Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 2

di lini masa, tak ada hujan, tak ada kau kata-kata turun dari langit seperti wahyu

tetapi siapa mendengar, siapa melihat

kita terbiasa tertawa untuk hal yang berbeda tetapi selalu menangis untuk hal yang sama berulang-ulang, berkali-kali, tapi tak bosan

setiap kesepian yang diwasiatkan para pencinta yang kalah atau mati di dalam percintaan

kita simpan baik-baik seperti kapsul masa depan

tertanam di dalam tanah, di dekat sebuah pohon yang telah dewasa sejak mula Adam

turun ke dunia dan perjalanan mencari kekasihnya

di lini masa orang berebut meminta disebut tetapi tak ada nama tuhan, tak ada nama kau

aku seperti semut yang luput dari perhatian

ketika kupikir aku telah selesai menulis puisi, ketika itu pula kusadari kau tak akan cukup dalam lingkup 140 karakter itu