Tidak saya lanjutkan SMS-an itu. Segera saya telepon Mas Mul untuk janjian ketemu.
Sengaja saya pilih datang ke rumah Mas Mul agar bisa bicara banyak, sekaligus mencari tahu lebih dalam tentang Mas Mul.
Begitu saya tiba di rumahnya sekaligus bengkel di mana dia buka tambal ban, pria kelahiran 4 Agustus 1965 ini langsung memulai pembicaraan, Jangan ditertawakan lho, Mas Haji. Rumahku mau ambruk kok mau daftar haji.
Saya kagum pada orang seperti Mas Mul. Secara ekonomi, jelas dia jauh dari mampu. Namun, semangat ibadahnya luar biasa. Sementara di luar sana, masih banyak orang yang diberi kemampuan lebih secara finansial, namun belum tergerak hatinya, memenuhi panggilan Allah untuk berhaji.
Hal pertama yang saya jelaskan pada Mas Mul adalah syarat-syarat mendaftar haji. Saya juga menjelaskan bahwa sekarang ada program talangan haji. Hanya dengan uang Rp2,5 juta sudah bisa mendaftar haji. Kekurangannya, bank yang akan menalangi dan calon jamaah haji tinggal mengangsurnya dalam waktu sekian tahun.
Tidak saya duga, ternyata Mas Mul sudah mempunyai uang sebesar Rp25 juta. Sudah cukup untuk memenuhi syarat agar mendapatkan nomor porsi dari Departemen Agama (Depag). Uang sebanyak itu dia kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun dan disimpannya di sebuah koperasi di Solo.
Mas Mul orangnya lugu. Dia juga kurang pandai membaca dan menulis. Maklum, SD saja dia tidak lulus. Hal ini saya baru tahu ketika mengantarnya ke bank dan Depag. Semua formulir yang harus diisi, dia minta saya yang mengisinya. Dengan sedikit malu-malu dia mengakui bahwa kurang lancar membaca dan menulis.
Di balik keluguannya, saya meyakini kalau Mas Mul ini orang hebat. Saya yakin dia punya amal-amal khusus, sehingga Allah memudahkannya ketika mengumpulkan uang sebanyak itu untuk bisa mendaftar haji.
Dan sekarang tinggal menunggu waktu pemberangkatan haji.
Ketika saya main ke rumahnya, saya coba menggali lebih dalam tentang Mas Mul. Dan ternyata benar dugaan saya. Mas Mul memang istimewa. Amalan hariannya hebat. Walaupun dia kurang lancar membaca dan menulis latin, bapak dua anak ini pintar membaca Al-Quran. Dia istiqomah membaca Al-Quran setiap harinya.
Surah Yasin adalah favoritnya. Dia biasa membaca tiga kali setiap harinya. Pertama, setiap selesai Sholat Subuh. Kedua, terkadang habis Dhuhur atau Asar, tergantung mana yang lebih longgar. Ketiga, selepas Magrib atau Isya.
Secara berkelakar, dia katakan bahwa semua orang bisa secara rutin makan tiga kali sehari, sudah semestinya mampu membaca Surah
Yasin juga tiga kali sehari.
Amalan yang kedua tidak kalah hebat. Setiap habis sholat wajib, dia selalu membaca Al-Fatihah sebanyak 40 kali. Tak lupa dia memintakan ampun untuk orangtua, keluarga, dan guru-gurunya. Sehabis itu, dia selalu berdoa dengan doa yang selalu sama. Redaksi doanya, ia karang sendiri.
Doanya begini, Ya Allah, mudahkanlah hamba dalam menjemput rezeki yang barokah dari-Mu dan dengan rezeki itu, jadikan aku lebih berguna bagi agama-Mu.
Doa yang sangat bagus. Mas Mul tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun memikirkan orang lain dan agamanya.
Belum puas dengan uraian amalan hariannya, saya masih bertanya, Apa lagi, Mas
Mas Mul menjawab bahwa dia sangat suka sholawat. Tidak terasa, dia sudah 16 tahun ikut Habib Syekh Abdul Qadir Assegaf, seorang habib dan ulama terkenal di Solo. Di mana saja Sang Guru ada acara, dia selalu hadir.
Setiap mas Mul membaca sholawat, tanpa terasa air matanya selalu menetes. Dia begitu meresapi makna bacaan sholawat. Dia sangat rindu dengan sosok yang dipuja dalam sholawat.
Mas Mul bukan hanya seorang yang sholeh secara pribadi, namun juga sholeh secara sosial. Ini yang lebih istimewa. Walaupun secara ekonomi dia belum mampu, tapi semangat berbaginya hebat.
Dengan tujuan memasyarakatkan sholawat, dia membentuk grup rebana. Dia ajak teman-temannya yang senang sholawat untuk bergabung. Pelan-pelan, dia membeli satu per satu alat rebana dari uang hasil dia menabung. Tidak berhenti di situ, secara bertahap, Mas Mul membeli peralatan pengeras suara.
Setiap kali ada tetangga yang berhajat, Mas Mul selalu menyediakan diri. Dia menawarkan grup rebananya agar bisa tampil. Tujuannya jelas bukan komersial untuk mendapatkan uang, namun lebih kepada bagaimana bisa bersholawat.
Jika yang punya hajat memberinya uang, dia terima, berapa pun yang diberikan. Dana tersebut tidak masuk kantongnya sendiri, namun digunakan untuk keperluan grup rebananya.
Malahan lebih sering Mas Mul dan grupnya tampil secara cuma-cuma, tanpa imbalan sedikit pun. Dia sudah merasa senang manakala rebananya bisa tampil. Dia sudah bersyukur bisa berbagi ke masyarakat lewat rebananya.
Sering pula peralatan pengeras suara miliknya dipakai secara gratisan, jika ada lelayu di kampungnya. Mungkin inilah yang mengundang kemudahan dari Allah bagi Mas Mul dalam bekerja, sehingga bisa mengumpulkan dana pergi haji.
Mas Mul orangnya ulet. Dia tidak hanya mengandalkan tambal ban. Dia ambil dagangan berupa kaos kaki dan kerudung dari temannya.
Rata-rata dia ambil untung antara Rp1.000 hingga Rp2.000 rupiah per potongnya. Dari hasil jualan ini sudah cukup untuk membeli beras dan lauknya.
Cara kerja tambal ban kepunyaan Mas Mul juga berbeda dengan yang lain. Dia tidak hanya menunggu pasien datang ke bengkelnya. Dia bisa dipanggil. Di gerobaknya dia tulis besar-besar nomor HP-nya. Orang akan mudah mencatat dan sewaktu-waktu butuh, tinggal menekan nomor HP-nya.
Saya banyak belajar dari Mas Mul. Semangat bekerja dan ibadahnya begitu hebat. Saya turut berdoa, mudah-mudahan dia diberi umur panjang juga sehat, sehingga cita-cita besarnya untuk berhaji bisa diwujudkan.
Walau untuk berangkat ke Tanah Suci dia harus menunggu 10 tahun lagi, saya yakin saat ini Allah sudah mencatatnya sebagai haji yang mabrur.
15 Oktober 2013