ia memutar kepalanya dengan begitu cepat membuat Reid khawatir mungkin Lucie akan membutuhkan sebuah terapi untuk memperbaiki salah uratnya. "Apa"

"Ini hanya akan masuk akal jika kau tinggal bersamaku sampai aku sembuh, Lu. Ayolah, dulu aku juga pratis tinggal ditempatmu sewaktu kecil. jadi kita bisa melakukan terapi dengan bahuku lebih sering dan kau bisa memastikan aku tidak melakukan hal bodoh. Dan kau tahu sendiri, aku dijamin akan melakukan hal bodoh."

Reid menonton Lucie yang berjalan melintasi ruang kecil itu untuk mengambil bajunya. "Meskipun gagasan tentang tinggal bersamamu selama dua bulan itu tidak menggangguku, tapi ada masalah kecil dalam pekerjaanku."

"Aku akan membayar untuk waktu luangmu, tentu saja. dua kali lipat jika kau mauuang bukanlah masalah."

Lucie memberikannya perintah memakai baju dengan gerakannya melemparkan baju ke dadanya. "Tentu saja kau benar; uang bukanlah masalah. Aku punya setidaknya delapan minggu waktu liburan yang belum terpakai, semenjak aku tidak memiliki alasan untuk mengambilnya. Masalahnya adalah bahwa ide itu sangatlah menggelikan!"

Reid harus berpikir cepat, atau dia akan kehilangan kesempatan ini, dan sesuatu di dalam hatinya menekannya agar tidak kehilangan kesempatan ini. Dia membutuhkannya dimanapun yang ia inginkan selama dua bulan ini. Dia begitu yakin seyakin namanya. Tiba-tiba trik yang sempurna muncul di benaknya, dan meskipun gagasan ini memberikannya kegembiraan dan kecemasan dengan jumlah yang setara, ia tetap mencobanya.

"Aku akan mengajarimu bagaimana mendapatkan dokter itu jika kau melakukannya untukku."

Lucie sudah dalam perjalanan keluar dari ruangan pemeriksaan, ia sudah menolaknya Reid dan tawaran menjadi teman serumahnya, tapi kata-kata sederhana itu bisa membuat tubuhnya terpaku beberapa meter dari ambang pintu. Lucie sudah terpancing, sekarang ia hanya perlu menariknya hati-hati, atau ia akan kehilangan wanita itu dan kesempatannya untuk pertandingan ulang. Dia mendekatinya perlahan-lahan dari belakang saat ia bicara.

"Aku akan mengajarimu bagaimana bersikap, apa yang harus dikatakanapapun yang kau perlu ketahui untuk membuatnya menyadari keberadaanmu. ada satu hal yang kutahu, apa yang wanita lakukan yang bisa membuat pria benar-benar memperhatikannya." Kepalanya menoleh kesamping. Bukan gerakan besar, tapi cukup untuk membuatnya tahu bahwa ia sudah mendapatkan perhatian wanita itu. "Kau akan tunduk dan melakukan apapun maumu dalam waktu singkat. Aku jamin itu."

Waktu berjalan bagai slow motion. Denyut nadinya berpacu di telinganya ketika ia mengunggu Lucie meneriakinya idiot atau kemarahan yang besar. dan Jackson akan mengulitinya hidup-hidup karena mengajari Lucie caranya merayu, seharusnya ia memikirkan dua kali tentang tawarannya, tapi dia tidak bisa menariknya kembali.

Dia menggelengkan kepalanya, seakan menolak pikirannya sendiri. "Maaf, tapi"

Sebelum Lucie mengatakan kata penolakannya, seorang pria berambut gelap menjulurkan kepalanya dari pintu. "Lucie, aku minta maaf mengganggu, tapi aku sepertinya sudah menghapus, uh," pria itu melirik Reid dan berdeham. "Nomor telepon pasien yang kau berikan sebelumnya. Karena aku dalam perjalanan keluar, kupikir aku bisa mendapatkannya lebih cepat darimu. Aku membawa kertas."

Dasar. Brengsek. Butuh segala kendali diri untuk membuatnya tidak menghajar pria itu saat ini juga. Bahwa pria ini adalah satu-satunya yang ia sukai dan tidak mungkin ia memperkenalkan dirinya sebagai dokter Clueless Dumbass.

Reid menyaksikan Lucie menatap lama pada dokter itu, hampir seolah-olah ia terjebak dalam suatu monolog internal dan lupa bawa waktu masih berputar di sini, di dunia nyata. Sesuatu tentang memberikannya nomor pasien itu sudah membuatnya terguncang. Ketika pria itu berdeham dan mengulurkan kertas, Lucie tersadarkan.

"Tentu saja dokter Mann," setelah dengan cepat menulis sebuah nomor telepon di kertas itu dia berkata. "Ini,"

"Oke, terima kasih. Sampai jumpa lagi."

Reid menunggu. Tiga detik berlalutujuhdua belas. Pada akhirnya Lucie menegakkan bahunya, berbalik dan berkata. "Kita sepakat."