di lini masa, tak ada hujan, tak ada kau kata-kata turun dari langit seperti wahyu
tetapi siapa mendengar, siapa melihat
kita terbiasa tertawa untuk hal yang berbeda tetapi selalu menangis untuk hal yang sama berulang-ulang, berkali-kali, tapi tak bosan
setiap kesepian yang diwasiatkan para pencinta yang kalah atau mati di dalam percintaan
kita simpan baik-baik seperti kapsul masa depan
tertanam di dalam tanah, di dekat sebuah pohon yang telah dewasa sejak mula Adam
turun ke dunia dan perjalanan mencari kekasihnya
di lini masa orang berebut meminta disebut tetapi tak ada nama tuhan, tak ada nama kau
aku seperti semut yang luput dari perhatian
ketika kupikir aku telah selesai menulis puisi, ketika itu pula kusadari kau tak akan cukup dalam lingkup 140 karakter itu